Bismillahirrahmanirrahim..
Jadi minggu lalu, Mizan ada appointment dgn health visitor (HV) utk 12mos review gitu. Jadi semacam review wajib utk tumbuh kembang anak.
Ukur BB, lalu cek kemampuan dasar motorik sensorik behaviour macem2 deh ada kuesioner nya gitu ASQ (age & stages questionnaires, bisa di googliny). Jadi di UK mereka pakai itu untuk tahu bagaimana progres tumbuh kembang anak.
Ukur BB, lalu cek kemampuan dasar motorik sensorik behaviour macem2 deh ada kuesioner nya gitu ASQ (age & stages questionnaires, bisa di googliny). Jadi di UK mereka pakai itu untuk tahu bagaimana progres tumbuh kembang anak.
Qadarullah, hasil tesnya bilang kalau Mizan sedikit agak kurang utk gross motor, tapi okelah. Aku gak begitu was2 juga karena aku tahu kemampuan anakku, pun yang mereka bilang jugaa santai wae
"all children develop at different rates and in different ways".
Well, mereka pun bertanya apa ada masalah, keluhan yang ingin didiskusikan. Sejujurnya, aku cerita sedikit tentang hal-hal negatif Mizan dan bagaimana menanganinya.
Mizan masih kesulitan utk memasukkan makanan ke mulutnya sendiri. Dia lebih memilih utk membuangnya. Dikasih sendok dibuang, dikasih biskuit dibuang, tapi kalau disuapin dia makan sangat banyak.
Dan HV kasih aku insight
- Bisa jadi karena memang dia belum bisa melakukan. "Keep encourage him!"
- kedua, karena dia tidak mau melakukannya. Dia lebih suka untuk disuapin. Pesannya tetap sama "Keep encourage him!, but give appreciation if he doing well. If he throws it again, take the food and put in the kitchen, don't give any responses. Does it make sense?"
Mizan masih kesulitan utk memasukkan makanan ke mulutnya sendiri. Dia lebih memilih utk membuangnya. Dikasih sendok dibuang, dikasih biskuit dibuang, tapi kalau disuapin dia makan sangat banyak.
Dan HV kasih aku insight
- Bisa jadi karena memang dia belum bisa melakukan. "Keep encourage him!"
- kedua, karena dia tidak mau melakukannya. Dia lebih suka untuk disuapin. Pesannya tetap sama "Keep encourage him!, but give appreciation if he doing well. If he throws it again, take the food and put in the kitchen, don't give any responses. Does it make sense?"
HV menjelaskan lebih jauh, usia Mizan sudah sangat lumrah dia butuh kasih sayang dan bnyak perhatian. Dan jika dia melakukan apapun itu, apapun, dia akan melihat respon kita. We appreciate him when he doing good, and we warn him if something not good. Sesuatu itu tidak baik dan "tidak sesuai" dimata kita orang dewasa.
So, Big Question is
"How many times we warn him/her rather than give him/her appreciation?"
"How many times we warn him/her rather than give him/her appreciation?"
Sama seperti sekarang tuh, si kecil lagi suka tiba2 mencet hidung Bunda Abinya, scratch us suddenly, klo lagi kelewat girang atau kelewat bete, kita sebagai ortu serta merta bereaksi kaget dan gak jarang marah karena merasa sakit, sementara itu hanya sepersekian detik dibandingkan dia tidak melakukannya dalam sisa 24 jam lainnya, aaaand we never realized dan tidak memberikan apresiasi atas itu, KARENA KITA BERFIKIR YAH SEHARUSNYA MEMANG ORANG TIDAK MENCAKAR MUKA ORANG LAIN.
Tapi kita gak fokus utk kasih perhatian ke bagian itu, malah memberikan perhatian lebih ketika dia mencakar. Padahal anak2 belajar mengekspresikan sesuatu, dan dia minta diperhatikan. Karena ortunya lebih memperhatikan ketika dia melakukan hal yang dianggap jelek dimata kita dibanding dgn hal yg seharusnya demikian, maka anak2 akan cenderung mengulangnya. Lagi dan lagi..
Tapi kita gak fokus utk kasih perhatian ke bagian itu, malah memberikan perhatian lebih ketika dia mencakar. Padahal anak2 belajar mengekspresikan sesuatu, dan dia minta diperhatikan. Karena ortunya lebih memperhatikan ketika dia melakukan hal yang dianggap jelek dimata kita dibanding dgn hal yg seharusnya demikian, maka anak2 akan cenderung mengulangnya. Lagi dan lagi..
(Karena aku dpt perhatian lhooooo dari ortuku.)
Does it make sense?
Penjelasan itu yang diberikan, dan yaah it make sense, i think!
Does it make sense?
Penjelasan itu yang diberikan, dan yaah it make sense, i think!
Well, sejujurnya ini jadi teguran tersendiri buat aku pribadi. Mungkin memang aku cenderung bereaksi ketika Mizan melakukan hal yang menurutku kurang baik, sementara tanpa sadar aku diam ketika dia berbuat 'normal', yg sebenarnya itu bisa jadi kebiasaan yg super baik yg bermanfaat buat hidupnya kelak.
Jadi dari saat itu, aku belajar lagi utk diam ketika Mizan melakukan hal yg aku kurang suka. Benar-benar diam atau aku pergi dan tidak memperhatikan dia. Sebelumnyaaaa, aku pernah baca IG parenting gitu kalau sebaiknya kita menegur dengan cara datar dan biasa aja nadanya bilang kalau Bunda tidak suka atau Bunda marah. Nah, menurut HV karena dia masih terlalu kecil untuk bisa diajak komunikasi verbal, jadi cara nonverbal yang dilakukan adalah diam, sementara kasih apresiasi terdalam dan benar2 jujur ketika dia melakukan hal-hal baik dan normal lainnya akan memberikan insight powerfull untuk perkembangan dia.
Jadi dari saat itu, aku belajar lagi utk diam ketika Mizan melakukan hal yg aku kurang suka. Benar-benar diam atau aku pergi dan tidak memperhatikan dia. Sebelumnyaaaa, aku pernah baca IG parenting gitu kalau sebaiknya kita menegur dengan cara datar dan biasa aja nadanya bilang kalau Bunda tidak suka atau Bunda marah. Nah, menurut HV karena dia masih terlalu kecil untuk bisa diajak komunikasi verbal, jadi cara nonverbal yang dilakukan adalah diam, sementara kasih apresiasi terdalam dan benar2 jujur ketika dia melakukan hal-hal baik dan normal lainnya akan memberikan insight powerfull untuk perkembangan dia.
MasyaAllah Tabarakallah.
Sesuai juga dgn buku yg lagi kubaca tentang Yes Brain and No Brain dari setiap orang (belum kelar baca sih, masih beberapa belas lembar, yg intinya Yes Brain itu punya efek tersendiri yang bisa menggiring ke hal2 baik seperti mau mencoba, tough, terbuka dgn hal baru dan lebih semangat dibanding No Brain), dan salah satu caranya adalah memberikan perhatian lebih ke hal2 baik sehingga bagian prefrontal cortex di otak lebih condong menjadi Yes Brain.
Sesuai juga dgn buku yg lagi kubaca tentang Yes Brain and No Brain dari setiap orang (belum kelar baca sih, masih beberapa belas lembar, yg intinya Yes Brain itu punya efek tersendiri yang bisa menggiring ke hal2 baik seperti mau mencoba, tough, terbuka dgn hal baru dan lebih semangat dibanding No Brain), dan salah satu caranya adalah memberikan perhatian lebih ke hal2 baik sehingga bagian prefrontal cortex di otak lebih condong menjadi Yes Brain.
Dan yah, mereka bertanya pula pada kami orang tuanya, bagaimana perasaan kami sudah menjadi orang tua selama setahun. "Are you happy?" Dan kalimat "You did great" Diulang terus-terusan sama si HV ini. Yeah, utk apresiasi bahwa menjadi orang tua memang tidak mudah, dan kamu harus bahagia menjalankan peran itu. Kalau boleh copas kalimat dari salah satu mentor saya "anak-anak tidak butuh orang tua yang sempurna, tapi mereka butuh orang tua yang bahagia" Rasa2nya kalimat itu benar-benar menjadi prioritas HV disini.
Intinya!
Ada pada perhatian positif.
Aku merasa mendapat perhatian super positif disini sebagai ortu, maka akupun jadi terus belajar menjadi manusia dan orang tua dengan pikiran positif. Pikiran positif akan menggiring kita dengan hal-hal bahagia. Dan orang tua bahagia akan mencari cara2 bahagia dan positif untuk membesarkan anak-anaknya. Dan akan tumbuh generasi-generasi bahagia.
Aamiin Allahumma Aamiin.
Laahaulaa walaa quwwata illah billah
Rabbihabli minashalihin
Wallahu'alam bishawab
Ada pada perhatian positif.
Aku merasa mendapat perhatian super positif disini sebagai ortu, maka akupun jadi terus belajar menjadi manusia dan orang tua dengan pikiran positif. Pikiran positif akan menggiring kita dengan hal-hal bahagia. Dan orang tua bahagia akan mencari cara2 bahagia dan positif untuk membesarkan anak-anaknya. Dan akan tumbuh generasi-generasi bahagia.
Aamiin Allahumma Aamiin.
Laahaulaa walaa quwwata illah billah
Rabbihabli minashalihin
Wallahu'alam bishawab

