March 9, 2010

Kata dari Pak Guru

Ia, adalah seorang gadis belia dengan segudang prestasi.
Cantik, pintar, dan kaya.
Gita namanya. Dia menjadi idaman cowok-cowok di sekolahnya.
Kisah ini bermula saat Gita duduk di kelas satu SMA negeri ternama di Jakarta.

Kali ini adalah ulang tahunnya yang ke 16.
Mungkin memang bukan pesta, hanya syukuran kecil yang dia lakukan
bersama teman-teman satu kelasnya. Dan saat itu pula, dia merasa begitu
istimewa dan bak putri raja, karena tepat di hari ultahnya itu,
dia menjadi pacara seorang cowok terkeren di sekolahnya itu.
Dan, seprti biasanya, di setiap hari ulang tahunnya, pasti ada
saja kado istimewa yang disiapkan oleh mama papa Gita, dan juga
kakak laki-laki satu-satunya. Dan karena dia termasuk keluarga yang
kaya, maka kali ini dia mendapat sebuh HP baru dari sang papa.
Satu tahun di sekolah itu terasa amat menyenangkan bagi Gita. Dia
selalu bersenang-senang dengan kawan dan pacarnya. Menjelajah satu mall
ke mall yang lain. Menjajal setiap restoran yang ada di kota tersebut.
Hingga akhirnya, dia harus merasa sedikit frustasi karena ditinggal
oleh sang kekasih. Mereka putus hubungan, karena sang pacar harus kuliah
di luar negeri dan dia tidak bisa melakukan LDR.
Yah, itulah resiko punya pacar yang lebih tua.
Sedih, dan marah. Tapi itu hanya berlangsung sebentar karena dia selalu
mendapat kasih sayang lebih dari cowok lainnya dan tentu saja dari keluarganya.
3 tahun masa SMA adalah masa yang sangat sangat bahagia buat Gita.
Dia tak pernah merasa sedih dan tertekan secara berlebihan. Karena
ada mama papa, ada Kak Rendy, adan teman-teman dan kekasih barunya.
Hingga dia kini duduk di kelas tiga SMA dan 2 bulan lagi akan
menghadapi ebtanas.
Tak tahu mengapa, tapi yang jelas, kali ini kehidupan
serasa berputar sepenuhnya. Hampir mendekati ebtanas, dia mendapati
sang kekasih mempunyai hubungan lain dengan seorang cewek. Dan
entah mengapa beberapa bulan ini, papa sering kali sakit-sakitan.
Dia kembali merasa down. Tapi meski begitu, papa tetap dan terus saja
memberikan motivasi buat Gita.
Beberapa bulan berlalu, Gita lulus. Tapi dengan nilai yang sangat tidak
memuaskan, bahkan dibilang sangat mepet. Dia mencoba untuk tetap tegar,
walaupun itu sebenarnya adalah hal yang sangat susah untuk Gita.
Tak lama dari hari kelulusan Gita, dia kembali mendapat musibah besar.
Sang papa meninggalkan Gita untuk selamanya. Belakangan diketahui
bahwa papa mengidap penyakit kanker dan sudah berlangsung selama 3 tahun ini.
Dan dalam keadaan yang begitu kalut tanpa mama, papa, dan Kak Rendy di sampingnya
Gita menjali tes masuk perguruan tinggi dengan kemamapuan dan mental seadanya.
Kak Rendy memilih untuk menjaga dan membesarkan hati mama. karena mama
memang benar-benar merasa terpukul dengan kepergian papa.
Dan Gita menyadari itu, walaupun sebenarnya dari lubuk hatinya, dia tak
terima dengan keadaan itu.
Semuanya serasa berubah memang. Kak Rendy sendiri kini harus bekerja
banting tulang untuk meneruskan kehidupan mereka.
Mobil Gita akhirnya dijual untuk membiayai kuliah dan hidup Gita,
karena akhirnya Gita diterima di jurusan komunikasi sebuah universitas di
Solo.
Gita harus menjalani ini semua, sendiri. Tanpa orang lain di sampingnya,
yah walaupun, kak Rendy dan mama tetap mengantarkannya ke Solo, dan
dengan sedikit tangisan dan harapan besar, sang mama merelakan putri kecilnya
itu untuk belajar tumbuh dewasa.

Tak terpikirkan sebelumnya oleh Gita. Ini adalah wala yang sangat sulit
untuk Gita. Dia menangis sendiri kali ini. Tanpa siapa pun.
Belum satu jam ditinggal pulang oleh sang mama dan kakak, dia sudah
sangat rindu mereka, dan papa. Andai papa dan di sampingnya kali ini.
Namun, tiba-tiba, Gita teringat dengan kalimat dari sang gurunya dulu
saat di bangku SMA, pak guru dulu pernah bilang "Nak, dengarkan omongan saya,
suatu saat kelak, kamu pasti tidak akan bersama orang tuamu, meski sulit
kamu harus tetap menjalani itu. Suatu saat kamu pasti akan merasakan hidup
di atas kedua kakimu, tanpa orang lain, bahkan, lebih bagus lagi
jika kelak kamu bisa membantu orang lain tetap berdiri. Kamu akan jadi orang
hebat kalau bisa begitu nak"

Itu adalah kalimat guru Gita yang dulu tak pernah dia pikirkan, dan bahkan
tak pernah sedkit pun Gita renungkan.
Dan kini,Gita merasakan itu.

Selang beberapa tahun berlalu. Aku bersyukur masih punya daya dan kesdaran
untuk melanjutkan hidupku. Aku menyesal, karena tidak menggunakan waktuku
sebaik-baiknya.
Tapi aku tak mau kesempatan itu berlalu untuk yang kedua kalinya.
Kini, aku bekerja di suatu perusahaan advertising. Dan kakakku sudah sukses
dengan perusahaan konsultan industri yang telah dibangunnya selama 6 tahun ini.
Dan mama, meski sudah banyak kerutan di wajah cantik mama, tapi
aku berusaha untuk menghadirkan sunggingan senyuman di bibir tipis mama.
Aku bekerja keras ini, ingin aku tujukan untuk mama.
Dan kawan-kawan lamaku, mereka juga sukses. Terutama mereka yang sudah sadar dan
menjalankan ilmu dari guruku.
Mungkin mereka lebih mandiri dan lebih siap untuk menghadapi tantangan, tapi
bukan berarti aku tak bisa kan??
Kini, aku bisa berdiri dan berjalan di atas kakiku.

Itu adalah cerita Gita. Kini Gita merayakan ultahnya yang ke 23 tahun.
Gita tak mendapat kado apapun, tapi dia memang tak mengharapkannya.
Tapi kali ini Gita punya cara lain untk merayakannya, dia pergi ke panti asuhan.
Dan itulah kado indah untuk Gita.

March 8, 2010

It's My Day

Happy Birthday. Happy Birthday
Happy Birthday to me...
Hmm,,
today it's my birthday
today it's my bornday
18 years ago
Many prayers that I prayed to. Many thanks are going I say. And many dreams that I had to realize.

yes,
This is the beginning of my long journey.This is the starting point should I choose,until eventually I see many other options I'm going through.

hupff,,
happy, scared, and curiousI feel that,
but, I must remain conscious,that this trip will not be back,I would still go through to the front,and make my experience as a lesson.
Thus,now I'm standing at a point 18 yearsI will graduate from high school
I'm going to college
and I will have friends, experiences, and new life.
I'm sure I'll get through it
with spirit
and protection from God ..
Welcome to my new life:))
 

March 3, 2010

Ready To Fly

Verse 1
I open my eyes the world seems a different place,
The colours are brighter and the air is sweet to taste.
see it’s like I woke up from a nightmare that tied me down,
I was smothered and trapped inside a sleep way underground

Pre 1
Its time I learned to fall,
To say the word goodbye.
To feel the sunlight on my face,
Maybe that means…

Chorus
I’m ready to fly,
I wanna breathe in and breathe out and be who I am,
Let go of fear wanna feel alive.
I’m ready to fly,
The more that you hold me back you set me free,
You help my heart decide..oohhh
Maybe I’m, maybe I’m ready to fly.

Verse 2
Where is your faith, where is your love for me?
Why do you fight the things I imagine in my dreams?
See the poison is strong, an addiction is tough to break.
But love is the hardest thing I have ever had to shake.

Pre 2
Its time to break these chains,
To look you in the eye,
To tell you that its over now,
So Maybe that means…

Chorus
I’m ready to fly,
I wanna breathe in and breathe out and be who I am,
Let go of fear wanna feel alive.
I’m ready to fly,
The more that you hold me back you set me free,
You help my heart decide..
Oh Maybe I’m, maybe I’m ready to fly.

Bridge
(Give me the strength to walk away)
(Give me the strength to stay the road ahead)
Even if it’s a lonely place.
(Give me the hope to mend this heart)
(Give me the chance to see love smile, smile again)
To see love smile..

Pre 1
Its time I learned to fall,
To say the word goodbye.
To feel the sunlight on my face,
Maybe that means…Oh maybe that means

Chorus
I’m ready to fly,
I wanna breathe in and breathe out and be who I am,
Let go of fear wanna feel alive.
I’m ready to fly,
The more that you hold me back you set me free,
You help my heart decide..
Oh maybe I’m, maybe I’m ready to fly


Amy Pearson Feat. Rio Febrian

formspring.me

FK unair apa FK ui?

waduh adekku sayang, pertanyaanmu to the point banget,, wehehe,,
sedikit curhat, beberapa hari lalu, aku mimpi, ini gak tahu petunjuk, gak tau cuma sekedar bung tidur yaa, yang jelas, sebenarnya dari dalm diriku dan keinginanku itu, aku ndak seberapa suka sma fk, karena itu bukan diriku sebenarnya,,.

Sebenarnya juga itu keinginan ortuku dek, buat milih fk. Jadi ya, sekarang kalo ada tes2, aku milih pertama,sesuai keinginan ortu, dan yang kedua, sesuai sama kata hatiku. Doakan ya sayang :)

Kamu juga semoga sukses, dan harus lebih baik saat kelas 3 nanti..

Ask me anything

February 28, 2010

formspring.me

Ask me anything http://formspring.me/adadiba

Ini Cerita Tentang Polisi

Mungkin memang kita semua tahu dan kenal siapa Polisi itu?
Dan dengan seragamnya yang gagah, kita juga tahu persis apa tugas dari seorang Polisi.

Aku menceritakan ini, karena menurutku, ini sangat merusak citra Polisi dalam pikiranku.
Jujur, selama ini, aku begitu kagum dengan sosok polisi.
Dia, begitu gagah, tangguh kuat dan penuh adil untuk menegakkan kedamaian dan
keamanan di Indonesia.
Dan aku pun tak pernah sekalipun menghiraukan kalimat-kalimat yang keluar dari bibir masyarakat
tentang polisi.
Jadi selama 17 tahun itu, aku masuk dalam pikiran-pikiran dan fantasiku sendiri tentang Polisi.

Namun, beberapa hari yang lalu.
Saat aku duduk di kelas bimbingan belajarku. Seperti biasa, aku bersama dengan kawan baikku yang imut
dan lucu dan lugu dan sangat polos.

Dia dengan sangat santainya dan dengan suaranya yang memang masih seperti anak-anak berkata dengan lancar,
"Tapi, Mama sekarang miskin soalnya gak banyak dapet tilangan."

Waw, bagai disambat petir yah (bahasa super alloy ;-*)
Aku kaget dengan ucapan lugu kawanku itu.

Kadang aku ingin sekali menghilangkan pikiran-pikiran itu. Aku ingin tetap ada
pada fantasi dan imajinasiku yang sudah aku tanam sejak dulu tentang polisi.
Selalu berpikir positif dengan segala hal yang ada di bawah alam sadarku.
Aku ingin selalu seperti itu.
Pasti sangat menyenangkan bukan??


PS: Tapi aku tetap menyadari bahwa, itu hanya diakukan oleh beberapa oknum,
karena aku sangat yakin dan percaya bahwa, lebih banyak Bapak ataupun Ibu Polisi
yang jujur, baik hati, dan tidak sombong. Oke ;)
Maju Terus Kepolisian Indonesia.

February 22, 2010

Ini Bukan Yang Pertama

Ini memang bukan yang pertama kali.
Akhir-akhir in sering terjadi pada saya.
Saya merasa sangat berantakan.
Sangat Berantakan.
Mungkin sebenarnya saya tahu apa penyebabnya,
tapi mungkin saja tidak.
Andai bisa saya ingin mengunkapkannya pada Anda.
Dengan ekspresi senang, sedih.
Dengan muka yang tertawa dan menangis.

February 13, 2010

it seems that i start to feel revolted and tired with everything
Yahh,, 36 days before the day.
Of course you know what i mean.
UNAS.
I never thinking that it will make me frightened,
okelah, maybe yes, i'm afraid.
But it just s little bit.
So, what makes me feel revolted and tired??

Ahhhhhhh,,
it's really hard.


oke, but i still believe and always believe,
I CAN DO THAT !!!

It's up to how hard this all, for sure I've had other serious, 
and buzzz, look! 

 I could :)


February 10, 2010

AdA HuTaN di SuRaBaYa, ASLI!!!

Mungkin ini tak akan pernah kulupa dalam setiap langkah kakiku.
Ini juga akan terus dan terus kuingat sepanjang hidupku.
Hari itu, Senin 25 Januari 2010.
Hari itu adalah hari pertama di libur sekolahku.
Aku dan teman-temanku (para pejuang islam a.ka akhwat SKI, amin) memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan ini dengan mengadakan kajian plus rekreasi atau yang biasa kita menyebutnya Taddabur Alam.
Kami semua akan pergi ke tempat wisata alam pertama yang konon ada di Suarabaya.
Mungkin di benak kita, kita tak pernah percaya bahwa di Surabaya masih ada yang namanya sawah, tambak ikan,dan juga sebuah hutan bakau??
Tapi ini memang benar-benar ada, bukan hanya sekedar Kenjeran yang sekarang tidak lagi alami, Surabaya punya yang namanya Hutan Bakau saudara-saudara..
"BOSEM WONOREJO" namanya.
Awalnya kita berpikir, bahwa saat kita turun dari mobil yang kita tumpangi, maka hutan bakau akan terpampang dengan indah di depan mata kita. Tapi itu ternyata salah besar saudara-saudara..

"Lho, mbak mau kemana?"
"Mau ke Hutan Bakau Pak. Ini benar kan Pak, Hutan Bakau itu? Hutan Bakaunya di mana ya Pak?"
"Wah, kalau mau ke hutan bakau masih jauh mbak. Sekitar 3-4 kiloan. Biasanya sih ada kapal-kapal dan perahu-perahu kecil
yang ngangkut langsung ke sana mbak. Tapi itu kalau memang jumlahnya 40 orang mbak. Dan sekarang juga lagi sepi, kan hari kerja mbak.
Jadi yang kapal-kapalnya libur mbak."
"Tapi kalau mau ke sana jalan kaki bisa Pak?"
"Oh, bisa kok mbak. Lewat tengah-tengah pematang tambak-tambak ini mbak. Nanti juga banyak rumah-rumah orang yang nelayan.
Mbaknya bisa tanya-tanya juga arah-arahnya mbak. Tapi nanti mbak lihat-lihat ya, kalau memang sekiranya di arah selatan mendung, mending mbaknya balik saja. Di sana nanti juga banyak monyet mbak. Monyet liar."
"Jadi bisa ya pak. Trus kira-kira makan waktu berapa jam ya Pak kalau jalan kaki?"
"Yah, paling sekitar satu jam mbak."
"Oh nggih Pak. Matur nuwun nggih Pak"

Setelah kita melaksanakan Sholat Dhuhur dengan menumpang di tempat mes-nya orang-orang di sana, kami pun dengan
semangat dan senyum yang lebar mulai menapaki jalan-jalan setapak di pematang tambak-tambak tersebut.
Jalanan setapak itu juga tak semulus semangat kami. Jalanan iu penuh dengan lumpur yang sedikit basah lantarasn gerimis
yang baru saja muncul. Banyak teman-temanku yang sedikit mulai gerah karena sepatunya terasa berat dengan tumpukan lumpur di bawah alas kakinya.
Jarak sekitar 800 meteran, ada sebuah rumah kecil atau lebih tepatnya sebuah gubuk sementara dan muncul seorang lelaki
yang kira-kira berumur 35an, menyapa kami.

"Mbak mau kemana mbak?"
"Mau ke hutan bakau Pak" jawab kami serempak dan semangat.
"Waduh mbak, jauh itu mbak. Kasihan mbaknya nanti juga kalau hujan mbak. Jauh lho mbak.
Lihat ini sudah mendung mbak. Di sana juga gak ada apa-apa mbak. Cuma laut tok."

Semangat kami sedikit goyah. Ditambah lagi dengan raut muka beberapa temanku yang sepertinya ingin berteriak,'Ahh, pulang saja yuk. Bapaknya sudah bilang jauh itu. Paling kita nanti gak bisa sampe sana', tapi tetap mereka pendam dalam hati.

"Lho Pak, memang benar ya Pak, di sana nanti tembus ke laut Pak?"
"Iya mbak. Tapi ya itu tadi mbak. Jauh mbak. Kaishan mbaknya daripada nanti di tengah-tengah hujan kan malah susah juga kan mbak."

Kita semua saling berpandangan. Sepertinya banyak yang ingin kita ungkapkan, tapi sulit.
Seakan paham dengan muka kita dan pandangan kita, Bapaknya kemudian berkata :

"Tapi kalau mbak-mbaknya ini mau ke sana juga ndak apa-apa. Monggo.
Tapi ati-ati ya mbak. Nanti kalau sekiranya mendungnya tambah gelap, mbak-mbaknya langsung balik saja ya mbak"
"Tapi bisa kan Pak kalau jalan kaki?" Tanya kami meyakinkan.
"Ya bisa."

Dan akhirnya, kita Lanjut!!!
Wah, wah, sepertinya Bapak tadi salah menyebutkan bahwa di ujung jalan setapak ini akan ada laut.
Karena itulah penyebab utama kenapa kaki ini terus melangkah.
Hingga 1 kilo; 1,5 kilo; 2 kilo; 3 kilo terlewati.
Makin lama jalan setapak itu semakin menunjukan ketidakbersahabatannya.
Jalannya semakin licin karena lumpur yang lebih basah dari jalan sebelumnya.
Cuaca yang kadang-kadang cerah, kemudian mendung.
Dan yang pasti suasana yang benar-benar sunyi.
It's not Surabaya i think.
Karena yang terdengar kala itu hanya tawa kita yang menggema, suara-suara burung dan suara angin yang menyapu pepohonan.
Hanya sauara itu yang ada, tak ada kebisingan mobil, jalan raya, seperti jika kau berada di tengah kota Surabaya.
Hingga sampai pada saat suara-suara itu semakin berkurang. Bukan karena semakin pelan melainkan hanya tinggal suara angin sendirian karena ditinggal oleh suara-suara burung dan kita yang tak lagi berbicara dan tertawa.
Kedengarnya menjadi semakin mencekam, karena suara tarian-tarian pohon yang tersapu angin menjadi semakin keras dan keras.

"Ini beneran ta mbak, jalannya ke sini?"
"Iya mbak, sepertinya tidak berujung mbak"
"Ya Allah, rokku. Sepatuku kotor semua kena lumpur."
"Mbak capek aku mbak. Ini gak salah ta? Ayo balik mbak."
"Waduh, Ibuku sudah telpon ini"
"Aku yakin di ujung sana memang ada laut."
"Sok tahu kamu. Kita semua lho belum pernah ada yang ke sini."

Semua menjadi komentator yang handal saat itu. Semuanya lelah, lapar, dan kesal. Kita menjadi sedikit bertengkar karena kelelahan itu.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mbak Mega saat itu, yang notabenenya menjadi yang tertua dari kami semua
yang ada di situ.

"Mbak gimana ini? Apa sebaiknya kita balik saja. Sepertinya kita benar-benar tidak punya tujuan dan arah yang pasti?"
"Ayo, Adiba ikut mbak Mega sebentar yuk, ke sana. Kita coba tanya gubuk berikutnya, kira-kira masih jauh apa gak? Dan sekalian kita tanya apa mereka punya perahu yang bisa kita sewa buat kembali ke tempat tadi. Daripada, jalan balik kan, nanti kita makin capek."

"Bu, permisi. Bu, hutan bakaunya masih jauh nggih Bu?"
"Mboten nak. Sampun celak meriku nak. Niku seng wonten gendera niku pun tutuk Pos Pantau nak."
(tidak dek. Sudah dekat ke situ nak. Itu yang ada benderanya itu sudah sampai di Pos Pantau dek)
"Oh nggih. Ibu mboten nggadah perahu Bu. Mangke kula sambut."
(Oh iya, Ibu tidak punya perahu nanti saya pinjam)
"Mboten nak. Nggih mending sampean meriku mawon. Timbange sampean balik niku luwih tebi nak, timbang sampean ten pos pantau niku. Ngken ten meriku sampean saged oleh perahu nak. Mangke katah seng lewat nak, nek ten meriku."
(Tidak punya dek. Lebih baik kamu ke sana saja. Daripada balik ke sana jalan, itu lebih jauh, lebih baik lanjut ke pos pantau itu Nanti di sana
bisa dapat perahu. Banyak yang lewat kalau di sana)

Dan dengan arahan dari si Ibu baik hati yang tidak mau menerima sedikit pemberian kami dan dengan kalimat-kalimat penyemangat dan kata-kata positif dari mbak Mega dan juga keyakinan kuat yang memancar dari sorot matanya, kami semua, -walaupun dengan sisa-sisa tenaga dan
asa yang sedikit pupus- kembali meneruskan perjalanan yang ternyata memang sudah semakin dekat.

Kami akhirnya menemukan Pos Pantau yang kita maksud dari awal. Sedikit lega memang. Tapi itu tidak habis sampai itu saja.
Kita kembali dihadapkan dengan seekor monyet. Memang cuma 2 ekor. Tapi itu sudah membuat kita menjerit-jerit ketakutan. Karena monyet itu begitu genit berdiri dan ingin memeluk kita semua. (hhehehe X)) memang si monyet gak pernha liat wanita-wanita cantik seperti kita kali yee)
Dan dengan bantuan seorang bapak berbaju kuning yang mau mencarikan kami perahu tumpangan, kami menunggu di gazebo yang memang sudah disediakan di sana.
Gazebo itu unik, bagus dan indah. Tepat di atas pinggir laut. Jadi kita bisa menikmati pemandangan laut yang sangat luas dan indah.

Sungguh goresan Illah yang tak mampu ditiru oleh siapapun. Langit dan laut yang kita lihat seakan menyatu di ujung sana.
Indah. Tapi tetap saja, kita takut. Karena si monyet benar-benar sudah jatuh hati dengan kami semua :9.
Ditambah lagi, saat kita menginjakkan kaki di gazebo itu, hujan disertai angin yang sangat kencang datang.
Jujur, saat itu tak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa dan tetap ngeksis (alias foto-foto). Sambil menunggu perahu tumpangan nelayan datang.
Karena ya, kita berpikir nikmati saja apa yang ada di depan mata kita.
Walaupun sebenarnya aku sendiri yakin, bahwa jauh di lubuk hati kita masing-masing, kita sedang berdoa agar ini semua
bisa berakhir dan kita bisa pulang.

Kurang lebih sekitar 20 menitan yang terasa sangat panjang karena keadaan kita yang takut, akhirnya hujan sedikit reda dan angin tak lagi kencang.
Kita juga bisa menemukan perahu nelayan yang rela hati menampung dan mengantarkan kami sampai ke tempat kami memulai langkah kaki.

Dan di atas perahu itu, aku benar-benar sangat bahagia. Tak tahu seberapa bahagianya aku saat itu, tapi benar-benar bahagia dan lega yang tak terkira.
Banyak hal takjub yang ku coba untuk ulangi dari awal hingga aku berada di atas perahu itu.

Mungkin aku (kami) tak pernah mau dan mampu melanjutkan perjalanan itu, jika bapak di gubuk yang pertama tadi tak mengatakan bahwa di ujung jalan satepak ini
akan ada laut. Dan akhirnya aku bersyukur, ternyata kata-kta yang diucapkan Bapak tersebut tidak salah. Sangat benar. Karena kalimat 'laut' itulah yang membuat kami penasaran sehingga kaki ini tetap melangkah.
Mungkin tanpa orang seperti mbak Mega yang ikut dalam perjalanan kami, kami akan pulang lebih awal, dan tentunya baju dan sepatu/sandal kami tidak kotor lantaran kita memilih untuk berhenti sebelum berjuang.

Mungkin kita memang menemui banyak sekali rintangan,mulai dari kalimat si Bapak pertama yang bilang bahwa itu sangat jauh kemudian jalan setapak yang menjengkelkan hingga mebuat alas kaki kita kotor dan kita pun akhirnya perlu melepas kaki, dan sedikit pertengkaran kami karena pikiran kita masing-masing yang sudah tidak sepaham, tapi kita juga banyak menemui sosok-sosok baik hati yang juga membantu kita mewujudkan impian kita walaupun dia menolong secara tidak langsung. Si Ibu dan Bapak berbaju kuning yang dengna ikhlas mau membantu kami.
Para nelayan yang mau sedkiti berbagi tempat di perhu munglinya.

Dan yang terpenting
"Memperjuangakan sesuatu impian yang tidak tampak oleh mata kita itu memang sangat sulit. Kita benar-benar butuh iman yang lebih kuat, tekad setebal baja, mata yang lebih kuat untuk melihat, pikiran yang lebih jernih untuk menentukan langkah, dan tentu saja doa yang lebih banyak untuk diucapkan."

Saya dan teman-teman tidak jadi kajian hari itu, tapi kami langsung praktek terjun ke lapangan.

Haahh, kelak, bisa kuceritakan ini pada siapa saja. Dan semoga bisa membawa berkah dan hikmah dalam hidupku, kamu, dan kita semua. amin.



Kalau pengen foto-foto hasil eksis kita, lihat di Label memories ya X)