August 23, 2015

SUATU SORE DIBAWAH POHON RANDU

Dia, perempuan seorang diri diantara kami bertiga. Bertengger di atas akar yang besar. Dengan gayanya yang mengatur, dia memberikan petuah kepada kami, laki-laki, tentang perempuan. Seola-olah dia sedang membocorkan rahasia besar kaumnya sendiri kepada lawan utamanya, laki-laki. Kuharap dia masih ingat kalau dia seorang perempuan.
"Kalian kaum laki-laki harus paam kunci ini. Perempuan benar-benar menyukai kepastian."
Sabdanya dimulai. Bila sudah begini, kami lebih baik diam. Tidak menyela satu pun kalimatnya.
"Anak gadis mana yang mau dipermainkan? Anak gadis mana yang mau digantungin? Cinta itu omong kosong jika tanpa kepastian."
Matanya menatap tajam ke arah kami sambil jari-jarinya mengacungkan ranting kecil. Bila sudah begini, kami harus memperhatikan.
"Kalian tahu? Kepastian itu bukan soal masa depan kalian gemilang atau bukan, bukan soal uang kalian banyak atau tidak, bukan soal itu. Tapi soal ini ...."
Dia menunjuk dadanya.
"Kalian tahu, perempuan itu benar-benar menyukai kepastian. Dan cuma satu saja yang perlu kalian pastikan."
Kami saling tatap. Kemudian melihatnya yang tersenyum memancing kami untuk memaksanya memberi tahu.
"Bahwa hanya aman di tangan kalian, bahwa kalian menjadikannya satu-satunya. Meski aku tahu mungkin itu agak bias karena kalian bertanggung jawab terhadap dirinya, terhadap perasaannya, dan terhadap hidupnya. 
Pertanggungjawaban itu tidak hanya soal dunia, tapi disaksikan Tuhan. Dan kepastian tertinggi itu dengan melibatkan Tuhan sebagai saksi, atas nama Tuhan kalian menjadikannya teman hidup di sini, juga di sana."
Tangannya menunjuk ke langit. Dia diam sejenak.
Aku mengacungkan tangan.
"Ya, ada apa?" 
"Kira-kira apa yang harus kami lakukan kalau kami belum siap memberikan kepastian?" tanyaku.
Dia membetulkan posisi duduknya, kemudian mengacungkan ranting kayu ke depan mukaku.
"Jangan sekali-kali memberikan harapan. Camkan itu.

******

Aku terpukau membaca cerita pertama dalam buku ini. Tepat ketika aku membutuhkan kepastian. Dari Tuhanku, dengan KuasaNya.

Source : Hujan Matahari by Kurniawan Gunadi pp 3-4

August 20, 2015

Lingkungan Absolut Menentukan Sikap

Ini memang cuma soal remeh temeh biasa. Tapi menentukan bagaimana sikapmu. Dan sikapmu sangat berpengaruh pada hidupmu. Dan yakinlah bahwa hidupmu menjadi efek domino untuk hidup orang lain

Aku mulai tahu bahwa selang bensin jika dipencet-pencet berarti bensinya tidak keluar sebagai mana mestinya tetapi penanda meter dan biaya bensin (sebut saja bensinometer) tetaplah berjalan sebagaimana mestinya. Apa artinya? Jika kamu membeli 2 liter bensin dengan petugas pom-nya meletakkan langsung selang di tangki bensin tanpa memencet-mencet terus tuasnya berarti 2 liter itu inshaallah utuh dengan harga yang seharusnya. Bagaimana jika dipencet-pencet tuas selangnya? 2 liternya sama, harganya juga sama, tetapi yang masuk bisa berkurang menjadi 1.99 l, atau 1.98 l, atau 1.97 l. Tidak begitu kentara memang, tetapi coba amati saja kendaraanmu. Dan akan signifikan jika kita membeli bensin dalam jumlah banyak. Dan bukan hanya satu kendaraan, tetapi ratusan bahkan ribuan kendaraan di Kota Surabaya. Lantas apa efeknya? Ketika pihak 'bos besar' datang untuk isi ulang pom bensin, maka pom tersebut akan menghitung sisa dari bensin yang ada dan membayar sesuai bensinometer yang tertera, tanpa peduli lagi itu seharusnya dipakai untuk berapa ratus dan ribu kendaraan.Perhitungankah diriku? Mungkin iya, tapi jelekknya hanya soal dalam hati saja. Karena biarpun saya tahu trik itu dan ketika merasa dikhianati oleh abang pom bensin saya lebih memilih untuk diam.Lalu apa hubungannya dengan lingkungan?Ini hanya pendapatku pribadi dengan pengamatanku saja selama berada di kota ini. Tahukah model wilayah Kota Surabaya dengan pembagian sesuai distrik? Yap, ada Surabaya Pusat, Surabaya Utara, Surabaya Timur (daerah rumah saya), Surabaya Selatan, dan Surabaya Barat (lingkungan tempatku bekerja). Karakteristik masing-masing distrik memang berbeda, tetapi tentu ada dominasinya.Ini soal lingkungan sekitar. Wilayah rumahku berada di daerah dekat dengan jembatan suramadu, dengan etnis beragam mulai dari Jawa, Madura, dan Arab serta dengan tingkat sosial ekonomi menengah saja. Dan wilayah Surabaya Barat, berada di dekat perbatasan kabupaten lain dengan banyak jalan tol, apartemen, gedung perkantoran, perumahan elit Surabaya, dengan etnis Jawa dan Cina yang mendominasi. Tingkat sosial ekonomi? wow jangan ditanya. Karena mobil di rumah/apartemennya minimal ada 2 dengan cat mengkilap dan merk terkenal.

Lantas apa hubungannya dengan abang pom bensin? 
Kita akan bersikap lebih tunduk dan 'sedikit' takut pada orang dengan pemegang kekuasaan. Siapa pemegang kekuasaan? adalah ia yang mempunyai uang. Terkadang ini tidak disadari tapi menjadi sebuah tombol otomatis. Di lingkungan elite jika kau tak juga pemegang kekuasaan, maka kita akan menjadi pihak yang lebih takut. Lantas ketakutan itulah yang digambarkan dengan lebih jujur, lebih bertanggung jawab, lebih sopan, lebih menghargai, lebih memberikan sesuatu yang lebih. Apakah itu paksaan? tentu tidak. Karena sudah melebur menjadi sikap (Sesuai kerja otak = ganglia basali, dia akan menjadi kebiasaan setelah dilakukan berurut-urut selama 21 hari). 
Dan abang pom bensin akan melayani semua orang dengan tanpa memperdulikan siapa orang itu. Karena lingkungannya sudah terbentuk sedemikian rupa.

Ingin lebih jelas lagi? Masuk ke XXI Ciputra World. Dan bandingkan dengan XXI Tunjungan Plaza. Harganya sama. Tapi pembawaan timnya yang menjadi berbeda. Karena apa? Lingkungan sekitarnya.

Jadi mau menentukan lingkungan sekitarmu seperti apa?

Ini memang cuma soal remeh temeh biasa. Tapi menentukan bagaimana sikapmu. Dan sikapmu sangat berpengaruh pada hidupmu. Dan yakinlah bahwa hidupmu menjadi efek domino untuk hidup orang lain

August 18, 2015

aku ingin kembali..

kamu tahu perbedaan antara berbicara dan menulis?
semua orang tentu akan menjawab tulisan berarti akan meninggalkan jejak.
yah, itu memang benar adanya
tapi bagiku, lebih daripada sebuah jejak
berbicara dan menulis,
menjadikan satu titik perbedaan antara bumi dan langit
karena itu akan menyangkut perkara hati
karena ia akan membawa sisi lain dari nurani
bahkan menjadi sebuah kelahiran perubahan
pada kebiasaan, karakter, dan mindset
dan bahagialah,
ketika kau bisa melakukan keduanya
berbicara
dan menulis
maka itu, aku ingin kembali...