Aku sudah mengenal sosoknya kurang lebih sekitar 10 tahun. Dia baik, ramah, serba bisa, lincah, penyayang, well mungkin semua predikat baik bisa aku sematkan untuknya. Tapi ada satu hal yang membuatku kadang gemas dengan sifat kawanku ini.. Yeah, she is a yes girl! Dia adalah wanita yang selalu bilang iya, meski itu tidak sesuai dengan apa kata hatinya.
"Nisa besok temani aku beli buku yah? Kamu bisa?"
"Insyaallah, tapi paginya aku harus buat bumbu pecel dulu bantu Ibuku. Terus kalau sudah jadi nanti antar ke rumah guruku dulu yang sudah pesan yah."
"Ukh besok kosong? Aku kepingin beli tas ini."
"Iya kosong."
"Habis itu makan di steak and shake yah."
"Kosong gak, aku kepingin dim sum. Keluar yuk."
"Iyadeh"
Well, itu percakapan tak asing yang sering aku dengar. Padahal aku tahu, sedari pagi membantu Ibu, kemudian masak, kemudia antar kesana kesini, setidaknya sudah membuat badan ini bilang cukup waktunya istirahat, tetapi malah dipaksa untuk tetap berkendara motor cukup jauh.
Namanya Nisa. Aku mengenalnya dari ketika duduk di bangku SMA. Kami sama-sama aktif di organisasi kerohanian semasa sekolah dulu. Hingga masuk kuliah aku harus melanjutkan sekolah di luar kota dan Nisa tetap di Surabaya. Mungkin pertemuan kita tak sesering masa SMA. Tapi itu tidak berarti merubah ikatan batin kita hingga 4 tahun kemudian.
Setelah saya lulus sarjana, saya kembali ke kota kelahiran saya. Dan bertemu dengan Nisa kembali. Dia telah berubah. Yah, berubah. Berubah menjadi lebih baik, menjadi lebih ramah, lebih lincah, lebih penyayang, lebih sabar, karena selalu menjadi orang yang lebih banyak mendengar daripada aku. Well, setidaknya itu jadi sebuah ikatan yang cukup akrab antara aku si cerewet dan dia si yes girl. Entahlah, aku senang dengan sebutan itu.
Tapi aku tahu. Setiap dari kita punya tantangan hidup sendiri. Setiap dari kita punya cerita sendiri. Pun denganku, juga dengan Nisa.
Nisa, menjadi wanita yang lebih dewasa. Dia belajar untuk menjadi asertif. Kau tahu, mengungkapkan apa yang diinginkan, dirasakan, dipikirkan dengan cara-cara yang polite. Well, disaat aku yang bisa seenaknya sendiri selalu mengutarakan bahwa aku marah, aku sebal, aku tidak suka, aku kesal, aku sedih, aku nangis, aku kecewa, aku bahagia, aku senang, aku jatuh cinta, dengan semua ekpresi yang selalu aku lepas begitu saja, nyatanya ada orang lain yang sungguh berusaha untuk menjadi seperti itu dengan usaha yang luar biasa untuk tidak membuat orang lain tersinggung.
Kadang aku malu jika harus ingat apa yang sudah kulakukan. Gampang marah, kemudian menghujat. Gampang tersinggung, kemudian nangis. Dan aku tak pernah memikirkan tentang bagaimana orang yang kuhujat, atau orang yang kupersalahkan atas air mataku.
Kalimat itu ia utarakan kurang lebih sebulan setelah kejadian dia marah. Well, sebulan!!! How patient she is! Dia bisa menjaganya untuk tidak meledak tepat saat hari itu. Untuk menjaga keharmonisan, untuk menjaga kerja, dan untuk menjaga hati kita semuanya. Dan setelah dia hadir dengan kalimat itu, apakah dia marah? Justru kalimat maaf yang terlontar dari dirinya."Yg pas materi pertama itu, aku jd CP dan bertugas membuat grup itu.. Jujur sebenernya aku bad mood bgt mangkel ngunu.. Karena aku tau pas H-1 (yg seharusnya buat grup) itu aku bakaln sibuk.. Full seharian dr pagi sampe malem.. Makanya dr kemarinnya aku mulai tanya, share materi jm brp dll..
Rencananya pagi tak buatkan grup dl trs tak kasih note tatib n jam materi akan dishare.. Tp mgkn krn kesibukan masing2 jd tidak ada kepastian materi kapan dishare alhasil aku gk jd bikin grup pagi2,, krn gk enak kalo udah janjii ternyata telat..Pas H-1 itu beneran aku full dr pagi sampe malem dan jarang bgt buka HP.. Trs menjelang magrib pada nggupui bikin grup n japri peserta.. Disitu jujur aku mangkel banget karena posisi aku capek, blm sampe rumah, digupuhi dan aku chat dr kmrn gk ada respon yg maksimal.. 😞Akhirnya sampe rumah malem itu lgsg buka laptop,ngecek list peserta, bikin grup dst dan baru makan n mandi setelah itu kelar. .Sejujurnya aku dongkol bgt hari itu..Aku tipe org yg cukup well prepared.. Kalo gk dipersiapkn direncanakan dgn baik biasanya aku akan cemas n bgg.. Makanya seharian itu aku cemas bgt dan endingnya aku jd dongkol n mangkel.. "
Dari dia aku belajar banyak untuk mengerti tentang makna Asertif. Mungkin aku cukup asertif. Tapi tidak hati-hati dengan menjaga hati orang lain. Setidaknya, aku cukup menjadi teman yang tahu diri menempatkan ajakan kepada seorang sahabat yang asertif 😅, so you always be my yes girl. Happy birthday, dear 💖
![]() |
| from Castle Mill, Oxford, United Kingdom |
#30DWCDay8 #ceritacitacinta




