Pagi itu, aku berniat untuk membeli sarapan di warung dekat dengan kosan. Dan disitu terjadi sedikit perbincangan dengan si ibu penjual makan.
Ibu : "Waduh mbak, harga2 makanan sekarang itu naik semua ya mbak? lombok aja jadi 50 mbak."
Saya : "lho iya ta bu, kan BBM ndak jadi naik, harga tetap belum turun nggih Bu?"
Ibu : "Belum mbak, apalagi terong itu mbak, naiknya banyak dari 2500 jadi 7500."
Saya : "Oh gitu ya Bu." (sambil tersenyum mengangguk)
Ibu : "Iya, terus bus patas itu lho mbak, BBM belum naik sudah naik duluan yah. jadi 20 ribu sekarang kalau ke Surabaya. Terus kalau BBM gak jadi naik gimana itu mbak, masak tetep segitu. Wah, gini ini susahnya ntar kebutuhan pokoknya itu lho mbak."
Saya : "Heheh, iya Bu. Sampun Bu, monggo." (Saya segera mengakhiri percakapan karena memang pesanan sudah didapat dan memberikan senyum luar biasa pada si ibu)
Kemudian sampai di depan pintu pagar kos. Ada yang jual es cendol dan mbak-mbak mahasiswa yang beli, samar saya dengar pembicaraan mereka, "iya Pak, ke surabaya bus patas harganya sekarang 20ribu, dulu 15 ribu. Itu malah naiknya sebulan sebelum BBM mau naik. Lha habis rame-ramenya banyak kecelakaan bus itu lho pak."
(walaupun gak munafik juga saya dan keluarga saya sempet kaget terkait harga bus patas ini. jadi males juga naiknya, karena buang duit. mending naik kereta 4ribu :P)
Aku tak bisa banyak berbicara. Karena memang aku tak suka yang seperti itu. Hanya saja mendengar pernyataan itu ada sesuatu yang ingin saya utarakan sebenarnya. Bersama dengan pernyataan dosen saya yang dengan singkatnya bilang "BBM naik banyak yg protes yah, kalau harga rokok naik, diam semuanya."
Padahal intinya sama-sama kalau berimbas ke kebutuhan pokok. Iya kan?
BBM naik -> transportasi naik harga -> beli barang jadinya tambah mahal karena berat di ongkos
Rokok naik -> mengurangi jatah buat beli kebutuhan pokok -> apalagi kalau tiap hari berpuluh gulungan yang di hisap.
Yah, jadi ingat kata Bapak. Kalau di negara Indonesia ini, pemimpinnya ya pemerintah. Mereka adalah amirnya masyarakat Indonesia. Jadi selalu didoakan saja tetap bisa memberikan kebaikan. Toh gak gampang ada di posisi mereka itu.
Dan menanggapi demonya, hm, ini negara demokratis, jadi ya gak salah juga. Intinya semua orang itu pasti ingin Indonesia lebih baik lagi, dengan caranya, dan dengan pemikirannya masing-masing. Lantas pertanyaan baru muncul di benak saya, kapan bisa jadi sevisi ya kalau mikirnya tetap 'masing-masing'.

No comments:
Post a Comment