December 5, 2010

Mereka Pergi Menuju CintaNya

Anak majikan saya, yang baru berumur enam tahun, sudah dua hari ini menangisi kematian empat anak kucing yang dipeliharanya. Setiap bangun tidur, sebelum ke kamar mandi, dia pasti akan melongok dulu kardus di bawah tempat tidurnya. Tempat anak-anak kucing miliknya disimpan. Namun ia selalu kecewa dan kecewa. Sebab setiap hari selalu saja ada yang mati.
Ia selalu menanyakan pada mamanya. Kenapa jadi begini? Kenapa mama si kucing tidak mau menyusui? Kenapa ia tak sayang pada anaknya? Begitu pertanyaan bocah kecil itu yang bertubi-tubi kepada orang tuanya.
Kemudian majikan saya menerangkan kepada anaknya. Bahwa Allah SWT lebih sayang dia. Allah akan memelihara kucing cantik itu di surga sana. Di sana makanan kucing enak-enak. Tidak seperti di rumah ini. Di sana banyak ikan, banyak daging. Sedang di sini jarang. Kalaupun ada kamulah yang makan. Sedang si kucing cuma diberi sisanya. Bahkan kadang tidak kau beri. Makanya, lebih bagus ia hidup di surga. Dipelihara langsung oleh Allah. Kata majikan saya pada si anak. Sedikit memberikan pelajaran tentang berprasangka baik pada Yang Maha Kuasa.
Anak itu diam. Entah mengerti atau tidak dengan keterangan mamanya. Yang jelas dialog di pagi hari itu sempat menggelitik telinga saya yang sedang menyapu lantai. Terus terang saya juga sedang mempunyai perasaan hampir sama dengan anak itu. Persoalannya, jika dia sedih ditinggal mati oleh anak kucing, sedang saya sedih, karena ditinggal untuk selama-lamanya oleh tiga teman akrab saya.
Yang satu, pemuda yang umurnya belum genap dua puluh empat tahun. Ia teman ngaji saya di sebuah pesantren. Ia meninggal ketika sedang mencari rumput untuk kambingnya yang baru beranak. Ia terperosok ke jurang yang cukup dalam. Lantas masuk sungai yang penuh batu-batu. Kepalanya menghantam salah satu batu besar. Tidak ada yang menolong. Ia meninggal dan baru ditemukan dua hari kemudian.
Yang kedua, laki-laki 30-an dan sudah beristri. Mata pencahariannya macam-macam. Artinya bekerja apa saja mau. Dari cuci piring kalau ada orang hajatan sampai kuli bangunan. Ia selalu ringan menolong siapa saja, jika ada kegiatan umum di kampung saya. Walaupun tidak diundang, kalau itu dinilainya perbuatan baik, ia ikut terlibat di dalamnya. Ia pingsan ketika sedang mencuci piring di rumah seseorang yang sedang menggelar hajatan. Sebelas jam kemudian ia menghembuskan napasnya yang terakhir sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.
Kemudian yang terahir, laki-laki 25 tahun. Ia belum mempunyai istri. Ia rajin membuat pekerjaan tangan yang punya nilai jual. Di rumahnya penuh dengan kayu-kayu kecil, cat dan perabot kerajinan lainnya. Ia masih rajin datang ke guru-guru ngaji untuk menambah ilmu. Beberapa waktu lalu, ia terjatuh ketika sedang membeli cat di sebuah toko bangunan. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Namun untung tak dapat diraih. Ia menghembuskan napasnya yang terahir ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Satu persatu sosok-sosok pejuang dakwah di kampung itu muncul dalam benak pikiran saya. Mereka adalah sedikit pemuda yang mau menumpahkan sebagian waktunya untuk sedikit ikut menebarkan kalimah Allah di muka bumi ini. Mereka yang dengan ikhlas mau menumpahkan sebagian harta dan pikirannya untuk sesama. Walaupun secara ekonomi hidup mereka sangatlah susah. Tapi siapa lagi kalau buka kita? Kata mereka suatu saat ketika kami berkumpul di markas TPA masjid.
Idris, pemuda yang saya sebut pertama tadi, adalah penjual sayur kalau pagi. Ia sedang giat bernegosiasi dengan orang-orang yang cukup kaya di kampung ini, agar mau membantu keberadaan TPA yang saat ini sedang 'hidup segan matipun tak mau'. Amin, laki-laki yang kedua, sedang membina beberapa anak umur 12 tahun, yang sebentar lagi khitan, untuk secepatnya fasih membaca Qur'an, sehingga pada saat hajatan khitan nanti, bisa ada khataman yang meriah. Untuk sedikit memberikan warna budaya yang islami di kampung saya. Sedang Karim, pemuda yang satu lagi sedang siap-siap jadi bendahara. Sebab kampanyenya tentang zakat maal rupanya ditanggapi positif oleh penduduk kampung.
Namun Sang Pencipta berkata lain. Yang Maha Kuasa ini bertindak tidak sesuai dengan apa yang telah kami rencanakan. Dia memanggil ketiga teman saya dalam selang waktu yang tidak begitu lama. "Ya Allah, ada apa di balik ini semua?" Hanya itu yang terucap dari bibir saya.

Saya selalu sedih jika mengenang ketiga teman saya tersebut. Mereka adalah orang-orang sederhana yang kehadirannya di kampung sangat menguntungkan bagi sesama. Seandainya saya punya hak untuk memberikan usul kepada Sang Maha Pencipta, saya tentu akan usul pada-Nya. Agar ketiga teman saya diberi kesempatan untuk hidup lagi dalam beberapa tahun. Atau saya minta pada-Nya, agar rencana-rencana kami tertuntaskan lebih dulu.
Dalam perjalanan dakwah di muka bumi, seseorang tentunya berkeinginan untuk mempunyai partner. Yaitu orang yang satu ide, satu langkah dan satu tujuan dalam menggapai sesuatu. Lantas, apa yang harus saya kerjakan ketika teman-teman saya itu sudah tiada? Sementara saya masih 'bertungkus lumus', mati-matian mengais rezeki di negeri orang?
Tak ada lain, bahwa saya harus percaya seyakin-yakinnya, bahwa ajal itu pasti datang. Dan jika ajal sudah datang, tak ada satu mahlukpun yang berani atau menghalangi untuk menundanya. Yang kedua, mestinya saya harus belajar sungguh-sungguh untuk selalu berprasangka baik kepada Allah SWT. Kesedihan apapun yang sedang saya alami. Kepahitan seperti apapun yang sedang saya jalani, tentu itu semua adalah yang terbaik bagi saya menurut sang Maha Pencipta. Jadi tak perlu disesali lama-lama. Yang terahir sudah barang tentu, saya harus banyak-banyak bercermin kepada ketiga teman saya. Sebab orang-orang semuda itu sudah bisa menggoreskan 'tinta emas' di kampung saya. Walaupun hanya tingkat desa, tingkat kampung. Dan tak mungkin ada sejarawan yang mau mengabadikannya dalam literatur apapun. Seperti Salman Al-Farisi, maupun Hassan Al-Banna, misalnya. Paling tidak dalam kehidupannya yang tidak terlalu lama itu, mereka telah mewarisi semangat para sahabat nabi, semangat kaum muhajirin, dalam menancapkan benih-benih keislaman di tanah yang baru, Madinah Almunawaroh, empat belas abad yang lalu.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Al-Baqarah: 218)
Dan mudah-mudahan ketiga kawan saya sekarang ada dalam dekapan kasih-Nya yang penuh ampunan. Yang tidak pernah ditemukan dan dirasakan di dunia yang makin carut-marut ini.

syukron kepada yang telah mau berbagi kisah ini.
Subhanallah, saya merindin membacanya, entah mengapa dalam seminggu ini saya dihadapkan oleh Allah, beberapa orang yang meninggal. Mulai dari papanya teman saya, papanya teman mbak kos, seorang ibu yang menangis tersedu-sedu karena saudaranya mungkin yang meninggal (saya melihat di depan kamar jenazah RSSA Malang), dan bahkan teman saya sendiri saat SD dulu (Rozi namanya). Allah masih berkenan memberiku kesempatan dan bahkan mengingatkan aku akan kematian. Tak ada yang tahu kapan kita mati dan bagaimana kita mati, bisa karena sakit, bisa dalam keadaan beriman, bahkan yang lebih mengenaskan lagi kematian yang datang pada kawanku. Dia sedang berada di jalan, dan menuntun sepeda motornya yang mogok akibat banjir, tanpa sadar dan memang tidak tahu, di jalan yang banjir itu ada kabel listrik yang sangat berbahaya apalagi dalam kondisi banjir, dan kawanku seketika itu juga meninggal di jalan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semua yang berasal dari Allah akan kembali lagi pada Nya. Semoga kita semua di matikan Allah SWT tetap dlam keadaan islam, iman, dan meninggal dengan khusunul khotimah. Amin

No comments: