Ingin kukatakan
Tentang sebuah rasa yang aku rasa
Tentang sebuah rasa yang ku tak ingin kau juga rasa
Karena hidup bukan soal menjalaninya
tapi lebih kepada memaknai setiap rasa
Aku pernah menjadi kecil. Kita semua pasti pernah.
Lantas saat itu, orang-orang besar dilingkungan kita ingin kita rangking 1,
ingin kita ikut lomba mewarnai dan menang, ingin kalau nangis itu jangan pake teriak-teriak,
dan pastinya mencari banyak jalan
agaar...
kita jauh lebih baik dari mereka.
pasti itu
karena orang-orang besar pernah merasa ada yang kurang dengan saat dia kecil
dan memperbaikinya dengan menerapkan pada kita
lalu,
kita beranjak dewasa
sudah berpengalaman lebih dulu
merasakan apa yang enak dan tidak enak saat kecil
merasakan apa yang kurang
hingga kitapun juga akan meminta orang-orang kecil (anak-anak) di lingkungan kita untuk bisa lebih baik dari kita.
namun ada hal yang terlupakan, kadang
lupa pada hal-hal yang kecil,
mengekspetasikan bahwa yang baik itu adalah A,B,C, dan D
fokus pada hal itu
padahal, orang-orang kecil itu bisa mendapatkan F secara sempurna
tapi kita tak pernah memberikan penghargaan dan apresiasi
yah, inilah negeriku
tak munafik pula, bahwa suatu nilai yang telah menjadi suatu hal yang familiar di masyarakatlah yang akan diperjuangkan
begitulah yang juga saya kejar
karena out of the box malah membuat kita menjadi terasingkan
lantas memasuki dunia yang lebih tinggi
sekolah, kuliah
mulai mengenal organisasi
mulai dari awal kan pasti masuknya?
tak mungkin hanya pake simsalabim langusng bisa jadi kapel ataupun koordinator bahkan seorang presiden
pasti pernah melalui jenjang yang*dari kecil, lalu lama-lama
dan tarararara
now! you're the leader
analoginya sama seperti saat kita kecil dan menjadi besar
berusaha memenuhi segala apa yang dirasa kita kurang
tujuannya adalah untuk menjadikannya lebih baik
tapi kembali lupa
bahwa hal kecil memang seharusnya diberi apresiasi
karena menjadi pemimpin
bukan berarti berjalan terlalu di depan
bahkan meskipun mereka hanya ada di belakang kita saja,
menemani kita walau tak berbuat apapun
kita suka lupa bahwa mereka sebenarnya telah berkorban waktu untuk kita
tapi kita tak menghargainya
yah, oke, kadang juga sempat terlintas di benak
kenapa mereka? bukan kita yang diperlakukan seperti itu?
SO?
ini bukan perkara orang lain, tapi jika memang kita bisa merubah dulu mindset kita,
kenapa memaksa orang lain.
dan saat kita berada di atas,
lalu mencoba menyambangi kehidupan kita yang dulu.
Apa yang muncul di benak kita kawan?
pernah mencoba?
meluangkan sedikit waktu di sela kesibukan dunia 'keaktifisan' kita
lalu bercengkerama dengan teman lama kita, yang lugu, dan jujur apa adanya
hingga tiba-tiba mereka berkomentar, 'eh kamu ngomong apa yah, hehe, maaf aku ndak mudeng'
padahal yang sedang kita bicarakan adalah hal yang kecil tentang pohon di lapangan kampus pada di tebangi.
hm, jika berkumpul dengan mereka di dunia ke-leader-an kita, tentu isu itu akan menjadi bahan perbincangan yang hebat dan akan ada berjuta kata yang keluar, bahkan akan banyak lagi isu-isu yang lebih besar di negeri ini yang akan terbahas
namun di sini, tanggapan mereka berbeda.
Lantas tidak nyamankah kita dengan lingkungan itu?
Mungki iya,
karena akan keluar pikiran bahwa sudah tidak lagi sepemikiran. ndak nyambung.
Bukan, bukan kawan!
Bukan perkara mereka tidak update atau tidak mau peduli dengan lingkungan mereka.
Iya, ada sedikit benarnya juga sih.
Tapi bukan soal itu yang ingin saya tamparkan ke muka saya sendiri, melainkan soal adaptasi. Mana bukti bahwa kesuksesan kita menjadi pemimpin, jika kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan seperti itu?
Mana yang katanya menjadi aktif berarti sudah belajar lebih dulu untuk bertemu banyak orang dan mempelajari karakter orang kalau ternyata menghadapi teman-teman lama saja kita bosan dan merasa sudah tak lagi nyambung seperti dulu?
Mungkin memang ketinggian kawan,
mereka bukannya tak mau, tapi bahasa kita yang sulit untuk dimengerti. Mereka tak butuh banyak teori, hanya sesuatu yang simple tapi bisa merefleksikan intinya.
Lantas mengapa tak mencoba mencerdaskan mereka dengan cara kita ingin dicerdaskan 'dahulu kala' saat kita sama-sama tidak tahu?
Dan menurut saya pribadi, inilah gambaran masyarakat kita.
Bukannya terkurung dalam tembok tinggi bersama kaum intelektual lainnya,
tapi bukan itu tujuan kepemimpinan kita kan?
melainkan bagaimana 'kaum-kaum' ini bisa menjadi suatu manfaat untuk orang luar justru yang memang tak tahu menahu apapun.
sekali lagi, saya ingin menampar diriku
ini soal rasa
rasa bagaimana kita mau mengapresiasi sesuatu yang kecil
karena teman lama kita mau duduk lagi bersama kita pun itu adalah suatu anugerah
bahkan megajak kita untuk minum kopi bersama lagi
bukan soal kita lebih dulu mendalami dunia ini lantas membuat kita tak nyaman dengan mereka yang masih duduk santai,
tapi menjadi lebih dahulu berarti menjadikan kita bisa lebih cerdas untuk berbagi.
bukan menjadikan mereka berbeda
tapi terkadang
rasa ini sudah begitu tinggi menjulang
tanpa kenal apa rasa mereka
aku menampar diriku
dan kuingin rasa ini tak pernah singgah dalam dirimu wahai pemimpinku
Salam Para Calon Pemimpin :)
NB : Bukan untuk konsumsi umum. Maaf jika ada ada indikasi menyerang diri kita, tidak akan menimbulkan banyak komplikasi, hanya saja itu berarti hati kita masih sehat :)



.jpg)

