December 21, 2010

cerita tentang mama::bunda::ibu::mak

Bunda, Binar Matamu adalah Surga....


Kemarin, aku pulang ke Bandung. Aku sudah kangen sama ibu. Lagi pula aku ingin liburan, setelah 6 hari full kerja. Saat tiba di rumah, tak ada siapa-siapa, hanya kakaku yang membuka pintu rumah. Setelah menyimpan tas di kuris. Aku rebahan di sofa. Tak lama, aku tertidur lelap di kursi, dibuai nyenyak udara Bandung yang dingin.
Tidurku tiba-tiba terganggu. Sebuah tangan menepuk pundakku. “Subuh, ayo cepet subuh, bentar lagi matahari tiba,” teriak Bunda. Aku tahu Bunda paling sering membangunkanku untuk solat subuh. Ia sepertinya sungkan kalau harus membangunkanku tepat saat adzan subuh. Ia lebih memilih 15 menit menjelang matahari muncul untuk menyuruhku bangun. Ia tahu kalau aku sering tampak kelelahan.
“Hallo Bunda…assalamualaikum…” sapaku, di pagi itu. “wa’alaikum salam,” jawab Bunda. “Ayo cepet solat, tuh udah siang,” tambah Bunda. Aku berlari menuju kamar mandi. Beres solat, aku memilih tidur lagi di kamar. Saat aku mulai memejamkan mata, pintu kamarku terbuka pelan. Aku tahu pasti yang membuka pintu adalah Bunda. Aku tahu, tiap kali aku pulang, Bunda selalu saja membuka pintu kamarku hanya untuk memandangku. Ya, menatapku sejenak saja. Ia seperti memandangku lemas. Sesekali ia memandangku gelisah.
Entahlah, pagi itu aku merasakan ada tatapan Bunda aneh dari tatapan matanya yang lain. Tatap mata Bunda begitu menarik perhatianku. Tapi..akh mungkin Bunda hanya kangen padaku. Hingga, tatapan matanya begitu panjang. “Duh, Bunda, meski tubuhmu rapuh, engkau masih saja memperhatikanku dengan matamu yang dipenuhi rasa kasih. Meski aku sudah dewasa, engaku maih saja menyimpan rasa perhatianmu untukku. Perhatian teduh yang menyejukanku. “Nak sarapan dulu….” Lamunanku dikejutkan panggilan Bunda. “ Iya Bunda…”
“Bunda sehat?” kataku.”Sehat Nak,” jawab Bunda. Aku pun terus makan. Dan dihadapanku masih ada Bunda yang terus menatapku. Dan aku bisa merasakannya. “Ada apa Bu, kok ibu ngelamun?” “Ah…nggak, ngga ada apa-apa kok…,” jawab ibu.
“Bu , ini ada uang sedikit, buat ibu. Buat apa aja yang ibu mau. Kalu kurang ibu bilang aja sama Badar.” Setengah terkejut ibu memandangku,”Apa ibu nggak salah Nak. Udah simpan saja uang itu untukmu,” kata Bunda. “Buat bunda aja. Aku ingin Bunda merasakan gaji pertamaku. Ya, gaji hasil kerja pertamaku..” Bunda tersenyum. Ia menatapku tajam. Tak lama, ada nanar air mata di kelopak mata ibu. Bunda kelihatannya terharu.
“Nak…simpan saja uang ini. Buat beli-beli buku atau apa kek,” kata Bunda. Bunda tahu kalau aku senang membaca, karena itu ia berkata seperti itu. “Nggak Bu, buat Ibu aja…” Ibu kemudian pergi ke kamar. Ia menutup rapat pintu kamarnya. Dalam lirih suara angin, aku mendengar sengguk tangis bunda. Aku tak mengerti.
Tepat pukul 4 sore, aku pamit sama Bunda. Senin pagi, aku harus berada lagi di Jakarta. Cium tangan dan peluk aku berikan buat Bunda. Saat pergi meninggalkan rumah, Bunda masih saja menatapku. Tatapannya hening dan sunyi. Aku melambaikan tangan; sun jauh buat Bunda. Dan aku melihat Bunda masih saja menatapku nanar, aku merasakannya.
Entahlah, aku tak tau ada apa dengan Bunda. Aku hanya menduga Bunda mungkin kangen sama aku. Disebut sakit, tidak juga. Tubuhnya masih terlihat kuat dan sehat. Entahlah…
Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Sebuah SMS datang menyapaku: “Bunda sering nangis kalau udah lihat berita di TV. Apalagi kalau udah liat berita kriminal dan kehidupan di Jakarta. Bunda cemas banget sama Ade. Di suka ngomong; Gimana ya Ade kabarnnya..mudah2an selamet.”
Aku baru sadar bahwa isyarat mata Bunda adalah kecemasan. Kekhawatiran seorang Bunda pada anaknya yang mulai menempa diri. Mandiri di kota yang jauh. Entahlan, air mataku tiba-tiba jatuh. Aku merasakan sesak mulai menghimpit dada. Matahari sore masih memagut sepi. Bibirku bergetar mengenang tatap mata bunda. Binar matamu adalah syurga. Nanar cemasmu adalah kasih. Terima kasih Bunda.
Kupersembahkan Buat semua para Bunda. Nanar matamu adalah syurga….

Iq, Maafkan Mama!


Senja menjelang. Saat yang kunanti setelah sepanjang hari aku harus menghabiskan waktuku di luar rumah. Putra kecilku yang mulai tumbuh besar selalu terbayang di pelupuk mata. Senyumnya yang jenaka, wangi tubuhnya, tawa riangnya, celotehnya, semuanya membuat rinduku bertambah setiap waktu. Bocahku, dia yang selalu membuat aku tertawa walau beban begitu berat terasa. Sayangnya aku tak bisa menikmati kebersamaan ini setiap waktu. Minimal sembilan jam sehari kubelanjakan waktu tanpa kehadirannya. Aku memang tak seberuntung perempuan lain yang mampu mengambil keputusan untuk tinggal di rumah, menunggui anaknya setiap waktu. Aku masih memerlukan pekerjaan ini, untuk menunjang ekonomi keluarga kami.
Ups, tiba-tiba pikiranku melayang pada pekerjaan kantor hari ini. Begitu banyaknya kerjaan telah menyita hampir seluruh tenagaku. Dan membuatku tak sempat melontarkan senyuman.
Sebentar lagi tukang ojek akan tepat berhenti di depan rumahku. Setelah kubayar, ojek pun pergi dengan raungan motornya yang memekakkan telinga. Dan, pintu pun terbuka.
"Mamaaa!!" Sebuah teriakan kecil menyambutku, senyum tulus pun mengiringi.
"Iq senang kalau Mama datang. Iq tadi main sama Yoga. Minum susunya empat kali," mulut mungil itu tak henti bercerita.
Sementara aku yang sudah kelelahan dengan beragam masalah di kantor, seperti tak lagi punya tenaga untuk menanggapi sebagaimana harapannya.
Tiba-tiba, tangan kecil itu sudah memegang kamera digital yang belum kusimpan di lemari. Dan, secepat kilat membukanya, mengaktifkannya dan lensa kamera pun tersentuh tangannya berulang kali.
Spontan kurebut kamera itu dari tangannya. Mataku melotot.
"Maafkan Iq, Ma. Ayo Mama ketawa. Mama jangan marah ya..."
Bukannya mereda, kemarahanku malah memuncak. Bentakan pun membuatnya semakin menunduk. Air mata mengalir diantara tangisannya. Hatiku yang panas sama sekali tak luluh melihat pemandangan itu. Sisi hatiku yang lain menyuruhku untuk merengkuhnya ke pelukku, tapi emosi lebih merajaiku. Aku malah pergi, meninggalkannya menangis semakin keras, hanya ditemani pengasuh.
"Ibu... mama marah, Iq sedih," bocah tiga tahun itu masih menangis. Si Ibu pengasuhnya menenangkannya.
"Udah, Iq jangan menangis. Sekarang Iq minta maaf lagi ke Mama."
"Mama, maafkan Iq. Mama jangan marah... Iq sedih," kali ini pun kalimat-kalimatnya tak membuat maafku terbuka.
Hampir sepuluh menit tangisannya tak mereda. Permintaan maaf pun tak henti-henti diucapkannya. Diketuknya pintu kamarku, dan dibukanya perlahan.
"Mama... jangan marah ya, Iq minta maaf."
Tiba-tiba terlintas di benakku sebuah kisah di zaman Rasulullah SAW. Ketika itu, seorang bayi mengompol di pangkuan Sang Nabi dan si ibu langsung merenggut anak itu dari pangkuan Rasul. Ternyata Rasul tidak memperkenankan si Ibu melakukan hal itu, karena najis di baju Beliau masih bisa dibersihkan sedangkan perlakuan kasar sang ibu akan terus membekas di benak si anak.
Astaghfirullah... tindakanku ini, jauh jauh lebih kasar daripada apa yang dilakukan ibu di kisah itu. Apa yang telah aku lakukan pada amanah Allah ini.
Seketika kupeluk anakku. Tangisnya yang mulai mereda kembali pecah. Aku telah mengabaikan amanah-Mu Ya Robb... ampunkan aku, maafkan khilafku.
"Mama baik? Ayo Mama ketawa," katanya di tengah isak tangis.
"Maafkan Mama, Sayang," ucapku sembari tersenyum. Kembali kudekap dia dalam pelukanku.
"Iq sayang sama Mama. Iq cinta Mama," katanya, masih di sela isak yang membuat hatiku bagai tersayat-sayat.
"Mama juga teramat sayang sama Iq. Maafkan, Mama seringkali tidak sabar dan memarahi Iq," balasku.
Kini kusadari. Bukan sebuah kesalahan jika dipegangnya lensa kamera itu. Semuanya hanya bagian dari pembelajaran yang sedang ia jalani. Dan tidak sewajarnya, suntukku di kantor kubawa ke rumah, hingga masalah kecil saja membuatku kehilangan kesabaran padanya.
Dia mutiara yang seharusnya kujaga setiap waktu. Aku telah merampas haknya untuk selalu di sampingku. Kini aku pun masih harus memarahinya... Maafkan Mama sayang.
Kuazzamkan dalam hati, untuk lebih bersabar kepadanya. Untuk mengendorkan urat syaraf ketika emosi mulai menaik. Mama tidak akan berjanji sayang, tapi insya Allah, mama akan belajar untuk membuktikan.
Adzan maghrib berkumandang. Kuambil air wudhu, dan kuajak ia sholat. Akan kutundukkan wajah ini dihadapan-Nya, memohon ampun atas keteledoran yang baru saja kubuat.

Menghantarkan Orang Tua ke Surga

Masih ingatkah kita dengan sebuah kisah di masa Rasulullah? Tentang ketaatan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya berjihad dengan satu pesan, "Jangan pergi sebelum saya pulang". Dan ternyata, dalam masa kepergian suaminya, orangtuanya sakit keras. Saudara-saudaranyapun memintanya hadir, untuk menemui orang tuanya yang sedang sakit, namun karena ketaatannya kepada suami, dia tak juga berangkat menemui orang tuanya hingga meninggal. Tentu, kita semua mengingatnya bukan?
Bagi kita manusia biasa, peristiwa tersebut terasa amat janggal. Tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang anak mampu bertahan tidak menemui orang tuanya yang sedang sakit keras bahkan sampai meninggal, hanya karena taat kepada pesan suami. Mungkin, sebagian kita bahkan akan mengumpat dan mencaci maki kepada wanita tersebut bila kita hidup di masa itu.
Kita akan katakan kepada wanita tersebut sebagai anak yang tak berbakti, anak yang tak tahu balas budi atas kasih sayang orang tua, anak yang keterlaluan, tak punya perasaan, dan berbagai umpatan yang lainnya.
Namun, apa kata Rasulullah ketika ditanya tentang kejadian itu? Rasulullah dengan mantap menjawab, bahwa orang tua wanita tersebut masuk surga karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi wanita shalihah. Subhaanallah!
Karenanya, marilah kita para orang tua berusaha sekuat tenaga, untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah. Anak yang akan senantiasa mendo'akan kita kapan pun dan di manapun berada. Anak lelaki yang mampu menjadi qowwam bagi keluarganya, dan tetap berbakti kepada orang tuanya, serta anak perempuan yang menjadi istri dan ibu shalihah, yang mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang shaleh dan shalihah pula.
Kepada para orang tua yang telah mengantarkan putra-putrinya ke dalam kehidupan rumah tangga, janganlah menjadi orang tua yang egois, yang selalu ingin didampingi anak-anak, dan tak mau melepaskan kepergiannya. Relakan anak-anak pergi dari pangkuan kita, untuk menjalani hidup mandiri, menjadi nahkoda kapal layar yang telah dibangunnya, sebagai salah satu bukti kasih sayang kita kepada mereka.
Do'akan selalu, agar anak-anak lelaki kita dapat menjadi nahkoda-nahkoda yang handal, yang mampu mengarahkan bahtera rumah tangga menjadi rumah tangga yang barokah, penuh cinta dan kasih sayang, serta mampu menjadi qowam bagi istri dan anak-anaknya. Do'akan pula agar anak-anak perempuan kita dapat menjadi istri-istri sholihah, yang dapat menciptakan susana rumah yang bagaikan surga dunia dimata keluarganya, mampu melahirkan anak-anak yang taat kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya, serta mampu memberikan rasa nyaman kepada suami dan anak-anaknya. Hingga pada akhirnya, mereka menjadi pengantar-pengantar kita meraih surga-Nya. Insya Allah. Aamiin.

Wallohu a'lam bbishshowwab.

Telinga dan Tangan Ibu

Berada bersama ibu begitu menenangkan. Sebab rasanya ibu tak pernah lelah menjadi 'telinga terbaik' bagi setiap cerita yang mengalir deras dari mulut saya, setiap kali sampai di rumah, selesai beraktifitas seharian. Ibu tak perlu bertanya apapun, saya akan duduk manis berlama-lama di kamarnya, menumpahkan segala yang telah memenuhsesakkan dada ini. Saya tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa celoteh saya saat itu bisa jadi akan menambah lelah dan memberatkan beban yang sudah menggelantung di pundak ibu. Tapi senyumnya tetap melipur hati, seolah letih itu tak ada.
Hari itu, saya begitu tergesa sampai di sekolah, hampir saja terlambat. Pagi-pagi sekali, tidak seperti biasanya, saya telah ikut sibuk membereskan banyak sekali barang. Sekitar pukul tujuh, saya dan ibu telah berada di sebuah lobby hotel terkenal di Jakarta. Hari itu, untuk yang pertama kalinya, saya berhadapan dengan sekian banyak turis yang berseliweran dengan wajah-wajah penuh antusias memandangi, melihat-lihat, dan bercakap-cakap dengan kami-para penjaja barang dagangan di stand bazaar. Kali itu, saat yang istimewa bagi ibu, hari pertama menjadi peserta bazaar yang dihadiri para turis maupun pekerja asing. Saya pun tak kalah semangatnya, sepanjang siang di sekolah tak henti-hentinya tersenyum-senyum sendiri, sampai teman sebangku saya-Rani namanya-rasanya sudah begitu bosan mendengar celotehan saya tentang pengalaman pagi itu. Menyaksikan dan terkikik geli mendengar ibu bercakap-cakap dengan para pembeli. Ngawur, tapi tetap saja ngotot. Padahal ibu tak bisa berbahasa Inggris.
Saya rasa Allah telah menganugerahkan ibu sepasang 'tangan ajaib'. Saya ingat, belasan tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD, rumah kami penuh dengan pernak-pernik. Saat itu, puluhan gulung pita berwarna-warni menumpuk di sudut kamar. Berjejeran pula berlembar-lembar karton tebal, busa, serta tumpukan kain. Saat itu, saya selalu senang memandangi dan bermain-main di 'pojok berantakan' milik ibu. Kedua tangannya telah menghasilkan barang-barang yang begitu menarik di mata saya. Saat itu, saya dengan gembira menyambut tawaran ibu untuk menjadi 'asistennya'. Dan saya pun asyik bergumul dengan plastik-plastik kecil, membukanya kemudian memasukkan pita rambut warna-warni hasil karya ibu, dan menjepitnya dengan stapler. Hanya itu. Ibu tak memperkenankan saya untuk menyentuh 'tempat foto' cantik buatannya, yang digantung berjejer di dinding mar. Belum lagi tumpukan souvenir pesta pernikahan, entah ada berapa ratus. Kegembiraan saya berada di antara benda-benda menarik itu seperti membuat saya lupa, bahwa saya sering menemukan ibu terkantuk-kantuk duduk di ‘meja operasi’nya sampai tengah malam, menyelesaikan pesanan.
Ibu telah menghabiskan entah berapa bagian waktu dalam hidupnya untuk menjadi 'ember' ternyaman bagi diri saya. Di sanalah saya menumpahkan segala macam hal yang sering membuat ibu tersenyum geli, tertawa, atau mungkin juga turut bersedih atas apa yang saya alami. Ajaibnya, kini saya tak lagi perlu memulai percakapan itu. Sepertinya ibu telah mengetahui segala isi hati saya, tanpa perlu saya ungkapkan. Begitukah seorang ibu? Saya sempat berpikir, tak usahlah lagi menceritakan segala hal padanya. Mungkin itu hanya akan menambah lelahnya. Saya memutuskan untuk berhenti berceloteh pada ibu, toh saya sudah dewasa, dan tak lagi pantas memberatkannya dengan hal-hal tak penting macam celotehan itu. Namun hari itu, ibu menelpon saya ke kantor dan menegur saya, "Ta, kapan kamu ke rumah? Kita kan udah lama nggak cerita-cerita..."
Ibu tak hanya pendengar setia bagi celoteh anaknya, namun ia juga telah memberi dan mengajarkan saya banyak hal melalui kedua 'tangan ajaib'nya. Ia mengajarkan saya untuk selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi orang lain, melalui mimik wajah serta kalimat-kalimatnya menanggapi setiap perkataan yang saya ucapkan. Saya belajar, bahwa setiap perhatian kecil yang diberikan kepada seorang anak, maka yang tersimpan padanya adalah sebuah kasih sayang besar dan keyakinan bahwa ia disayangi. Saya belajar, bahwa kedua tangan anugerah Allah ini, adalah modal bagi kerja keras yang harus dilakukan demi orang-orang tercinta, keluarga. Entah apapun yang dapat diperbuat.
Saya tak heran, betapa banyak teman dan relasi bisnis yang ibu miliki sekarang. Banyak pula kerabat dekat yang betah berlama-lama mengobrol dengan ibu. Tak sedikit orang yang mengagumi 'bakat' yang mereka katakan terhadap keterampilan yang ibu miliki. Ibu menyebutnya hobi, tapi saya memahaminya sebagai cara ibu bersenang-senang dengan 'tuntutan' padanya untuk membantu ayah membiayai keluarga. Seringkali lelah membayang dalam raut wajah ibu, namun tak jarang saya mendapatinya berbinar kala 'tangan ajaib'nya telah berhasil 'menciptakan' karya baru.
Sekarang ini, adalah giliran saya untuk menjadi 'telinga terbaik' bagi ibu sampai hari tuanya nanti, dan mempersembahkan hasil yang dapat saya raih dari kedua belah tangan ini untuk membahagiakannya.

Aku lahir dari perut ibu
(bukan kata orang…memang BENARKAN !!!....)

Bila dahaga, yang susukan aku…..ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku…..ibu
Bila sendirian, yang selalu di sampingku… ..ibu
Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut…..ibu
Bila bangun tidur, aku cari…..ibu
Bila nangis, orang pertama yang datang…..ibu
Bila ingin bermanja, aku dekati…..ibu
Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah…..ibu
Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya…..ibu
Bila nakal, yang memarahi aku…..ibu
Bila merajuk, yang membujukku cuma…..ibu
Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah…..ibu
Bila takut, yang menenangkan aku…..ibu
Bila ingin peluk, yang aku suka peluk…..ibu
Aku selalu teringatkan…..ibu
Bila sedih, aku mesti telepon…..ibu
Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu…..ibu
Bila marah.. aku suka meluahkannya pada…..ibu
Bila takut, aku selalu panggil….. “ibuuuuu!”
Bila sakit, orang paling risau adalah…..ibu
Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga…..ibu
Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku…..ibu
Bila aku ada masalah, yang paling risau…..ibu
Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ini…..ibu
Yang selalu masak makanan kegemaranku…..ibu
Kalau pulang ke kampong, yang selalu memberi bekal…..ibu
Yang selalu menyimpan dan merapikan barang-barang aku…..ibu
Yang selalu berkirim surat dengan aku…..ibu
Yang selalu memuji aku…..ibu
Yang selalu menasihati aku…..ibu
Bila ingin menikah.. Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan…..ibu
Aku ada pasangan hidup sendiri…..
Bila senang, aku cari…..pasanganku
Bila sedih, aku cari…..ibu
Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada…..pasanganku
Bila gagal, aku ceritakan pada…..ibu
Bila bahagia, aku peluk erat…..pasanganku
Bila berduka, aku peluk erat…..ibuku
Bila ingin berlibur, aku bawa…..pasanganku
Bila sibuk, aku antar anak ke rumah…..ibu
Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku
Bila sambut hari ibu…aku cuma dapat ucapkan “Selamat Hari Ibu”
Selalu.. aku ingat pasanganku
Selalu.. ibu ingat aku
Setiap saat… aku akan telepon pasanganku
Entah kapan… aku ingin telepon ibu
Selalu…aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan… aku ingin belikan hadiah untuk ibu
Renungkan:
“Kalau kau sudah selesai belajar dan bekerja…..masih ingatkah kau pada ibu?
Tidak banyak yang ibu inginkan…..hanya dengan menyapa ibupun cukuplah”.
Berderai air mata jika kita mendengarnya. …….
Tapi kalau ibu sudah tiada……. …
IBUUUU…RINDU IBU….RINDU SEKALI….
Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya….
Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya…..
Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya…..
Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya…..
Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya…..
Dan akhir sekali berapa banyak yang men-SHOLAT-kan JENAZAH ibunya……
Jika kamu menyayangi ibumu, “forward”kanlah Notes ini kepada sahabat-sahabat anda





 by kaskus, cerita motivasi, cerita inspirasi, bunga rampai

No comments: