October 13, 2017

Intensive Care Unit



Tit,tit,tit,tit,tit,tit,tit,…..
Tit,tut,tit,tut,tit,tut,tit,…..
Tiiiiiiiit,tiiiiiiit,tiiiiiiit,tiiiiiit,….
Tuuut,tuuut,tuuut,tuuut,….
Tik,tok,tik,tok,tik,tok,……
Tuk,tuk,tuk,tuk,tuk,tuk,….

Semua suara bercampur menjadi satu. Aku masih berusaha untuk memahami. Bahwa seminggu kedepan aku akan duduk disini. Sendirian sebagai ahli gizi magang di salah satu rumah sakit pemerintah di Kota Malang. Rasa sejuknya kota seperti membeku karena ditambah dengan semua Air Conditioner di ruangan tempatku duduk ini dipasang maksimal pada suhu 16 derajat.

Titititititititititititititititititititititititititititititi….

“Dokter Andi, ayo dicari kalau suaranya begitu berarti ada yang tidak beres itu. Berarti waktunya keliling, dicek mana yang bermasalah.”
“Baik dokter Uni.”
Salah satu dokter yang tadi disebut namanya sebagai dokter Andi kemudian bergegas berkeliling ruangan mencari sumber suara tersebut. Selang 7 menit kemudian suara alat itu kembali normal.

“Mbak, lagi magang? Dari mana? Dari Universitas Pelita?”
“Iya.” Jawabku singkat dibumbui sedikit senyum
“Bu Anggraini dimana?”
“Tadi masih rapat sebentar, baru akan masuk jam 9.”
Seorang perawat kemudian meninggalkanku setelah menyapa dengan ramah menuju ke kamar ganti untuk mengambil jasnya dan memasang masker segera kemudian bergegas mendapat arahan dari perawat sift jaga malam dan menjelaskan satu per satu kondisi semua pasien di ruangan tersebut.
“Pak, saya boleh ikut?” entah darimana dan ide siapa tetiba aku mengajukan diri kepada Bapak perawat yang saya duga usianya sudah masuk 47 tahun. Perawakan sekitar 162 cm, kulit sawo matang, dan terlihat begitu sabar. Dan sepertinya beliau perawat paling senior di ruang ini.
“Tentu saja.”
Pak perawat menjelaskan kepada seorang perawat laki-laki yang tadi menyapaku.
Sambil berdiri dibelakang kedua orang tersebut, aku mengamati ruangan yang kini aku berdiri tepat ditengahnya. Ruangan luas tanpa sekat pemanen dengan ukuran sekitar 15 x 20 meter. Berwarna putih untuk dinding dan atapnya, serta keramik putih untuk lantainya. Terdapat sisi kanan dan kiri, dimana dimasing-masing sisinya terdapat 4 kasur berjejer. Delapan kasur ini tidak terisi semua. Hanya enam kasur yang ada ‘penghuninya’. Masing-masing kasur hanya dipisahkan oleh kelambu berwarna biru yang juga hanya dibiarkan berada dipinggir tanpa direntangkan. Semua ‘penghuni’ setiap kasurpun tidak risau, resah, atau mengeluh sama sekali. Ruangan ini begitu tenang.
“Mari mbak, dimulai dari kasur nomor 1.” Sapa Bapak Perawat Senior yang membuyarkanku dari proses mengamati sekitar.
“Jadi ini pasien pertama, pasien trepanasi otak, usia 20 tahun, perempuan. Kondisinya lebih baik dari kemarin konsumsi makanan cair sudah meningkat dari 100 menjadi 200 cc setiap 4 jam. Yang lain stabil. GCS 234.”
“Pasien kedua, trepanasi otak, usia 35 tahun, perempuan. Kondisinya stabil. Makanan cair masih tetap 100 cc karena residu masih banyak lebih dari 50 cc dengan warna normal. GCS 123”
“Pasien ketiga, trepanasi otak, usia 32 tahun, perempuan. Stabil. Makanan cair ditingkatkan 200 cc. GCS 234”
“Pasien ketiga, luka pencernaan, usia 38 tahun, laki-laki. Makanan cair 50 cc. Tambah albumin karena kondisi albumin tadi malam kurang. Kemudian stabil. GCS 123”
“Pasien keempat, komplikasi ginjal, usia 62 tahun, laki-laki. Makanan cair 50 cc. Stabil. GCS 123”
“Pasien kelima, trepanasi otak, usia 28 tahun, laki-laki. Baru masuk tadi malam setelah operasi. Masih puasa. Tunggu dokter datang pagi ini. GCS 123”
“Selanjutnya, paru-paru, usia 30 tahun, perempuan. Dari paviliun. Makanan tunda dulu, karena sesak tadi malam. Tunggu dokter. GCS 234.”
“Pasien keenam?” tanya Perawat Junior.
Aku sontak menolehkan kepalaku ke ranjang nomor 6. Aku mematung kaget. Tak menyangka bahwa kejadian ini menyambutku di hari pertama magang. Dadaku berdegup sangat kencang, aku sedikit limbung, semua orang disekitarku sepertinya sedang kebingunan. Tetapi aku hanya melihatnya tanpa suara. Sorot mataku terus tajam, menatap ranjang pasien keenam.



 --------to be continued---------

#30DWCDay3 #Cerpen

No comments: