September 28, 2011

suka C:

hey, boy!
aku suka
meski aku tak mau menjadi duka
karena kita akan bertatap muka

aku suka
dan takkan kubuat luka
karena rasanya memang tak seperti cuka

aku suka
dan kan aku buat mulutku terbuka
ditambah berserinya muka

ah, sial!
aku masih suka C:





September 26, 2011

:berkaca:

saat aku kecil, terkadang aku malu untuk mengungkapkan apa yang aku rasa
mulutku terdiam
lalu, akupun mulai belajar, kalau ternyata apa yang aku pikirkan seharusnya layak untuk dikatakan.
Karena memang begitulah seharusnya manusia.
Saling mengingatkan, salling menghargai, dan salaing memotivasi
tapi sampai detik ini, aku pun tetap jarang melakukannya
Kenapa?
Karena aku takut.
Takut kalau aku dibilang menjilat ludah sendiri
karena dari kajian yang aku lakukan pada diriku sendiri dan juga pada saudara-saudaraku sendiri membuktikan bahwa,
memang itu kembali pada diri kita lagi
Hukum alam terjadi kawan.
Contoh : kalau mbakku marah-marah dan cerewet bilang kalau, jangan kotor2 yah, barang itu ditaruh di tempatnya yang bener. Dan selang beberapa hari, eeh, dia sendiri yang malah naruh barang-barangnya sembarangan (--"). Terus kalau aku bilang, eh jadi orang itu jangan jadi pemarah, eh selang beberapa hari, aku kerjaannya maraah mulu. Malu kan >.<
Sekarang, setidaknya aku mulai banyak belajar.
Kalau berkaca itu memang penting, tapi jika terlalu lama, kita tak akan pernah bisa melangkah
Kalau hati-hati itu sangat baik, tapi jika terlalu berlebihan dalam hati-hati, semua impian kita hanyalah sebuah impian belaka dan tak pernah kesampaian.
Kalau kita mau berkata pada orang lain tentang satu kebaikan, jadi buatlah itu menjadi satu cambukan pada kita bahwa kita yang mengatakan, jadi biarkan orang lain yang akan menegur dan mengingatkan kita.
Jadi, biarkan diri ini belajar untuk memantaskan diri
Agar tak menjilat ludah sendiri
Agar benar-benar bisa menjadi teladan untuk orang lain
Agar bisa membawa manfaat untuk orang lain
Karena kita tak bisa merubah orang lain, calon suami kita, bahkan takdir kita, tapi kita bisa mengubah diri kita :) 


Kita berkaca, tapi jangan hanya pada benda mati. Karena lingkungan sekitar kita juga merupakan kaca terbaik yang bisa mencerminkan bagaimana diri ini bertapak pada bumi

with love,
adiba :D

September 24, 2011

Profesional



Yang aku tahu
Awalnya hanya mengerjakan dengan benar
Dia dapat nilai bagus, kaya, banyak dipuji.
Hm, sangat sempit

Lalu, aku belajar lagi
Profesional, berarti mampu mengerjakan dengan tepat
Sesuai sasaran dan tujuan

Kemudian masuk pada tingkat lebih tinggi,
Konsisten dan komitmen juga harus ada
jika memang ingin diikuti dengan kata itu profesional-

Sekarang?
Zamannya uda berubah yah,
Orang pingin lebih cepat, lebih baik, lebih murah, juga lebih cerdas
Lalu, bagaiamana dengan posisi si professional ini ?
Yang penting kerja beres, tepat, dan cepat
Yang penting bikin semua orang bisa bahagia dan pastinya sama-sama dapat manfaat
Yang penting untung buat kedua belah pihak
Yang penting bisa buat semua orang belajar jadi lebih baik lagi
Yang penting bisa bawa nama baik semua pihak
Yang penting bisa jaga hati semua orang
Yang penting orang gak tahu apa yang jelek dari kita
Yang penting tujuan utama tercapai
Yang penting si bos bangga
Yang penting, yang penting, yang penting
Dapat pahala J hahaha

Jadi menurutmu, tetap penting kan profesional itu?
Ayok belajar bareng yoook :P

-Its not about how good you are, it’s about how good you want to be-
 upgrade your standards guys J

September 16, 2011

Hey, bangun kawan! Libur telah usai…



Liburan kali ini aku menghabiskan sedikit waktu buat nonton film dan baca beberapa buku. Hm, lumayan menginspirasi sih, kalo aku mengutip sedikit kalimatnya “Sibuk untuk hidup atau sibuk untuk mati”. Tak salah jika dalam Islam kita mengenal, bermimpi, bekerja, dan berusahalah seolah-olah kau hidup seribu tahun lagi bahkan tak pernah mati. Dan itulah –SWASHARK REDEMPTION- Film yang mengajarkan pada kita bahwa kebenaran itu memang patut untuk diperjuangkan. Meskipun banyak yang akan menghalangi, tak masalah jika kita tetap berbuat baik pada mereka yang memang tak percaya bahkan merendahkan kita. (Walaupun sebenarnya kalau menurutku si pemeran utama sedikit licik sih, heheh, cerdiklah bisa dibilang). Bukan hanya itu saja, dari sana, aku belajar tentang sebuah kegigihan diri dan ketekunan. Dia mau dengan sabar menulis surat kepada pemerintah selama 6 tahun dan itu dilakukan tiap minggu sebanyak 2 kali. Dan yang paling mengejutkan, dia mau dan terus mau menggali tembok penjara selama 22 tahun kawan, hanya untuk bisa kabur. WOW!!!
Itulah kenapa tak pernah salah pula, kalau bapakku sendiri sering bilang, ‘kamu ibadah itu gampang, mau sholat tahajjud, mau sholat dhuha, mau ngaji, mau sedekah, tapi yang paling sulit yaitu membiarkan dirimu melakukannya setiap hari dengan kata lain instiqomah.’ Subhanallah…
            “Setiap orang berguna dengan cara mereka sendiri”. –SHAOLIN-
            Itu juga film yang cukup bagus. Memberi kita tamparan kecil, untuk lebih bisa menghargai keberadaan orang lain, siapa pun itu. Karena memang pada dasaranya manusia diciptakan sebagai Khalifah di dunia ini, maka sebagai Khalifah mereka pasti punya cara tersendiri untuk mencari jalan Tuhan, dan pasti akan tetap menjadi orang yang berguna dengan caranya sendiri. Entah itu berguna untuk negaranya, agamanya, keluarganya, teman-temannya, lingkungan sekitarnya, bahkan berguna kepada orang yang tak dikenal di jalan hanya dengan menyingkirkan sebuah paku dari tengah jalan J
            Menurutku dua film itu yang bisa aku petik hikmahnya untuk dibawa dikehidupanku selanjutnya. Menyongsong semester 3 dan pengalaman baru yang akan lebih menakjubkan di depan dan akan membuatku semakin kuat :D Selebihnya menurutku cuma just to know aja, hahaha :P buat hiburan kayak UP! (gua baru nonton mameen -.-), terus ada miss congenirility, before you say I do, sama film documenter The Cove (yang ini kayaknya juga wajib nonton sih, tentang kisah nyata sebuah kebudayaan di Jepang di mana mereka membunuh ikan lumba-lumba secara besar-besaran, untuk apa? Tonton sendiri yah. Hahaha :P)
Gak hanya itu aja, ada juga buku. Yang ini nih emang TOP banget. Dasarnya juga aku suka baca yah. Jadi I really have fun.
Buku Pertama ini iseng asal ambil aja. Judulnya ‘From Thief to God’s Beloved (Maling Jadi Wali) karya KH Agoes Ali Masyhuri. Ini buku dwibahasa loh, haha. Kebanyakan sih ngomongin tentang kondisi masyarakat zaman sekarang gitu yang pada mabuk sama kekuasaan dunia dan disinggung juga dengan kacamata agama Islam.
Highten all which are low with the power of love
Shine Indonesia with the name of Muhammad
I read Shalawat on the Messenger
Because I am ashamed that my nation becomes like this

September 15, 2011


Bismillah.
      Beberapa hari yang lalu, aku pergi ke salah satu swalayan di deket rumah. Menemani kakakku belanja keperluan parsel lebaran. Katanya untuk diberikan pada beberapa rekan bisnisnya dan juga pada pegawainya di kantor. Saat di perjalanan, masku ini dapat telpon dari salah seorang temannya. Dia kuliah di FKUA. Habis yudisium mau masuk co.as. Tanpa aku meminta, masku ini cerita, “Dek, dia temen baruku. Tahu gak dia itu kenalan ama mas, dan bilang pengen belajar entrepreneur. Karena dia sendiri bilang, ‘dokter itu bukan dijadikan untuk mencari penghasilan itu memang sudah jadi kewajiban sosial.’”
      Subhanallah, sudah sering yah denger kalimat itu di FKUB. Bagian yang sering aku denger, terutama dari pak bos, “Jika niat Anda menjadi tenaga kesehatan di FKUB ini hanya untuk mencari materi, maka segeralah mengemasi barang-barang Anda karena bukan disini tempatnya.” Yah, semua calon tenaga kesehatan menurutku menyadari itu.
      Tapi yang membuatku terpukau yaitu bagian dari cerita masku terkait pilihan yang diambil oleh temannya ini. Yah, ditengah kesibukan sebagai seorang calon dokter muda, masih terselip di benak beliau untuk belajar menjadi seorang entrepreneur. Luar biasa.
      Tidak salah jika ada yang pernah bilang dalam sebuah tulisan yang saya baca, bahwa menjadi enterprenuer bukanlah melulu soal dagang, meskipun memang sebagain besar demikian, tapi ini lebih kepada mindset.
      Enterpreneur berasal dari bahasa Perancis yang berarti kontraktor. Asal katanya ialah entreprenant yang berarti giat, mau berusaha, berani, penuh petualangan. Dan entreprendre yang artinya undertake. Istilah entrepreneur mulai dipergunakan dalam bahasa Inggris sejak tahun 1878 dan dipahami sebagai a contractor acting as intermediary between capital and labour. Di Indonesia sendiri, entrepreneur diterjemahkan sebagai enterprenir, pengusaha dan usahawan.
      Dan sebuah Negara dikatakan maju jika pengusahanya telah mencapai angka 2% dari jumlah penduduknya. Indonesia, hanya 0,sekian persen. Ayo kawan, apa kau tak mau disebut sebagai sang pemberani giat dan penuh jiwa petualang. Ini tentang mindset. Dan pastinya akan lebih banyak manfaat jika kita mau berenterpreneur-ria. Karena selain melatih diri ini berpikir positif juga pastinya akan membuka lapangan usaha bagi orang lain jika memang bisnisnya berkembang J
      So keep widing your wings guys, and move on..

September 11, 2011

-adiba-adiba-adiba-


Kalau di probinmaba 2011 ada sebuah acara yang dikenal dengan “Namamu adalah Doa”, maka di sini aku akan meminta teman-teman menyebut namaku tiga kali, maka teman-teman akan mendoakan aku sebanyak tiga kali dan juga akan memanggil adiba dengan tiga wujud yang berbeda. Hahahahaha, gak nyambung -.-)”
            Hm, sepertinya setahun ini aku benar-benar dibuat terkejut, tercengang, tertawa lepas, dan terisak oleh cerita yang Allah berikan. Tidak hanya tentang kuliah, organisasi, masalah hati, tentang teman, bahkan ini terkait namaku. Wkwkw :P
            Sampai pada usiaku yang ke 18, aku tak pernah sekalipun menjumpai nama yang sama seperti diriku. Adiba. Bolehlah aku sedikit berbangga hati karena memang namaku ini terbilang nama unik. Pernah suatu ketika, Bapak saya ada pertemuan dengan guru se-Surabaya. Dan saat itu Beliau bertemu dengan guru SMPN 2 Surabaya, dimana sekolah itu dulunya adalah tempat aku belajar. Ketika bapak bercerita bahwa anaknya pernah sekolah di sana, dan menyebut nama adiba, guru tersebut tertawa, dan memberikan pernyataan yang membuat saya GR, “oh, adiba. Ya ya saya ingat dia pak, anaknya kecil. Dan yang paling saya ingat adalah namanya, adiba. Nama yang unik.” Begitu kira-kira cerita dari bapakku. Hahaha, padahal saat itu aku sudah lulus dari SMP itu lumayan lama loo :P
            Aku pernah menemukan nama adiba dua kali selama 18 tahun ini. Yaitu nama Adiba digunakan oleh orang arab di Surabaya untuk dijadikan sebagai toko roti terkenal. Dan nama Diba yang setau saya itu nama salah satu anak dari ustadz terkenal yaitu Uje. Hanya dua kali itu. Lainnya tak pernah lagi aku temukan.
            Hingga masuk ke usia 19 tahun. Aku langsung mendapati nama Adiba dalam 2 bentuk yang berbeda. Satunya Adiba Maulida yaitu teman 2009 jurusan PD di FKUB dan satunya lagi Fairuz Adiba, adek kelas di SMADA kelas XI yang baru saja aku temui saat buka puasa bareng SKI SMADA dan alumninya. Subhanallah. Lucu menurutku. Hahaha :D
            Karena memang nama adalah sebuah doa, maka orang tua dari Adiba (aku), Mbak Adiba, dan dek Adiba :P ingin anaknya menjadi manusia yang beradab seperti arti dari nama kami yaitu adibaßadab dan juga bisa membuat peradaban sekitar yang lebih baik lagi. Amin J
                                                                            Clik to enlarge
(tidak ada kemiripan lain selain nama. Hahah :P)
Yang foto bareng sama mbak adiba belum, tunggu yah tanggal mainnya, walaupun gua kagak kenal sih ama mbak itu. Haha, berarti abis ini mesti kenalan.

My Proposal


Bismillah..
Well, banyak orang yang tahu apa itu proposal. Yah proposal adalah sebuah tulisan yang dibuat oleh si penulis yang bertujuan untuk menjabarkan atau menjelasan sebuah tujuan kepada si pembaca.
            Tapi ini bukan proposal biasa. Because its really important for me. About adiba’s proposal.
            Setahun yang lalu, aku tak memikirkan akan menjadi seperti apa hidupku di FKUB. Jauh dari orang tua, dan benar-benar berdiri di kaki sendiri. Tak ada yang mengenalmu, tak ada manusia yang akan melindungimu. Karena memang itu yang aku rasakan saat itu. Hanya berharap pada naungan Tuhanku.
            Setahun yang lalu. Yah, dan kini, hello world. I found best puzzle of my life. Aku ingin bergabung dengan salah satu organisasi di FKUB itu berarti aku punya kesibukan positif. Dan ternyata, proposalku benar-benar diterima oleh Allah, aku bahkan dapat lebih. Dua organisasi besar yang luar biasa. Yang bahkan akupun sempat merasa “hm, bisa gak yah?” And here I am. ORMAGIKA dan BEM FKUB. Aku tersenyum padaMu, Tuhan.
            PROBINMABA. Masih segar di kepala bagaiamana aku melewati rangkaian itu. Kali ini bukan berbicara tentang prosesnya, hanya ingin memanggil beberapa orang yang menurutku luar biasa yang ada di kegiatan itu, dan ucapanku benar-benar terbukti. Ini yang aku katakana saat duduk dalam barisan Psychiatry. “Hm, banyak orang hebat di sini, aku ingin mereka mengenalku, harus. Minimal bisa menyapaku (memanggil namaku) tiap kali kita bertemu J” Dan waw, kekuatan mimpi itu bisa membuat ucapaan tak hanya hilang tertiup angin, tapi bisa menjadi cerita unik dalam proposalku. Untuk siapa orang-orangnya aku rahasiakan saja yah.. heheh :P, tapi kalo ada yang mau tanya silahkan akan saya jawab.
            Tetap dalam episode yang sama. Dulu aku terpesona dengan para punggawa PK2Maba dan KRIMA. Mereka yang benar-benar sibuk untuk hidup, mengorbankan waktunya hanya untuk menyambutku di gedung hijau FKUB. And now, terima kasih telah membuat proposalku kembali ditanda tangani oleh Allah azza wa jalla. Nothing is impossible for God.
            Hingar bingar Pengabdian Masyarakat bertalu dalam telinga para maba. Tak terkecuali dengan telingaku. Waktu pertama kali aku tahu apa itu PENMAS, aku lalu menuliskan dalam papan mimpiku, *Menjadi orang penting dalam kepanitiaan PENMAS dan bisa kenal dengan teman-teman sengakatan 2010* J Ya Allah, aku kembali kau buat tertawa lepas. Subhanallah.
            Masih ingat waktu itu aku hanya mengatakan dalam hati kalau aku pengen punya laptop baru dan ukurannya lebih fleksibel untuk di bawa. And I got it.
Aku bisa bermimpi setinggi langit bahkan ketika tak ada lagi yang mampu mengejar mimpiku, tapi ingatlah selalu, tak pernah sendiri aku menggapainya.


August 26, 2011

~sepotong episode~

sebuah kisah masa lalu hadir di benakku
saat kulihat surau itu
menyibak lembaran masa yang indah

bersama sahabatku

sepotong episode masa lalu aku

episode sejarah yang membuatku kini
merasakan bahagia dalam diin-Mu
merubah arahan langkah di hidupku

setiap sudut surau itu menyimpan kisah

kadang kurindu cerita yang
tak pernah hilang kenangan
bersama mencari cahayamu


sisa fotonya masuk ke sini yah "cantik"
by : edCoustic

August 24, 2011

keluarga baru C:

dan disinilah aku berdiri sekarang.
bersama para pembina lainnya
mungkin kita memang tak sempurna
tapi tak ada salahnya jika dengan cara begini, kita akan memaksa diri untuk bisa menjadi teladan
karena kita adalah pembina "Arsitek Peradaban"


pendamping keluarga PK2 MABA 2011

keluarga VIRLOGY ^aseeek^

pasport

aku repost ini dari notes kakakku yang di tag ke aku. dan kakakku ambil tulisan ini dari salah satu koran terkenal di surabaya.,


Pasport - Jawapos 8 Agustus 2011
oleh Rhenald Kasali pada 09 Agustus 2011 jam 8:00

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport.  Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan.  Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport.  Setiap mahasiswa  harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.  Dua minggu kemudian,  mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini?  Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu.   Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam.  Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?"
Saya katakan saya tidak tahu.  Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.  Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.  Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang.  Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.  Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.  Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu  tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring.  Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian.  Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.  Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara.  Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi.  Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan,  dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri.  dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat.  Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun.  Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia.  Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching.  Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini.  Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya.  Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi.  Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani.  Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri.  Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya.  Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan.  Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak.  Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan.  Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh.  Rasa percaya diri mereka bangkit.  Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport.  Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri.  Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat.  Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

*setelah membaca ini, kakakku bilang sama aku "dek, sebelum aku nikah nanti, aku , kamu, mas rizal harus pergi ke luar negeri. meskipun cuma di singapura, tapi kita harus pergi. ini mimpi kami. amin*