April 5, 2012

Cerita di Gerbong 3 Kereta Penataran

Pagi itu saya kembali berkesempatan untuk menikmati suasan kereta api, yah karena memang ada kuliah pagi dan harga bus patas lebih mahal, jadi naik kereta penataran pukul 04.35 dari stasiun Gubeng Surabaya menjadi pilihan saya.
Gerbong 3 dengan kursi nomer 16c. Kursi itu kebetulan menghadap ke arah jalannya kereta menuju Malang. Sejajar dengan kursi 16a dan 16b, serta bersebrangan dengan 15a-b-c. Berarti ada 6 penumpang yang seharusnya duduk di situ, namun, tidak pada pagi ini. 6 kursi itu hanya diisi oleh 4 orang. Saya, kemudian berhadapan dengan ibu berkerudung seumuran 50an tahun, kemudian ada ibu muda berkerudung juga yang kebetulan naik bersama dengan suaminya. 
Dan inilah yang menarik perhatian saya pagi itu. Pasangan suami istri yang duduk sekomplek dengan saya di gerbong 3. Sedikit mendeskripsikan mereka (mohon maaf ya buat mbak-masnya). Istrinya berkerudung biasa, umurnya sekitar 30-35 tahun, dan mempunyai anak 2 orang (ini hasil dari curi dengar saya setelah si ibu ini telp ke seseorang yang sepertinya sedang dititipi anaknya), dan istri ini termasuk orang yang sepertinya sangat hormat dan menyayangi keluarga dan suaminya, meskipun pada kali ini mungkin mereka ada keperluan penting sehingga terpaksa meninggalkan anak-anknya. Dan suaminya, sangat bertolak belakang dengan istrinya. Penampilannya (mohon maaf) seperti preman. Beliau rambutnya panjang dan memakai slayer di kepalanya. Celananya tidak sobek-sobek memang tapi bak seperti seorang preman ada rantai yang menjuntai dari saku kanannya. Memakai sepatu kets (mohon maaf sekali lagi) yang sedikit lusuh. 
Jujur, buat saya pribadi. Kesan pertama yang saya tangkap tentu adalah kesan yang kurang baik untuk beliau (si suami). Namun, perjalanan 2.5 jam di kereta itu sungguh membuat saya malu pada diri sendiri.
Yah sepertinya semboyan "Don't judge a book from the cover" benar-benar terjadi kali ini. Kejadian pertama. Si suami ini hendak menaikkan kakinya di kursi (duduk bersila), namun sebelum itu beliau meminta izin dengan logat bahasa jawa halusnya ke orang-orang sekitar situ. Terutama pada ibu yang berkerudung di depan saya. "Bu, nyuwun sewu, sikil kula angkat, niki rade kesel". Begitu katanya.
Kejadian selanjutnya. Pasangan suami istri ini sedang membicarakan ayat al-quran. Saya memang sengaja menutup mata, agar terkesan seperti tidur, tapi sejujurnya telinga saya sangat awas. Yah, saya dengarkan kembali dengan cermat. Sambil badan saya sedikit serong ke arah si istri, untuk mencuri dengar. Yap! Betul! Al-Fatihah. Itu yang sedang mereka bahas. Kedua suami-istri ini sedang memabahas lebih dalam makna dari surat pembuka dalam al-quran itu. Tidak-tidak, bukan hanya sekedar terjemahan, tapi penjelasannya juga. Dan luar biasanya, itu yang sedang menjelaskan adalah si suaminya. Sangat detail dan yah, begitulah penjelasannya memaknai al-fatihah dalam kehidupan sehari-hari. Wuiiih, saya sedikit tertampar. 
Menerawang jauh mengingat teman-teman saya, saudara saya, dan mungkin keluarga saya. Mereka semua sepertiny berpenampilan yang menurut saya pribadi, sangat jauh dari si suami itu, namun belum tentu mau belajar dan memahami ayat Allah sebegitu detailnya. 
Dengan kejadian terkahir yang membuatku benar-benar tersenyum sangat bangga pada agamaku. Jadi ceritanya, ada bapak yang lewat buat jual buku di gerbong itu. Dan piliha bukunya pun sangat beragam, salah satunya ada buku Surat Yasin dan Tahlil. Lalu belilah si suami ini seharga 5 ribu perak, kemudian beliau membacanya dengan seksama dan membaca artinya juga, bahkan mengulang setiap artinya yang kurang dipahami selama 3 kali (Sambil dilafadzkan, makanya saya tahu). Kemudian dia berkata, "wah iki mesti digoleki maksude satu-satu ini, cek paham". Begitu katanya.
Jadi inilah agamaku kawan, untuk semua umat, untuk semua kalangan, untuk semua orang, untuk semua jabatan, untuk semua ras dan bangsa, untuk semuanya.
"Don't judge a book from the cover" 

No comments: