October 16, 2017

Terima sajalah!

Titititititititititititititititiitititititititititi
Aku terbangun dan langsung mematikan alarmku. Kali ini rasanya aku tak perlu menggunakan mode snooze lagi karena aku cukup bahagia untuk memulai hari ini, dan penasaran tentunya. Karena hari ini adalah hari dimana aku akan memulai pengalaman pertamaku. Bekerja! Sejak pertama kali kepindahanku ke kota ini bersama suami lagaknya cukup menyita banyak waktu untuk beradaptasi. Aku tak menyangka bahwa aku yang terbiasa dengan hidup bersosialisasi dan senang bertemu orang baru, tempat baru, dan rutinitas baru cukup kesulitan untuk melakukan hal itu di kota ini.
Pagi ini aku memasak makanan kesukaan suamiku. Bakmi jawa khas kota Yogyakarta, tempat kelahiranku. Kemudian aku melakukan rutinitas ibu rumah tangga pada umumnya, mencuci piring, menyapu lantai, mengepel, memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci, kemudian menjemurnya di bawah langit yang sedikit mendung. Mendung? Tak apalah, setidaknya ini tidak mempengaruhi perasaanku yang cukup bersemangat.
Kadang ketika cukup bersemangat dan antusias, perutku seringkali seperti berputar, tak sakit, hanya sensasinya seperti saat naik roller coaster. Dadaku berdegup kencang tetapi cukup halus untuk dan tenang. Well, rasanya bahagia, campur penasaran, campur senang, dan campur semuanya. Susah nian aku mendeskripsikannya.
Pukul 08.45 pagi. Aku siap dengan seragamku. Rapi, bersih, wangi. Dan wangi ini bertambah semerbak karena hatiku yang turut berbunga-bunga dengan berbaik hatinya suamiku mengatarkanku ke stasiun bus.
“Ini hari pertamamu Dinda, aku sudah izin dengan bosku untuk datang terlambat. Aku ingin mengatarmu”.
Itulah kejutan lain yang diberikan suamiku di pagi ini.
Aku tinggal di kota kecil sebuah wilayah Provinsi. Aku harus menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit naik bus untuk sampai di tempat kerjaku. Di wilayah ibukota provinsi. Bersyukur kota kecil seperti tempatku nyatanya tak menuntun nominal besar untuk bisa menikmati fasilitas umum. Jadi aku hanya cukup merogoh koin-koin kecilku saja untuk bisa menuju ke tempat kerjaku. Setidaknya ini tetap masih sepadan dengan gaji yang akan aku terima nantinya.
“Hari ini bersemangat sekali nona. Hendak kemana?” Seorang ibu paruh baya menyapaku dengan sangat lembut.
“Hari ini adalah hari pertama saya bekerja Ibu. Saya senang sekali”.
“Wah, selamat. Pasti akan sangat seru. Sudah menikah yah? Saya sempat melihat nona diantar oleh seorang laki-laki.”
“Iya suami saya.” Jawabku dengan nada tetap bahagia, dan bersemangat. Kami saling bertatapan dan melempar senyum.
Kemudian kita berdua saling diam. Aku sangat antusias dengan perjalanan ini. Karena perjalanan ini benar-benar kali pertama aku pergi jauh tanpa suami yang menemani.
“Saya senang dengan wajah ceriamu nona.” Sambung Ibu paruh baya mencoba mengajakku kembali berbicara.
“Terima kasih Ibu. Ibu hendak pergi kemana?”
“Saya menjemput anak saya nona. Dia sedang ada jadwal sekolah rehabilitasi di ibukota. Kota kita tinggal cukup kecil untuk menyedian sekolah rehabilitasi bukan? Jadi saya harus mengantar dan menjemput anak saya setiap 2 kali dalam sepekan.” Jelas Ibu paruh baya dengan sangat tenang.
Aku hanya bisa mengangguk-anggukkan saja kepalaku. Dan memberikan sedikit senyuman. Meskipun mungkin aku sedikit penasaran dengan istilah itu. Sekolah Rehabilitasi. Entahlah apapun di dalamnya. Tapi aku rasa sekolah itu berbeda. Dan seharusnya dengan kondisi murid yang berbeda pula. Tapi dengan alibi menjaga sopan santun karena baru kenal saya pun mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut.
“Saya punya anak 4 nona. 2 perempuan dan 2 laki-laki.” Ibu paruh baya menyambung pembicaraanya dengan senyum dan tetap tenang. Entah apa naluri seorang ibu yang memang bisa membaca pikiranku atau memang tampang mukaku yang cukup ekspresif untuk bilang bahwa aku penasaran dan ingin tanya.
“Yang pertama perempuan umur 17 tahun, yang kedua perempuan juga umur 14 tahun, lalu yang ketiga dan keempat umur 10 tahun dan 7 tahun. Dan anak saya yang pertama, dia spesial. Nina. Dia punya kebutuhan khusus. Dan Nina yang akan saya jemput hari ini.” Terang Ibu paruh baya dengan senyum yang sangat indah. Kemudian Ibu baruh baya melanjutkan dengan sangat tenang “Saya terserang virus saat hamil 5 minggu. Saya belum menetap di kota ini. Masih di tempat asal saya. Saat itu saya harus istirahat total. Dokter sudah menjelaskan dengan sangat detail tentang resiko semuanya. Bahwa virus ini bisa menyebabkan kelaianan pada calon anak saya. Meskipun virusnya akan sembuh dengan sendirinya tanpa harus diobati. Syukur virus ini hanya menyerang saya dengan demam tinggi dan pusing dalam 8 hari saja. Tetapi tetap 8 hari itu cukup berpengaruh dengan perkembangan dan kelanjutan dari calon buah hati saya. Saat itu dengan segala penjelasan dokter, tentulah saya kaget dan cukup galau. Baru pertama menikah, dengan usia cukup muda, dan harus menyadari bahwa kelak anak saya terlahir dengan kondisi tidak normal. Dokter saat itu memberikan opsi untuk digugurkan karena usia kandungan saya saat itu masih sangat kecil 7 minggu. Aman jika memang harus digugurkan. Tapi entah dari mana kekuatan itu ada, saya dan suami saya memutuskan untuk bertahan. Setidaknya, kita hanya yakin bahwa biarlah calon buah hati kita juga berjuang dengan caranya sendiri. Kami berpikir biarlah Tuhan yang menentukan. Bukan karena kita yang memaksa keadaan. Dan ternyata Tuhan berkata lain, 9 bulan saya jalani kehamilan ini dengan tanpa masalah berat apapun. Si jabang bayi bertahan nona. 39 minggu dia tetap bertahan. Akhirnya saya melahirkan dengan normal, dan syukurlah setidaknya karena saya tahu dia terlahir tidak normal maka penanganannya pun juga berjalan cukup baik.”
Saya mendengarkan dengan antusias. Dan cukup iba. Tanpa bisa memberikan komentar apapun. Hanya sebuah tatapan mata tulus saya kepada Ibu paruh baya luar biasa yang duduk di samping saya ini.
“Saya dan suami saya menjadi manusia yang lebih bersyukur saja. Ketiga anak saya yang lain normal. Hanya saya diberikan kesempatan untuk melihat perkembangan manusia yang cukup lambat. Dia berkembang. Jauh lebih baik dari saat pertama sebelum dia masuk di Sekolah Rehabilitasi ini. Tapi saya tak pernah dan tidak akan mau membandingkan perkembangan dia dengan ketiga anak saya yang lain. Dia berkembang dengan caranya. And I’ve blessing. My family especially. Karena kami melihat ciptaan lain dari Tuhan yang luar biasa berkembang dengan cukup lambat tetapi masih punya masa depan yang bisa diperjuangkan. Baiklah, terima kasih sudah menemani ibu ini bercerita nona. Setidaknya perjalanan saya kali ini tidak saya habiskan dengan tidur saja. Saya akan turun di pemberhentian selanjutnya. Semoga sukses nona untuk kerjanya.” Ibu itu memberiku pelukan hangat dan melambaikan tangannya.
Setelah semua kebahagiaan, antusias, penasaran dan apapun yang aku rasakan sedari pagi hingga saat ini, rasanya menjadi sempurna dengan sebuah pelukan ini. Pelukan ikhlas, pelukan lepas, pelukan penerimaan, pelukan rasa syukur dan sebuah pelukan kekuatan. Kau tahu, mungkin selama ini aku masih sering mendengar keluh kesah kerabat yang merasa kesepian ingin punya pasangan, keluhan diri sendiri yang rindu tangis dan tawa anak-anak, serta keluhan remah-remah lainnya. Ibu paruh baya ini memberiku pelajaran tentang sebuah penerimaan. Dengan segala tantangan yang dihadapi, dengan segala keadaan yang terjadi, kadang kita pun, bahkan AKU, seharusnya bertanya, jika segala yang kita ingin, entah pasangan, jabatan, uang, anak, dan apapun yang kita ingin, belum terjadi pada kita, bisa jadi karena kita tidak punya atau belum cukup kekuatan untuk menerima itu nantinya. Dengan segala keadaan yang kita pinta, apakah kita sudah siap menerima segala kemungkinan yang ada? Daripada Lelah memikirkan kemungkinan itu setidaknya, aku belajar untuk menerima keadaan yang ada di depan mataku saat ini. Bersyukurlah dan terima saja..

#30DWCDay5 #ceritacitacinta

No comments: