"Kalian kaum laki-laki harus paam kunci ini. Perempuan benar-benar menyukai kepastian."Sabdanya dimulai. Bila sudah begini, kami lebih baik diam. Tidak menyela satu pun kalimatnya.
"Anak gadis mana yang mau dipermainkan? Anak gadis mana yang mau digantungin? Cinta itu omong kosong jika tanpa kepastian."Matanya menatap tajam ke arah kami sambil jari-jarinya mengacungkan ranting kecil. Bila sudah begini, kami harus memperhatikan.
"Kalian tahu? Kepastian itu bukan soal masa depan kalian gemilang atau bukan, bukan soal uang kalian banyak atau tidak, bukan soal itu. Tapi soal ini ...."Dia menunjuk dadanya.
"Kalian tahu, perempuan itu benar-benar menyukai kepastian. Dan cuma satu saja yang perlu kalian pastikan."Kami saling tatap. Kemudian melihatnya yang tersenyum memancing kami untuk memaksanya memberi tahu.
"Bahwa hanya aman di tangan kalian, bahwa kalian menjadikannya satu-satunya. Meski aku tahu mungkin itu agak bias karena kalian bertanggung jawab terhadap dirinya, terhadap perasaannya, dan terhadap hidupnya.
Pertanggungjawaban itu tidak hanya soal dunia, tapi disaksikan Tuhan. Dan kepastian tertinggi itu dengan melibatkan Tuhan sebagai saksi, atas nama Tuhan kalian menjadikannya teman hidup di sini, juga di sana."Tangannya menunjuk ke langit. Dia diam sejenak.
Aku mengacungkan tangan.
"Ya, ada apa?"
"Kira-kira apa yang harus kami lakukan kalau kami belum siap memberikan kepastian?" tanyaku.Dia membetulkan posisi duduknya, kemudian mengacungkan ranting kayu ke depan mukaku.
"Jangan sekali-kali memberikan harapan. Camkan itu.
******
Aku terpukau membaca cerita pertama dalam buku ini. Tepat ketika aku membutuhkan kepastian. Dari Tuhanku, dengan KuasaNya.
Source : Hujan Matahari by Kurniawan Gunadi pp 3-4
