October 12, 2017

Pertanyaannya adalah Mengapa aku...

Air mata ini tak kunjung reda, dadaku sesak, kepalaku pening, hidungku kebas rasanya.
Aku masih sesenggukan di kamar kakakku kala itu.
Menceritakan semua kemarahanku padanya.
Bukan, bukan. Kamu salah jika ini soal laki-laki.
Aku punya kadar galau yang cukup elegan untuk dibandingkan perempuan-perempuan lain seusiaku kala itu.
Aku menceritakan soal pekerjaanku.

Bahwa aku merasa ditindas dengan atasanku. Bekerja tak pernah kenal waktu, dengan upah yang kurang sesuai kata kakakku. Aku mengerjakan dari mulai urusan A hingga Z. Urusan dapur, urusan bersih-bersih, urusan tamu, urusan melayani bosku. Semuanya. Mungkin bisa dikatakan aku pegawai serba bisa atau karyawan yang tidak mau bilang 'tidak' pada perminaat bos? Itu bedanya tipis kawan. Dan kamu sama-sama lelah dengan kedua hal itu.

Aku menceritakan bagaimana aku bekerja. Menjaga arsip penting kantor. Membawa uang kantor yang jumlahnya ratusan juta. Membawa kontrak kerja dengan klien, sementara atasan seringkali mengacaukannya. Lalu kemudian menyalahkan aku atas kekacauan ini. Aku bercerita semua rahasia kantorku. Padahal kakakku adalah pemilih perusahaan tandingan tempat aku bekerja. 

Iya, kakakku pemilikinya. Dan aku adik kandungnya. Bekerja di tempat orang lain. Kakakku hanya punya prinsip bahwa bekerja bukan dengan saudara kandung bisa memberikan nilai pelajaran lebih. Teruntuk aku yang baru anak ingusan lulusan S1 ini. 
"Kerjalah di luar, tak apa. Kamu akan melihat sisi lain dari dunia. Tapi jika kamu tetap juga mau belajar di kantor kakak, pintu kantor kakak akan selalu terbuka untukmu. Kamu tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan dengan keduanya." Itu pesan dia kala itu.
Dia ingin aku menjadi spons super besar yang super kering. Bahwa aku harus menyerap banyak info, banyak ilmu, banyak pengalaman, dari manapun.

Tetapi nyatanya, setelah 1.5 tahun aku bekerja di kantorku ini. Aku merasa saat ini aku kalah. Aku tak bisa menantang dunia luar. Aku lemah. Aku lelah. Sepertinya aku bekerja seolah tak menghargai diriku sendiri. Mau disuruh ini itu, dengan gaji sedikit, bahkan mungkin lebih banyak uang pribadiku habis untuk urusan kantor. Rasanya aku ingin pulang. Merasakan hangatnya pelukan kakakku. Dan merasakan amannya duniaku. Tapi aku tak pernah sanggup untuk mengatakan STOP pada atasanku. Ketika aku berniat saja, dengan tiba-tiba atasanku langsung berubah menjadi sangat baik. Memberikan semua pelajaran berharga tentang kantor. Menyediakan kenyamanan luar biasa untuk aku tetap tinggal. 

Kemudian nasehat ini seperti menamparku. Sedikit, tapi cukup membuat air mataku seketika langsung kering. Kakakku dengan lembut berkata, "Adik, aku percaya tidak ada yang keebtulan di dunia ini. Yang harus ditanyakan pada dirimu sendiri adalah Bukan tentang mengapa keadaan kantorku seperti ini, tetapi mengapa aku ditempatkan di keadaan seperti ini Tuhan?. Kamu paham maksudnya?"
Air mukaku terlihat kaget, dengan memandang mata kakakku tajam. Aku paham dengan maksudnya. Dan pertanyaan itu tak pernah terlintas sedikit pun dalam otakku. Walau akupun juga penganut paham tak ada yang kebetulan di dunia ini. 
Kakakku mengambil jeda, kemudian menarik nafas panjang, "Bahwa ada maksud Tuhan yang harus kamu cari mengapa kamu ditempatkan di lingkungan ini. Apakah untuk memberikan perubahan lebih baik, mengingatkan atasan untuk mengenal Tuhan, mewarnai kantor dengan warna-warna pelangi yang indah. Cari tahu tentang itu. Karena aku percaya, anak Ayah dan Bunda sudah diciptakan untuk menjadi orang hebat. Dan tidak akan kalah dengan keadaan."
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Sepakat bahwa anak Ayah Bunda memang akan jadi orang hebat. Lihat kakaku, seorang eksekutif muda dengan perusahaan yang luar biasa. Dan, dia juga melewati tantangan yang tak mudah. Aku melihatnya sendiri. 

Jadi Tuhan, bantu aku menemukan kenapa Kau memberiku kantor seperti ini? :)

 
maze at Botanic Garden University of Oxford


#30DWCDay2 #ceritacitacinta

No comments: