October 17, 2017

Bumi Britania Raya

Aku diberi waktu kurang lebih hanya 25 hari untuk menikmati masa-masa newly wedding sebelum akhirnya berpindah status menjadi Long Distance Marriage. Suamiku akan melanjutkan studi S3 nya di Inggris. Dan karena masalah administrasi, maka suamiku diharuskan untuk berangkat terlebih dahulu kemudian aku akan menyusul. Selama 4.5 bulan rasa-rasanya aku menjadi sosok single lagi. Walaupun tetap saja, ada tantangan untuk bersosialisasi dengan keluarga dari suamiku yang berbeda kota dengan tempat tinggalku. Aku masih tetap bekerja seperti sedia kala. Menyelesaikan project-project yang memang menjadi tanggung jawabku. Melakukan perjalanan dinas ke luar pulau walaupun lebih banyak unsur jalan-jalan sambil bekerja :P. Tetapi rasa-rasanya aku punya tantangan lain yang lebih besar daripada itu.

Kau tahu, kehidupan pernikahan yang kata orang berbeda dengan masa ketika sendiri ternyata tak cukup membuatku merasakan perbedaan itu. Hanya sedikit tantangan dengan menambah list keluarga baru yang harus dijaga silaturrahimnya, juga tantangan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan suami. Well, setidaknya itu bukan sedikit tantangan bagiku untuk poin kedua. Yang seringkali terjadi bahwa ketika baru menikah, banyak kejadian istri akan bangun pagi-pagi lalu memasakkan makanan suami kemudian sarapan bersama. Lalu melepas suami pergi bekerja, kemudian ketika pulang juga akan makan malam bersama, sebelum tidur menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap. Bercerita tentang kejadian dan peristiwa yang sudah dilalui di hari itu. Dan yang paling menyenangkan, ketika akhir pekan, akan menghabiskan waktu berdua, jalan-jalan, beli ice cream atau apapun. Namun aku berada di tantangan lain soal menikah. Aku tak bisa cukup leluasa melakukan tatap muka dengan suami karena memang berbeda zona waktu, lalu masa adaptasi suami di negeri baru yang menguras cukup banyak energi, waktu, dan pikiran. Jadi, akupun memutuskan untuk menjadi temporary single (sendiri untuk sementara waktu).

Kami berdua memutuskan akan hidup bersama tentu saja. Jadi banyak hal yang harus dipersiapkan untuk hidup bersama,  dalam waktu cukup lama, dan di negara lain. Well, banyak hal yang harus dipersiapkan. Paling tidak aku menceritakan ini karena aku yakin di luar sana mungkin ada yang membutuhkan informasi ini. Aku harus menyiapkan semuanya dan bonusnya harus wara wiri sendiri. Hal pertama yang harus dilakukan tentu saja mengurus kartu keluarga (KK). Come on, menikah berarti sudah menjadi keluarga kan? Karena suami saya berasal dari luar kota Surabaya, jadi ada tambahan untuk mengurus surat kepindahan.
Saya akan menyusul suami saya ke Inggris. Jadi apa yang harus dipersiapkan untuk pergi keluar negeri? Yap, Passpor dan Visa. Beruntung bagi yang tinggal di kota besar seperti Surabaya, kali ini pembuatannya sudah lebih rapi dibanding yang dulu-dulu. Ada 2 kantor imigrasi yang bisa didatangi. Kemudian semua dokumen lainnya adalah :
  • Kartu keluarga asli kemudian di translate menjadi Bahasa Inggris. Di Surabaya ada penerjemah resmi tersumpah yaitu Biliton Translate Center (Jl. Biliton)
  • Akte Kelahiran asli yang ditranslate Bahasa Inggris juga
  • Akte nikah yang harus dilegalisir oleh pengadilan negeri Surabaya
  • Tes TBC dari rumah sakit rekanan dalam hal ini Rumah Sakit Premier Surabaya
  • Referensi Bank yang menyatakan bahwa kita punya deposito sejumlah uang sesuai dengan masa kita akan tinggal. Ini untuk meyakinkan pemerintahan Inggris bahwa kita memang bisa bertahan di negaranya
  • Surat referensi yang memberikan biaya Pendidikan suami dalam hal ini pemberi beasiswa
  • Keterangan dari pihak kampus yang menyatakan bahwa diperbolehkan membawa pasangan untuk tinggal bersama selama masa sekolah
  • Alamat tempat tinggal di Inggris
  • Dan semua keterangan lengkap bisa dilihat di http://www.vfsglobal.co.uk/indonesia/

Semua administrasi ini harus diurus paling tidak selama dua bulan. Dan lebih banyak dilakukan lebih dari satu kali kedatangan.
Kemudian setelah berbagai dokumen lengkap tibalah saat ketika aku akan mengajukan visa. Aku harus menyerahkan semua dokumen sekaligus dokumen pendukung lainnya yang pihak vfs pun menyatakan tidak tahu akan dipakai atau tidak. Jadi sara saya, siapkan saja sebanyak mungkin dokumen pendukung, dan dokumen pendukung ini sifatnya case by case. Bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Dan ketika selesai diserahkan maka yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan menunggu.

Tentu saja, aku masih bisa beraktifitas seperti sehari-hari. Masih ada pekerjaan dan meeting ke luar kota yang harus saya ikuti. Walaupun dua bulan ini rasanya cukup melelahkan hati dan pikiran saya secara keseluruhan tapi aku mencoba untuk melewati semuanya.

Dan pada akhirnya, here I am! Welcome to The Great Britain.

Apakah lega sampai disini? Sayangnya tidak. Aku sadar bahwa tantangan lain sudah siap menungguku disini. Belajar mandiri untuk hidup bersama pasangan dan tinggal tanpa orang tua sudah cukup menguras energi banyak orang tentu saja, dan kali ini aku melakukannya dengan suamiku di negara lain. Yang cukup dan sangat jauh.
Setelah semua yang saya lewati dengan mengurus dokumen sendiri, berhadapan dengan orang untuk meminta surat A, B, C kadang seringkali terlintas dibenak ini, mengapa harus dilakukan? Saya cukup senang dengan pekerjaan saya sebagai konsultan di salah satu perusahaan gizi dan kesehatan bertemu dengan orang-orang luar biasa, belajar banyak hal, dan tentu saja saya bisa jalan-jalan keliling Indonesia yang luar biasa indahnya. Saya punya keluarga besar yang sangat sayang dengan saya, banyak ponakan, sahabat yang keren dan selalu ada buatku dan semuanya yang fantastis berjalan dengan cantik. Walaupun sifatnya sementara tapi pergi meninggalkan itu semua cukup menguras emosi terdalamku.

Well terlepas dari itu semua, ada nasehat pernikahan yang selalu saya ingat dari guru saya saat kuliah. Beliau adalah perempuan yang pintar luar biasa dan sangat pengayayang pada murid-muridnya apalagi kepada keluarganya. Beliau melanjutkan sekolah S3nya di Australia dan setelah berjalan 6 bulan suami dan anak-anaknya akhirnya menyusul untuk hidup bersama di sana.
“Buat apa menikah jika akhirnya hidup berjauh-jauhan? Anak saya sudah 2 dan mereka sudah besar-besar. Sudah umur 5 dan 8 tahun. Sudah cukup mandiri kan untuk hidup hanya bersama ayahnya di Indonesia. Tapi sekali lagi, buat apa menikah, jika sejatinya hidup tak bersama keluarga. Menikah berarti hidup bersama dalam suka dan duka. Dalam lapang maupun sempit. Saya pernah kehabisan uang beasiswa saya di masa-masa terakhir dan saya tetap belum menemukan titik terang dengan penelitian saya. Tapi saya masih punya keluarga paling dekat yang selalu menyemangati saya. Suami saya mendukung sepenuhnya dengan sekolah saya dan untuk itu saya ada disini sekarang sukses melewati semuanya. Menikah sejatinya untuk hidup bersama, berjuang bersama. Meski ada masa untuk saling mengalah, tapi itulah esensi pernikahan. Bersama untuk saling melengkapi.”

Jadi adakah kebahagian lebih lainnya yang akan saya dapatkan jika saya tidak melalui masa sulit sebagai temporary single?
Ki : Pertama kali sampai di Bandara Heathrow setalah 15 jam perjalanan nonstop. Ka : Icon Kota London

#30DWCDay7 #UKstories #refleksi







October 16, 2017

Futureland



Hari ini adalah waktu dimana aku akan berkumpul dengan hampir semua warga Indonesia yang berada di Oxford. Meet and Great Fresher 2018. Berkenalan dan berbincang lebih jauh dengan teman-teman sesame Indonesia. Rasanya akan selalu menyenangkan ketika kita mempunyai sekumpulan orang-orang dengan latar belakang Bersama, baik itu Bahasa, masa lalu, cerita, dan mungkin budaya ketimuran yang sama yaitu Indonesia. Apalagi jika kita merasakan menjadi kaum minoritas di negara orang lain. Entah dari mana asalnya, ujung barat hingga timur, kulit putih hingga coklat, beragam agama, semuanya menyatu. Disatukan dalam sebuah kata sakti Indonesia.

Semua orang punya latar belakang dan cerita masing-masing. Banyak muda-mudi Indonesia yang sendirian merantau untuk Pendidikan lebih tinggi. Ada juga yang setelah lulus SMA kemudian berani bertaruh di universitas elite dunia. Ada juga yang baru menikah kemudian datang Bersama pasangannya. Ada juga keluarga yang membawa semua anak-anaknya untuk menemani perjuangan meraih gelar doktornya. Ada juga yang pasangan suami istri sama-sama berjuang untuk mencapai cita-cita doktornya. Ada yang sudah tidak bertemu dengan istri serta anaknya sekitar 1 tahun. Ada yang suami rela meninggalkan pekerjaan menterengnya di Indonesia demi menemani istri dan anaknya menyelesaikan jenjang S3 dan banting tulang bekerja di Oxford untuk bisa bertahan hidup. Dan beragam cerita lainnya. Padahal kita tahu bahwa hidup di Inggris tidak murah. Tetapi bagi sebagian orang apalah arti materi jika memang harus hidup berjauhan dengan keluarga bukan? Ketahuilah bahwa setidaknya itu yang membuat masing-masing dari kita bisa bertahan. Yaitu masa depan.

Aku merasa, tinggal sebagai mahasiswa di negara orang seperti hidup di realita dunia lain. Ini nyata, tapi berbeda dunia dengan kehidupan nyata lainnya di Indonesia. You know, sounds like hmm… another struggle life in a semi fairy tale (maybe). Kita dapat rezeki dari beasiswa sebagai penghargaan atas usaha kita. Dan bagi saya pribadi rasanya sedikit berbeda dengan istilah salary atau gaji. Tapi tetap saja, butuh usaha untuk bisa mengaturnya. Dan yah, dengan tantangan yang berbeda, dengan alur hidup yang baru, dengan usaha yang berbeda, aku tidak berpikir ini lebih sulit atau tidak jika harus hidup di Indonesia, but it’s a different.

Kadang aku suka penasaran dengan apa pekerjaa orang-orang ini di Indonesia. Apakah memang cuti sementara untuk naik jabatan nantinya, atau memang baru benar-benar lulus kemudian hobi dengan ‘belajar’ sampai akhirnya belajar belajar lagi, atau memang coba-coba berhadiah mengisi waktu senggang. I mean, what next?

Jadi apapun rencana, cita-cita, misi, obsesi selanjutnya dari step kehidupan di masa sekarang, setidaknya aku tahu bahwa masing-masing dari kita disini berjuang dengan usaha paling maksimal untuk hidup di hari ini. Karena satu hal kekuatan yang aku rasakan dari keluarga baru di Oxford bahwa setiap dari kita yakin, esok selalu lebih baik dengan usaha terbaik kita di hari ini. No matter what, no matter how, no matter why, no matter when, kehidupan yang kita perjuangkan saat ini adalah masa depan yang memang sepatutnya untuk diperjuangkan. Meski kita tak pernah tahu akan berbentuk seperti apa. So, give our best because we have chance to do it now 😊
PPI and Indonesian's Family Oxford 2017
#30DWCDay6 #UKStories #refleksi

Terima sajalah!

Titititititititititititititititiitititititititititi
Aku terbangun dan langsung mematikan alarmku. Kali ini rasanya aku tak perlu menggunakan mode snooze lagi karena aku cukup bahagia untuk memulai hari ini, dan penasaran tentunya. Karena hari ini adalah hari dimana aku akan memulai pengalaman pertamaku. Bekerja! Sejak pertama kali kepindahanku ke kota ini bersama suami lagaknya cukup menyita banyak waktu untuk beradaptasi. Aku tak menyangka bahwa aku yang terbiasa dengan hidup bersosialisasi dan senang bertemu orang baru, tempat baru, dan rutinitas baru cukup kesulitan untuk melakukan hal itu di kota ini.
Pagi ini aku memasak makanan kesukaan suamiku. Bakmi jawa khas kota Yogyakarta, tempat kelahiranku. Kemudian aku melakukan rutinitas ibu rumah tangga pada umumnya, mencuci piring, menyapu lantai, mengepel, memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci, kemudian menjemurnya di bawah langit yang sedikit mendung. Mendung? Tak apalah, setidaknya ini tidak mempengaruhi perasaanku yang cukup bersemangat.
Kadang ketika cukup bersemangat dan antusias, perutku seringkali seperti berputar, tak sakit, hanya sensasinya seperti saat naik roller coaster. Dadaku berdegup kencang tetapi cukup halus untuk dan tenang. Well, rasanya bahagia, campur penasaran, campur senang, dan campur semuanya. Susah nian aku mendeskripsikannya.
Pukul 08.45 pagi. Aku siap dengan seragamku. Rapi, bersih, wangi. Dan wangi ini bertambah semerbak karena hatiku yang turut berbunga-bunga dengan berbaik hatinya suamiku mengatarkanku ke stasiun bus.
“Ini hari pertamamu Dinda, aku sudah izin dengan bosku untuk datang terlambat. Aku ingin mengatarmu”.
Itulah kejutan lain yang diberikan suamiku di pagi ini.
Aku tinggal di kota kecil sebuah wilayah Provinsi. Aku harus menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit naik bus untuk sampai di tempat kerjaku. Di wilayah ibukota provinsi. Bersyukur kota kecil seperti tempatku nyatanya tak menuntun nominal besar untuk bisa menikmati fasilitas umum. Jadi aku hanya cukup merogoh koin-koin kecilku saja untuk bisa menuju ke tempat kerjaku. Setidaknya ini tetap masih sepadan dengan gaji yang akan aku terima nantinya.
“Hari ini bersemangat sekali nona. Hendak kemana?” Seorang ibu paruh baya menyapaku dengan sangat lembut.
“Hari ini adalah hari pertama saya bekerja Ibu. Saya senang sekali”.
“Wah, selamat. Pasti akan sangat seru. Sudah menikah yah? Saya sempat melihat nona diantar oleh seorang laki-laki.”
“Iya suami saya.” Jawabku dengan nada tetap bahagia, dan bersemangat. Kami saling bertatapan dan melempar senyum.
Kemudian kita berdua saling diam. Aku sangat antusias dengan perjalanan ini. Karena perjalanan ini benar-benar kali pertama aku pergi jauh tanpa suami yang menemani.
“Saya senang dengan wajah ceriamu nona.” Sambung Ibu paruh baya mencoba mengajakku kembali berbicara.
“Terima kasih Ibu. Ibu hendak pergi kemana?”
“Saya menjemput anak saya nona. Dia sedang ada jadwal sekolah rehabilitasi di ibukota. Kota kita tinggal cukup kecil untuk menyedian sekolah rehabilitasi bukan? Jadi saya harus mengantar dan menjemput anak saya setiap 2 kali dalam sepekan.” Jelas Ibu paruh baya dengan sangat tenang.
Aku hanya bisa mengangguk-anggukkan saja kepalaku. Dan memberikan sedikit senyuman. Meskipun mungkin aku sedikit penasaran dengan istilah itu. Sekolah Rehabilitasi. Entahlah apapun di dalamnya. Tapi aku rasa sekolah itu berbeda. Dan seharusnya dengan kondisi murid yang berbeda pula. Tapi dengan alibi menjaga sopan santun karena baru kenal saya pun mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut.
“Saya punya anak 4 nona. 2 perempuan dan 2 laki-laki.” Ibu paruh baya menyambung pembicaraanya dengan senyum dan tetap tenang. Entah apa naluri seorang ibu yang memang bisa membaca pikiranku atau memang tampang mukaku yang cukup ekspresif untuk bilang bahwa aku penasaran dan ingin tanya.
“Yang pertama perempuan umur 17 tahun, yang kedua perempuan juga umur 14 tahun, lalu yang ketiga dan keempat umur 10 tahun dan 7 tahun. Dan anak saya yang pertama, dia spesial. Nina. Dia punya kebutuhan khusus. Dan Nina yang akan saya jemput hari ini.” Terang Ibu paruh baya dengan senyum yang sangat indah. Kemudian Ibu baruh baya melanjutkan dengan sangat tenang “Saya terserang virus saat hamil 5 minggu. Saya belum menetap di kota ini. Masih di tempat asal saya. Saat itu saya harus istirahat total. Dokter sudah menjelaskan dengan sangat detail tentang resiko semuanya. Bahwa virus ini bisa menyebabkan kelaianan pada calon anak saya. Meskipun virusnya akan sembuh dengan sendirinya tanpa harus diobati. Syukur virus ini hanya menyerang saya dengan demam tinggi dan pusing dalam 8 hari saja. Tetapi tetap 8 hari itu cukup berpengaruh dengan perkembangan dan kelanjutan dari calon buah hati saya. Saat itu dengan segala penjelasan dokter, tentulah saya kaget dan cukup galau. Baru pertama menikah, dengan usia cukup muda, dan harus menyadari bahwa kelak anak saya terlahir dengan kondisi tidak normal. Dokter saat itu memberikan opsi untuk digugurkan karena usia kandungan saya saat itu masih sangat kecil 7 minggu. Aman jika memang harus digugurkan. Tapi entah dari mana kekuatan itu ada, saya dan suami saya memutuskan untuk bertahan. Setidaknya, kita hanya yakin bahwa biarlah calon buah hati kita juga berjuang dengan caranya sendiri. Kami berpikir biarlah Tuhan yang menentukan. Bukan karena kita yang memaksa keadaan. Dan ternyata Tuhan berkata lain, 9 bulan saya jalani kehamilan ini dengan tanpa masalah berat apapun. Si jabang bayi bertahan nona. 39 minggu dia tetap bertahan. Akhirnya saya melahirkan dengan normal, dan syukurlah setidaknya karena saya tahu dia terlahir tidak normal maka penanganannya pun juga berjalan cukup baik.”
Saya mendengarkan dengan antusias. Dan cukup iba. Tanpa bisa memberikan komentar apapun. Hanya sebuah tatapan mata tulus saya kepada Ibu paruh baya luar biasa yang duduk di samping saya ini.
“Saya dan suami saya menjadi manusia yang lebih bersyukur saja. Ketiga anak saya yang lain normal. Hanya saya diberikan kesempatan untuk melihat perkembangan manusia yang cukup lambat. Dia berkembang. Jauh lebih baik dari saat pertama sebelum dia masuk di Sekolah Rehabilitasi ini. Tapi saya tak pernah dan tidak akan mau membandingkan perkembangan dia dengan ketiga anak saya yang lain. Dia berkembang dengan caranya. And I’ve blessing. My family especially. Karena kami melihat ciptaan lain dari Tuhan yang luar biasa berkembang dengan cukup lambat tetapi masih punya masa depan yang bisa diperjuangkan. Baiklah, terima kasih sudah menemani ibu ini bercerita nona. Setidaknya perjalanan saya kali ini tidak saya habiskan dengan tidur saja. Saya akan turun di pemberhentian selanjutnya. Semoga sukses nona untuk kerjanya.” Ibu itu memberiku pelukan hangat dan melambaikan tangannya.
Setelah semua kebahagiaan, antusias, penasaran dan apapun yang aku rasakan sedari pagi hingga saat ini, rasanya menjadi sempurna dengan sebuah pelukan ini. Pelukan ikhlas, pelukan lepas, pelukan penerimaan, pelukan rasa syukur dan sebuah pelukan kekuatan. Kau tahu, mungkin selama ini aku masih sering mendengar keluh kesah kerabat yang merasa kesepian ingin punya pasangan, keluhan diri sendiri yang rindu tangis dan tawa anak-anak, serta keluhan remah-remah lainnya. Ibu paruh baya ini memberiku pelajaran tentang sebuah penerimaan. Dengan segala tantangan yang dihadapi, dengan segala keadaan yang terjadi, kadang kita pun, bahkan AKU, seharusnya bertanya, jika segala yang kita ingin, entah pasangan, jabatan, uang, anak, dan apapun yang kita ingin, belum terjadi pada kita, bisa jadi karena kita tidak punya atau belum cukup kekuatan untuk menerima itu nantinya. Dengan segala keadaan yang kita pinta, apakah kita sudah siap menerima segala kemungkinan yang ada? Daripada Lelah memikirkan kemungkinan itu setidaknya, aku belajar untuk menerima keadaan yang ada di depan mataku saat ini. Bersyukurlah dan terima saja..

#30DWCDay5 #ceritacitacinta

October 14, 2017

Mencintai Kehilangan

Ketika merasa kehilangan..
Sedih
Marah
Kesal
Kecewa
Menangis
Murung
Dendam
Tak ikhlas
menyalahkan orang lain
bahkan menyalahkan keadaan...

Setiap orang tentu pernah ada di posisi ini
Aku menjadi bagian dari setiap orang itu
Dimana semua miliknya, dirampas oleh orang lain,
atau bahkan diambil oleh Pemilik Sebenarnya
Yah, diambil lagi oleh Pemilik Sebenarnya.
Meskipun kita masih bisa melihatnya, merasakannya, menikmatinya bahkan,
tapi bukan lagi milik kita bukan?
Lalu megapa risau, sedih, dan marah?
Padahal semuanya hanyalah Titipan
Jadi, apakah kita sudah belajar mencintai kehilangan?
Kau pernah mencoba melakukannya?
Aku pernah..
Mencoba sering, tapi seringnya tak ikhlas
Mencoba pasrah asal melepas, tapi lepas malam selalu gundah
Memberikan baju kesayanganku
Memberikan uang merah dari dompetku
Melepaskan buku yang sangat aku sayangi
Tanpa niat apapun, tanpa paksaan dari siapapun
Berikan saja..
Hari ini aku masih mengingatnya.
Aku tahu ikhlas tak pernah menyatakan dan mengaku bahwa dirinya ikhlas.
Tapi esok kelak, aku yakin, 
bahwa mencintai kehilangan
akan sama berharganya dengan mencintai pertemuan..



#30DWCDay4 #puisi

October 13, 2017

Intensive Care Unit



Tit,tit,tit,tit,tit,tit,tit,…..
Tit,tut,tit,tut,tit,tut,tit,…..
Tiiiiiiiit,tiiiiiiit,tiiiiiiit,tiiiiiit,….
Tuuut,tuuut,tuuut,tuuut,….
Tik,tok,tik,tok,tik,tok,……
Tuk,tuk,tuk,tuk,tuk,tuk,….

Semua suara bercampur menjadi satu. Aku masih berusaha untuk memahami. Bahwa seminggu kedepan aku akan duduk disini. Sendirian sebagai ahli gizi magang di salah satu rumah sakit pemerintah di Kota Malang. Rasa sejuknya kota seperti membeku karena ditambah dengan semua Air Conditioner di ruangan tempatku duduk ini dipasang maksimal pada suhu 16 derajat.

Titititititititititititititititititititititititititititititi….

“Dokter Andi, ayo dicari kalau suaranya begitu berarti ada yang tidak beres itu. Berarti waktunya keliling, dicek mana yang bermasalah.”
“Baik dokter Uni.”
Salah satu dokter yang tadi disebut namanya sebagai dokter Andi kemudian bergegas berkeliling ruangan mencari sumber suara tersebut. Selang 7 menit kemudian suara alat itu kembali normal.

“Mbak, lagi magang? Dari mana? Dari Universitas Pelita?”
“Iya.” Jawabku singkat dibumbui sedikit senyum
“Bu Anggraini dimana?”
“Tadi masih rapat sebentar, baru akan masuk jam 9.”
Seorang perawat kemudian meninggalkanku setelah menyapa dengan ramah menuju ke kamar ganti untuk mengambil jasnya dan memasang masker segera kemudian bergegas mendapat arahan dari perawat sift jaga malam dan menjelaskan satu per satu kondisi semua pasien di ruangan tersebut.
“Pak, saya boleh ikut?” entah darimana dan ide siapa tetiba aku mengajukan diri kepada Bapak perawat yang saya duga usianya sudah masuk 47 tahun. Perawakan sekitar 162 cm, kulit sawo matang, dan terlihat begitu sabar. Dan sepertinya beliau perawat paling senior di ruang ini.
“Tentu saja.”
Pak perawat menjelaskan kepada seorang perawat laki-laki yang tadi menyapaku.
Sambil berdiri dibelakang kedua orang tersebut, aku mengamati ruangan yang kini aku berdiri tepat ditengahnya. Ruangan luas tanpa sekat pemanen dengan ukuran sekitar 15 x 20 meter. Berwarna putih untuk dinding dan atapnya, serta keramik putih untuk lantainya. Terdapat sisi kanan dan kiri, dimana dimasing-masing sisinya terdapat 4 kasur berjejer. Delapan kasur ini tidak terisi semua. Hanya enam kasur yang ada ‘penghuninya’. Masing-masing kasur hanya dipisahkan oleh kelambu berwarna biru yang juga hanya dibiarkan berada dipinggir tanpa direntangkan. Semua ‘penghuni’ setiap kasurpun tidak risau, resah, atau mengeluh sama sekali. Ruangan ini begitu tenang.
“Mari mbak, dimulai dari kasur nomor 1.” Sapa Bapak Perawat Senior yang membuyarkanku dari proses mengamati sekitar.
“Jadi ini pasien pertama, pasien trepanasi otak, usia 20 tahun, perempuan. Kondisinya lebih baik dari kemarin konsumsi makanan cair sudah meningkat dari 100 menjadi 200 cc setiap 4 jam. Yang lain stabil. GCS 234.”
“Pasien kedua, trepanasi otak, usia 35 tahun, perempuan. Kondisinya stabil. Makanan cair masih tetap 100 cc karena residu masih banyak lebih dari 50 cc dengan warna normal. GCS 123”
“Pasien ketiga, trepanasi otak, usia 32 tahun, perempuan. Stabil. Makanan cair ditingkatkan 200 cc. GCS 234”
“Pasien ketiga, luka pencernaan, usia 38 tahun, laki-laki. Makanan cair 50 cc. Tambah albumin karena kondisi albumin tadi malam kurang. Kemudian stabil. GCS 123”
“Pasien keempat, komplikasi ginjal, usia 62 tahun, laki-laki. Makanan cair 50 cc. Stabil. GCS 123”
“Pasien kelima, trepanasi otak, usia 28 tahun, laki-laki. Baru masuk tadi malam setelah operasi. Masih puasa. Tunggu dokter datang pagi ini. GCS 123”
“Selanjutnya, paru-paru, usia 30 tahun, perempuan. Dari paviliun. Makanan tunda dulu, karena sesak tadi malam. Tunggu dokter. GCS 234.”
“Pasien keenam?” tanya Perawat Junior.
Aku sontak menolehkan kepalaku ke ranjang nomor 6. Aku mematung kaget. Tak menyangka bahwa kejadian ini menyambutku di hari pertama magang. Dadaku berdegup sangat kencang, aku sedikit limbung, semua orang disekitarku sepertinya sedang kebingunan. Tetapi aku hanya melihatnya tanpa suara. Sorot mataku terus tajam, menatap ranjang pasien keenam.



 --------to be continued---------

#30DWCDay3 #Cerpen

October 12, 2017

Pertanyaannya adalah Mengapa aku...

Air mata ini tak kunjung reda, dadaku sesak, kepalaku pening, hidungku kebas rasanya.
Aku masih sesenggukan di kamar kakakku kala itu.
Menceritakan semua kemarahanku padanya.
Bukan, bukan. Kamu salah jika ini soal laki-laki.
Aku punya kadar galau yang cukup elegan untuk dibandingkan perempuan-perempuan lain seusiaku kala itu.
Aku menceritakan soal pekerjaanku.

Bahwa aku merasa ditindas dengan atasanku. Bekerja tak pernah kenal waktu, dengan upah yang kurang sesuai kata kakakku. Aku mengerjakan dari mulai urusan A hingga Z. Urusan dapur, urusan bersih-bersih, urusan tamu, urusan melayani bosku. Semuanya. Mungkin bisa dikatakan aku pegawai serba bisa atau karyawan yang tidak mau bilang 'tidak' pada perminaat bos? Itu bedanya tipis kawan. Dan kamu sama-sama lelah dengan kedua hal itu.

Aku menceritakan bagaimana aku bekerja. Menjaga arsip penting kantor. Membawa uang kantor yang jumlahnya ratusan juta. Membawa kontrak kerja dengan klien, sementara atasan seringkali mengacaukannya. Lalu kemudian menyalahkan aku atas kekacauan ini. Aku bercerita semua rahasia kantorku. Padahal kakakku adalah pemilih perusahaan tandingan tempat aku bekerja. 

Iya, kakakku pemilikinya. Dan aku adik kandungnya. Bekerja di tempat orang lain. Kakakku hanya punya prinsip bahwa bekerja bukan dengan saudara kandung bisa memberikan nilai pelajaran lebih. Teruntuk aku yang baru anak ingusan lulusan S1 ini. 
"Kerjalah di luar, tak apa. Kamu akan melihat sisi lain dari dunia. Tapi jika kamu tetap juga mau belajar di kantor kakak, pintu kantor kakak akan selalu terbuka untukmu. Kamu tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan dengan keduanya." Itu pesan dia kala itu.
Dia ingin aku menjadi spons super besar yang super kering. Bahwa aku harus menyerap banyak info, banyak ilmu, banyak pengalaman, dari manapun.

Tetapi nyatanya, setelah 1.5 tahun aku bekerja di kantorku ini. Aku merasa saat ini aku kalah. Aku tak bisa menantang dunia luar. Aku lemah. Aku lelah. Sepertinya aku bekerja seolah tak menghargai diriku sendiri. Mau disuruh ini itu, dengan gaji sedikit, bahkan mungkin lebih banyak uang pribadiku habis untuk urusan kantor. Rasanya aku ingin pulang. Merasakan hangatnya pelukan kakakku. Dan merasakan amannya duniaku. Tapi aku tak pernah sanggup untuk mengatakan STOP pada atasanku. Ketika aku berniat saja, dengan tiba-tiba atasanku langsung berubah menjadi sangat baik. Memberikan semua pelajaran berharga tentang kantor. Menyediakan kenyamanan luar biasa untuk aku tetap tinggal. 

Kemudian nasehat ini seperti menamparku. Sedikit, tapi cukup membuat air mataku seketika langsung kering. Kakakku dengan lembut berkata, "Adik, aku percaya tidak ada yang keebtulan di dunia ini. Yang harus ditanyakan pada dirimu sendiri adalah Bukan tentang mengapa keadaan kantorku seperti ini, tetapi mengapa aku ditempatkan di keadaan seperti ini Tuhan?. Kamu paham maksudnya?"
Air mukaku terlihat kaget, dengan memandang mata kakakku tajam. Aku paham dengan maksudnya. Dan pertanyaan itu tak pernah terlintas sedikit pun dalam otakku. Walau akupun juga penganut paham tak ada yang kebetulan di dunia ini. 
Kakakku mengambil jeda, kemudian menarik nafas panjang, "Bahwa ada maksud Tuhan yang harus kamu cari mengapa kamu ditempatkan di lingkungan ini. Apakah untuk memberikan perubahan lebih baik, mengingatkan atasan untuk mengenal Tuhan, mewarnai kantor dengan warna-warna pelangi yang indah. Cari tahu tentang itu. Karena aku percaya, anak Ayah dan Bunda sudah diciptakan untuk menjadi orang hebat. Dan tidak akan kalah dengan keadaan."
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Sepakat bahwa anak Ayah Bunda memang akan jadi orang hebat. Lihat kakaku, seorang eksekutif muda dengan perusahaan yang luar biasa. Dan, dia juga melewati tantangan yang tak mudah. Aku melihatnya sendiri. 

Jadi Tuhan, bantu aku menemukan kenapa Kau memberiku kantor seperti ini? :)

 
maze at Botanic Garden University of Oxford


#30DWCDay2 #ceritacitacinta

October 11, 2017

Obsesi!

"Ternyata dia juga suka bangun subuh kesiangan"
"Ternyata dia juga lalai untuk baca Quran"
"Ternyata sholat malam juga suka kelewat"
"Ternyata makannya juga pemilih banget"
Ternyata..
Ternyata..
dan Ternyata..

Aku menyadari semuanya setelah hitungan ribu hari hidup bersama dia. Suamiku. Dia sosok yang sangat sabar, penyayang, baik, tidak pernah marah, pendiam, dan semua kategori level laki-laki baik secara sekilas pandang.

Tapi ternyata kacamataku kali ini agak keliru.
Bahwa sejatinya, manusia sempurna adalah mereka yang tidak sempurna.

Aku menyadari ada yang salah dengan segala ekspektasi ini. Ada yang salah dengan setiap anggapan yang telah dibangun dari seorang sosok suami idaman. Dan tahukah? Bahwa itu adalah salah kita sendiri.
Urusan cermin diri tak pernah meleset satu kali pun. Dan sejatinya, jodoh kita adalah cerminan kita. Tak lebih dan tak kurang. Mereka menjelma menjadi sosok yang lain, sosok laki-laki. Dengan segala ke-khas-an yang memang fitrahnya seperti itu. 

Lalu bagaimana dengan ekspektasiku selama ini?
Membangunkan aku di sepertiga malam, mengingatkanku untuk sholat tepat waktu, menjaga ngaji dan hafalanku, membantu urusan rumah, memujiku, menghabiskan semua masakanku, memberikan komentar tentang baju biruku lebih baik daripada baju merahku, tentang bedakku yang luntur, olahraga bersama, akhir pekan nonton film berdua, mendaki gunung, mendayung, bersepeda, dan semuanya!
Well, ekspektasi tetaplah ekspektasi. Dan pada kenyataannya dia seringkali terbentur dengan realita yang ada.

Lalu, aku harus apa?
Menyalahkan keberadaan dia?
Menyalahkan takdir Tuhan?
Come on!
Itu salah otak aku!!!

Dan beruntungnya bahwa aku masih bisa menyadari ini.
And from now....
I must to change my expectation become my obsession

Aku akan berobsesi besar bahwa rumah tanggaku akan bahagia,
proses menggali cinta dengan cara yang unik daripada yang lain...
Memasak bersama,
Belajar bahasa inggris bersama
Menonton serial kartun bersama
Mandi bersama
Jalan-jalan sambil bergandengan tangan
Mengaji bersama
Sholat berjama'ah bersama
Hingga aku percaya bahwa hidupku dengan dia,
akan bersama #sehidupsesurga

Dan tak pernah ada kebahagiaan yang instan bukan?
Mie instan saja tetap butuh proses untuk bisa di nikmati
Dan cepat atau prosesnya membuat mie instan sebanding dengan kenikmatan yang akan didapat.
Coba kalau di dalam mie instan kita tambah dengan ayam, udang, telur, wortel, sawi, dan kerupuk. Kita harus belanja dulu ke toko ayam, ke toko ikan untuk beli udang, ke toko sayur, bahkan butuh goreng kerupuk sendiri kalau tidak ada yang jual kerupuk. Harus dicuci dulu dimasak dulu semuanya, baru dicampur dengan mie. Dan kita bisa tahu akan butuh porsi seberapa banyak untuk sesuai dengan standar kenikmatan kita.
Bedakan jika hanya ke toko beli mie instan yang dimasak hanya mie. Selesai!

Dan semua begitu juga dengan rumah tangga ini. Well, apapun itu dalam hidupmu. Butuh sebuah proses yang harus dilalui.
Dan proses yang paling mungkin untuk kita lakukan terlebih dahulu adalah :
1. Berikan contoh. Jadi Lakukan pada diri sendiri terlebih dahulu. Dengar kalimat-kalimat baik, ceramah, cerita tentang menjadi Istri yang Baik. Menjadi pendamping yang selalu dicintai. 
2. Ungkapkan keinginan kita
3. Berdoa kepada Sang Pemilik Hati

Aku belum bilang bahwa ini berhasil padaku. Tapi aku percaya bahwa cara ini ampuh. Setidaknya aku berharap bahwa Allah pun aku membantu aku dengan aku mencoba membagi cerita ini. 

Well, setiap rumah tanga punya cara dan aturan main sendiri. Jangan baper dan tetap fokus pada obsesi kita.

"Adek percaya bahwa laki-laki yang baik memang untuk perempuan yang baik, dan sebaliknya?". Aku mengangguk.
Ini adalah pembicaraan dengan suamiku di malam setelah sholat isya pada hari pertama kami resmi menjadi sepasang suami istri.
"Tapi tidak serta merta akan seperti itu kan? Allah menjanjikan itu. Tapi Allah juga meminta proses. Bisa jadi pelacur dan laki-laki tukang mabuk dimata Allah menjadi laki-laki baik dan perempuan baik karena dalam proses rumah tangganya ada berbenah diri. Dan bisa jadi ikhwan dan akhwat menikah dianggap baik tetapi dalam prosesnya menjadi laki-laki tidak baik dan akan bertemu dengan perempuan yang tidak baik. Dan itu tidak berlaku di mata manusia. Jadi semoga proses pertemuan kita ini mengantarkan kita berdua menjadi golongan laki-laki yang baik bertemu dengan perempuan yang baik" 
Dan aku mengaminkan dengan segenap jiwa raga serta hatiku

Wallahualam'.


Depan bangunan Christ Church, Oxford

#30DWCDay1 #refleksi

September 21, 2017

i'm fallin' in love with this eyes, when see me with abundance of love
every single day
thank you my dear 💗

September 13, 2017

Jika kita -aku- memilih "jalur cepat"...


Yap, ta'aruf, dikenalkan, dijodohkan -atau apapun yang memang berlabel ketemu, kenalan, dan langsung nikah dalam waktu yang kurang dari 3 bulan- aku menyebutnya sebagai jalur cepat.
Setidaknya itu terjadi karena prosesnya cepat, baru saja kenal, tanpa tahu siapa dia dengan latar belakang bagaimana sebelumnya, tidak pernah ketemu. Akan lain ceritanya jika memang kamu nikah cepat, tapi dia teman yang sudah dikenal bertahun-tahun lalu, tidak pernah ketemu atau berhubungan, kemudian datang tiba-tiba menikah jadinya #temantapimenikah. Tapi sayang sekali aku tidak berada di posisi itu jadi aku akan cerita tentang #nikahjalurcepat saja.

Well, kalau mau dihitung total dari aku tahu siapa si doi sampai ijab sah dilakukan hanya berkisar 88 hari. Dan dengan waktu cukup singkat itu, menurutku cukup gila untuk menentukan jawaban bahwa yes, i will marry with you. Tapi disini aku tidak akan membahas soal itu, tapi aku ingin menceritakan bagaimana jika kamu 'ditakdirkan' untuk berada di "jalur cepat" seperti yang aku alami 😆

Pertama, ketika dapat 'tawaran' entah dalam bentuk apapun untuk menikah dengan seseorang yang belum kita kenal, tanpa harus memberikan jawaban apapun adalah, hal yang otomatis kita (perlu) lakukan adalah kepo 😂
Karena zaman sekarang semua selalu tanya ke google, jadi ketik saja nama lengkap si doi di google, and foilaaaaa... Semuanya pasti akan muncul. Mulai dari laman facebook, instagram, laman tempat dia bekerja, blog, atau apapun itulah. Eits, tapi ini akan bekerja jika si doi tidak menggunakan nama alay yah. If you can't find him/her, you've one point about. (if you know what i mean 😜). Cari sebanyak-banyaknya informasi tentang si doi lah. Baca semuanya, lihat semua fotonya, amati laman facebooknya dari mulai yang paling baru sampai ke event dimana si doi membuat facebook pertama kalinya. 
Berlebihan kah? i think is normal!
Karena kita -aku- tidak tahu sama sekali, sama sekali siapa si doi. Boro-boro tahu, nama saja baru denger sekarang ini kok. Jadilah wajar jika kita -aku- mencari tahu siapa sosok yang berani mengajak hidup kita di sisa umur kita ini.

Kedua!
Setelah membaca, pasti dong sudah ada feeling. Even only 0,01% (karena hanya berlaku 2 angka di belakang koma), but your heart will make a decision. So, i need to talk to my parents. Karena orang tua kita tidak memiliki kecanggihan seperti kita manusia abad milenial, tentulah kita akan bercerita berdasarkan info si pemberi tawaran dan juga hasil analisis poin pertama. Thats why ilmu kepo sungguh berguna disini. Tapi hanya bersifat sangat subjektif saja, tetapi bisa memberikan gambaran kok. Dan, orang tua selalu punya insting yang mengalahkan segalanya. Itu sudah kodrat. Tidak ada teorinya. Jadi sembari menguatkan instingnya, orang tua pasti juga punya cara untuk kepo yang lebih wise. Biasanya yang dilakukan adalah :
1. Tanya asal si doi dari mana, kemudian cari sodara/teman/kerabat atau siapapun yang bisa ditanya tentang si doi, dan terutama siapa keluarga si doi
2. Menanyakan agama dan perihal pekerjaan, karena menurut para orang tua, bukan soal gaji atau duitnya, tapi lingkungan pekerjaan menentukan bagaimana seseorang itu memiliki sikap dan kepribadian
3. Ini cara terampuh yang paling mujarab, adalah kepo ke Allah, dengan berdoa, istikharah, dan meminta petunjuk

Semua poin kedua juga akan berlaku jika ada kita punya saudara  kandung. Dan karena saya anak terakhir, dengan 3 saudara kandung, dimana 2 diantaranya adalah laki-laki, mungkin ada sesi yang lebih ekstrim, dimana si doi, akan dihubungin sama kakak kita -aku- untuk disuruh main ke rumahnya, dan dikorek secara habis dan tuntas. Thanks God, because i've lovely brothers in the worlds 💖.

Ketiga, setelah semua proses kepo tuntas. Barulah saat ini aku kemudian mengistikharahkan jawabannya. Menurut teori dari saudara, teman, dan sabahat tentang istikharah, bahwa sebenarnya istikharah itu tentang kemantapan hati. Bahwa sejatinya, secara akal manusia sudah diberikan kemampuan untuk memilih, tinggal kita yang memantapkan hati apakah berkenan dengan pilihan itu atau tidak. Dan bukan berarti mantap itu muncul dengan mimpi atau tanda-tanda absurd lainnya. Jadi mantap itu tempatnya di hati, dan hanya kita yang merasakan itu. Kalau ada yang bilang di kata mutiara "kata hati adalah bahasa Tuhan". Yah kurang lebihnya begitu.

Kemudian, taraaa.. Kita -aku- memlih jalur cepat ini.
Yang artinya, kita -aku- siap dengan segala resiko yang akan terjadi di depan jalan sana.
Bukankan semua keputusan selalu ada resikonya?

Sampai pada proses ini, yang berarti naik tingkat ke melaksanakan tradisi budaya dan adat istiadat keluarga, mulai dari tunangan, lamaran, siraman, pengajian, yang rentetannya bisa berhari-hari, jika kita -aku- masih belum ada rasa cinta kepada si doi, entahlah ini wajar atau tidak, but i felt like that. Belum ada perasaan apapun yang aku rasakan ke doi. Meskipun sudah bertemu beberapa kali untuk persiapan jelang pernikahan.
Kita -aku- masih tidak peduli dengan sikap doi yang bagaimana, penampilan doi, cara bicara si doi, and everything about him. Yang ada di kepala ketika itu hanyalah, oke he will be my husband. titik. Hanya itu saja.
Is that normal? HAHAHA

Sampai pada momen M E N I K A H.
hmm, haru sedikit. Mendengar si doi mengikrarkan janji sucinya. Tapi tetap saja masih belum cinta.
Sampai pada prosesi pasang cincin, cium tangan, gandeng tangan ke pelaminan, well, i'm just sooo happyyyy. Truly very happy. Happiest moment in my life. 
Dan, aku baru merasakan cinta itu ketika si doi masuk ke kamarku. Untuk pertama kalinya, ada orang asing, LAKI-LAKI masuk ke ruang hibernasiku. Dan ketika itu yes, i love him. 
I started to love him.

Dan sangat wajar, jika aku menggunakan kata started. Karena cinta adalah sebuah kata kerja, yang tentu membutuhkan usaha untuk naik level ke tingkat berikutnya.
Kita -aku- akan sangat berbahagia jika aku menyadari bahwa proses peningkatan level cinta ini berlangsung di dalam sebuah ikatan rumah tangga
Di momen ini,
Aku belajar tentang cara doi duduk, berbicara, berdiri, tidur, mandi, makan, belajar, bekerja, mengendarai kendaraan, mengangkat telepon, bersendawa, tertawa dan semuanya membuat aku semakin jatuh cinta.
its new thing! Dan semua orang sungguh senang dengan hal baru bukan? Sesuatu yang membuat kita penasaran sebelumnya. 
Aku menjadi lebih menghargai semua proses itu, dan bersyukur dengan setiap momen itu.
Aku bisa menjadi diriku sendiri, dengan tanpa berpikir jaim karena akupun tidak tahu, jika aku melakukan A bagaimana respon si doi dan jika aku melakukan B bagaimana pula reaksinya. So, i can do anything, dan dengan begitu aku juga akan tahu bagaimana respon si doi. Tanpa pernah ada contoh atau kenangan di masa lalu, bahwa kalau aku A nanti dia begini dan sebagainya.
You've be more responsible. Dan sepertinya sikap ini menjadi otomatis ada setelah ikatan yang bernama rumah tangga ini terjalin.
Secuek apapun, semanja apapun, secengeng apapun ketika masih masa sendiri, ataupun punya pacar, akan sangat berbeda ketika kita -aku- berumah tangga. 
Aku rasa, Tuhan memang membuat ini menjadi sistem otomatis juga deh! Karena itu, rumah tangga menjadi poin ibadah yang bahkan melengkapi separuh agama kita.
Dan dengan segala kekagetan dan surprise yang akan kita -aku- dapat tentang si doi, akan membuat rasa cinta ini bekerja menjadi penjumlahan yang tidak akan pernah berakhir. Walaupun hanya menambahkan 0,5 bahkan 0,005 level cinta kita -aku-, tapi sejatinya penjumlahan ini yang menjadi berkah dan sungguh dikenang dalam setiap inci nafas kita.

Jadi,
Selamat kepada kita (kamu semua) yang ternyata mendapat bonus jalur cepat dari Allah. Setiap momennya akan menjadi cerita menarik yang syarat makna dan perasaan. Ada emosi di dalamnya yang membuatnya sungguh indah dan cantik.

Good luck! 😍

August 31, 2017

Wonderful 2017!

2017
Amazing
Awesome
Fabulous
Happy
Super
Nice
Beauty 
Fantastic
Love, Love, and Love!

Setidaknya itu kesimpulan dari 8 bulan di kalender 2017 milikku. Meskipun masih tersisa 4 bulan lagi, setidaknya 8 sudah cukup mewakili karena nilainya lebih besar daripada 4.


"Suatu ketika seorang Profesor masuk ke kelas dan memberikan ujian secara mendadak kepada muridnya. Beliau membagikan kertas satu lembar kosong dengan satu titik bulat warna hitam di tengah. Tak ada arahan, tak ada penjelasan, tak ada instruksi. Lalu dengan bingung semua mahasiswa berusaha memberikan jawaban terbaiknya di kertas baliknya. Dan ketika sudah di periksa oleh sang professor satu persatu, semua orang membicarakan tentang titik hitam tersebut. Dengan deskripsi sangat detail. Kemudian professor mengakhiri kelas tersebut dengan memberikan sebuah nasehat, "Mengapa hanya fokus pada satu titik hitam, sementara kau punya begitu luas warna putih yang seharusnya bisa kau syukuri? Lihatlah kacamata hidupmu seperti itu.""
Aku memulai awal tahun 2017 dengan sebuah keputusan terbesar dalam hidupku.
Keputusan yang menjadi titik awal hidupku dimulai, tidak hanya hidupku, tetapi aku yakin juga tentang akhiratku.

2017 SAYA
M E N I K A H 

Saya percaya, bahwa menikah adalah proses yang membutuhkan persiapan matang jauh hari sebelumnya. Sangat jauh. Entah kita sudah punya pasangan ataupun belum. Karena sejatinya Menikah adalah persiapan diri sendiri.  Tak melibatkan siapapun di dalamnya. Semuanya dari diri sendiri.
Tentangmu yang akan tidur dengan si doi.
Tentangmu yang akan menyiapkan kebutuhan si doi.
Tentangmu yang akan menemani setiap langkah doi.
Tentangmu yang akan menjadi makmum setianya.
Tentangmu yang akan menerima segala baik dan buruknya, sehat dan sakitnya, bahagia dan sedihnya.
Jadi tak perlu menunggu ada calon bukan untuk menyiapkannya?

Dengan teori itulah akhirnya aku menjawab iya untuk sebuah pinangan pada awal bulan Januari 2017. Berbekal pertemuan hanya sekali dengan si doi ternyata berhasil memantapkan hatiku dengan menganggukkan kepala.
Bukan lagi soal tampang, tahta, jabatan, harta, silsilah keluarga, atau apapun itu. Tapi anggukan ini berarti bahwa "Yes, I'm ready! Saya siap menikah ya Allah"

"Menikah adalah ibadah seumur hidup. Maka persiapkanlah dengan ilmu dan iman."
Aku tak membersamai persiapan ini. Beruntungnya tangan-tangan Allah mengelilingi persiapan ini lewat mbak dan masku.
Setelah 6 Januari 2017 aku bertemu untuk pertama kalinya dengan si doi, tgl 9 Januari jadwalku sudah tidak bisa di ubah untuk pergi ke Jakarta karena urusan pekerjaan. Allah menjanjikan berkah dengan persiapan cepat tanpa ribet jika memang Jodoh sudah di taken! Si doi me"marketing"kan diri sendiri ke masku tentang visi misi ke depannya, tentang "rahasia perusahannya", ya namanya juga jualan. Pasti meyakinkan dan yang baik-baik saja dikeluarkan. hehhehe~ Setidaknya pesona doi berhasil membuat mas-masku pun berkata "lanjutkan anak muda!" hanya dalam rentang waktu tepat 2 minggu.
29 Januari, kali kedua aku bertemu dengan si doi. Tepat di mana hari itu, doi membawa serta seluruh pasukan untuk meminta serta melamar diriku di depan orang tua dan juga keluargaku. Di hari ini pula, tanggal pernikahan di tetapkan, tanpa ada hitung-hitungan, tanpa ada rebutan tanggal. yang penting kalau tidak sabtu ya minggu. hehehhe.
Jadi tanggal ini ditetapkan berdasarkan "kapan adiba selesai kerja di luar kota dan pulang". Aku tak memakai kata seandainya dan lain sebagainya. Setidaknya, aku pakai ilmu timeline, deadline, dan ilmu lapangan yang kumiliki untuk behadapan dengan calon profesor yang akan jadi teman tidurku ini.


"Aqidah yang bersih. Syarat pertama Allah menjanjikan wanita di bumi lebih mulia berkali-kali lipat dibandingkan bidadari surga. Bahwa aqidah inilah menjadi dasar tentang iman dan keyakinan. Semua yang terjadi dalam hidupku, bahkan ketika aku tidur dan menendang laptop-pun semua sudah diatur oleh Allah. Daun jatuh di depan rumahku, ada angina yang masuk kamarku, semuanya adalah ketentuan Allah. Maka aqidah inilah yang menguatkan langkah-langkah menyempurnakan separuh agamaku."
26 Maret 2017 tepat hari ini, seorang laki-laki yang telah ditakdirkan Allah bertriliyun tahun yang lalu mengetuk pintu-pintu Arsy Allah. Melafalkan sebuah janji yang langsung melibatkan Allah di dalamnya. Suamiku menyebut ijab qobul dengan sekali tarikan nafas dengan lancar di depan bapakku, dengan Allah sebagai saksi segalanya. Kau tahu kawan, bahwa menikah itu indah. Dilihat dari sisi manapun! Bahkan jika didalamnya berbuah sedikit air mata, setidaknya kau tak menangis sendirian lhoo.. 

Bahwa pernikahan adalah salah satu dari 3 janji besar yang Allah sendiri langsung turun tangan. Bahwa pernikahan adalah gerbang dimana semua tingkah berlipat ganda dan menjadi utuh dengan nilai 1. 

Selamat datang abad baru! 😄