October 17, 2017

Bumi Britania Raya

Aku diberi waktu kurang lebih hanya 25 hari untuk menikmati masa-masa newly wedding sebelum akhirnya berpindah status menjadi Long Distance Marriage. Suamiku akan melanjutkan studi S3 nya di Inggris. Dan karena masalah administrasi, maka suamiku diharuskan untuk berangkat terlebih dahulu kemudian aku akan menyusul. Selama 4.5 bulan rasa-rasanya aku menjadi sosok single lagi. Walaupun tetap saja, ada tantangan untuk bersosialisasi dengan keluarga dari suamiku yang berbeda kota dengan tempat tinggalku. Aku masih tetap bekerja seperti sedia kala. Menyelesaikan project-project yang memang menjadi tanggung jawabku. Melakukan perjalanan dinas ke luar pulau walaupun lebih banyak unsur jalan-jalan sambil bekerja :P. Tetapi rasa-rasanya aku punya tantangan lain yang lebih besar daripada itu.

Kau tahu, kehidupan pernikahan yang kata orang berbeda dengan masa ketika sendiri ternyata tak cukup membuatku merasakan perbedaan itu. Hanya sedikit tantangan dengan menambah list keluarga baru yang harus dijaga silaturrahimnya, juga tantangan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan suami. Well, setidaknya itu bukan sedikit tantangan bagiku untuk poin kedua. Yang seringkali terjadi bahwa ketika baru menikah, banyak kejadian istri akan bangun pagi-pagi lalu memasakkan makanan suami kemudian sarapan bersama. Lalu melepas suami pergi bekerja, kemudian ketika pulang juga akan makan malam bersama, sebelum tidur menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap. Bercerita tentang kejadian dan peristiwa yang sudah dilalui di hari itu. Dan yang paling menyenangkan, ketika akhir pekan, akan menghabiskan waktu berdua, jalan-jalan, beli ice cream atau apapun. Namun aku berada di tantangan lain soal menikah. Aku tak bisa cukup leluasa melakukan tatap muka dengan suami karena memang berbeda zona waktu, lalu masa adaptasi suami di negeri baru yang menguras cukup banyak energi, waktu, dan pikiran. Jadi, akupun memutuskan untuk menjadi temporary single (sendiri untuk sementara waktu).

Kami berdua memutuskan akan hidup bersama tentu saja. Jadi banyak hal yang harus dipersiapkan untuk hidup bersama,  dalam waktu cukup lama, dan di negara lain. Well, banyak hal yang harus dipersiapkan. Paling tidak aku menceritakan ini karena aku yakin di luar sana mungkin ada yang membutuhkan informasi ini. Aku harus menyiapkan semuanya dan bonusnya harus wara wiri sendiri. Hal pertama yang harus dilakukan tentu saja mengurus kartu keluarga (KK). Come on, menikah berarti sudah menjadi keluarga kan? Karena suami saya berasal dari luar kota Surabaya, jadi ada tambahan untuk mengurus surat kepindahan.
Saya akan menyusul suami saya ke Inggris. Jadi apa yang harus dipersiapkan untuk pergi keluar negeri? Yap, Passpor dan Visa. Beruntung bagi yang tinggal di kota besar seperti Surabaya, kali ini pembuatannya sudah lebih rapi dibanding yang dulu-dulu. Ada 2 kantor imigrasi yang bisa didatangi. Kemudian semua dokumen lainnya adalah :
  • Kartu keluarga asli kemudian di translate menjadi Bahasa Inggris. Di Surabaya ada penerjemah resmi tersumpah yaitu Biliton Translate Center (Jl. Biliton)
  • Akte Kelahiran asli yang ditranslate Bahasa Inggris juga
  • Akte nikah yang harus dilegalisir oleh pengadilan negeri Surabaya
  • Tes TBC dari rumah sakit rekanan dalam hal ini Rumah Sakit Premier Surabaya
  • Referensi Bank yang menyatakan bahwa kita punya deposito sejumlah uang sesuai dengan masa kita akan tinggal. Ini untuk meyakinkan pemerintahan Inggris bahwa kita memang bisa bertahan di negaranya
  • Surat referensi yang memberikan biaya Pendidikan suami dalam hal ini pemberi beasiswa
  • Keterangan dari pihak kampus yang menyatakan bahwa diperbolehkan membawa pasangan untuk tinggal bersama selama masa sekolah
  • Alamat tempat tinggal di Inggris
  • Dan semua keterangan lengkap bisa dilihat di http://www.vfsglobal.co.uk/indonesia/

Semua administrasi ini harus diurus paling tidak selama dua bulan. Dan lebih banyak dilakukan lebih dari satu kali kedatangan.
Kemudian setelah berbagai dokumen lengkap tibalah saat ketika aku akan mengajukan visa. Aku harus menyerahkan semua dokumen sekaligus dokumen pendukung lainnya yang pihak vfs pun menyatakan tidak tahu akan dipakai atau tidak. Jadi sara saya, siapkan saja sebanyak mungkin dokumen pendukung, dan dokumen pendukung ini sifatnya case by case. Bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Dan ketika selesai diserahkan maka yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan menunggu.

Tentu saja, aku masih bisa beraktifitas seperti sehari-hari. Masih ada pekerjaan dan meeting ke luar kota yang harus saya ikuti. Walaupun dua bulan ini rasanya cukup melelahkan hati dan pikiran saya secara keseluruhan tapi aku mencoba untuk melewati semuanya.

Dan pada akhirnya, here I am! Welcome to The Great Britain.

Apakah lega sampai disini? Sayangnya tidak. Aku sadar bahwa tantangan lain sudah siap menungguku disini. Belajar mandiri untuk hidup bersama pasangan dan tinggal tanpa orang tua sudah cukup menguras energi banyak orang tentu saja, dan kali ini aku melakukannya dengan suamiku di negara lain. Yang cukup dan sangat jauh.
Setelah semua yang saya lewati dengan mengurus dokumen sendiri, berhadapan dengan orang untuk meminta surat A, B, C kadang seringkali terlintas dibenak ini, mengapa harus dilakukan? Saya cukup senang dengan pekerjaan saya sebagai konsultan di salah satu perusahaan gizi dan kesehatan bertemu dengan orang-orang luar biasa, belajar banyak hal, dan tentu saja saya bisa jalan-jalan keliling Indonesia yang luar biasa indahnya. Saya punya keluarga besar yang sangat sayang dengan saya, banyak ponakan, sahabat yang keren dan selalu ada buatku dan semuanya yang fantastis berjalan dengan cantik. Walaupun sifatnya sementara tapi pergi meninggalkan itu semua cukup menguras emosi terdalamku.

Well terlepas dari itu semua, ada nasehat pernikahan yang selalu saya ingat dari guru saya saat kuliah. Beliau adalah perempuan yang pintar luar biasa dan sangat pengayayang pada murid-muridnya apalagi kepada keluarganya. Beliau melanjutkan sekolah S3nya di Australia dan setelah berjalan 6 bulan suami dan anak-anaknya akhirnya menyusul untuk hidup bersama di sana.
“Buat apa menikah jika akhirnya hidup berjauh-jauhan? Anak saya sudah 2 dan mereka sudah besar-besar. Sudah umur 5 dan 8 tahun. Sudah cukup mandiri kan untuk hidup hanya bersama ayahnya di Indonesia. Tapi sekali lagi, buat apa menikah, jika sejatinya hidup tak bersama keluarga. Menikah berarti hidup bersama dalam suka dan duka. Dalam lapang maupun sempit. Saya pernah kehabisan uang beasiswa saya di masa-masa terakhir dan saya tetap belum menemukan titik terang dengan penelitian saya. Tapi saya masih punya keluarga paling dekat yang selalu menyemangati saya. Suami saya mendukung sepenuhnya dengan sekolah saya dan untuk itu saya ada disini sekarang sukses melewati semuanya. Menikah sejatinya untuk hidup bersama, berjuang bersama. Meski ada masa untuk saling mengalah, tapi itulah esensi pernikahan. Bersama untuk saling melengkapi.”

Jadi adakah kebahagian lebih lainnya yang akan saya dapatkan jika saya tidak melalui masa sulit sebagai temporary single?
Ki : Pertama kali sampai di Bandara Heathrow setalah 15 jam perjalanan nonstop. Ka : Icon Kota London

#30DWCDay7 #UKstories #refleksi







No comments: