September 26, 2011

:berkaca:

saat aku kecil, terkadang aku malu untuk mengungkapkan apa yang aku rasa
mulutku terdiam
lalu, akupun mulai belajar, kalau ternyata apa yang aku pikirkan seharusnya layak untuk dikatakan.
Karena memang begitulah seharusnya manusia.
Saling mengingatkan, salling menghargai, dan salaing memotivasi
tapi sampai detik ini, aku pun tetap jarang melakukannya
Kenapa?
Karena aku takut.
Takut kalau aku dibilang menjilat ludah sendiri
karena dari kajian yang aku lakukan pada diriku sendiri dan juga pada saudara-saudaraku sendiri membuktikan bahwa,
memang itu kembali pada diri kita lagi
Hukum alam terjadi kawan.
Contoh : kalau mbakku marah-marah dan cerewet bilang kalau, jangan kotor2 yah, barang itu ditaruh di tempatnya yang bener. Dan selang beberapa hari, eeh, dia sendiri yang malah naruh barang-barangnya sembarangan (--"). Terus kalau aku bilang, eh jadi orang itu jangan jadi pemarah, eh selang beberapa hari, aku kerjaannya maraah mulu. Malu kan >.<
Sekarang, setidaknya aku mulai banyak belajar.
Kalau berkaca itu memang penting, tapi jika terlalu lama, kita tak akan pernah bisa melangkah
Kalau hati-hati itu sangat baik, tapi jika terlalu berlebihan dalam hati-hati, semua impian kita hanyalah sebuah impian belaka dan tak pernah kesampaian.
Kalau kita mau berkata pada orang lain tentang satu kebaikan, jadi buatlah itu menjadi satu cambukan pada kita bahwa kita yang mengatakan, jadi biarkan orang lain yang akan menegur dan mengingatkan kita.
Jadi, biarkan diri ini belajar untuk memantaskan diri
Agar tak menjilat ludah sendiri
Agar benar-benar bisa menjadi teladan untuk orang lain
Agar bisa membawa manfaat untuk orang lain
Karena kita tak bisa merubah orang lain, calon suami kita, bahkan takdir kita, tapi kita bisa mengubah diri kita :) 


Kita berkaca, tapi jangan hanya pada benda mati. Karena lingkungan sekitar kita juga merupakan kaca terbaik yang bisa mencerminkan bagaimana diri ini bertapak pada bumi

with love,
adiba :D

No comments: