Ia, adalah seorang gadis belia dengan segudang prestasi.
Cantik, pintar, dan kaya.
Gita namanya. Dia menjadi idaman cowok-cowok di sekolahnya.
Kisah ini bermula saat Gita duduk di kelas satu SMA negeri ternama di Jakarta.
Kali ini adalah ulang tahunnya yang ke 16.
Mungkin memang bukan pesta, hanya syukuran kecil yang dia lakukan
bersama teman-teman satu kelasnya. Dan saat itu pula, dia merasa begitu
istimewa dan bak putri raja, karena tepat di hari ultahnya itu,
dia menjadi pacara seorang cowok terkeren di sekolahnya itu.
Dan, seprti biasanya, di setiap hari ulang tahunnya, pasti ada
saja kado istimewa yang disiapkan oleh mama papa Gita, dan juga
kakak laki-laki satu-satunya. Dan karena dia termasuk keluarga yang
kaya, maka kali ini dia mendapat sebuh HP baru dari sang papa.
Satu tahun di sekolah itu terasa amat menyenangkan bagi Gita. Dia
selalu bersenang-senang dengan kawan dan pacarnya. Menjelajah satu mall
ke mall yang lain. Menjajal setiap restoran yang ada di kota tersebut.
Hingga akhirnya, dia harus merasa sedikit frustasi karena ditinggal
oleh sang kekasih. Mereka putus hubungan, karena sang pacar harus kuliah
di luar negeri dan dia tidak bisa melakukan LDR.
Yah, itulah resiko punya pacar yang lebih tua.
Sedih, dan marah. Tapi itu hanya berlangsung sebentar karena dia selalu
mendapat kasih sayang lebih dari cowok lainnya dan tentu saja dari keluarganya.
3 tahun masa SMA adalah masa yang sangat sangat bahagia buat Gita.
Dia tak pernah merasa sedih dan tertekan secara berlebihan. Karena
ada mama papa, ada Kak Rendy, adan teman-teman dan kekasih barunya.
Hingga dia kini duduk di kelas tiga SMA dan 2 bulan lagi akan
menghadapi ebtanas.
Tak tahu mengapa, tapi yang jelas, kali ini kehidupan
serasa berputar sepenuhnya. Hampir mendekati ebtanas, dia mendapati
sang kekasih mempunyai hubungan lain dengan seorang cewek. Dan
entah mengapa beberapa bulan ini, papa sering kali sakit-sakitan.
Dia kembali merasa down. Tapi meski begitu, papa tetap dan terus saja
memberikan motivasi buat Gita.
Beberapa bulan berlalu, Gita lulus. Tapi dengan nilai yang sangat tidak
memuaskan, bahkan dibilang sangat mepet. Dia mencoba untuk tetap tegar,
walaupun itu sebenarnya adalah hal yang sangat susah untuk Gita.
Tak lama dari hari kelulusan Gita, dia kembali mendapat musibah besar.
Sang papa meninggalkan Gita untuk selamanya. Belakangan diketahui
bahwa papa mengidap penyakit kanker dan sudah berlangsung selama 3 tahun ini.
Dan dalam keadaan yang begitu kalut tanpa mama, papa, dan Kak Rendy di sampingnya
Gita menjali tes masuk perguruan tinggi dengan kemamapuan dan mental seadanya.
Kak Rendy memilih untuk menjaga dan membesarkan hati mama. karena mama
memang benar-benar merasa terpukul dengan kepergian papa.
Dan Gita menyadari itu, walaupun sebenarnya dari lubuk hatinya, dia tak
terima dengan keadaan itu.
Semuanya serasa berubah memang. Kak Rendy sendiri kini harus bekerja
banting tulang untuk meneruskan kehidupan mereka.
Mobil Gita akhirnya dijual untuk membiayai kuliah dan hidup Gita,
karena akhirnya Gita diterima di jurusan komunikasi sebuah universitas di
Solo.
Gita harus menjalani ini semua, sendiri. Tanpa orang lain di sampingnya,
yah walaupun, kak Rendy dan mama tetap mengantarkannya ke Solo, dan
dengan sedikit tangisan dan harapan besar, sang mama merelakan putri kecilnya
itu untuk belajar tumbuh dewasa.
Tak terpikirkan sebelumnya oleh Gita. Ini adalah wala yang sangat sulit
untuk Gita. Dia menangis sendiri kali ini. Tanpa siapa pun.
Belum satu jam ditinggal pulang oleh sang mama dan kakak, dia sudah
sangat rindu mereka, dan papa. Andai papa dan di sampingnya kali ini.
Namun, tiba-tiba, Gita teringat dengan kalimat dari sang gurunya dulu
saat di bangku SMA, pak guru dulu pernah bilang "Nak, dengarkan omongan saya,
suatu saat kelak, kamu pasti tidak akan bersama orang tuamu, meski sulit
kamu harus tetap menjalani itu. Suatu saat kamu pasti akan merasakan hidup
di atas kedua kakimu, tanpa orang lain, bahkan, lebih bagus lagi
jika kelak kamu bisa membantu orang lain tetap berdiri. Kamu akan jadi orang
hebat kalau bisa begitu nak"
Itu adalah kalimat guru Gita yang dulu tak pernah dia pikirkan, dan bahkan
tak pernah sedkit pun Gita renungkan.
Dan kini,Gita merasakan itu.
Selang beberapa tahun berlalu. Aku bersyukur masih punya daya dan kesdaran
untuk melanjutkan hidupku. Aku menyesal, karena tidak menggunakan waktuku
sebaik-baiknya.
Tapi aku tak mau kesempatan itu berlalu untuk yang kedua kalinya.
Kini, aku bekerja di suatu perusahaan advertising. Dan kakakku sudah sukses
dengan perusahaan konsultan industri yang telah dibangunnya selama 6 tahun ini.
Dan mama, meski sudah banyak kerutan di wajah cantik mama, tapi
aku berusaha untuk menghadirkan sunggingan senyuman di bibir tipis mama.
Aku bekerja keras ini, ingin aku tujukan untuk mama.
Dan kawan-kawan lamaku, mereka juga sukses. Terutama mereka yang sudah sadar dan
menjalankan ilmu dari guruku.
Mungkin mereka lebih mandiri dan lebih siap untuk menghadapi tantangan, tapi
bukan berarti aku tak bisa kan??
Kini, aku bisa berdiri dan berjalan di atas kakiku.
Itu adalah cerita Gita. Kini Gita merayakan ultahnya yang ke 23 tahun.
Gita tak mendapat kado apapun, tapi dia memang tak mengharapkannya.
Tapi kali ini Gita punya cara lain untk merayakannya, dia pergi ke panti asuhan.
Dan itulah kado indah untuk Gita.
Cantik, pintar, dan kaya.
Gita namanya. Dia menjadi idaman cowok-cowok di sekolahnya.
Kisah ini bermula saat Gita duduk di kelas satu SMA negeri ternama di Jakarta.
Kali ini adalah ulang tahunnya yang ke 16.
Mungkin memang bukan pesta, hanya syukuran kecil yang dia lakukan
bersama teman-teman satu kelasnya. Dan saat itu pula, dia merasa begitu
istimewa dan bak putri raja, karena tepat di hari ultahnya itu,
dia menjadi pacara seorang cowok terkeren di sekolahnya itu.
Dan, seprti biasanya, di setiap hari ulang tahunnya, pasti ada
saja kado istimewa yang disiapkan oleh mama papa Gita, dan juga
kakak laki-laki satu-satunya. Dan karena dia termasuk keluarga yang
kaya, maka kali ini dia mendapat sebuh HP baru dari sang papa.
Satu tahun di sekolah itu terasa amat menyenangkan bagi Gita. Dia
selalu bersenang-senang dengan kawan dan pacarnya. Menjelajah satu mall
ke mall yang lain. Menjajal setiap restoran yang ada di kota tersebut.
Hingga akhirnya, dia harus merasa sedikit frustasi karena ditinggal
oleh sang kekasih. Mereka putus hubungan, karena sang pacar harus kuliah
di luar negeri dan dia tidak bisa melakukan LDR.
Yah, itulah resiko punya pacar yang lebih tua.
Sedih, dan marah. Tapi itu hanya berlangsung sebentar karena dia selalu
mendapat kasih sayang lebih dari cowok lainnya dan tentu saja dari keluarganya.
3 tahun masa SMA adalah masa yang sangat sangat bahagia buat Gita.
Dia tak pernah merasa sedih dan tertekan secara berlebihan. Karena
ada mama papa, ada Kak Rendy, adan teman-teman dan kekasih barunya.
Hingga dia kini duduk di kelas tiga SMA dan 2 bulan lagi akan
menghadapi ebtanas.
Tak tahu mengapa, tapi yang jelas, kali ini kehidupan
serasa berputar sepenuhnya. Hampir mendekati ebtanas, dia mendapati
sang kekasih mempunyai hubungan lain dengan seorang cewek. Dan
entah mengapa beberapa bulan ini, papa sering kali sakit-sakitan.
Dia kembali merasa down. Tapi meski begitu, papa tetap dan terus saja
memberikan motivasi buat Gita.
Beberapa bulan berlalu, Gita lulus. Tapi dengan nilai yang sangat tidak
memuaskan, bahkan dibilang sangat mepet. Dia mencoba untuk tetap tegar,
walaupun itu sebenarnya adalah hal yang sangat susah untuk Gita.
Tak lama dari hari kelulusan Gita, dia kembali mendapat musibah besar.
Sang papa meninggalkan Gita untuk selamanya. Belakangan diketahui
bahwa papa mengidap penyakit kanker dan sudah berlangsung selama 3 tahun ini.
Dan dalam keadaan yang begitu kalut tanpa mama, papa, dan Kak Rendy di sampingnya
Gita menjali tes masuk perguruan tinggi dengan kemamapuan dan mental seadanya.
Kak Rendy memilih untuk menjaga dan membesarkan hati mama. karena mama
memang benar-benar merasa terpukul dengan kepergian papa.
Dan Gita menyadari itu, walaupun sebenarnya dari lubuk hatinya, dia tak
terima dengan keadaan itu.
Semuanya serasa berubah memang. Kak Rendy sendiri kini harus bekerja
banting tulang untuk meneruskan kehidupan mereka.
Mobil Gita akhirnya dijual untuk membiayai kuliah dan hidup Gita,
karena akhirnya Gita diterima di jurusan komunikasi sebuah universitas di
Solo.
Gita harus menjalani ini semua, sendiri. Tanpa orang lain di sampingnya,
yah walaupun, kak Rendy dan mama tetap mengantarkannya ke Solo, dan
dengan sedikit tangisan dan harapan besar, sang mama merelakan putri kecilnya
itu untuk belajar tumbuh dewasa.
Tak terpikirkan sebelumnya oleh Gita. Ini adalah wala yang sangat sulit
untuk Gita. Dia menangis sendiri kali ini. Tanpa siapa pun.
Belum satu jam ditinggal pulang oleh sang mama dan kakak, dia sudah
sangat rindu mereka, dan papa. Andai papa dan di sampingnya kali ini.
Namun, tiba-tiba, Gita teringat dengan kalimat dari sang gurunya dulu
saat di bangku SMA, pak guru dulu pernah bilang "Nak, dengarkan omongan saya,
suatu saat kelak, kamu pasti tidak akan bersama orang tuamu, meski sulit
kamu harus tetap menjalani itu. Suatu saat kamu pasti akan merasakan hidup
di atas kedua kakimu, tanpa orang lain, bahkan, lebih bagus lagi
jika kelak kamu bisa membantu orang lain tetap berdiri. Kamu akan jadi orang
hebat kalau bisa begitu nak"
Itu adalah kalimat guru Gita yang dulu tak pernah dia pikirkan, dan bahkan
tak pernah sedkit pun Gita renungkan.
Dan kini,Gita merasakan itu.
Selang beberapa tahun berlalu. Aku bersyukur masih punya daya dan kesdaran
untuk melanjutkan hidupku. Aku menyesal, karena tidak menggunakan waktuku
sebaik-baiknya.
Tapi aku tak mau kesempatan itu berlalu untuk yang kedua kalinya.
Kini, aku bekerja di suatu perusahaan advertising. Dan kakakku sudah sukses
dengan perusahaan konsultan industri yang telah dibangunnya selama 6 tahun ini.
Dan mama, meski sudah banyak kerutan di wajah cantik mama, tapi
aku berusaha untuk menghadirkan sunggingan senyuman di bibir tipis mama.
Aku bekerja keras ini, ingin aku tujukan untuk mama.
Dan kawan-kawan lamaku, mereka juga sukses. Terutama mereka yang sudah sadar dan
menjalankan ilmu dari guruku.
Mungkin mereka lebih mandiri dan lebih siap untuk menghadapi tantangan, tapi
bukan berarti aku tak bisa kan??
Kini, aku bisa berdiri dan berjalan di atas kakiku.
Itu adalah cerita Gita. Kini Gita merayakan ultahnya yang ke 23 tahun.
Gita tak mendapat kado apapun, tapi dia memang tak mengharapkannya.
Tapi kali ini Gita punya cara lain untk merayakannya, dia pergi ke panti asuhan.
Dan itulah kado indah untuk Gita.
No comments:
Post a Comment