Tit,tit,tit,tit,tit,tit,tit,…..
Tit,tut,tit,tut,tit,tut,tit,…..
Tiiiiiiiit,tiiiiiiit,tiiiiiiit,tiiiiiit,….
Tuuut,tuuut,tuuut,tuuut,….
Tik,tok,tik,tok,tik,tok,……
Tuk,tuk,tuk,tuk,tuk,tuk,….
Semua
suara bercampur menjadi satu. Aku masih berusaha untuk memahami. Bahwa seminggu
kedepan aku akan duduk disini. Sendirian sebagai ahli gizi magang di salah satu
rumah sakit pemerintah di Kota Malang. Rasa sejuknya kota seperti membeku
karena ditambah dengan semua Air
Conditioner di ruangan tempatku duduk ini dipasang maksimal pada suhu 16
derajat.
Titititititititititititititititititititititititititititititi….
“Dokter
Andi, ayo dicari kalau suaranya begitu berarti ada yang tidak beres itu.
Berarti waktunya keliling, dicek mana yang bermasalah.”
“Baik
dokter Uni.”
Salah
satu dokter yang tadi disebut namanya sebagai dokter Andi kemudian bergegas
berkeliling ruangan mencari sumber suara tersebut. Selang 7 menit kemudian
suara alat itu kembali normal.
“Mbak,
lagi magang? Dari mana? Dari Universitas Pelita?”
“Iya.”
Jawabku singkat dibumbui sedikit senyum
“Bu
Anggraini dimana?”
“Tadi
masih rapat sebentar, baru akan masuk jam 9.”
Seorang
perawat kemudian meninggalkanku setelah menyapa dengan ramah menuju ke kamar
ganti untuk mengambil jasnya dan memasang masker segera kemudian bergegas
mendapat arahan dari perawat sift
jaga malam dan menjelaskan satu per satu kondisi semua pasien di ruangan
tersebut.
“Pak,
saya boleh ikut?” entah darimana dan ide siapa tetiba aku mengajukan diri
kepada Bapak perawat yang saya duga usianya sudah masuk 47 tahun. Perawakan
sekitar 162 cm, kulit sawo matang, dan terlihat begitu sabar. Dan sepertinya
beliau perawat paling senior di ruang ini.
“Tentu
saja.”
Pak
perawat menjelaskan kepada seorang perawat laki-laki yang tadi menyapaku.
Sambil
berdiri dibelakang kedua orang tersebut, aku mengamati ruangan yang kini aku
berdiri tepat ditengahnya. Ruangan luas tanpa sekat pemanen dengan ukuran
sekitar 15 x 20 meter. Berwarna putih untuk dinding dan atapnya, serta keramik
putih untuk lantainya. Terdapat sisi kanan dan kiri, dimana dimasing-masing
sisinya terdapat 4 kasur berjejer. Delapan kasur ini tidak terisi semua. Hanya
enam kasur yang ada ‘penghuninya’. Masing-masing kasur hanya dipisahkan oleh
kelambu berwarna biru yang juga hanya dibiarkan berada dipinggir tanpa
direntangkan. Semua ‘penghuni’ setiap kasurpun tidak risau, resah, atau
mengeluh sama sekali. Ruangan ini begitu tenang.
“Mari
mbak, dimulai dari kasur nomor 1.” Sapa Bapak Perawat Senior yang membuyarkanku
dari proses mengamati sekitar.
“Jadi
ini pasien pertama, pasien trepanasi otak, usia 20 tahun, perempuan. Kondisinya
lebih baik dari kemarin konsumsi makanan cair sudah meningkat dari 100 menjadi
200 cc setiap 4 jam. Yang lain stabil. GCS 234.”
“Pasien
kedua, trepanasi otak, usia 35 tahun, perempuan. Kondisinya stabil. Makanan
cair masih tetap 100 cc karena residu masih banyak lebih dari 50 cc dengan
warna normal. GCS 123”
“Pasien
ketiga, trepanasi otak, usia 32 tahun, perempuan. Stabil. Makanan cair
ditingkatkan 200 cc. GCS 234”
“Pasien
ketiga, luka pencernaan, usia 38 tahun, laki-laki. Makanan cair 50 cc. Tambah
albumin karena kondisi albumin tadi malam kurang. Kemudian stabil. GCS 123”
“Pasien
keempat, komplikasi ginjal, usia 62 tahun, laki-laki. Makanan cair 50 cc.
Stabil. GCS 123”
“Pasien
kelima, trepanasi otak, usia 28 tahun, laki-laki. Baru masuk tadi malam setelah
operasi. Masih puasa. Tunggu dokter datang pagi ini. GCS 123”
“Selanjutnya,
paru-paru, usia 30 tahun, perempuan. Dari paviliun. Makanan tunda dulu, karena
sesak tadi malam. Tunggu dokter. GCS 234.”
“Pasien
keenam?” tanya Perawat Junior.
Aku
sontak menolehkan kepalaku ke ranjang nomor 6. Aku mematung kaget. Tak
menyangka bahwa kejadian ini menyambutku di hari pertama magang. Dadaku berdegup
sangat kencang, aku sedikit limbung, semua orang disekitarku sepertinya sedang
kebingunan. Tetapi aku hanya melihatnya tanpa suara. Sorot mataku terus tajam,
menatap ranjang pasien keenam.
--------to be continued---------
#30DWCDay3 #Cerpen

No comments:
Post a Comment