September 13, 2017

Jika kita -aku- memilih "jalur cepat"...


Yap, ta'aruf, dikenalkan, dijodohkan -atau apapun yang memang berlabel ketemu, kenalan, dan langsung nikah dalam waktu yang kurang dari 3 bulan- aku menyebutnya sebagai jalur cepat.
Setidaknya itu terjadi karena prosesnya cepat, baru saja kenal, tanpa tahu siapa dia dengan latar belakang bagaimana sebelumnya, tidak pernah ketemu. Akan lain ceritanya jika memang kamu nikah cepat, tapi dia teman yang sudah dikenal bertahun-tahun lalu, tidak pernah ketemu atau berhubungan, kemudian datang tiba-tiba menikah jadinya #temantapimenikah. Tapi sayang sekali aku tidak berada di posisi itu jadi aku akan cerita tentang #nikahjalurcepat saja.

Well, kalau mau dihitung total dari aku tahu siapa si doi sampai ijab sah dilakukan hanya berkisar 88 hari. Dan dengan waktu cukup singkat itu, menurutku cukup gila untuk menentukan jawaban bahwa yes, i will marry with you. Tapi disini aku tidak akan membahas soal itu, tapi aku ingin menceritakan bagaimana jika kamu 'ditakdirkan' untuk berada di "jalur cepat" seperti yang aku alami 😆

Pertama, ketika dapat 'tawaran' entah dalam bentuk apapun untuk menikah dengan seseorang yang belum kita kenal, tanpa harus memberikan jawaban apapun adalah, hal yang otomatis kita (perlu) lakukan adalah kepo 😂
Karena zaman sekarang semua selalu tanya ke google, jadi ketik saja nama lengkap si doi di google, and foilaaaaa... Semuanya pasti akan muncul. Mulai dari laman facebook, instagram, laman tempat dia bekerja, blog, atau apapun itulah. Eits, tapi ini akan bekerja jika si doi tidak menggunakan nama alay yah. If you can't find him/her, you've one point about. (if you know what i mean 😜). Cari sebanyak-banyaknya informasi tentang si doi lah. Baca semuanya, lihat semua fotonya, amati laman facebooknya dari mulai yang paling baru sampai ke event dimana si doi membuat facebook pertama kalinya. 
Berlebihan kah? i think is normal!
Karena kita -aku- tidak tahu sama sekali, sama sekali siapa si doi. Boro-boro tahu, nama saja baru denger sekarang ini kok. Jadilah wajar jika kita -aku- mencari tahu siapa sosok yang berani mengajak hidup kita di sisa umur kita ini.

Kedua!
Setelah membaca, pasti dong sudah ada feeling. Even only 0,01% (karena hanya berlaku 2 angka di belakang koma), but your heart will make a decision. So, i need to talk to my parents. Karena orang tua kita tidak memiliki kecanggihan seperti kita manusia abad milenial, tentulah kita akan bercerita berdasarkan info si pemberi tawaran dan juga hasil analisis poin pertama. Thats why ilmu kepo sungguh berguna disini. Tapi hanya bersifat sangat subjektif saja, tetapi bisa memberikan gambaran kok. Dan, orang tua selalu punya insting yang mengalahkan segalanya. Itu sudah kodrat. Tidak ada teorinya. Jadi sembari menguatkan instingnya, orang tua pasti juga punya cara untuk kepo yang lebih wise. Biasanya yang dilakukan adalah :
1. Tanya asal si doi dari mana, kemudian cari sodara/teman/kerabat atau siapapun yang bisa ditanya tentang si doi, dan terutama siapa keluarga si doi
2. Menanyakan agama dan perihal pekerjaan, karena menurut para orang tua, bukan soal gaji atau duitnya, tapi lingkungan pekerjaan menentukan bagaimana seseorang itu memiliki sikap dan kepribadian
3. Ini cara terampuh yang paling mujarab, adalah kepo ke Allah, dengan berdoa, istikharah, dan meminta petunjuk

Semua poin kedua juga akan berlaku jika ada kita punya saudara  kandung. Dan karena saya anak terakhir, dengan 3 saudara kandung, dimana 2 diantaranya adalah laki-laki, mungkin ada sesi yang lebih ekstrim, dimana si doi, akan dihubungin sama kakak kita -aku- untuk disuruh main ke rumahnya, dan dikorek secara habis dan tuntas. Thanks God, because i've lovely brothers in the worlds 💖.

Ketiga, setelah semua proses kepo tuntas. Barulah saat ini aku kemudian mengistikharahkan jawabannya. Menurut teori dari saudara, teman, dan sabahat tentang istikharah, bahwa sebenarnya istikharah itu tentang kemantapan hati. Bahwa sejatinya, secara akal manusia sudah diberikan kemampuan untuk memilih, tinggal kita yang memantapkan hati apakah berkenan dengan pilihan itu atau tidak. Dan bukan berarti mantap itu muncul dengan mimpi atau tanda-tanda absurd lainnya. Jadi mantap itu tempatnya di hati, dan hanya kita yang merasakan itu. Kalau ada yang bilang di kata mutiara "kata hati adalah bahasa Tuhan". Yah kurang lebihnya begitu.

Kemudian, taraaa.. Kita -aku- memlih jalur cepat ini.
Yang artinya, kita -aku- siap dengan segala resiko yang akan terjadi di depan jalan sana.
Bukankan semua keputusan selalu ada resikonya?

Sampai pada proses ini, yang berarti naik tingkat ke melaksanakan tradisi budaya dan adat istiadat keluarga, mulai dari tunangan, lamaran, siraman, pengajian, yang rentetannya bisa berhari-hari, jika kita -aku- masih belum ada rasa cinta kepada si doi, entahlah ini wajar atau tidak, but i felt like that. Belum ada perasaan apapun yang aku rasakan ke doi. Meskipun sudah bertemu beberapa kali untuk persiapan jelang pernikahan.
Kita -aku- masih tidak peduli dengan sikap doi yang bagaimana, penampilan doi, cara bicara si doi, and everything about him. Yang ada di kepala ketika itu hanyalah, oke he will be my husband. titik. Hanya itu saja.
Is that normal? HAHAHA

Sampai pada momen M E N I K A H.
hmm, haru sedikit. Mendengar si doi mengikrarkan janji sucinya. Tapi tetap saja masih belum cinta.
Sampai pada prosesi pasang cincin, cium tangan, gandeng tangan ke pelaminan, well, i'm just sooo happyyyy. Truly very happy. Happiest moment in my life. 
Dan, aku baru merasakan cinta itu ketika si doi masuk ke kamarku. Untuk pertama kalinya, ada orang asing, LAKI-LAKI masuk ke ruang hibernasiku. Dan ketika itu yes, i love him. 
I started to love him.

Dan sangat wajar, jika aku menggunakan kata started. Karena cinta adalah sebuah kata kerja, yang tentu membutuhkan usaha untuk naik level ke tingkat berikutnya.
Kita -aku- akan sangat berbahagia jika aku menyadari bahwa proses peningkatan level cinta ini berlangsung di dalam sebuah ikatan rumah tangga
Di momen ini,
Aku belajar tentang cara doi duduk, berbicara, berdiri, tidur, mandi, makan, belajar, bekerja, mengendarai kendaraan, mengangkat telepon, bersendawa, tertawa dan semuanya membuat aku semakin jatuh cinta.
its new thing! Dan semua orang sungguh senang dengan hal baru bukan? Sesuatu yang membuat kita penasaran sebelumnya. 
Aku menjadi lebih menghargai semua proses itu, dan bersyukur dengan setiap momen itu.
Aku bisa menjadi diriku sendiri, dengan tanpa berpikir jaim karena akupun tidak tahu, jika aku melakukan A bagaimana respon si doi dan jika aku melakukan B bagaimana pula reaksinya. So, i can do anything, dan dengan begitu aku juga akan tahu bagaimana respon si doi. Tanpa pernah ada contoh atau kenangan di masa lalu, bahwa kalau aku A nanti dia begini dan sebagainya.
You've be more responsible. Dan sepertinya sikap ini menjadi otomatis ada setelah ikatan yang bernama rumah tangga ini terjalin.
Secuek apapun, semanja apapun, secengeng apapun ketika masih masa sendiri, ataupun punya pacar, akan sangat berbeda ketika kita -aku- berumah tangga. 
Aku rasa, Tuhan memang membuat ini menjadi sistem otomatis juga deh! Karena itu, rumah tangga menjadi poin ibadah yang bahkan melengkapi separuh agama kita.
Dan dengan segala kekagetan dan surprise yang akan kita -aku- dapat tentang si doi, akan membuat rasa cinta ini bekerja menjadi penjumlahan yang tidak akan pernah berakhir. Walaupun hanya menambahkan 0,5 bahkan 0,005 level cinta kita -aku-, tapi sejatinya penjumlahan ini yang menjadi berkah dan sungguh dikenang dalam setiap inci nafas kita.

Jadi,
Selamat kepada kita (kamu semua) yang ternyata mendapat bonus jalur cepat dari Allah. Setiap momennya akan menjadi cerita menarik yang syarat makna dan perasaan. Ada emosi di dalamnya yang membuatnya sungguh indah dan cantik.

Good luck! 😍

No comments: