September 15, 2012

Selamat Tuan Super Baik !!!
Sepertinya lebih baik aku menangis hari ini, daripada besok.

May 25, 2012

Aku suka menulis
Meski hanya menuang tak lebih dari seratus kata
Menceritakan tentang sebuah perjalanan panjang
Mengabadikan sebuah momen kecil tapi bermakna
Aku suka menulis
bahkan ketika aku berusaha mengajak orang lain untuk turut suka
Tak sedikit yang memagdangku berlebihan
Bahkan ada yang bilang itu adalah hal yang cengeng
Ada juga yang bilang menulis berarti gak gentle, karena gak berani langsung ngomong.
Yah apapun itu, aku tetap suka melakukannya
Berbincang pada indahnya sang fajar
atapun ditemani dinginnya sepertiga malam
Aku suka menulis
Lebih-lebih saat orang-orang yang aku sayangi juga melakukannya
Maka, inilah yang aku ceritakan dalam tulisanku,
Bahwa mereka juga suka menulis
Akhirnya..
Meski akupun kadang tak meyadari efek besarnya menulis
tapi setidaknya aku merasakan efek-efek kecilnya
dan
sungguh bermanfaat
Trust Me!
Ayo menulis :)




-Bahkan ketika raga ini sudah tak bernyawa, hanya sebuah tulisan yang mampu kita wariskan untuk generasi yang akan datang-

April 8, 2012

Tentang Rasa

Ingin kukatakan
Tentang sebuah rasa yang aku rasa
Tentang sebuah rasa yang ku tak ingin kau juga rasa
Karena hidup bukan soal menjalaninya
tapi lebih kepada memaknai setiap rasa

Aku pernah menjadi kecil. Kita semua pasti pernah.
Lantas saat itu, orang-orang besar dilingkungan kita ingin kita rangking 1,
ingin kita ikut lomba mewarnai dan menang, ingin kalau nangis itu jangan pake teriak-teriak,
dan pastinya mencari banyak jalan 
agaar...
kita jauh lebih baik dari mereka.
pasti itu
karena orang-orang besar pernah merasa ada yang kurang dengan saat dia kecil
dan memperbaikinya dengan menerapkan pada kita
lalu, 
kita beranjak dewasa
sudah berpengalaman lebih dulu
merasakan apa yang enak dan tidak enak saat kecil
merasakan apa yang kurang
hingga kitapun juga akan meminta orang-orang kecil (anak-anak) di lingkungan kita untuk bisa lebih baik dari kita.
namun ada hal yang terlupakan, kadang
lupa pada hal-hal yang kecil,
mengekspetasikan bahwa yang baik itu adalah A,B,C, dan D
fokus pada hal itu
padahal, orang-orang kecil itu bisa mendapatkan F secara sempurna
tapi kita tak pernah memberikan penghargaan dan apresiasi
yah, inilah negeriku
tak munafik pula, bahwa suatu nilai yang telah menjadi suatu hal yang familiar di masyarakatlah yang akan diperjuangkan
begitulah yang juga saya kejar
karena out of the box malah membuat kita menjadi terasingkan

lantas memasuki dunia yang lebih tinggi
sekolah, kuliah
mulai mengenal organisasi
mulai dari awal kan pasti masuknya?
tak mungkin hanya pake simsalabim langusng bisa jadi kapel ataupun koordinator bahkan seorang presiden
pasti pernah melalui jenjang yang*dari kecil, lalu lama-lama
dan tarararara
now! you're the leader
analoginya sama seperti saat kita kecil dan menjadi besar
berusaha memenuhi segala apa yang dirasa kita kurang
tujuannya adalah untuk menjadikannya lebih baik
tapi kembali lupa
bahwa hal kecil memang seharusnya diberi apresiasi
karena menjadi pemimpin
bukan berarti berjalan terlalu di depan
bahkan meskipun mereka hanya ada di belakang kita saja, 
menemani kita walau tak berbuat apapun
kita suka lupa bahwa mereka sebenarnya telah berkorban waktu untuk kita
tapi kita tak menghargainya
yah, oke, kadang juga sempat terlintas di benak
kenapa mereka? bukan kita yang diperlakukan seperti itu?
SO? 
ini bukan perkara orang lain, tapi jika memang kita bisa merubah dulu mindset kita, 
kenapa memaksa orang lain.
dan saat kita berada di atas, 
lalu mencoba menyambangi kehidupan kita yang dulu.
Apa yang muncul di benak kita kawan?
pernah mencoba?
meluangkan sedikit waktu di sela kesibukan dunia 'keaktifisan' kita
lalu bercengkerama dengan teman lama kita, yang lugu, dan jujur apa adanya
hingga tiba-tiba mereka berkomentar, 'eh kamu ngomong apa yah, hehe, maaf aku ndak mudeng'
padahal yang sedang kita bicarakan adalah hal yang kecil tentang pohon di lapangan kampus pada di tebangi.
hm, jika berkumpul dengan mereka di dunia ke-leader-an kita, tentu isu itu akan menjadi bahan perbincangan yang hebat dan akan ada berjuta kata yang keluar, bahkan akan banyak lagi isu-isu yang lebih besar di negeri ini yang akan terbahas
namun di sini, tanggapan mereka berbeda. 
Lantas tidak nyamankah kita dengan lingkungan itu? 
Mungki iya, 
karena akan keluar pikiran bahwa sudah tidak lagi sepemikiran. ndak nyambung.
Bukan, bukan kawan! 
Bukan perkara mereka tidak update atau tidak mau peduli dengan lingkungan mereka. 
Iya, ada sedikit benarnya juga sih. 
Tapi bukan soal itu yang ingin saya tamparkan ke muka saya sendiri, melainkan soal adaptasi. Mana bukti bahwa kesuksesan kita menjadi pemimpin, jika kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan seperti itu? 
Mana yang katanya menjadi aktif berarti sudah belajar lebih dulu untuk bertemu banyak orang dan mempelajari karakter orang kalau ternyata menghadapi teman-teman lama saja kita bosan dan merasa sudah tak lagi nyambung seperti dulu?
Mungkin memang ketinggian kawan, 
mereka bukannya tak mau, tapi bahasa kita yang sulit untuk dimengerti. Mereka tak butuh banyak teori, hanya sesuatu yang simple tapi bisa merefleksikan intinya. 
Lantas mengapa tak mencoba mencerdaskan mereka dengan cara kita ingin dicerdaskan 'dahulu kala' saat kita sama-sama tidak tahu?
Dan menurut saya pribadi, inilah gambaran masyarakat kita.
Bukannya terkurung dalam tembok tinggi bersama kaum intelektual lainnya, 
tapi bukan itu tujuan kepemimpinan kita kan? 
melainkan bagaimana 'kaum-kaum' ini bisa menjadi suatu manfaat untuk orang luar justru yang memang tak tahu menahu apapun.
sekali lagi, saya ingin menampar diriku
ini soal rasa
rasa bagaimana kita mau mengapresiasi sesuatu yang kecil
karena teman lama kita mau duduk lagi bersama kita pun itu adalah suatu anugerah
bahkan megajak kita untuk minum kopi bersama lagi

bukan soal kita lebih dulu mendalami dunia ini lantas membuat kita tak nyaman dengan mereka yang masih duduk santai, 
tapi menjadi lebih dahulu berarti menjadikan kita bisa lebih cerdas untuk berbagi.
bukan menjadikan mereka berbeda
tapi terkadang
rasa ini sudah begitu tinggi menjulang
tanpa kenal apa rasa mereka
aku menampar diriku
dan kuingin rasa ini tak pernah singgah dalam dirimu wahai pemimpinku


Salam Para Calon Pemimpin :)



NB : Bukan untuk konsumsi umum. Maaf jika ada ada indikasi menyerang diri kita, tidak akan menimbulkan banyak komplikasi, hanya saja itu berarti hati kita masih sehat :)

April 7, 2012

Yes, THEY ARE MY FRIENDS :)

It's a second year!!!
I wanna go out of my box, just see everything that i can't see in my first. Maybe yesterday i'am a actor for my environment, but NOW, i see ALL of my Friend be a part of the game. 
After collage, they go home and study maybe, or after collage they go to matos for refreshing, but it's yestarday. NOW! They are a being part of the game. Feeling busy, dizziness, angry, and feel happy and so proud that the game is finish. And i'am a spectator, watching one of my best movie for my life.
BUT,
I wanna shouting my voice loudly because my friend is very thin now. Hmm, it's really look so 'g.a.l.a.u'
But it only in her face, in a deep eyes of them, they are so happy! and look so mature :))
Hahaha, Hello boys and girls. we are adult not teenagers again! So, you must have a big deal for your life to upgrade yourself. With study hard, big challenge, and meet very very very much people with a lot of kind and characteristic.
AND some day, you will be a success people and best leader for your little family, for your religion, and for your nation.
AND i will shouting my voice loudly again, and say 'YES, THEY ARE MY FRIENDS'
NB : Latihan untuk bisa menjadi pemimpin dan problem solver di keluarganya kelak. Mungkin agak tidak tega melihat teman-temanku menjadi sedikit tidak 'terawat', tapi di balik itu, aku bangga karena Tuhan sedang menempa teman-temanku menjadi pemimpin umat. Kalau saat level ini saja mereka mundur, maka jangan tanya bagaimana keluarganya kelak. Jadi, saya hanya akna tetap mendoakan mereka, dan menantikan teriakan kebanggan untuk mereka kelak :D
I'M WAITING FOR THIS MOMENT :))

Untukmu, wanita nusantara...

Menjadi seorang perempuan adalah suatu kebanggan tersendiri. Jika memang kita mau memaknainya. Banyak jalan pahala dalam diri wanita. 
Bukan berarti merendahkan kaum lelaki, karena pada hakikatnya sama-sama melengkapi :)
Hanya saja, kali ini, saya ingin sedikit berbicara untuk sosok perempuan, para calon wanita masa depan.

Pasti sudah tahu kan?
Dalam agama saya, seorang ibu begitu dihormati sampai-sampai surga ada di telapak kaki Ibu, dan Ibu pula yang disebut sebanyak 3 kali kemudian barulah ayah.
Di Indonesia, bahkan ada Komisi Perlindungan Wanita
Lalu, setiap orang pasti sering bilang, 'ladies first' sebagai salah satu bentuk penghargaan pada wanita.
Dan untuk bidang kesehatan, dalam kondisi sehatpun, penyuluhan pasti diutamakan untuk perempuan, seperti Penyuluhan untuk remaja putri, untuk Ibu hamil, dan Ibu menyusui.
Yap, namun begitu, sudah sering juga kita mendengar, jika memang wanita itu tidak tahu kodratnya, maka di neraka kelak yang akan lebih banyak menghuni adalah kaumnya.
Naudzubillah..

Maka dari itu, jika memang ingin menyebar manfaat dan menuai pahala, maka wanita, siapkan diri ini dan teruslah belajar untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Bagaimana caranya?

Lupaku, Malu

Lupaku, Malu
Bahwa Tuhan tak pernah tidur
Dia tak pernah merasa bosan dan suntuk
Meski khilaf yang dilakukan hambanya
telah dilakukan berualang kali

Tapi, aku lupa
Anggap remeh bahwa akupun pernah tahu yang seperti ini
Meski dalam tempat dan waktu yang beda

Lupaku, Malu
Suntuk dengan permainan yang ada
Padahal belum tentu juga tetap bisa finish dengan hebat

Lupaku, Malu
Karena selalu bertanya pada Dia tentang dia
Padahal, Rabbku pun bahkan tak pernah bosan menyuruhku untuk bersabar

Lupaku, Malu
Bahwa aku hanyalah berada pada bumi yang bisa dipijak
padahal masih ada 7 langit yang dijunjung

Lupaku, Malu
Meski aku tahu,
tetap aku selalu pinta
Allah, beri aku sesuatu yang baru
Maaf ya Allah, kali ini aku benar-benar bosan.
>.<


Balada Sambel Terong dan Bus Patas

Pagi itu, aku berniat untuk membeli sarapan di warung dekat dengan kosan. Dan disitu terjadi sedikit perbincangan dengan si ibu penjual makan.
Ibu : "Waduh mbak, harga2 makanan sekarang itu naik semua ya mbak? lombok aja jadi 50 mbak."
Saya : "lho iya ta bu, kan BBM ndak jadi naik, harga tetap belum turun nggih Bu?"
Ibu : "Belum mbak, apalagi terong itu mbak, naiknya banyak dari 2500 jadi 7500."
Saya : "Oh gitu ya Bu." (sambil tersenyum mengangguk)
Ibu : "Iya, terus bus patas itu lho mbak, BBM belum naik sudah naik duluan yah. jadi 20 ribu sekarang kalau ke Surabaya. Terus kalau BBM gak jadi naik gimana itu mbak, masak tetep segitu. Wah, gini ini susahnya ntar kebutuhan pokoknya itu lho mbak."
Saya : "Heheh, iya Bu. Sampun Bu, monggo." (Saya segera mengakhiri percakapan karena memang pesanan sudah didapat dan memberikan senyum luar biasa pada si ibu)

Kemudian sampai di depan pintu pagar kos. Ada yang jual es cendol dan mbak-mbak mahasiswa yang beli, samar saya dengar pembicaraan mereka, "iya Pak, ke surabaya bus patas harganya sekarang 20ribu, dulu 15 ribu. Itu malah naiknya sebulan sebelum BBM mau naik. Lha habis rame-ramenya banyak kecelakaan bus itu lho pak."

(walaupun gak munafik juga saya dan keluarga saya sempet kaget terkait harga bus patas ini. jadi males juga naiknya, karena buang duit. mending naik kereta 4ribu :P)

Aku tak bisa banyak berbicara. Karena memang aku tak suka yang seperti itu. Hanya saja mendengar pernyataan itu ada sesuatu yang ingin saya utarakan sebenarnya. Bersama dengan pernyataan dosen saya yang dengan singkatnya bilang "BBM naik banyak yg protes yah, kalau harga rokok naik, diam semuanya."
Padahal intinya sama-sama kalau berimbas ke kebutuhan pokok. Iya kan?
BBM naik -> transportasi  naik harga -> beli barang jadinya tambah mahal karena berat di ongkos
Rokok naik -> mengurangi jatah buat beli kebutuhan pokok -> apalagi kalau tiap hari berpuluh gulungan yang di hisap.

Hm, sama dengan pernyataan di salah satu grup FB saya.



Yah, jadi ingat kata Bapak. Kalau di negara Indonesia ini, pemimpinnya ya pemerintah. Mereka adalah amirnya masyarakat Indonesia. Jadi selalu didoakan saja tetap bisa memberikan kebaikan. Toh gak gampang ada di posisi mereka itu.

Dan menanggapi demonya, hm, ini negara demokratis, jadi ya gak salah juga. Intinya semua orang itu pasti ingin Indonesia lebih baik lagi, dengan caranya, dan dengan pemikirannya masing-masing. Lantas pertanyaan baru muncul di benak saya, kapan bisa jadi sevisi ya kalau mikirnya tetap 'masing-masing'.
HAHAHAH, yah, karena Indonesia negara demokratis kawan. Kalau kata Mada, if you know what i mean :)

April 5, 2012

Cerita di Gerbong 3 Kereta Penataran

Pagi itu saya kembali berkesempatan untuk menikmati suasan kereta api, yah karena memang ada kuliah pagi dan harga bus patas lebih mahal, jadi naik kereta penataran pukul 04.35 dari stasiun Gubeng Surabaya menjadi pilihan saya.
Gerbong 3 dengan kursi nomer 16c. Kursi itu kebetulan menghadap ke arah jalannya kereta menuju Malang. Sejajar dengan kursi 16a dan 16b, serta bersebrangan dengan 15a-b-c. Berarti ada 6 penumpang yang seharusnya duduk di situ, namun, tidak pada pagi ini. 6 kursi itu hanya diisi oleh 4 orang. Saya, kemudian berhadapan dengan ibu berkerudung seumuran 50an tahun, kemudian ada ibu muda berkerudung juga yang kebetulan naik bersama dengan suaminya. 
Dan inilah yang menarik perhatian saya pagi itu. Pasangan suami istri yang duduk sekomplek dengan saya di gerbong 3. Sedikit mendeskripsikan mereka (mohon maaf ya buat mbak-masnya). Istrinya berkerudung biasa, umurnya sekitar 30-35 tahun, dan mempunyai anak 2 orang (ini hasil dari curi dengar saya setelah si ibu ini telp ke seseorang yang sepertinya sedang dititipi anaknya), dan istri ini termasuk orang yang sepertinya sangat hormat dan menyayangi keluarga dan suaminya, meskipun pada kali ini mungkin mereka ada keperluan penting sehingga terpaksa meninggalkan anak-anknya. Dan suaminya, sangat bertolak belakang dengan istrinya. Penampilannya (mohon maaf) seperti preman. Beliau rambutnya panjang dan memakai slayer di kepalanya. Celananya tidak sobek-sobek memang tapi bak seperti seorang preman ada rantai yang menjuntai dari saku kanannya. Memakai sepatu kets (mohon maaf sekali lagi) yang sedikit lusuh. 
Jujur, buat saya pribadi. Kesan pertama yang saya tangkap tentu adalah kesan yang kurang baik untuk beliau (si suami). Namun, perjalanan 2.5 jam di kereta itu sungguh membuat saya malu pada diri sendiri.
Yah sepertinya semboyan "Don't judge a book from the cover" benar-benar terjadi kali ini. Kejadian pertama. Si suami ini hendak menaikkan kakinya di kursi (duduk bersila), namun sebelum itu beliau meminta izin dengan logat bahasa jawa halusnya ke orang-orang sekitar situ. Terutama pada ibu yang berkerudung di depan saya. "Bu, nyuwun sewu, sikil kula angkat, niki rade kesel". Begitu katanya.
Kejadian selanjutnya. Pasangan suami istri ini sedang membicarakan ayat al-quran. Saya memang sengaja menutup mata, agar terkesan seperti tidur, tapi sejujurnya telinga saya sangat awas. Yah, saya dengarkan kembali dengan cermat. Sambil badan saya sedikit serong ke arah si istri, untuk mencuri dengar. Yap! Betul! Al-Fatihah. Itu yang sedang mereka bahas. Kedua suami-istri ini sedang memabahas lebih dalam makna dari surat pembuka dalam al-quran itu. Tidak-tidak, bukan hanya sekedar terjemahan, tapi penjelasannya juga. Dan luar biasanya, itu yang sedang menjelaskan adalah si suaminya. Sangat detail dan yah, begitulah penjelasannya memaknai al-fatihah dalam kehidupan sehari-hari. Wuiiih, saya sedikit tertampar. 
Menerawang jauh mengingat teman-teman saya, saudara saya, dan mungkin keluarga saya. Mereka semua sepertiny berpenampilan yang menurut saya pribadi, sangat jauh dari si suami itu, namun belum tentu mau belajar dan memahami ayat Allah sebegitu detailnya. 
Dengan kejadian terkahir yang membuatku benar-benar tersenyum sangat bangga pada agamaku. Jadi ceritanya, ada bapak yang lewat buat jual buku di gerbong itu. Dan piliha bukunya pun sangat beragam, salah satunya ada buku Surat Yasin dan Tahlil. Lalu belilah si suami ini seharga 5 ribu perak, kemudian beliau membacanya dengan seksama dan membaca artinya juga, bahkan mengulang setiap artinya yang kurang dipahami selama 3 kali (Sambil dilafadzkan, makanya saya tahu). Kemudian dia berkata, "wah iki mesti digoleki maksude satu-satu ini, cek paham". Begitu katanya.
Jadi inilah agamaku kawan, untuk semua umat, untuk semua kalangan, untuk semua orang, untuk semua jabatan, untuk semua ras dan bangsa, untuk semuanya.
"Don't judge a book from the cover" 

March 20, 2012

SELAMAT ULANG TAHUN
buat aku, Mas Hakim, Fahmi
Mbak Rosyidah, Fakhri

Sekalian dah,
buat Ibuku, buat Sheila

Tasya juga :)

SELAMAT ULANG TAHUN

3 bulan penuh dengan berkah di rumah

amin
:')
2012

dua puluh cinta, cita, dan cerita

dua puluh cinta
membuat rasa yang tak kunjung padam
membuat warna yang melebihi pelangi
membuat tawa pada langkah


dua puluh cita
terbentang dalam lazuardi alamku
terukir manis dalam setiap pohon kehidupan
terpatri dalam relung terdalam sang jiwa


dua puluh cerita
menghiasai dalam setiap tahun
mewarnai di setiap masa


dua puluh
terlewati
dalam cinta, cita, dan cerita
dua puluh
selamat datang
cinta, cita, dan cerita
'lagi'


:)



terima kasih :')