December 23, 2010

22122010, temanya pepaya.

semua orang tahu kalau kemarin adalah hari ibu.
semua orang membicarakan tentang ibu.
semua orang becerita tentang ibu.
dan jika semua orang mempunyai tema yang sama adalah ibu, berbeda denganku dan juga teman-teman Gizi 2010 yang punya tema tambahan, yaitu .p.E.P.a.y.A.
mau tau bagaimana ceritanya, begini....
'Rabu kemarin kelas Gizi 2010 ada tambahan dari pak fajar mengenai serat dan antioksidan. banyak sekali pelajaran dan pengetahuan baru yang aku dapat, diantaranya tentang si buah satu ini.
Pepaya, adalah buah yang dianggap sebelah mata, karena termasuk buah yang sangat murah, dan bisa dijumpai di mana saja. selain itu pepaya adalah salah satu buah yang tidak pandang musim, kapanpun pasti ada ini buah. tapi banyak orang yang tidak suka, pertama karena ada yang tidak suka sama baunya si pepaya. ada yang tidak suka dengan rasanya, ada yang jaim makan itu buah karena termasuk buah 'rakyat', ada yang tidak mau makan karena mereka pikir pepaya adalah makanan orang sakit, bahkan yang paling parah mereka tidak mau makan karena pepaya adalah makanan burung --"


PADAHAL....

Pelajaran dari Cicak

Anda tahu cicak? Tentu saja tahu, hampir disetiap rumah ada cicak. Cicak punya keistimewaan bisa berjalan di atap dengan badan terbalik, tetapi bukan itu yang ingin saya lihat pada saat ini, justru yang akan kita lihat adalah "kelemahan" cicak yang tidak bisa terbang, sementara makanan cicak bisa terbang. 

Dari sini bisa kita ambil pelajaran, meskipun cicak tidak bisa terbang tetapi mereka masih bisa memakan nyamuk. Itu menunjukan bahwa cicak sudah di atur rezekinya oleh Allah. 

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). [QS 11:6] 

Begitu juga manusia dan makhluq yang lainnya. Allah telah menetapkan rizkinya masing-masing. 

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. [QS 14:32] 

Rezeki adalah pemberian Allah, bukan dari tempat Anda bekerja sekarang, bukan dari bisnis Anda, bukan dari deposito Anda. Semua itu hanyalah sarana Anda mendapatkan rezeki, karena memang Allah yang memerintahkan kita untuk mencari rezeki tentu saja dengan berbagai sarana. 

Yakinlah akan rezeki Allah, jangan yakin dengan rezeki yang sekarang Anda dapatkan ditempat Anda bekerja sekarang ini. Mungkin saja ditempat lain rezeki Anda sudah menunggu. Tidak ada jaminan Anda akan mendapatkan rezeki dari tempat sekarang terus-menerus, karena bukan perusahaan Anda yang meluaskan dan menyempitkan rezeki Anda, tetapi Allah. 

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. [QS 17:30] 

Seberapa besarnya gaji Anda, jika Allah telah menetapkan bahwa itu bukan rezeki Anda, maka itu mudah bagi Allah. Mungkin saja rezeki itu menjadi rezeki dokter yang mengobati penyakit Anda. Mungkin saja semua gaji Anda ludes dirampok, dan berbagai kemungkinan lainnya. Bahkan makanan yang tinggal beberapa senti kemulut Anda masih bisa jatuh menjadi rezekinya semut. 

Meskipun rezeki sudah di atur oleh Allah, tetapi kita tetap dituntut untuk berusaha sendiri. Cicakpun berusaha, mendekati tempat terang dimana di sana banyak nyamuk. 

.....sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, [QS 8.53] 

Wallahu a'lam bishawab 

www.motivasi-islami.com oleh Rahmat

December 21, 2010

cerita tentang mama::bunda::ibu::mak

Bunda, Binar Matamu adalah Surga....


Kemarin, aku pulang ke Bandung. Aku sudah kangen sama ibu. Lagi pula aku ingin liburan, setelah 6 hari full kerja. Saat tiba di rumah, tak ada siapa-siapa, hanya kakaku yang membuka pintu rumah. Setelah menyimpan tas di kuris. Aku rebahan di sofa. Tak lama, aku tertidur lelap di kursi, dibuai nyenyak udara Bandung yang dingin.
Tidurku tiba-tiba terganggu. Sebuah tangan menepuk pundakku. “Subuh, ayo cepet subuh, bentar lagi matahari tiba,” teriak Bunda. Aku tahu Bunda paling sering membangunkanku untuk solat subuh. Ia sepertinya sungkan kalau harus membangunkanku tepat saat adzan subuh. Ia lebih memilih 15 menit menjelang matahari muncul untuk menyuruhku bangun. Ia tahu kalau aku sering tampak kelelahan.
“Hallo Bunda…assalamualaikum…” sapaku, di pagi itu. “wa’alaikum salam,” jawab Bunda. “Ayo cepet solat, tuh udah siang,” tambah Bunda. Aku berlari menuju kamar mandi. Beres solat, aku memilih tidur lagi di kamar. Saat aku mulai memejamkan mata, pintu kamarku terbuka pelan. Aku tahu pasti yang membuka pintu adalah Bunda. Aku tahu, tiap kali aku pulang, Bunda selalu saja membuka pintu kamarku hanya untuk memandangku. Ya, menatapku sejenak saja. Ia seperti memandangku lemas. Sesekali ia memandangku gelisah.
Entahlah, pagi itu aku merasakan ada tatapan Bunda aneh dari tatapan matanya yang lain. Tatap mata Bunda begitu menarik perhatianku. Tapi..akh mungkin Bunda hanya kangen padaku. Hingga, tatapan matanya begitu panjang. “Duh, Bunda, meski tubuhmu rapuh, engkau masih saja memperhatikanku dengan matamu yang dipenuhi rasa kasih. Meski aku sudah dewasa, engaku maih saja menyimpan rasa perhatianmu untukku. Perhatian teduh yang menyejukanku. “Nak sarapan dulu….” Lamunanku dikejutkan panggilan Bunda. “ Iya Bunda…”
“Bunda sehat?” kataku.”Sehat Nak,” jawab Bunda. Aku pun terus makan. Dan dihadapanku masih ada Bunda yang terus menatapku. Dan aku bisa merasakannya. “Ada apa Bu, kok ibu ngelamun?” “Ah…nggak, ngga ada apa-apa kok…,” jawab ibu.
“Bu , ini ada uang sedikit, buat ibu. Buat apa aja yang ibu mau. Kalu kurang ibu bilang aja sama Badar.” Setengah terkejut ibu memandangku,”Apa ibu nggak salah Nak. Udah simpan saja uang itu untukmu,” kata Bunda. “Buat bunda aja. Aku ingin Bunda merasakan gaji pertamaku. Ya, gaji hasil kerja pertamaku..” Bunda tersenyum. Ia menatapku tajam. Tak lama, ada nanar air mata di kelopak mata ibu. Bunda kelihatannya terharu.
“Nak…simpan saja uang ini. Buat beli-beli buku atau apa kek,” kata Bunda. Bunda tahu kalau aku senang membaca, karena itu ia berkata seperti itu. “Nggak Bu, buat Ibu aja…” Ibu kemudian pergi ke kamar. Ia menutup rapat pintu kamarnya. Dalam lirih suara angin, aku mendengar sengguk tangis bunda. Aku tak mengerti.
Tepat pukul 4 sore, aku pamit sama Bunda. Senin pagi, aku harus berada lagi di Jakarta. Cium tangan dan peluk aku berikan buat Bunda. Saat pergi meninggalkan rumah, Bunda masih saja menatapku. Tatapannya hening dan sunyi. Aku melambaikan tangan; sun jauh buat Bunda. Dan aku melihat Bunda masih saja menatapku nanar, aku merasakannya.
Entahlah, aku tak tau ada apa dengan Bunda. Aku hanya menduga Bunda mungkin kangen sama aku. Disebut sakit, tidak juga. Tubuhnya masih terlihat kuat dan sehat. Entahlah…
Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Sebuah SMS datang menyapaku: “Bunda sering nangis kalau udah lihat berita di TV. Apalagi kalau udah liat berita kriminal dan kehidupan di Jakarta. Bunda cemas banget sama Ade. Di suka ngomong; Gimana ya Ade kabarnnya..mudah2an selamet.”
Aku baru sadar bahwa isyarat mata Bunda adalah kecemasan. Kekhawatiran seorang Bunda pada anaknya yang mulai menempa diri. Mandiri di kota yang jauh. Entahlan, air mataku tiba-tiba jatuh. Aku merasakan sesak mulai menghimpit dada. Matahari sore masih memagut sepi. Bibirku bergetar mengenang tatap mata bunda. Binar matamu adalah syurga. Nanar cemasmu adalah kasih. Terima kasih Bunda.
Kupersembahkan Buat semua para Bunda. Nanar matamu adalah syurga….

Iq, Maafkan Mama!

bismillahhirrohmanirrohim..

December 20, 2010

::my mother::

aku tak pandai menyanyi karena aku sadar suaraku tak seindah gita gutawa atau rossa
aku juga bukan ahli pujangga yang pandai merangkai kata indah seperti andrea hirata
tapi aku tetaplah seorang anak ibu yang selalu ingin membahagiakan ibu
kapanpun dan sampai kapanpun..
for my beloved mother

::YOUR MOTHER::
by Rashid Bhikha
Who should I give my love to?
My respect and my honor to
Who should I pay good mind to?
After Allah
And Rasulullah

Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father

Cause who used to hold you
And clean you and clothes you
Who used to feed you?
And always be with you
When you were sick
Stay up all night
Holding you tight
That's right no other
Your mother (My mother)

Who should I take good care of?
Giving all my love
Who should I think most of?
After Allah
And Rasulullah

Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father

Cause who used to hear you
Before you could talk
Who used to hold you?
Before you could walk
And when you fell who picked you up
Clean your cut
No one but your mother
My mother

Who should I stay rigt close to?
Listen most to
Never say no to
After Allah
And Rasulullah

Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father

Cause who used to hug you
And buy you new clothes
Comb your hair
And blow your nose
And when you cry
Who wiped your tears?
Knows your fears
Who really cares?
My mother

Say Alhamdulillah
Thank you Allah
Thank you Allah
For my mother.

"happy mother's day for all best mother in the world"

love


aku wanita yang sedang jatuh cinta
tapi aku tak tahu pasti pada siapa aku jatuh cinta
hanya karena rasa yang aku miliki ini
aku merasa semakin cinta pada Allah
karena aku yakin perasaan cinta ini datang dariNya
meski tak tahu aku pada siapa ini ditujukan
aku wanita yang sedang merindu
tapi aku juga tak tahu pada siapa aku rindu
hingga aku sadar, Allah membuatku rindu
dengan semua kasih sayang tulus yang telah Ia berikan padaku
meski aku terkadang khilaf karena tidak memikirkan 
atau bahkan sedang lupa padaNya,
Dia tak pernah melupakanku sedikitpun
tak pernah lalai padaku sedikitpun
dan tak pernah meninggalkanku sedikitpun.
Subhanallah...
 (:Allahhu akbar :)

December 14, 2010

Kekuatan Itu dari Allah Semata

Dunia merupakan tempat kehidupan yang sangat keras. Di sana, manusia berlomba-lomba mencari isi perut tanpa menghiraukan kanan-kiri. Mereka berpacu mengejar pangkat dan jabatan walaupun harus menginjak bawahan. Mengumpulkan kekayaan tanpa batas seakan hidupnya akan abadi.
Dan, di tengah-tengah mereka, kita -yang merasa memikul amanah da'wah- juga harus berpacu sekuat tenaga mengejar langkah-langkah mereka sambil menawarkan Al-islam. Menebarkan rahmat dan beramar ma’ruf nahyi munkar. Memang akan terasa lelah dan letih dalam proses ini, karena jalan da'wah merupakan jalan yang sangat panjang. Belum lagi sikap mereka -yang kadang- apatis dan bermuka masam. Juga, di sana ada sekelompok orang yang tidak suka dengan kita, menghadang laju pertumbuhan da'wah dengan berbagai cara. Menyebar fitnah, meneror, boikot sosial sampai mungkin masuk dan merambah ke daerah fisik. Melukai, menganiaya sampai percobaan pembunuhan.
Ya, lihat saja perjuangan Rasulullah SAW beserta para sahabatnya yang penuh dengan kisah-kisah heroik dan perjuangan, yang senantiasa dihiasi dengan rintangan dan ujian. Semuanya patut kita jadikan sumber inspirasi bagi penyebaran da'wah di muka bumi ini. Karena di sana tersimpan mutiara-mutiara sirah sebagai sunnatullah da'wah yang harus kita fahami bersama.
Sungguh apabila manusia hanya mengandalkan kekuatannya saja dalam memikul amanah da'wah ini, niscaya ia tak kan sanggup melakukannya. Jangankan manusia, gunung saja yang kita anggap berkekuatan besar apabila diturunkan kepadanya al-quran, maka ia pasti akan hancur.
Allah SWT berfirman, "Kalau sekiranya kami menurunkan al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir." (QS Al-Hasyr: 21).
Di sinilah setiap da'i perlu berhenti sejenak, merenungkan lagi perjalanannya selama ini, mengevaluasi hasil-hasilnya dan masalah-masalah yang selalu menjadi penghias jalan da'wah.
Seorang da'i sangatlah memerlukan kekuatan tambahan yang mendorong dan menopangnya sehingga ia tetap mampu berdiri kokoh di jalan da'wah. Imam Asy-Syahid pernah mengungkapkan bahwa kemenangan da'wah bisa tercapai dengan tiga kekuatan: kekuatan aqidah, kekuatan ukhuwwah dan kekuatan senjata.
Seorang da'i yang akidahnya mantap, pada waktu itu ia tidak akan merasa lemah ketika berhadapan dengan musuh dan rintangan-rintangan da'wah karena ia telah menyandarkan dirinya pada kekuatan hakiki, dzat yang menggenggam segala urusan.
Bagaimanapun bentuk dan betapapun besar rintangan da'wah, ia pasti dapat melewatinya dengan mulus. Mungkin kita masih teringat dengan kisah perjuangan Bilal bin Rabah, ketika ia disiksa di padang pasir yang panas, dicambuk dan ditindih dengan batu besar. Waktu itu ia hanya berucap, "Ahad, Ahad, Ahad". Atau Zaid bin Haritsah yang ikut bersama Rasulullah ke Thaif dan pulang dengan dilempari batu serta cacian dan makian, sehingga kaki baginda Rasulullah pun terluka dan mengucurkan darah. Waktu itu, bukan sumpah serapah yang keluar dari bibir Rasulullah, bukan juga laknat dan do'a azab, akan tetapi untaian do'a rahmat dan maghfirah yang justru meluncur dari kedua bibirnya.
Dengan kekuatan dari Allah dan tawakal kepada-Nya, seorang manusia biasa tiba-tiba saja akan memiliki kekuatan yang berlipat ganda. Inilah yang kita perlukan. Amunisi-amunisi da'wah yang bersumber dari Ilahi. Maka tidaklah mengherankan bila para sahabat di waktu siang seperti singa dan di waktu malam seperti "rahib". Tangisan-tangisan mereka di malam hari ketika membaca untaian firman Allah sungguh telah menjadikan mereka pribadi-pribadi tangguh. Sujud-sujud mereka yang lama dalam qiyamullail menjadikan mereka berwibawa dan disegani di mata kaum kuffar.
Sekali lagi, hanya dengan kekuatan Ilahiyah lah kita dapat membawa amanah da'wah ini. Shalahudin Al-Ayyubi, pernah berkata ketika memeriksa pasukannya di malam hari dan menemukan kemah-kemah mereka bercahaya karena diisi dengan qiyamullail, "Jika kita menang dalam perang ini, maka sesungguhnya kemenangan tersebut datangnya dari sini", sambil kemudian tangannya menunjuk pada orang-orang yang sedang melaksanakan shalat tersebut.
Umar bin Khattab ketika memberikan wejangan kepada pasukan islam, ia berkata, "Sesungguhnya kalian tidak akan menang dengan kekuatan dan perbekalan kalian, akan tetapi kemenangan itu akan datang karena ketaatan kalian kepada Allah dan kedurhakaan mereka terhadap-Nya."
Begitulah sunnatullah dalam da'wah. Keyakinan terhadap kekuatan dari Allah merupakan keniscayaan bagi diri manusia yang lemah ini. Allah berfirman: "Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya".(QS Ath-Thalaq: 3)
Sudah saatnya kita perkuat lagi hubungan dengan Allah sehingga kemelut umat islam dapat teratasi dan islam kembali berjaya di muka bumi ini. Hanya kepada Allahlah kita meminta kekuatan dan kesabaran dalam meniti perjalanan da’wah ini. Karena, sekuat dan sematang apapun sebuah pergerakan jika tidak bersama dengan Dzat Yang Maha Kuasa, Yang Maha Menggenggam, dan Yang Maha Memiliki segalanya, kita tak akan mampu melangkah dan menggapai cita-cita agung ini.

"ini bukan tulisan aku"
:P

Resensi Buku

Judul: Tuhan, Inilah Proposal Hidupku
Penulis: Jamil Azzaini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009
Tebal: 99 hlm
ISBN: 978-979-22-4438-0
Apakah proposal hidup itu? Apakah kita membutuhkannya untuk menjalani kehidupan, menyelesaikan semua perkara hidup dan mencapai tujuan hidup? Workbook yang ditulis Jamil Azzaini mungkin bisa jadi jawaban; bisa pula tidak.Kita terbiasa menjalani kehidupan apa adanya. Iya, benar. Kita punya keinginan, harapan, bahkan target dalam hidup. Tentu saja. Tapi apakah kita, manusia, terbiasa menuliskan setiap mimpi yang ingin diwujudkannya? Ini kembali ke masing-masing orang, yang sifatnya bisa jadi privat dan rahasia.Tidak banyak dari kita yang punya waktu, atau menyisihkan sedikit saja, menuliskan impian dan harapan, bahkan ambisi. Kebanyakan semua itu tersimpan di otak, berbentuk fakta imajiner.
Itulah sebabnya, Azzaini mau berbagi melalui Proposal Hidup nya. Azzaini bukan mengajari Anda jadi suka menulis. Bukan pula mengajarkan Anda jadi narsis. Ia hanya berusaha menghempaskan khayalan menjadi kata-kata, yang nantinya bisa diwujudkan. Jadi, impian bukan cuma kisah terpendam, sedikit terkatakan tapi tidak terlaksana.
Pria yang mendedikasikan diri sebagai inspirator ini sedang mendidik kita merencanakan hidup secara matang. Ya, kita tinggal mengikuti panduan dan menuliskan setiap rencana dan target: apa yang kita inginkan dalam hidup dan bahagia macam apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Itulah sebabnya, Proposal Hidup tidak lupa menuntun kita berkisah tentang betapa berharganya diri kita sendiri. Sekali lagi, bukan atas dasar narsistis, melainkan penghargaan self awareness yang sering terabaikan, bahkan oleh masing-masing pribadi.
Eittss.. jangan senang dulu. Jangan kira setelah menulis, hidup kita tiba-tiba berubah; tercapainya target atau jadi kaya. Orang hebat ataupun orang sukses itu bukan karbitan! Proposal hidup hanya bekal. Sisanya, tentu saja konsistensi, motivasi dan yang terpenting adalah usaha keras.
Azzaini berbagi keutamaan hidup teratur dengan kita. Filosofi ?biarlah hidup mengalir seperti air’ boleh diyakini, tapi ada baiknya kita sendirilah yang mulai mengatur hidup. Tulisan dalam proposal hidup adalah motivasi, our own direction, supaya kita tidak lupa tujuan utama dalam hidup.
Penulis mengajak kita mencapai cita-cita materialis tanpa melupakan spiritualitas. Karenanya, Azzaini mensyaratkan setiap permohonan itu kepada Tuhan. Keseimbangan aspek lahiriah dan batiniah agaknya menjadi kunci pencapaian tujuan hidup. Dalam usaha itu kita tidak lupa berserah diri; bukan pasrah.
Tuhan, inilah Proposal Hidupku hanyalah satu dari sekian blog yang dibukukan. Gaya penulisan ini makin marak ditengah arus deras new media technology. Diantara seabreg blog, situs-situs pribadi dan buku-buku online, agaknya buku cetakan kertas masih akrab dan identik dengan gaya membaca. Terlepas dari persoalan komersil, buku maupun blog masih menyisakan unsur infomatif dan inspiratif. Bila suka, selamat membaca! (mbs)
by : 
http://jamil.niriah.com/2009/04/16/resensi-tuhan-inilah-proposal-hidupku/
. marah .
. jenuh .
. gak enak .
. gak mood .
. bosen .
. lemes .
. males .
. mangkel .
. jengkel .
. lelah .
aku benci dengan semua ini
tapi aku juga benci jika harus mengatakan bahwa aku saat ini merasa seperti
aku sadar
aku tidak sendiri dan 
tak mungkin dan tak akan pernah sendiri di sini
tapi aku benci merasa menjadi seperti ini
aku tidak suka
 aku menabrak hidupku

December 6, 2010

RENUNGAN n KISAH INSPIRATIF: Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ♥Surat Untuk Calon Suamiku♥Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ

RENUNGAN n KISAH INSPIRATIF: Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ♥Surat Untuk Calon Suamiku♥Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ: "Seorang gadis menulis surat untuk calon husband dan menyimpannya di atas awan. Ini isi suratnya : Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarak..."

muhassabah

kullu amin waantum bikhair
"semoga di tahun-tahun mendatang, kamu sekalian tetap dalam kebaikan"

Tiada terasa tahun telah berubah
Tiada terasa umur terus berkurang
Tiada kata tuk berhenti beribadah
Tiada lelah untuk berhenti mencari ilmu
Tuk menjemput hari-hari depan yang penuh berkah...



December 5, 2010

this is it....

hmm, berkegiatan, berorganisasi, berkumpul, mencari teman baru, mencari kesibukan dan kebingungan baru.
itu melelahkan mungkin, tapi entah mengapa aku amat sangat senang dan bahagia menjalaninya.
Dan inilah, untuk yang pertama kalinya, aku mencoba mendedikasikan diri di kolegium FKUB.
PEMILWA 2010.





mungkin ini bukan yang terbaik dari diriku, tapi aku sudah berusaha yang terbaik.






Dan seperti kata pepatah:
"Jika kesibukan membuatmu lelah, maka berdiam diri akan malah merusakmu"

Hidup Mahasiswa!
FK JAYA!

Mereka Pergi Menuju CintaNya

Anak majikan saya, yang baru berumur enam tahun, sudah dua hari ini menangisi kematian empat anak kucing yang dipeliharanya. Setiap bangun tidur, sebelum ke kamar mandi, dia pasti akan melongok dulu kardus di bawah tempat tidurnya. Tempat anak-anak kucing miliknya disimpan. Namun ia selalu kecewa dan kecewa. Sebab setiap hari selalu saja ada yang mati.
Ia selalu menanyakan pada mamanya. Kenapa jadi begini? Kenapa mama si kucing tidak mau menyusui? Kenapa ia tak sayang pada anaknya? Begitu pertanyaan bocah kecil itu yang bertubi-tubi kepada orang tuanya.
Kemudian majikan saya menerangkan kepada anaknya. Bahwa Allah SWT lebih sayang dia. Allah akan memelihara kucing cantik itu di surga sana. Di sana makanan kucing enak-enak. Tidak seperti di rumah ini. Di sana banyak ikan, banyak daging. Sedang di sini jarang. Kalaupun ada kamulah yang makan. Sedang si kucing cuma diberi sisanya. Bahkan kadang tidak kau beri. Makanya, lebih bagus ia hidup di surga. Dipelihara langsung oleh Allah. Kata majikan saya pada si anak. Sedikit memberikan pelajaran tentang berprasangka baik pada Yang Maha Kuasa.
Anak itu diam. Entah mengerti atau tidak dengan keterangan mamanya. Yang jelas dialog di pagi hari itu sempat menggelitik telinga saya yang sedang menyapu lantai. Terus terang saya juga sedang mempunyai perasaan hampir sama dengan anak itu. Persoalannya, jika dia sedih ditinggal mati oleh anak kucing, sedang saya sedih, karena ditinggal untuk selama-lamanya oleh tiga teman akrab saya.
Yang satu, pemuda yang umurnya belum genap dua puluh empat tahun. Ia teman ngaji saya di sebuah pesantren. Ia meninggal ketika sedang mencari rumput untuk kambingnya yang baru beranak. Ia terperosok ke jurang yang cukup dalam. Lantas masuk sungai yang penuh batu-batu. Kepalanya menghantam salah satu batu besar. Tidak ada yang menolong. Ia meninggal dan baru ditemukan dua hari kemudian.
Yang kedua, laki-laki 30-an dan sudah beristri. Mata pencahariannya macam-macam. Artinya bekerja apa saja mau. Dari cuci piring kalau ada orang hajatan sampai kuli bangunan. Ia selalu ringan menolong siapa saja, jika ada kegiatan umum di kampung saya. Walaupun tidak diundang, kalau itu dinilainya perbuatan baik, ia ikut terlibat di dalamnya. Ia pingsan ketika sedang mencuci piring di rumah seseorang yang sedang menggelar hajatan. Sebelas jam kemudian ia menghembuskan napasnya yang terakhir sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.
Kemudian yang terahir, laki-laki 25 tahun. Ia belum mempunyai istri. Ia rajin membuat pekerjaan tangan yang punya nilai jual. Di rumahnya penuh dengan kayu-kayu kecil, cat dan perabot kerajinan lainnya. Ia masih rajin datang ke guru-guru ngaji untuk menambah ilmu. Beberapa waktu lalu, ia terjatuh ketika sedang membeli cat di sebuah toko bangunan. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Namun untung tak dapat diraih. Ia menghembuskan napasnya yang terahir ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Satu persatu sosok-sosok pejuang dakwah di kampung itu muncul dalam benak pikiran saya. Mereka adalah sedikit pemuda yang mau menumpahkan sebagian waktunya untuk sedikit ikut menebarkan kalimah Allah di muka bumi ini. Mereka yang dengan ikhlas mau menumpahkan sebagian harta dan pikirannya untuk sesama. Walaupun secara ekonomi hidup mereka sangatlah susah. Tapi siapa lagi kalau buka kita? Kata mereka suatu saat ketika kami berkumpul di markas TPA masjid.
Idris, pemuda yang saya sebut pertama tadi, adalah penjual sayur kalau pagi. Ia sedang giat bernegosiasi dengan orang-orang yang cukup kaya di kampung ini, agar mau membantu keberadaan TPA yang saat ini sedang 'hidup segan matipun tak mau'. Amin, laki-laki yang kedua, sedang membina beberapa anak umur 12 tahun, yang sebentar lagi khitan, untuk secepatnya fasih membaca Qur'an, sehingga pada saat hajatan khitan nanti, bisa ada khataman yang meriah. Untuk sedikit memberikan warna budaya yang islami di kampung saya. Sedang Karim, pemuda yang satu lagi sedang siap-siap jadi bendahara. Sebab kampanyenya tentang zakat maal rupanya ditanggapi positif oleh penduduk kampung.
Namun Sang Pencipta berkata lain. Yang Maha Kuasa ini bertindak tidak sesuai dengan apa yang telah kami rencanakan. Dia memanggil ketiga teman saya dalam selang waktu yang tidak begitu lama. "Ya Allah, ada apa di balik ini semua?" Hanya itu yang terucap dari bibir saya.

Wanita itu Mutiara

"Woman was made from the rib of man, She was not created from his head to top him, Not from his feet to be stepped upon, She was made from his side to be close to him, From beneath his arm to be protected by him, Near his heart to be loved by him."
Bagaimana perasaan seorang pria jika dikelilingi banyak wanita? Jika pertanyaan itu disodorkan kepada saya, maka ungkapan bangga nampaknya cukup mewakili perasaan saya. Saya senang setiap hari dikelilingi wanita cantik, shalihah pula. Dan tentu pada saat itu saya semakin merasa menjadi pangeran. Ups, jangan curiga dulu, karena wanita-wanita cantik nan shalihah yang saya maksud adalah istri dan dua anak saya yang keduanya kebetulan wanita. Insya Allah.
Tidak hanya itu, sebelum saya menikah, saya juga lebih banyak disentuh oleh wanita, yakni ibu karena semenjak usia enam tahun saya memilih untuk ikut ibu saat ia bercerai dengan ayah. Sebuah naluri kedekatan anak terhadap ibunya yang tidak sekedar karena telah menghisap ratusan liter air susu ibunya, melainkan juga ikatan bathin yang tak bisa terpisahkan dari kehangatan yang senantiasa diberikan seorang ibu terhadap anaknya.
Karena itulah, dalam hidup saya tidak ingin berbuat sesuatu yang sekiranya dapat mengecewakan dan melukai seorang wanita. Namun sikap yang tepat dan bijak harus diberikan seorang pria mengingat wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, yang apabila terdapat kesalahan padanya, pria harus berhati-hati meluruskannya. Terlalu keras akan mematahkannya, dibiarkan juga salah karena akan tetap pada kebengkokannya. Meski demikian, tidak sedikit pria harus membiarkan wanita kecewa demi meluruskan kesalahan itu, toh setiap pria yang melakukan itu pun sangat yakin bahwa kekecewaan itu hanya sesaat kerena selanjutnya akan berbuah manis.
Wanita itu ibarat bunga, yang jika kasar dalam memperlakukannya akan merusak keindahannya, menodai kesempurnaannya sehingga menjadikannya layu tak berseri. Ia ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang-ambing oleh hempasan angin dan basah kuyup meski oleh setitik air. Oleh karenanya, jangan biarkan hatinya robek terluka karena ucapan yang menyakitkan karena hatinya begitu lembut, jangan pula membiarkannya sendirian menantang hidup karena sesungguhnya ia hadir dari kesendirian dengan menawarkan setangkup ketenangan dan ketentraman. Sebaiknya tidak sekali-kali membuatnya menangis oleh sikap yang mengecewakan, karena biasanya tangis itu tetap membekas di hati meski airnya tak lagi membasahi kelopak matanya.

kita adalah pelajar sepanjang masa

kala itu,
bu guru mengajarkanku berbagai warna yang indah,
hingga akhirnya aku bisa mewarna
pelangi, langit, pohon, gunung, semua menjadi sangat indah tuk dipandang

kala itu, 
teman memberiku sebungkus lolipop
hingga akhirnya aku bisa mengerti
teman, sahabat, musuh, semua menjadi cerita dalam hidupku

kala itu,
fisika, kimia, dan biologi membuatku menangis
aku tak pernah mendapati diriku menjadi terlihat bodoh
nilaiku jelek. 
aku tak mendapatkan pelajaran apapun di sini.

hingga kala itu,
aku mengenal apa itu proposal,
aku menjalankan yang namanya sebuah acara,
aku bahagia,
sangat bahagia
dan aku tak lagi menangis jika fisika tetap saja berada di ambang batas nilai raporku
karena aku sadar,
ilmu tak hanya aku dapat di dalam kelas
dan jika aku mendapat hasil yang buruk,
terkadang itu bukanlah apa-apa,
aku tetap bisa berusaha
dan tak pantas untuk menangis,
karena banyak hal yang lebih indah, lebih penting untuk dipikirkan dan dicemaskan

dan jika kala itu tiba
aku akan menyadari,
bahwa aku adalah pelajar sepanjang masa, 
yang bila aku gagal hari ini
masih ada esok lagi tuk aku mencoba
yang bila aku tak bisa hari ini
maka esokpun pasti aku bisa.