Hari ini adalah waktu dimana aku akan berkumpul dengan
hampir semua warga Indonesia yang berada di Oxford. Meet and Great Fresher
2018. Berkenalan dan berbincang lebih jauh dengan teman-teman sesame Indonesia.
Rasanya akan selalu menyenangkan ketika kita mempunyai sekumpulan orang-orang
dengan latar belakang Bersama, baik itu Bahasa, masa lalu, cerita, dan mungkin
budaya ketimuran yang sama yaitu Indonesia. Apalagi jika kita merasakan menjadi
kaum minoritas di negara orang lain. Entah dari mana asalnya, ujung barat
hingga timur, kulit putih hingga coklat, beragam agama, semuanya menyatu.
Disatukan dalam sebuah kata sakti Indonesia.
Semua orang punya latar belakang dan cerita masing-masing. Banyak
muda-mudi Indonesia yang sendirian merantau untuk Pendidikan lebih tinggi. Ada
juga yang setelah lulus SMA kemudian berani bertaruh di universitas elite
dunia. Ada juga yang baru menikah kemudian datang Bersama pasangannya. Ada juga
keluarga yang membawa semua anak-anaknya untuk menemani perjuangan meraih gelar
doktornya. Ada juga yang pasangan suami istri sama-sama berjuang untuk mencapai
cita-cita doktornya. Ada yang sudah tidak bertemu dengan istri serta anaknya
sekitar 1 tahun. Ada yang suami rela meninggalkan pekerjaan menterengnya di
Indonesia demi menemani istri dan anaknya menyelesaikan jenjang S3 dan banting
tulang bekerja di Oxford untuk bisa bertahan hidup. Dan beragam cerita lainnya.
Padahal kita tahu bahwa hidup di Inggris tidak murah. Tetapi bagi sebagian
orang apalah arti materi jika memang harus hidup berjauhan dengan keluarga
bukan? Ketahuilah bahwa setidaknya itu yang membuat masing-masing dari kita
bisa bertahan. Yaitu masa depan.
Aku merasa, tinggal sebagai mahasiswa di negara orang
seperti hidup di realita dunia lain. Ini nyata, tapi berbeda dunia dengan
kehidupan nyata lainnya di Indonesia. You know, sounds like hmm… another
struggle life in a semi fairy tale (maybe). Kita dapat rezeki dari beasiswa
sebagai penghargaan atas usaha kita. Dan bagi saya pribadi rasanya sedikit
berbeda dengan istilah salary atau
gaji. Tapi tetap saja, butuh usaha untuk bisa mengaturnya. Dan yah, dengan
tantangan yang berbeda, dengan alur hidup yang baru, dengan usaha yang berbeda,
aku tidak berpikir ini lebih sulit atau tidak jika harus hidup di Indonesia,
but it’s a different.
Kadang aku suka penasaran dengan apa pekerjaa orang-orang
ini di Indonesia. Apakah memang cuti sementara untuk naik jabatan nantinya,
atau memang baru benar-benar lulus kemudian hobi dengan ‘belajar’ sampai
akhirnya belajar belajar lagi, atau memang coba-coba berhadiah mengisi waktu
senggang. I mean, what next?
Jadi apapun rencana, cita-cita, misi, obsesi selanjutnya
dari step kehidupan di masa sekarang, setidaknya aku tahu bahwa masing-masing
dari kita disini berjuang dengan usaha paling maksimal untuk hidup di hari ini.
Karena satu hal kekuatan yang aku rasakan dari keluarga baru di Oxford bahwa setiap dari kita yakin, esok selalu lebih
baik dengan usaha terbaik kita di hari ini. No matter what, no matter how, no
matter why, no matter when, kehidupan yang kita perjuangkan saat ini adalah
masa depan yang memang sepatutnya untuk diperjuangkan. Meski kita tak pernah
tahu akan berbentuk seperti apa. So, give our best because we have chance to do
it now 😊
![]() |
| PPI and Indonesian's Family Oxford 2017 |
#30DWCDay6 #UKStories #refleksi

No comments:
Post a Comment