October 11, 2017

Obsesi!

"Ternyata dia juga suka bangun subuh kesiangan"
"Ternyata dia juga lalai untuk baca Quran"
"Ternyata sholat malam juga suka kelewat"
"Ternyata makannya juga pemilih banget"
Ternyata..
Ternyata..
dan Ternyata..

Aku menyadari semuanya setelah hitungan ribu hari hidup bersama dia. Suamiku. Dia sosok yang sangat sabar, penyayang, baik, tidak pernah marah, pendiam, dan semua kategori level laki-laki baik secara sekilas pandang.

Tapi ternyata kacamataku kali ini agak keliru.
Bahwa sejatinya, manusia sempurna adalah mereka yang tidak sempurna.

Aku menyadari ada yang salah dengan segala ekspektasi ini. Ada yang salah dengan setiap anggapan yang telah dibangun dari seorang sosok suami idaman. Dan tahukah? Bahwa itu adalah salah kita sendiri.
Urusan cermin diri tak pernah meleset satu kali pun. Dan sejatinya, jodoh kita adalah cerminan kita. Tak lebih dan tak kurang. Mereka menjelma menjadi sosok yang lain, sosok laki-laki. Dengan segala ke-khas-an yang memang fitrahnya seperti itu. 

Lalu bagaimana dengan ekspektasiku selama ini?
Membangunkan aku di sepertiga malam, mengingatkanku untuk sholat tepat waktu, menjaga ngaji dan hafalanku, membantu urusan rumah, memujiku, menghabiskan semua masakanku, memberikan komentar tentang baju biruku lebih baik daripada baju merahku, tentang bedakku yang luntur, olahraga bersama, akhir pekan nonton film berdua, mendaki gunung, mendayung, bersepeda, dan semuanya!
Well, ekspektasi tetaplah ekspektasi. Dan pada kenyataannya dia seringkali terbentur dengan realita yang ada.

Lalu, aku harus apa?
Menyalahkan keberadaan dia?
Menyalahkan takdir Tuhan?
Come on!
Itu salah otak aku!!!

Dan beruntungnya bahwa aku masih bisa menyadari ini.
And from now....
I must to change my expectation become my obsession

Aku akan berobsesi besar bahwa rumah tanggaku akan bahagia,
proses menggali cinta dengan cara yang unik daripada yang lain...
Memasak bersama,
Belajar bahasa inggris bersama
Menonton serial kartun bersama
Mandi bersama
Jalan-jalan sambil bergandengan tangan
Mengaji bersama
Sholat berjama'ah bersama
Hingga aku percaya bahwa hidupku dengan dia,
akan bersama #sehidupsesurga

Dan tak pernah ada kebahagiaan yang instan bukan?
Mie instan saja tetap butuh proses untuk bisa di nikmati
Dan cepat atau prosesnya membuat mie instan sebanding dengan kenikmatan yang akan didapat.
Coba kalau di dalam mie instan kita tambah dengan ayam, udang, telur, wortel, sawi, dan kerupuk. Kita harus belanja dulu ke toko ayam, ke toko ikan untuk beli udang, ke toko sayur, bahkan butuh goreng kerupuk sendiri kalau tidak ada yang jual kerupuk. Harus dicuci dulu dimasak dulu semuanya, baru dicampur dengan mie. Dan kita bisa tahu akan butuh porsi seberapa banyak untuk sesuai dengan standar kenikmatan kita.
Bedakan jika hanya ke toko beli mie instan yang dimasak hanya mie. Selesai!

Dan semua begitu juga dengan rumah tangga ini. Well, apapun itu dalam hidupmu. Butuh sebuah proses yang harus dilalui.
Dan proses yang paling mungkin untuk kita lakukan terlebih dahulu adalah :
1. Berikan contoh. Jadi Lakukan pada diri sendiri terlebih dahulu. Dengar kalimat-kalimat baik, ceramah, cerita tentang menjadi Istri yang Baik. Menjadi pendamping yang selalu dicintai. 
2. Ungkapkan keinginan kita
3. Berdoa kepada Sang Pemilik Hati

Aku belum bilang bahwa ini berhasil padaku. Tapi aku percaya bahwa cara ini ampuh. Setidaknya aku berharap bahwa Allah pun aku membantu aku dengan aku mencoba membagi cerita ini. 

Well, setiap rumah tanga punya cara dan aturan main sendiri. Jangan baper dan tetap fokus pada obsesi kita.

"Adek percaya bahwa laki-laki yang baik memang untuk perempuan yang baik, dan sebaliknya?". Aku mengangguk.
Ini adalah pembicaraan dengan suamiku di malam setelah sholat isya pada hari pertama kami resmi menjadi sepasang suami istri.
"Tapi tidak serta merta akan seperti itu kan? Allah menjanjikan itu. Tapi Allah juga meminta proses. Bisa jadi pelacur dan laki-laki tukang mabuk dimata Allah menjadi laki-laki baik dan perempuan baik karena dalam proses rumah tangganya ada berbenah diri. Dan bisa jadi ikhwan dan akhwat menikah dianggap baik tetapi dalam prosesnya menjadi laki-laki tidak baik dan akan bertemu dengan perempuan yang tidak baik. Dan itu tidak berlaku di mata manusia. Jadi semoga proses pertemuan kita ini mengantarkan kita berdua menjadi golongan laki-laki yang baik bertemu dengan perempuan yang baik" 
Dan aku mengaminkan dengan segenap jiwa raga serta hatiku

Wallahualam'.


Depan bangunan Christ Church, Oxford

#30DWCDay1 #refleksi

No comments: