Titititititititititititititititiitititititititititi
Aku
terbangun dan langsung mematikan alarmku. Kali ini rasanya aku tak perlu
menggunakan mode snooze lagi karena
aku cukup bahagia untuk memulai hari ini, dan penasaran tentunya. Karena hari
ini adalah hari dimana aku akan memulai pengalaman pertamaku. Bekerja! Sejak
pertama kali kepindahanku ke kota ini bersama suami lagaknya cukup menyita
banyak waktu untuk beradaptasi. Aku tak menyangka bahwa aku yang terbiasa
dengan hidup bersosialisasi dan senang bertemu orang baru, tempat baru, dan
rutinitas baru cukup kesulitan untuk melakukan hal itu di kota ini.
Pagi
ini aku memasak makanan kesukaan suamiku. Bakmi jawa khas kota Yogyakarta,
tempat kelahiranku. Kemudian aku melakukan rutinitas ibu rumah tangga pada
umumnya, mencuci piring, menyapu lantai, mengepel, memasukkan pakaian kotor ke
mesin cuci, kemudian menjemurnya di bawah langit yang sedikit mendung. Mendung?
Tak apalah, setidaknya ini tidak mempengaruhi perasaanku yang cukup
bersemangat.
Kadang
ketika cukup bersemangat dan antusias, perutku seringkali seperti berputar, tak
sakit, hanya sensasinya seperti saat naik roller coaster. Dadaku berdegup
kencang tetapi cukup halus untuk dan tenang. Well, rasanya bahagia, campur
penasaran, campur senang, dan campur semuanya. Susah nian aku
mendeskripsikannya.
Pukul
08.45 pagi. Aku siap dengan seragamku. Rapi, bersih, wangi. Dan wangi ini
bertambah semerbak karena hatiku yang turut berbunga-bunga dengan berbaik
hatinya suamiku mengatarkanku ke stasiun bus.
“Ini
hari pertamamu Dinda, aku sudah izin dengan bosku untuk datang terlambat. Aku
ingin mengatarmu”.
Itulah
kejutan lain yang diberikan suamiku di pagi ini.
Aku
tinggal di kota kecil sebuah wilayah Provinsi. Aku harus menempuh perjalanan
kurang lebih 45 menit naik bus untuk sampai di tempat kerjaku. Di wilayah
ibukota provinsi. Bersyukur kota kecil seperti tempatku nyatanya tak menuntun
nominal besar untuk bisa menikmati fasilitas umum. Jadi aku hanya cukup merogoh
koin-koin kecilku saja untuk bisa menuju ke tempat kerjaku. Setidaknya ini
tetap masih sepadan dengan gaji yang akan aku terima nantinya.
“Hari
ini bersemangat sekali nona. Hendak kemana?” Seorang ibu paruh baya menyapaku
dengan sangat lembut.
“Hari
ini adalah hari pertama saya bekerja Ibu. Saya senang sekali”.
“Wah,
selamat. Pasti akan sangat seru. Sudah menikah yah? Saya sempat melihat nona
diantar oleh seorang laki-laki.”
“Iya
suami saya.” Jawabku dengan nada tetap bahagia, dan bersemangat. Kami saling
bertatapan dan melempar senyum.
Kemudian
kita berdua saling diam. Aku sangat antusias dengan perjalanan ini. Karena
perjalanan ini benar-benar kali pertama aku pergi jauh tanpa suami yang
menemani.
“Saya
senang dengan wajah ceriamu nona.” Sambung Ibu paruh baya mencoba mengajakku
kembali berbicara.
“Terima
kasih Ibu. Ibu hendak pergi kemana?”
“Saya
menjemput anak saya nona. Dia sedang ada jadwal sekolah rehabilitasi di
ibukota. Kota kita tinggal cukup kecil untuk menyedian sekolah rehabilitasi
bukan? Jadi saya harus mengantar dan menjemput anak saya setiap 2 kali dalam
sepekan.” Jelas Ibu paruh baya dengan sangat tenang.
Aku
hanya bisa mengangguk-anggukkan saja kepalaku. Dan memberikan sedikit senyuman.
Meskipun mungkin aku sedikit penasaran dengan istilah itu. Sekolah
Rehabilitasi. Entahlah apapun di dalamnya. Tapi aku rasa sekolah itu berbeda.
Dan seharusnya dengan kondisi murid yang berbeda pula. Tapi dengan alibi
menjaga sopan santun karena baru kenal saya pun mengurungkan niat untuk
bertanya lebih lanjut.
“Saya
punya anak 4 nona. 2 perempuan dan 2 laki-laki.” Ibu paruh baya menyambung
pembicaraanya dengan senyum dan tetap tenang. Entah apa naluri seorang ibu yang
memang bisa membaca pikiranku atau memang tampang mukaku yang cukup ekspresif
untuk bilang bahwa aku penasaran dan ingin tanya.
“Yang
pertama perempuan umur 17 tahun, yang kedua perempuan juga umur 14 tahun, lalu
yang ketiga dan keempat umur 10 tahun dan 7 tahun. Dan anak saya yang pertama,
dia spesial. Nina. Dia punya kebutuhan khusus. Dan Nina yang akan saya jemput
hari ini.” Terang Ibu paruh baya dengan senyum yang sangat indah. Kemudian Ibu
baruh baya melanjutkan dengan sangat tenang “Saya terserang virus saat hamil 5
minggu. Saya belum menetap di kota ini. Masih di tempat asal saya. Saat itu
saya harus istirahat total. Dokter sudah menjelaskan dengan sangat detail
tentang resiko semuanya. Bahwa virus ini bisa menyebabkan kelaianan pada calon
anak saya. Meskipun virusnya akan sembuh dengan sendirinya tanpa harus diobati.
Syukur virus ini hanya menyerang saya dengan demam tinggi dan pusing dalam 8
hari saja. Tetapi tetap 8 hari itu cukup berpengaruh dengan perkembangan dan
kelanjutan dari calon buah hati saya. Saat itu dengan segala penjelasan dokter,
tentulah saya kaget dan cukup galau. Baru pertama menikah, dengan usia cukup
muda, dan harus menyadari bahwa kelak anak saya terlahir dengan kondisi tidak
normal. Dokter saat itu memberikan opsi untuk digugurkan karena usia kandungan
saya saat itu masih sangat kecil 7 minggu. Aman jika memang harus digugurkan.
Tapi entah dari mana kekuatan itu ada, saya dan suami saya memutuskan untuk bertahan.
Setidaknya, kita hanya yakin bahwa biarlah calon buah hati kita juga berjuang
dengan caranya sendiri. Kami berpikir biarlah Tuhan yang menentukan. Bukan
karena kita yang memaksa keadaan. Dan ternyata Tuhan berkata lain, 9 bulan saya
jalani kehamilan ini dengan tanpa masalah berat apapun. Si jabang bayi bertahan
nona. 39 minggu dia tetap bertahan. Akhirnya saya melahirkan dengan normal, dan
syukurlah setidaknya karena saya tahu dia terlahir tidak normal maka
penanganannya pun juga berjalan cukup baik.”
Saya
mendengarkan dengan antusias. Dan cukup iba. Tanpa bisa memberikan komentar
apapun. Hanya sebuah tatapan mata tulus saya kepada Ibu paruh baya luar biasa
yang duduk di samping saya ini.
“Saya
dan suami saya menjadi manusia yang lebih bersyukur saja. Ketiga anak saya yang
lain normal. Hanya saya diberikan kesempatan untuk melihat perkembangan manusia
yang cukup lambat. Dia berkembang. Jauh lebih baik dari saat pertama sebelum
dia masuk di Sekolah Rehabilitasi ini. Tapi saya tak pernah dan tidak akan mau
membandingkan perkembangan dia dengan ketiga anak saya yang lain. Dia
berkembang dengan caranya. And I’ve blessing. My family especially. Karena kami
melihat ciptaan lain dari Tuhan yang luar biasa berkembang dengan cukup lambat
tetapi masih punya masa depan yang bisa diperjuangkan. Baiklah, terima kasih
sudah menemani ibu ini bercerita nona. Setidaknya perjalanan saya kali ini
tidak saya habiskan dengan tidur saja. Saya akan turun di pemberhentian
selanjutnya. Semoga sukses nona untuk kerjanya.” Ibu itu memberiku pelukan
hangat dan melambaikan tangannya.
Setelah
semua kebahagiaan, antusias, penasaran dan apapun yang aku rasakan sedari pagi
hingga saat ini, rasanya menjadi sempurna dengan sebuah pelukan ini. Pelukan
ikhlas, pelukan lepas, pelukan penerimaan, pelukan rasa syukur dan sebuah pelukan
kekuatan. Kau tahu, mungkin selama ini aku masih sering mendengar keluh kesah
kerabat yang merasa kesepian ingin punya pasangan, keluhan diri sendiri yang
rindu tangis dan tawa anak-anak, serta keluhan remah-remah lainnya. Ibu paruh
baya ini memberiku pelajaran tentang sebuah penerimaan. Dengan segala tantangan
yang dihadapi, dengan segala keadaan yang terjadi, kadang kita pun, bahkan AKU,
seharusnya bertanya, jika segala yang kita ingin, entah pasangan, jabatan,
uang, anak, dan apapun yang kita ingin, belum terjadi pada kita, bisa jadi karena kita tidak punya atau
belum cukup kekuatan untuk menerima itu nantinya. Dengan segala keadaan
yang kita pinta, apakah kita sudah siap menerima segala kemungkinan yang ada?
Daripada Lelah memikirkan kemungkinan itu setidaknya, aku belajar untuk menerima keadaan yang ada di depan mataku saat ini.
Bersyukurlah dan terima saja..
#30DWCDay5 #ceritacitacinta



