mungkin kalimat ini terdengar sangat gampang dan sangat kecil remeh sekali.
Tapi aku kembali mendengarnya, selentingan seorang bapak yang berparas sangar, tegas, dan beliau berumur sekitar 70 tahun. Saya bertemu dengan bapak ini di kereta saat saya kembali ke Malang, hari Minggu lalu (20-02-2011).
Si Bapak : (sambil berbicara pada istrinya) "Wingi iku lho ya, pas maulidan seng ceramah lucu, seneng aku. Kiai ne guyon terus. hhahaha, lha wonge ngomong 'Nggih bapak-bapak, sampean niku nek badhe nyuwun dateng Gusti Allah nggih monggo tapi pun ngotot-ngotot, nyuwun mawon, paringaken seng terbaik damel sampean nggih pak."
(Kemarin itu pas acara Maulid Nabi, yang ceramah lucu. Aku suka. Pak Kiainya banyak guyoonnya. Dan bilang gini, "Bapak-bapak, jika mau minta sesuatu pada Allah itu, mintalah, tapi jangan terlalu memaksa, tapi mintalah yang terbaik pak."
Setelah mendengar cerita bapak tadi, aku jadi teringat satu hal. Sesuatu yang memang merubah cara hidup dan cara pandang Bapakku yang pastinya juga berpengaruh pada saya.
Saat itu, aku berusia 10 tahun. Cukup bersar untuk bisa mengetahui situasi di sekitar lingkunganku. Kakak pertama saya, dia akan lulus dari SMA dan akan melanjutkan di perguruan tinggi. Saat itu, kakakku termasuk murid yang cukup pintar, dan saat ditanya kakak ingin melanjutkan di jurusan apa, dia langsung menjawab ingin masuk Komunikasi Unair. Stelah mendengar jawaban itu, bapak dan ibu serta merta semakin memperbanyak amalan-amalan dan ibadah begitu juga dengan kakakku. Tapi setelah hasil UMPTN keluar, ternyata Allah berkehandak lain, kakakku belum berhasil. Dan saat itulah, aku benar-benar melihat bahwa kedua orangtuaku adalah orang yang paling kecewa dengan keadaan itu.
Tahun berganti tahun, kali ini giliran kakakku yang kedua yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Sekenarionya pun sama, pilihan yang diimpikan kakakku juga belum berhasil. Saat itu kembali kedua orang tuaku adalah orang yang paling kecewa menerima itu semua, hingaa suatu kita di waktu yang sama, si masku yang kedua ini nyeletuk "Bapak, seharusnya kita itu gak boleh buat minta ini minta itu sama Allah, lebih baik kita itu minta yang terbaik dari Allah."
Kemudian, dengan semangat yang masih tersisa. Kakakku mendaftar di D3 Sastra Inggris Unair. Dan alhamdulillah hingga sekarang, dia bisa lanjut hingga di S2 di tempat yang sama.
Sampai pada detik ini, saat aku memang benar-benar merasa tertolak dengan segala usaha dan keinginan untuk kuliah di Unair, UGM, dengan cita-cita sebagai seorang dokter, hmm, aku hanya bisa tersenyum kecil, menyaksikan rencana-rencan indah Allah pada jalan hidupku. Aku masih tetap meyakini, bahwa Allah selalu punya rencana indah.
Orangtuaku mungkin dulu masih belum tau, tapi beliau tetap menjadi inspirasi \ku yang sangat luar biasa.. Bila beliau dulu meminta A, B, dan C. Kini dia mengajrkan pada saya, "Nak, katakan pada Allah, bahwa saya ingin A. Jika memang itu yang terbaik untuk saya, maka, mudahkanlah saya untuk mendapatkannya, tapi jika bukan itu yang terbaik untuk saya, maka berikan yang terbaik." (amin)