August 26, 2011

~sepotong episode~

sebuah kisah masa lalu hadir di benakku
saat kulihat surau itu
menyibak lembaran masa yang indah

bersama sahabatku

sepotong episode masa lalu aku

episode sejarah yang membuatku kini
merasakan bahagia dalam diin-Mu
merubah arahan langkah di hidupku

setiap sudut surau itu menyimpan kisah

kadang kurindu cerita yang
tak pernah hilang kenangan
bersama mencari cahayamu


sisa fotonya masuk ke sini yah "cantik"
by : edCoustic

August 24, 2011

keluarga baru C:

dan disinilah aku berdiri sekarang.
bersama para pembina lainnya
mungkin kita memang tak sempurna
tapi tak ada salahnya jika dengan cara begini, kita akan memaksa diri untuk bisa menjadi teladan
karena kita adalah pembina "Arsitek Peradaban"


pendamping keluarga PK2 MABA 2011

keluarga VIRLOGY ^aseeek^

pasport

aku repost ini dari notes kakakku yang di tag ke aku. dan kakakku ambil tulisan ini dari salah satu koran terkenal di surabaya.,


Pasport - Jawapos 8 Agustus 2011
oleh Rhenald Kasali pada 09 Agustus 2011 jam 8:00

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport.  Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan.  Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport.  Setiap mahasiswa  harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.  Dua minggu kemudian,  mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini?  Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu.   Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam.  Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?"
Saya katakan saya tidak tahu.  Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.  Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.  Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang.  Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.  Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.  Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu  tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring.  Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian.  Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.  Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara.  Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi.  Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan,  dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri.  dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat.  Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun.  Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia.  Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching.  Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini.  Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya.  Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi.  Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani.  Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri.  Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya.  Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan.  Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak.  Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan.  Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh.  Rasa percaya diri mereka bangkit.  Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport.  Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri.  Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat.  Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

*setelah membaca ini, kakakku bilang sama aku "dek, sebelum aku nikah nanti, aku , kamu, mas rizal harus pergi ke luar negeri. meskipun cuma di singapura, tapi kita harus pergi. ini mimpi kami. amin*

August 16, 2011

Filosofi Charles Schulz


Anda tdk perlu menjawab smua pertanyaan, bacalah dan dapatkan pesan berharga.
1. Nama 5 org terkaya didunia
2. Nama 5 pemenang tropy
3. Nama 5 miss america terakhir
4. Nama 5 org pemenang nobel
5. Name 5 org pemenang Academy Award
Intinya adalah, tidak ada seorangpun dr kita yg masih mengingatnya. Tepuk tangan telah sirna, penghargaan beralih.
Pencapaian telah dilupakan.
Ada kuis lain, lihatlah bagaimana anda mengerjakan yg ini :
1. Nama 5 guru yg telah membantu anda dlm perjalanan sukses anda disekolah
2. Nama 5 teman yg membantu anda dlm waktu sulit
3. Nama 5 org yg mengajarkan anda sesuatu yg berharga
4. Nama 5 org yg membuatmu merasa dihargai dan spesial.
5. Nama 5 org yg anda sangat menikmati waktu bersamanya.
Lebih mudah?
Pelajarannya : org2 yg membuat perbedaan didalam hidupmu bukanlah orang2 yg memenangkan penghargaan, tapi mereka adalah org2 yg peduli dan mengasihi anda dgn tulus.
Jadi, hargailah setiap saat yg anda miliki bersama org2 tersebut.
Karna waktu selalu berjalan dan kita tdk pernah tau apa yg akan terjadi ketika org2 tersebut dipindahkan Tuhan dr sisi kita.


Dari milis AirPutih

August 15, 2011

sedang belajar

tak apa jika harus terpencar
karena memang sedang belajar
asalkan jangan sampai memudar

aku memang sedang menawar
karena saat ini sedang belajar
asalkan masih kuberikan senyum lebar

aku bukanlah makelar
maka akupun belajar
bersikap dengan wajar

dan akupun tetap menawar
dengan kuberikan senyum terlebar
tunggu, aku masih belajar..



August 12, 2011

Metamorfosis c:


I presented this to my big friend


Metamorfosis
Kau memilih menjadi apa kawan?
Kupu-kupu?
Yah, karena aku akan menyebutmu demikian

Cantik bukan menjadi kupu-kupu?
Tapi tentu kau tahu sebelum ia cantik,
Bagaimana wujudnya.
Dan apa yang harus ia lewati terlebih dahulu.

Dia menjadi seekor ulat
Yang sebagaian orang tak menyukainya
Membuat daunpun menjadi tak lagi indah karenanya

Lalu ia mulai sadar dan memaknai hidupnya
Bertapa membersihkan diri menjadi sebuah kepompong
Lantas sampai situ sajakah?

Ternyata tak hanya di situ.
Tuhan benar-benar mengajrkan sebuah kerja keras dan pengorbanan padanya
Sang calon cantik berjuang antara hidup dan mati untuk bisa keluar dari kepompong
Sekuat tenaga..
Coba seandainya saat itu, kau memilih untuk berhenti di tengah karena lelah
Coba kalau saat itu kau memilih untuk tetap saja berada di dalam karena putus asa
Tak akan pernah ada yang melihat bagaimana keindahan dan pesonamu.

Hingga akhirnya kau telah mampu untuk memaknai hidup,
Kupu-kupu akan menebar manfaat di setiap kepakan sayapnya.
Kini, tetaplah melakukan itu.
Lebarkan dan bebaskan lagi sayap-sayap indahmu itu
Buat dunia menjadi berwarna karenamu
Dan tembuslah angkasa bersama dengan senyum, tawa, dan semangatmu
Karena ku tahu, pesonamu jauh indah melebihi kupu-kupu

 “Allah akan memberikan hidayah pada siapa saja yang memang Ia kehendaki”

August 11, 2011

masih setiakah?


aku yang tetap mencari sosokmu
meski tak mau ku menatap matamu
aku yang tetap membuka profilemu
meski aku memang bukan siapamu
aku yang tetap memikirkanmu
meski aku tak tahu apa di otakmu
aku yang tetap menyebutmu
meski Tuhan tak berkata padamu

masih setiakah?
dengan rasa yang menusuk ini?
masih setiakah?
dengan hati yang bergemuruh ini?
masih setiakah
masih setia
masih
...

August 5, 2011

serseerr::

Sorot mata yang tajam
Rasa yang menghujam
Pada relung terdalam

Aku hanya bisa mengumpat
Pada rindu yang menyengat

Aku hanya bisa menunduk
Karena kian menusuk

Kau benar-benar meninggalkan rasa
Meski tanpa membuat putus asa

Dan aku hanya bisa mengumpat
Pada rasa rindu yang kian menyengat

August 3, 2011

SUBHANALLAH. . .

begitu indah makhluk yang bernama WANITA
skalipun ia bershabat dgn air mata,
walaupun ia peka dengan lembut kasih sayangnya,
hingga ia sempat terluka. . .

namun ku tahu,
ia adalah makhluk yg paling kokoh atas ketulusannya. .

untukmu wahai Adam,
kenalilah kami dgn kesungguhan hatimu. . .
bahwa kami adalah WANITA
tiang-tiang surga dan negara...

Insya Allah