September 21, 2017

i'm fallin' in love with this eyes, when see me with abundance of love
every single day
thank you my dear 💗

September 13, 2017

Jika kita -aku- memilih "jalur cepat"...


Yap, ta'aruf, dikenalkan, dijodohkan -atau apapun yang memang berlabel ketemu, kenalan, dan langsung nikah dalam waktu yang kurang dari 3 bulan- aku menyebutnya sebagai jalur cepat.
Setidaknya itu terjadi karena prosesnya cepat, baru saja kenal, tanpa tahu siapa dia dengan latar belakang bagaimana sebelumnya, tidak pernah ketemu. Akan lain ceritanya jika memang kamu nikah cepat, tapi dia teman yang sudah dikenal bertahun-tahun lalu, tidak pernah ketemu atau berhubungan, kemudian datang tiba-tiba menikah jadinya #temantapimenikah. Tapi sayang sekali aku tidak berada di posisi itu jadi aku akan cerita tentang #nikahjalurcepat saja.

Well, kalau mau dihitung total dari aku tahu siapa si doi sampai ijab sah dilakukan hanya berkisar 88 hari. Dan dengan waktu cukup singkat itu, menurutku cukup gila untuk menentukan jawaban bahwa yes, i will marry with you. Tapi disini aku tidak akan membahas soal itu, tapi aku ingin menceritakan bagaimana jika kamu 'ditakdirkan' untuk berada di "jalur cepat" seperti yang aku alami 😆

Pertama, ketika dapat 'tawaran' entah dalam bentuk apapun untuk menikah dengan seseorang yang belum kita kenal, tanpa harus memberikan jawaban apapun adalah, hal yang otomatis kita (perlu) lakukan adalah kepo 😂
Karena zaman sekarang semua selalu tanya ke google, jadi ketik saja nama lengkap si doi di google, and foilaaaaa... Semuanya pasti akan muncul. Mulai dari laman facebook, instagram, laman tempat dia bekerja, blog, atau apapun itulah. Eits, tapi ini akan bekerja jika si doi tidak menggunakan nama alay yah. If you can't find him/her, you've one point about. (if you know what i mean 😜). Cari sebanyak-banyaknya informasi tentang si doi lah. Baca semuanya, lihat semua fotonya, amati laman facebooknya dari mulai yang paling baru sampai ke event dimana si doi membuat facebook pertama kalinya. 
Berlebihan kah? i think is normal!
Karena kita -aku- tidak tahu sama sekali, sama sekali siapa si doi. Boro-boro tahu, nama saja baru denger sekarang ini kok. Jadilah wajar jika kita -aku- mencari tahu siapa sosok yang berani mengajak hidup kita di sisa umur kita ini.

Kedua!
Setelah membaca, pasti dong sudah ada feeling. Even only 0,01% (karena hanya berlaku 2 angka di belakang koma), but your heart will make a decision. So, i need to talk to my parents. Karena orang tua kita tidak memiliki kecanggihan seperti kita manusia abad milenial, tentulah kita akan bercerita berdasarkan info si pemberi tawaran dan juga hasil analisis poin pertama. Thats why ilmu kepo sungguh berguna disini. Tapi hanya bersifat sangat subjektif saja, tetapi bisa memberikan gambaran kok. Dan, orang tua selalu punya insting yang mengalahkan segalanya. Itu sudah kodrat. Tidak ada teorinya. Jadi sembari menguatkan instingnya, orang tua pasti juga punya cara untuk kepo yang lebih wise. Biasanya yang dilakukan adalah :
1. Tanya asal si doi dari mana, kemudian cari sodara/teman/kerabat atau siapapun yang bisa ditanya tentang si doi, dan terutama siapa keluarga si doi
2. Menanyakan agama dan perihal pekerjaan, karena menurut para orang tua, bukan soal gaji atau duitnya, tapi lingkungan pekerjaan menentukan bagaimana seseorang itu memiliki sikap dan kepribadian
3. Ini cara terampuh yang paling mujarab, adalah kepo ke Allah, dengan berdoa, istikharah, dan meminta petunjuk

Semua poin kedua juga akan berlaku jika ada kita punya saudara  kandung. Dan karena saya anak terakhir, dengan 3 saudara kandung, dimana 2 diantaranya adalah laki-laki, mungkin ada sesi yang lebih ekstrim, dimana si doi, akan dihubungin sama kakak kita -aku- untuk disuruh main ke rumahnya, dan dikorek secara habis dan tuntas. Thanks God, because i've lovely brothers in the worlds 💖.

Ketiga, setelah semua proses kepo tuntas. Barulah saat ini aku kemudian mengistikharahkan jawabannya. Menurut teori dari saudara, teman, dan sabahat tentang istikharah, bahwa sebenarnya istikharah itu tentang kemantapan hati. Bahwa sejatinya, secara akal manusia sudah diberikan kemampuan untuk memilih, tinggal kita yang memantapkan hati apakah berkenan dengan pilihan itu atau tidak. Dan bukan berarti mantap itu muncul dengan mimpi atau tanda-tanda absurd lainnya. Jadi mantap itu tempatnya di hati, dan hanya kita yang merasakan itu. Kalau ada yang bilang di kata mutiara "kata hati adalah bahasa Tuhan". Yah kurang lebihnya begitu.

Kemudian, taraaa.. Kita -aku- memlih jalur cepat ini.
Yang artinya, kita -aku- siap dengan segala resiko yang akan terjadi di depan jalan sana.
Bukankan semua keputusan selalu ada resikonya?

Sampai pada proses ini, yang berarti naik tingkat ke melaksanakan tradisi budaya dan adat istiadat keluarga, mulai dari tunangan, lamaran, siraman, pengajian, yang rentetannya bisa berhari-hari, jika kita -aku- masih belum ada rasa cinta kepada si doi, entahlah ini wajar atau tidak, but i felt like that. Belum ada perasaan apapun yang aku rasakan ke doi. Meskipun sudah bertemu beberapa kali untuk persiapan jelang pernikahan.
Kita -aku- masih tidak peduli dengan sikap doi yang bagaimana, penampilan doi, cara bicara si doi, and everything about him. Yang ada di kepala ketika itu hanyalah, oke he will be my husband. titik. Hanya itu saja.
Is that normal? HAHAHA

Sampai pada momen M E N I K A H.
hmm, haru sedikit. Mendengar si doi mengikrarkan janji sucinya. Tapi tetap saja masih belum cinta.
Sampai pada prosesi pasang cincin, cium tangan, gandeng tangan ke pelaminan, well, i'm just sooo happyyyy. Truly very happy. Happiest moment in my life. 
Dan, aku baru merasakan cinta itu ketika si doi masuk ke kamarku. Untuk pertama kalinya, ada orang asing, LAKI-LAKI masuk ke ruang hibernasiku. Dan ketika itu yes, i love him. 
I started to love him.

Dan sangat wajar, jika aku menggunakan kata started. Karena cinta adalah sebuah kata kerja, yang tentu membutuhkan usaha untuk naik level ke tingkat berikutnya.
Kita -aku- akan sangat berbahagia jika aku menyadari bahwa proses peningkatan level cinta ini berlangsung di dalam sebuah ikatan rumah tangga
Di momen ini,
Aku belajar tentang cara doi duduk, berbicara, berdiri, tidur, mandi, makan, belajar, bekerja, mengendarai kendaraan, mengangkat telepon, bersendawa, tertawa dan semuanya membuat aku semakin jatuh cinta.
its new thing! Dan semua orang sungguh senang dengan hal baru bukan? Sesuatu yang membuat kita penasaran sebelumnya. 
Aku menjadi lebih menghargai semua proses itu, dan bersyukur dengan setiap momen itu.
Aku bisa menjadi diriku sendiri, dengan tanpa berpikir jaim karena akupun tidak tahu, jika aku melakukan A bagaimana respon si doi dan jika aku melakukan B bagaimana pula reaksinya. So, i can do anything, dan dengan begitu aku juga akan tahu bagaimana respon si doi. Tanpa pernah ada contoh atau kenangan di masa lalu, bahwa kalau aku A nanti dia begini dan sebagainya.
You've be more responsible. Dan sepertinya sikap ini menjadi otomatis ada setelah ikatan yang bernama rumah tangga ini terjalin.
Secuek apapun, semanja apapun, secengeng apapun ketika masih masa sendiri, ataupun punya pacar, akan sangat berbeda ketika kita -aku- berumah tangga. 
Aku rasa, Tuhan memang membuat ini menjadi sistem otomatis juga deh! Karena itu, rumah tangga menjadi poin ibadah yang bahkan melengkapi separuh agama kita.
Dan dengan segala kekagetan dan surprise yang akan kita -aku- dapat tentang si doi, akan membuat rasa cinta ini bekerja menjadi penjumlahan yang tidak akan pernah berakhir. Walaupun hanya menambahkan 0,5 bahkan 0,005 level cinta kita -aku-, tapi sejatinya penjumlahan ini yang menjadi berkah dan sungguh dikenang dalam setiap inci nafas kita.

Jadi,
Selamat kepada kita (kamu semua) yang ternyata mendapat bonus jalur cepat dari Allah. Setiap momennya akan menjadi cerita menarik yang syarat makna dan perasaan. Ada emosi di dalamnya yang membuatnya sungguh indah dan cantik.

Good luck! 😍

August 31, 2017

Wonderful 2017!

2017
Amazing
Awesome
Fabulous
Happy
Super
Nice
Beauty 
Fantastic
Love, Love, and Love!

Setidaknya itu kesimpulan dari 8 bulan di kalender 2017 milikku. Meskipun masih tersisa 4 bulan lagi, setidaknya 8 sudah cukup mewakili karena nilainya lebih besar daripada 4.


"Suatu ketika seorang Profesor masuk ke kelas dan memberikan ujian secara mendadak kepada muridnya. Beliau membagikan kertas satu lembar kosong dengan satu titik bulat warna hitam di tengah. Tak ada arahan, tak ada penjelasan, tak ada instruksi. Lalu dengan bingung semua mahasiswa berusaha memberikan jawaban terbaiknya di kertas baliknya. Dan ketika sudah di periksa oleh sang professor satu persatu, semua orang membicarakan tentang titik hitam tersebut. Dengan deskripsi sangat detail. Kemudian professor mengakhiri kelas tersebut dengan memberikan sebuah nasehat, "Mengapa hanya fokus pada satu titik hitam, sementara kau punya begitu luas warna putih yang seharusnya bisa kau syukuri? Lihatlah kacamata hidupmu seperti itu.""
Aku memulai awal tahun 2017 dengan sebuah keputusan terbesar dalam hidupku.
Keputusan yang menjadi titik awal hidupku dimulai, tidak hanya hidupku, tetapi aku yakin juga tentang akhiratku.

2017 SAYA
M E N I K A H 

Saya percaya, bahwa menikah adalah proses yang membutuhkan persiapan matang jauh hari sebelumnya. Sangat jauh. Entah kita sudah punya pasangan ataupun belum. Karena sejatinya Menikah adalah persiapan diri sendiri.  Tak melibatkan siapapun di dalamnya. Semuanya dari diri sendiri.
Tentangmu yang akan tidur dengan si doi.
Tentangmu yang akan menyiapkan kebutuhan si doi.
Tentangmu yang akan menemani setiap langkah doi.
Tentangmu yang akan menjadi makmum setianya.
Tentangmu yang akan menerima segala baik dan buruknya, sehat dan sakitnya, bahagia dan sedihnya.
Jadi tak perlu menunggu ada calon bukan untuk menyiapkannya?

Dengan teori itulah akhirnya aku menjawab iya untuk sebuah pinangan pada awal bulan Januari 2017. Berbekal pertemuan hanya sekali dengan si doi ternyata berhasil memantapkan hatiku dengan menganggukkan kepala.
Bukan lagi soal tampang, tahta, jabatan, harta, silsilah keluarga, atau apapun itu. Tapi anggukan ini berarti bahwa "Yes, I'm ready! Saya siap menikah ya Allah"

"Menikah adalah ibadah seumur hidup. Maka persiapkanlah dengan ilmu dan iman."
Aku tak membersamai persiapan ini. Beruntungnya tangan-tangan Allah mengelilingi persiapan ini lewat mbak dan masku.
Setelah 6 Januari 2017 aku bertemu untuk pertama kalinya dengan si doi, tgl 9 Januari jadwalku sudah tidak bisa di ubah untuk pergi ke Jakarta karena urusan pekerjaan. Allah menjanjikan berkah dengan persiapan cepat tanpa ribet jika memang Jodoh sudah di taken! Si doi me"marketing"kan diri sendiri ke masku tentang visi misi ke depannya, tentang "rahasia perusahannya", ya namanya juga jualan. Pasti meyakinkan dan yang baik-baik saja dikeluarkan. hehhehe~ Setidaknya pesona doi berhasil membuat mas-masku pun berkata "lanjutkan anak muda!" hanya dalam rentang waktu tepat 2 minggu.
29 Januari, kali kedua aku bertemu dengan si doi. Tepat di mana hari itu, doi membawa serta seluruh pasukan untuk meminta serta melamar diriku di depan orang tua dan juga keluargaku. Di hari ini pula, tanggal pernikahan di tetapkan, tanpa ada hitung-hitungan, tanpa ada rebutan tanggal. yang penting kalau tidak sabtu ya minggu. hehehhe.
Jadi tanggal ini ditetapkan berdasarkan "kapan adiba selesai kerja di luar kota dan pulang". Aku tak memakai kata seandainya dan lain sebagainya. Setidaknya, aku pakai ilmu timeline, deadline, dan ilmu lapangan yang kumiliki untuk behadapan dengan calon profesor yang akan jadi teman tidurku ini.


"Aqidah yang bersih. Syarat pertama Allah menjanjikan wanita di bumi lebih mulia berkali-kali lipat dibandingkan bidadari surga. Bahwa aqidah inilah menjadi dasar tentang iman dan keyakinan. Semua yang terjadi dalam hidupku, bahkan ketika aku tidur dan menendang laptop-pun semua sudah diatur oleh Allah. Daun jatuh di depan rumahku, ada angina yang masuk kamarku, semuanya adalah ketentuan Allah. Maka aqidah inilah yang menguatkan langkah-langkah menyempurnakan separuh agamaku."
26 Maret 2017 tepat hari ini, seorang laki-laki yang telah ditakdirkan Allah bertriliyun tahun yang lalu mengetuk pintu-pintu Arsy Allah. Melafalkan sebuah janji yang langsung melibatkan Allah di dalamnya. Suamiku menyebut ijab qobul dengan sekali tarikan nafas dengan lancar di depan bapakku, dengan Allah sebagai saksi segalanya. Kau tahu kawan, bahwa menikah itu indah. Dilihat dari sisi manapun! Bahkan jika didalamnya berbuah sedikit air mata, setidaknya kau tak menangis sendirian lhoo.. 

Bahwa pernikahan adalah salah satu dari 3 janji besar yang Allah sendiri langsung turun tangan. Bahwa pernikahan adalah gerbang dimana semua tingkah berlipat ganda dan menjadi utuh dengan nilai 1. 

Selamat datang abad baru! 😄





December 29, 2016

❤ Tentang Kata ❤

Kamu tak akan pernah memahami dengan sangat dalam
tentang makna kata
Hingga ia merubah jalan hidupmu, dengan kata 'maukah menikah denganku?'
Bahkan bisa sangat menyengsarakan sisa hidupmu,
kala kata bereinkarnasi menjadi dusta

Berikut adalah kumpulan kata
dengan syarat makna
yang disadur dari buku "Menentukan Arah" karya Kurniawan Gunadi dan Aji Nur Afifah

Hanya rangkuman dari pilihan kata,
yang bagi penulis mungkin menjadi awal,
dari benih-benih pencarian
akan makna terdalam tentang Cinta
pada Rabb-nya
Hingga kata akan tersulap menjadi doa
❤ ________________________________________________________________________ 


Allah, mudahkanlah kebahagiaanku
terletak pada hal-hal yang sederhana.
Mudahkanlah hatiku mencintai pada hal-hal yang sederhana
Jadikanlah kesederhanaan sebagai salah satu alasanku
bila nanti jatuh cinta

Makna Pernikahan

"Kalau sewaktu sendiri saja kita sudah gigih untuk menjadi 
bermanfaat maka ketika kita menikah, kita akan menjadi
jauh lebih hebat. Karena berdua mencipta kebaikan lebih
dari saat sendiri"

Pernikahan adalah salah satu dari tiga perjanjian terkuat
yang disebutkan dalam Al-Qur'an atau Miitsaqan Ghaliizhaa.
Perjanjian pertama adalah perjanjian Allah dengan Bani Israil.
Perjanjian kedua adalah perjanjian Allah dengan Rasul-RasulNya.
Perjanjian ketiga adalah Pernikahan. Maka,
tidak boleh ada kata ingkar karena perjanjian ini 
melibatkan Allah langsung di dalamnya

Ada jarak dan waktu yang membentang
bagi orang-orang yang ingin menyegerakan diri
menggenapkan separuh agamanya.
Sesuatu yang kemudian memaksa seseorang berjuang dengan mencari,
juga dengan menanti.
Sama-sama memerlukan iman dan kesabaran
yang tidak boleh surut.
Sebab pernikahan adalah rezeki yang diberikan
bagi orang-orang yang siap.
Dan kita tidak akan pernah tahu sebenarnya
kapan kita benar-benar siap.

"Maka jika kita sedang menunggu sesuatu yang baik datang, kenapa tidak? Yakinlah, di luar sana ada yang sedang memperjuangkanmu. Jangan kau pikir bagaimana caranya. Cara Allah tak akan sampai di logika."

Pasangan hidup itu jalan,
tujuannya adalah Allah!

December 8, 2016

Aku merindukan,
setiap sudut kota ini
setiap paras wajah penuh senyum
setiap guyur hujan dingin menusuk tulang
setiap aroma manis dan amis

Aku merindukanmu, Malang
Dengan setiap detail kecil yang mencipta sebuah cerita 

November 3, 2016

siapa yang kita bela? (seri 4 November 2016)

Dosen vs Mahasiswa.
=================
DOSEN : "Saya bingung, banyak Umat Islam diseluruh dunia lebay..
Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma Qur'an dinistakan,  karena tentara amerika menginjak, meludahi dan mengencingi Al-Qur'an?
Wong yang dibakar kan cuma kertas, cuma media tempat Qur'an ditulis saja kok...
Yang Qur'an nya kan ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak muslim yang mesti dicerdaskan."

Meskipun pongah namun banyak mahasiswa yang setuju dengan pendapat dosen liberal ini.
Memang Qur'an kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuz.

Tak lama sebuah langkah kaki memecah kesunyian kelas. Sang mahasiswa kreatif mendekati dosen kemudian mengambil diktat kuliah si dosen, dan membaca sedikit sambil sesekali menatap tajam si dosen.

Kelas makin hening, para mahasiswa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mahasiswa : "Wah, saya sangat terkesan dengan hasil analisa bapak yg ada disini."
ujarnya sambil membolak balik halaman diktat tersebut.

"Hhuuh hh...." semua orang di kelas itu lega karena mengira ada yang tidak beres.

Namun Tiba-tiba sang mahasiswa meludahi, menghempaskan dan kemudian menginjak-injak diktat dosen tsb.
Kelas menjadi heboh. Semua orang kaget, tak terkecuali si dosen liberal.

Dosen : "kamu?! Berani melecehkan saya?! Kamu tahu apa yang kamu lakukan?! Kamu menghina karya ilmiah hasil pemikiran saya?! Lancang kamu ya?!"

Si Dosen melayangkan tangannya ke arah kepala sang Mahasiswa kreatif, namun ia dengan cekatan menangkis dan menangkap tangan si dosen.
Mahasiswa : "Marah ya pak? Saya kan cuma nginjak kertas pak. Ilmu dan pikiran yang bapak punya kan ada di kepala bapak. bapak marah yang saya injak cuma media kok. Wong yang saya injak bukan kepala bapak. Kayaknya bapak yang perlu dicerdaskan ya??
Dosen : "#%&/&%@%&*/  (#@@##???.." (speechless)
Si Dosen merapikan pakaiannya dan segera meninggalkan kelas dengan perasaan malu yang amat sangat.

=================

Ayal menyambar “Lha memang bedanya dibohongi Al Maidah 51 dengan dibohongi pake Al Maidah 51 apa bah?”
Abah tersenyum “Mbak Ayal sudah makan?”
Ayal menjawab “Sudah Bah”
Abah: “Makan pake sendok atau makan sendok”
Ayal ketawa, “Makan pake sendok Bah, masak makan sendok”
Ilham menimpali “Kalau makan sendok, sakit dong peyutnya”
Abah : ”Nah, semudah perbedaan makan pake sendok dengan makan sendok, semudah pula kita membedakan dibohongi pake Al maidah 51 dan dibohongi Al Maidah 51”
Ayal: “Hmm sekarang aku mengerti “
Abah: “Jadi yang disebut bohong oleh Ahok bukanlah Al Maidah 51 tapi orang yang menggunakan Al Maidah 51. Jadi kalau mau dilaporkan ke Polisi, bukan menistakan agama, tapi pencemaran nama baik orang-orang yang merasa menggunakan Surat Al Maidah ayat 51 dalam ceramah atau pidato”
=================
Semua orang bebas berpendapat kok. Tapi apapun itu, Al-Qur'an turun dari Allah menjadi jurus paling sakti menuntun manusia menuju jalan Allah. Jalan Allah yang sesungguhnya adalah hidup kekal di akhirat kelak. Akhirat pun ada surga dan neraka.
Semua orang bebas berpendapat kok. Tapi apapun itu, Al-Qur'an turun dari Allah menjadi jurus paling sakti menuntun manusia menuju jalan Allah. Dan orang yang menyebarkan, entah itu kita sebut kyai, ulama, ustadz, ataupun guru, adalah dia yang mengajak kebaikan bukan? Kebaikan untuk bersama-sama menuju jalan Allah yang sesungguhnya. Jalan Allah yang sesungguhnya adalah hidup kekal di akhirat kelak. Akhirat pun ada surga dan neraka.
Jadi, urusannya adalah mau surga atau neraka? Kecuali kalau memang manusia bisa hidup di dunia selamanya sih.. (!) Laahaula walaa quwwata illah billah.
#thinksmart
Jangan menyepelekan berbuat baik kepada siapapun. Bisa jadi rezekimu datang dari orang tersebut. 
Dari kiri : Kris, Geryna, Bu Nia, Saya, Prischa, Cangi, Rois

Kala itu hidup saya habis didamprat dosen paling killer kata teman-teman karena memang beliau yang sudah expert dengan bidang gizi komunitas berhadapan dengan saya si tukang pelupa dan yang pelajaran kuliah 3 tahun hanya masuk telinga kiri, ke otak dan ditulis di buku saja. Tidak pernah dibaca kalau besoknya tidak ujian, dan nyantol di kepala hanya bagian gambar-gambar gak jelas yang saya lukis ketika bosan di kelas.
     
Dosen yang kata mereka, seringkali tidak memanusiakan manusia ketika mengerjakan project besar bersama klien-klien luar biasa. Dosen yang membuat kelompok KKN saya harus balik melakukan pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi/panjang badan bayi, balita, anak sekolah, remaja putri, wanita usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia) selama 2 kali meksipun ketujuh kelompok KKN yang lainnya sudah goler-goler bakar sate karena waktu itu bertepatan dengan Idul Adha.
    
Coba kalau saat itu saya tidak lagi menemui beliau dan kapok karena sudah dibuat kucel muka dan hati. Coba kalau saat pertama kena damprat dan kemudian saya menghindari bertemu dengan beliau. Mungkin, hidup saya tidak menjadi seberuntung sekarang dengan masuk Savica.co.id dengan tanpa interview kerja apapun. Malah dipaksa masuk oleh Bu Nia dengan alasan "aku gak kenal lainnya sopo konco-koncomu Diba. Seng endi iku?" dan pesan ajaibnya di waktu saya ditawarin dan besoknya sudah langsung ketemu dengan Direkturnya Savica.co.id langsung yang awalnya saya kenal sebagai bu Dama yang ternyata dia bule(!) adalah "aku ngerti kamu tukang telat yoh, awas kalau besok janjian sama bu Dama kamu telat. Ojok sampe telat Diba."

aah, i still and always doing my best for you Bu Nia. And to other people, like you do your best for them 

Rumah dan Tangga

Rumah adalah tempat dimana aku akan selalu pulang. Meluruskan punggung yang lelah kala duduk 8 jam di kursi kantor. Meneduhkan mata yang sudah berair panas setelah puluhan menit di depan layar 14''. Tempat paling nyaman untuk beristirahat di kala panas dan hujan yang semakin tak menentu di luar sana.

Tangga, benda ajaib yang bisa membuat orang berada di tempat yang lebih tinggi, dan bisa kembali ke tempat semula dalam waktu yang hampir bersamaan. Asumsinya bahwa jika menjadi lebih tinggi, maka lebih banyak kebaikan yang akan menghampiri. 

Rumah dan tangga, apa bisa dibangun secara bersamaan?
Idealnya bisa. Karena saat ini arsitek dan perancang bangunan sudah semakin canggih untuk menjadikan hal yang tidak bisa menjadi bisa. Tidak sedikit pula yang menjadikan salah satunya sebagai pelengkap dari yang lainnya. Seperti rumah yang butuh tangga untuk menopang lantai dua dan bisa menjadi tembok menjaga bangunan tetap berdiri, atau bisa juga tangga yang membutuhkan sebuah rumah sebagai tempat tujuan bersandar.
Lalu,
jika sudah menjadi sebuah rumah dan tangga, apakah bisa dihancurkan pula dalam waktu bersamaan?
tentu bisa. bisa dari binatang, bisa karena sudah lama termakan waktu dan tidak dijaga, bisa juga karena hantaman benda keras.

"Bagaimana persiapan pernikahanmu?"
"Aku bingung, karena tidak ada yang bantu dibul. Mama sama papa hanya bilang, aku dikasih uang segini, selanjutnya terserah aku maunya bagaimana. Untuk urusan baju, make up, semuanya sudah sama saudaraku yang memang perias pengantin bul. Kemarin aku sudah browsing-browsing dan cari catering. Sudah nemu beberapa, nanti mau janjian ketemuan untuk kasih tester. Souvenir juga masih bingung ini, juga undangan. Sek bingung aku rasanya. Soalnya semuanya diserahin ke aku."

"Bagaimana persiapan pernikahanmu?"
"Aku bingung, dari kemarin sek ngobrol sama masnya soal nanti kalau habis menikah. Maunya beli rumah tapi kan mahal belum cukup uangnya. Kalau mau tinggal sama mertua juga aku gak enak. Kepinginnya mandiri bul. Jadi ini sek cari-cari kontrakan gitu lah, Lokasinya juga sek belum tahu ini. Kalau tenagh-tengah kota mahal semua kontrakannya. Kalau mau murah yah memang dipinggiran, tapi kan nanti jauh dari kerja bikin capek juga. Jadi sek cari-cari. Aku antara siap gak siap nanti soal hidupku setelah nikah. Rasanya gimana yah bul, ya gitu deh."

Perkara membangun rumah dan tangga, rasanya memang tidak semudah tersenyum 2 jam di kursi pelaminan. Juga tidak soal ada yang mengantar dan menemani ketika tidur.
Lebih dalam dari itu, sepertinya rumah dan tangga adalah perihal menjaga supaya rumah tetap bisa menjadi tempat pulang yang utama dengan menjaga tangganya agar selalu kokoh untuk didaki. Dan keduanya adalah menjadi proses yang berlanjut terus menerus tak hanya berhenti hanya karena digusur oleh gubernur. 

November 1, 2016

Mitos atau Fakta?

"Kalau hamil tidak boleh makan sembilang mbak, nanti janinya hilang"
"Ibu percaya?"
"Ya percaya gak percaya sih mbak. Katanya orang-orang tua begitu mbak"
"Ibu makan tidak ikan sembilang?"
"Gak mbak, buat jaga-jaga sih. Nanti takut kenapa-kenapa" 
Perlu ditertawakan atau tidak, tapi memang begitulah yang terjadi di masyarakat. Culture, norm, myth, masih sangat kental beredar di masyarakat. Walaupun generasi sudah berpindah sekian tahun, hal tersebut sepertinya tidak akan pernah selesai untuk diwariskan.
Bagaimana menurut ilmu kesehatan?
Penasaran dengan asal muasal kenapa sembilang yang tidak berdosa menjadi kambing hitam atas hilangnya janin dalam kandungan, maka beginilah pernyataan dari Ibu Bidan setempat,
"Sebenarnya kejadiannya bukan tiba-tiba janinya hilang. Tetapi saat itu memang sedang ramai, bahwa ada satu ibu yang perutnya memang besar dan merasa bahwa beliau hamil, karena perutnya terus-terusan sakit, mules, dan semacam ada yang bergerak-gerak seperti menendang. Dan kok pas juga, si ibu tersebut tidak mengalami datang bulan. Sehingga saya pun berpikir bahwa ibu ini hamil, awalnya. Setelah saya cek, tidak ada detak jantung dari perut ibu, dan ketika di USG pun memang tidak ada janin di dalamnya. Hanya memang ada kontraksi dari otot perut si ibu yang terjadi sangat sering sehingga seolah ada janin yang menendang. Untuk keadaan ibu yang tidak datang bulan itu memang sedang tidak normal saja sehingga haid tidak teratur. Nah kebetulan sekali ketika ibu makan ikan sembilang, keesokan harinya ibu tersebut mengalami siklus datang bulan lagi seperti sebelumnya, sehingga ibu ngotot dan beranggapan bahwa dia keguguran. Padahal sebelumnya sudah saya jelaskan berulang-ulang kalau ibu tersebut aslinya tidak hamil".

dari Brebes hingga Belajar Beberes

Teringat 2013 silam, ketika aku bersama dengan teman-teman Gizi 2010 melakukan kegiatan KKN seperti mahasiswa tingkat akhir lakukan, dan mata kuliah ini disebut sebagai mata kuliah Intermonev Community. Isinya, kita melakukan intervensi gizi secara nyata di lingkungan yang sudah ditunjuk. Dan tahukah, bahwa itu tak semudah kita memberikan konsultasi gizi dan anjuran diet. Lebih dari itu, bahwa proses dimulai ketika kita menentukan masalah apa yang terjadi disana, digali, dipilih yang paling memungkinkan dengan mempertimbangkan banyak aspek, kemudian menyusun kuesioner, menentukan logistik, melakukan perizinan hingga proses pengambilan data, pengolahan data, penentuan intervensi, melakukan intervensi dan pelaporan. Hanya saja kala itu kami tidak melakukan monitoring evaluasi..

Dan! 
Ini kedua kalinya saya merasakan kembali aura itu. Merasakan proses yang dimulai dari awal hingga nanti akhirnya akan seperti apa.
'Monitoring Evaluasi Pilot Project PKH Prestasi in Brebes, Central Java'
Terlihat keren sepertinya, tapi keren pula pelajaran yang diambil mulai dari bahagia, tawa, duka, luka, senang, sedih, tangis, haru dan semuanya.
Semua dimulai tepat November 2015.
Dimana Savica, tempatku bekerja, menerima tender terbesar selama Savica berdiri dengan nominal budget yang fantastis. Mengerjakan evaluasi project Pemerintah. Mungkin tidak akan detail diceritakan, karena itu rahasia dapur juga :)
Kala itu saya memang bau kencur yang baru bekerja di tempat itu baru 7 Bulan dan track record yang masih cupu. Jadilah sebagai pembantu umum menjadi pilihan yang tepat karena aku bisa masuk mana saja dan belajar apa saja.
Hingga berjalannya project, Bulan Februari saya mendapat amanah untuk menyiapkan Endline Survey, dimana menjadi satu elemen penting dalam pengumpulan data secara kuantitatif. Mendapat amanah? Hmm, sepertinya lebih tepat dikatakan terpaksa karena memang tidak ada orang lagi.
Februari, intensitas pergi ke Jakarta menjadi lebih sering karena persiapan ini dan itu. Beruntung adalah, ketika kau tak pernah sendiri melakukan ini semua. Banyak support dari teman-teman Jakarta yang keren gilak meskipun banyak sandungan dan kerikil dari atasan.

Persiapan tim enumerator dimulai.
Enumerator adalah sebutan bagi mereka yang akan mengambil data di lapangan. Biasanya Enumerator lebih ditujukan untuk pengambilan data secara kuantitatif dengan menggunakan kuesioner.
Kala itu saya dengan PD saja searching kampus dan lembaga yang menyediakan jurusan ilmu gizi dan kesehatan masyarakat di Brebes dan sekitarnya, hingga kenallah akhirnya dengan Univ. Jendral Soedirman di Purwokerto, akademi kesehatan di Brebes dan Tegal. Berbekal sok tau dan nekat entah kenapa saat itu saya berani mengajukan diri untuk perjalanan ke Purwokerto yang saya sendiri tak pernah tahu rupa bentuk bau jenis warna dan penampakannya seperti apa. Dan suprisingly, ibu bos menyetuji dengan sangat entengnya, karena beliau tahu tentang Purwokerto.

Oke, 23 - 26 Februari adalah hari yang ditentukan untuk saya berangkat ke Brebes. Perjalanan saya dimulai dari Jakarta karena memang rekan kerja saya, Mba Vida, dari Jakarta. Jadi daripada saya sendirian di tempat baru, baguslah kalau memang harus bersama teman.
Well, 23 Februari pergi ke Gambir sendirian (yang ternyata sekarang sudah jadi keren bangeeet, karena ada KFC, McD, dan Starbucks, dan terakhir saya ke Stasiun Gambir ketika usia 10 tahun). Jadi sambil nunggulah itu Mba Vida, saya tengok kanan kiri untuk melihat situasi. Berbekal cerita dari teman lainnya, bahwa e-ticket yang saya terima di email harus di print terlebih dahulu dengan alat selfprinting ticket. Well, alhamdulillah Indonesia sudah jadi canggih :)
Sampai di Brebes, ada tim Savica juga yang sudah menetap disana kurang lebih 2 bulan. Yang sudah akrab dengan saya by email tapi tidak pernah bertemu secara langsung. Mas Bambang dan Mba Neni, yang mengerjakan bagian Monitoring Evaluasi secara Kualitatif. Beliau lebih senior, usia sudah masuk 30 - 40 tahunan.
24 Februari,adalah hari yang ditentukan untuk saya pergi ke Purwokerto, tempat yang saya tak pernah tahu rupa bentuk bau jenis warna dan penampakannya seperti apa. Berbekal nomor telepon dari adik kelas di ILMAGI, dan saya yang asal nyapnyap sok kenal, akhirnya saya dibantu untuk bertemu dengan salah satu dosen, yang belakangan baru saya ketahui bahwa beliau adalah Kajur. OMG!! 
Dan hanya sebentar saya disana, menitipkan dan membicarakan tentang Survey ini. 
Selanjutnya saya tinggal berdoa semoga memang banyak yang mendaftar!
Lanjut hingga tanggal 25 Februari saya diajak keliling ke sala satu kecamatan di Brebes Selatan, makan durian, dan melihat sawah hijau dingin! Dan tanggal 26 Februari saya kembali ke Jakarta dan harus menetap untuk mengikuti agenda meeting bersama di Bappenas.

My Month!