Mungkin ini tak akan pernah kulupa dalam setiap langkah kakiku.
Ini juga akan terus dan terus kuingat sepanjang hidupku.
Hari itu, Senin 25 Januari 2010.
Hari itu adalah hari pertama di libur sekolahku.
Aku dan teman-temanku (para pejuang islam a.ka akhwat SKI, amin) memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan ini dengan mengadakan kajian plus rekreasi atau yang biasa kita menyebutnya Taddabur Alam.
Kami semua akan pergi ke tempat wisata alam pertama yang konon ada di Suarabaya.
Mungkin di benak kita, kita tak pernah percaya bahwa di Surabaya masih ada yang namanya sawah, tambak ikan,dan juga sebuah hutan bakau??
Tapi ini memang benar-benar ada, bukan hanya sekedar Kenjeran yang sekarang tidak lagi alami, Surabaya punya yang namanya Hutan Bakau saudara-saudara..
"BOSEM WONOREJO" namanya.
Awalnya kita berpikir, bahwa saat kita turun dari mobil yang kita tumpangi, maka hutan bakau akan terpampang dengan indah di depan mata kita. Tapi itu ternyata salah besar saudara-saudara..
"Lho, mbak mau kemana?"
"Mau ke Hutan Bakau Pak. Ini benar kan Pak, Hutan Bakau itu? Hutan Bakaunya di mana ya Pak?"
"Wah, kalau mau ke hutan bakau masih jauh mbak. Sekitar 3-4 kiloan. Biasanya sih ada kapal-kapal dan perahu-perahu kecil
yang ngangkut langsung ke sana mbak. Tapi itu kalau memang jumlahnya 40 orang mbak. Dan sekarang juga lagi sepi, kan hari kerja mbak.
Jadi yang kapal-kapalnya libur mbak."
"Tapi kalau mau ke sana jalan kaki bisa Pak?"
"Oh, bisa kok mbak. Lewat tengah-tengah pematang tambak-tambak ini mbak. Nanti juga banyak rumah-rumah orang yang nelayan.
Mbaknya bisa tanya-tanya juga arah-arahnya mbak. Tapi nanti mbak lihat-lihat ya, kalau memang sekiranya di arah selatan mendung, mending mbaknya balik saja. Di sana nanti juga banyak monyet mbak. Monyet liar."
"Jadi bisa ya pak. Trus kira-kira makan waktu berapa jam ya Pak kalau jalan kaki?"
"Yah, paling sekitar satu jam mbak."
"Oh nggih Pak. Matur nuwun nggih Pak"
Setelah kita melaksanakan Sholat Dhuhur dengan menumpang di tempat mes-nya orang-orang di sana, kami pun dengan
semangat dan senyum yang lebar mulai menapaki jalan-jalan setapak di pematang tambak-tambak tersebut.
Jalanan setapak itu juga tak semulus semangat kami. Jalanan iu penuh dengan lumpur yang sedikit basah lantarasn gerimis
yang baru saja muncul. Banyak teman-temanku yang sedikit mulai gerah karena sepatunya terasa berat dengan tumpukan lumpur di bawah alas kakinya.
Jarak sekitar 800 meteran, ada sebuah rumah kecil atau lebih tepatnya sebuah gubuk sementara dan muncul seorang lelaki
yang kira-kira berumur 35an, menyapa kami.
"Mbak mau kemana mbak?"
"Mau ke hutan bakau Pak" jawab kami serempak dan semangat.
"Waduh mbak, jauh itu mbak. Kasihan mbaknya nanti juga kalau hujan mbak. Jauh lho mbak.
Lihat ini sudah mendung mbak. Di sana juga gak ada apa-apa mbak. Cuma laut tok."
Semangat kami sedikit goyah. Ditambah lagi dengan raut muka beberapa temanku yang sepertinya ingin berteriak,'Ahh, pulang saja yuk. Bapaknya sudah bilang jauh itu. Paling kita nanti gak bisa sampe sana', tapi tetap mereka pendam dalam hati.
"Lho Pak, memang benar ya Pak, di sana nanti tembus ke laut Pak?"
"Iya mbak. Tapi ya itu tadi mbak. Jauh mbak. Kaishan mbaknya daripada nanti di tengah-tengah hujan kan malah susah juga kan mbak."
Kita semua saling berpandangan. Sepertinya banyak yang ingin kita ungkapkan, tapi sulit.
Seakan paham dengan muka kita dan pandangan kita, Bapaknya kemudian berkata :
"Tapi kalau mbak-mbaknya ini mau ke sana juga ndak apa-apa. Monggo.
Tapi ati-ati ya mbak. Nanti kalau sekiranya mendungnya tambah gelap, mbak-mbaknya langsung balik saja ya mbak"
"Tapi bisa kan Pak kalau jalan kaki?" Tanya kami meyakinkan.
"Ya bisa."
Dan akhirnya, kita Lanjut!!!
Wah, wah, sepertinya Bapak tadi salah menyebutkan bahwa di ujung jalan setapak ini akan ada laut.
Karena itulah penyebab utama kenapa kaki ini terus melangkah.
Hingga 1 kilo; 1,5 kilo; 2 kilo; 3 kilo terlewati.
Makin lama jalan setapak itu semakin menunjukan ketidakbersahabatannya.
Jalannya semakin licin karena lumpur yang lebih basah dari jalan sebelumnya.
Cuaca yang kadang-kadang cerah, kemudian mendung.
Dan yang pasti suasana yang benar-benar sunyi.
It's not Surabaya i think.
Karena yang terdengar kala itu hanya tawa kita yang menggema, suara-suara burung dan suara angin yang menyapu pepohonan.
Hanya sauara itu yang ada, tak ada kebisingan mobil, jalan raya, seperti jika kau berada di tengah kota Surabaya.
Hingga sampai pada saat suara-suara itu semakin berkurang. Bukan karena semakin pelan melainkan hanya tinggal suara angin sendirian karena ditinggal oleh suara-suara burung dan kita yang tak lagi berbicara dan tertawa.
Kedengarnya menjadi semakin mencekam, karena suara tarian-tarian pohon yang tersapu angin menjadi semakin keras dan keras.
"Ini beneran ta mbak, jalannya ke sini?"
"Iya mbak, sepertinya tidak berujung mbak"
"Ya Allah, rokku. Sepatuku kotor semua kena lumpur."
"Mbak capek aku mbak. Ini gak salah ta? Ayo balik mbak."
"Waduh, Ibuku sudah telpon ini"
"Aku yakin di ujung sana memang ada laut."
"Sok tahu kamu. Kita semua lho belum pernah ada yang ke sini."
Semua menjadi komentator yang handal saat itu. Semuanya lelah, lapar, dan kesal. Kita menjadi sedikit bertengkar karena kelelahan itu.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mbak Mega saat itu, yang notabenenya menjadi yang tertua dari kami semua
yang ada di situ.
"Mbak gimana ini? Apa sebaiknya kita balik saja. Sepertinya kita benar-benar tidak punya tujuan dan arah yang pasti?"
"Ayo, Adiba ikut mbak Mega sebentar yuk, ke sana. Kita coba tanya gubuk berikutnya, kira-kira masih jauh apa gak? Dan sekalian kita tanya apa mereka punya perahu yang bisa kita sewa buat kembali ke tempat tadi. Daripada, jalan balik kan, nanti kita makin capek."
"Bu, permisi. Bu, hutan bakaunya masih jauh nggih Bu?"
"Mboten nak. Sampun celak meriku nak. Niku seng wonten gendera niku pun tutuk Pos Pantau nak."
(tidak dek. Sudah dekat ke situ nak. Itu yang ada benderanya itu sudah sampai di Pos Pantau dek)
"Oh nggih. Ibu mboten nggadah perahu Bu. Mangke kula sambut."
(Oh iya, Ibu tidak punya perahu nanti saya pinjam)
"Mboten nak. Nggih mending sampean meriku mawon. Timbange sampean balik niku luwih tebi nak, timbang sampean ten pos pantau niku. Ngken ten meriku sampean saged oleh perahu nak. Mangke katah seng lewat nak, nek ten meriku."
(Tidak punya dek. Lebih baik kamu ke sana saja. Daripada balik ke sana jalan, itu lebih jauh, lebih baik lanjut ke pos pantau itu Nanti di sana
bisa dapat perahu. Banyak yang lewat kalau di sana)
Dan dengan arahan dari si Ibu baik hati yang tidak mau menerima sedikit pemberian kami dan dengan kalimat-kalimat penyemangat dan kata-kata positif dari mbak Mega dan juga keyakinan kuat yang memancar dari sorot matanya, kami semua, -walaupun dengan sisa-sisa tenaga dan
asa yang sedikit pupus- kembali meneruskan perjalanan yang ternyata memang sudah semakin dekat.
Kami akhirnya menemukan Pos Pantau yang kita maksud dari awal. Sedikit lega memang. Tapi itu tidak habis sampai itu saja.
Kita kembali dihadapkan dengan seekor monyet. Memang cuma 2 ekor. Tapi itu sudah membuat kita menjerit-jerit ketakutan. Karena monyet itu begitu genit berdiri dan ingin memeluk kita semua. (hhehehe X)) memang si monyet gak pernha liat wanita-wanita cantik seperti kita kali yee)
Dan dengan bantuan seorang bapak berbaju kuning yang mau mencarikan kami perahu tumpangan, kami menunggu di gazebo yang memang sudah disediakan di sana.
Gazebo itu unik, bagus dan indah. Tepat di atas pinggir laut. Jadi kita bisa menikmati pemandangan laut yang sangat luas dan indah.
Sungguh goresan Illah yang tak mampu ditiru oleh siapapun. Langit dan laut yang kita lihat seakan menyatu di ujung sana.
Indah. Tapi tetap saja, kita takut. Karena si monyet benar-benar sudah jatuh hati dengan kami semua :9.
Ditambah lagi, saat kita menginjakkan kaki di gazebo itu, hujan disertai angin yang sangat kencang datang.
Jujur, saat itu tak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa dan tetap ngeksis (alias foto-foto). Sambil menunggu perahu tumpangan nelayan datang.
Karena ya, kita berpikir nikmati saja apa yang ada di depan mata kita.
Walaupun sebenarnya aku sendiri yakin, bahwa jauh di lubuk hati kita masing-masing, kita sedang berdoa agar ini semua
bisa berakhir dan kita bisa pulang.
Kurang lebih sekitar 20 menitan yang terasa sangat panjang karena keadaan kita yang takut, akhirnya hujan sedikit reda dan angin tak lagi kencang.
Kita juga bisa menemukan perahu nelayan yang rela hati menampung dan mengantarkan kami sampai ke tempat kami memulai langkah kaki.
Dan di atas perahu itu, aku benar-benar sangat bahagia. Tak tahu seberapa bahagianya aku saat itu, tapi benar-benar bahagia dan lega yang tak terkira.
Banyak hal takjub yang ku coba untuk ulangi dari awal hingga aku berada di atas perahu itu.
Mungkin aku (kami) tak pernah mau dan mampu melanjutkan perjalanan itu, jika bapak di gubuk yang pertama tadi tak mengatakan bahwa di ujung jalan satepak ini
akan ada laut. Dan akhirnya aku bersyukur, ternyata kata-kta yang diucapkan Bapak tersebut tidak salah. Sangat benar. Karena kalimat 'laut' itulah yang membuat kami penasaran sehingga kaki ini tetap melangkah.
Mungkin tanpa orang seperti mbak Mega yang ikut dalam perjalanan kami, kami akan pulang lebih awal, dan tentunya baju dan sepatu/sandal kami tidak kotor lantaran kita memilih untuk berhenti sebelum berjuang.
Mungkin kita memang menemui banyak sekali rintangan,mulai dari kalimat si Bapak pertama yang bilang bahwa itu sangat jauh kemudian jalan setapak yang menjengkelkan hingga mebuat alas kaki kita kotor dan kita pun akhirnya perlu melepas kaki, dan sedikit pertengkaran kami karena pikiran kita masing-masing yang sudah tidak sepaham, tapi kita juga banyak menemui sosok-sosok baik hati yang juga membantu kita mewujudkan impian kita walaupun dia menolong secara tidak langsung. Si Ibu dan Bapak berbaju kuning yang dengna ikhlas mau membantu kami.
Para nelayan yang mau sedkiti berbagi tempat di perhu munglinya.
Dan yang terpenting
"Memperjuangakan sesuatu impian yang tidak tampak oleh mata kita itu memang sangat sulit. Kita benar-benar butuh iman yang lebih kuat, tekad setebal baja, mata yang lebih kuat untuk melihat, pikiran yang lebih jernih untuk menentukan langkah, dan tentu saja doa yang lebih banyak untuk diucapkan."
Saya dan teman-teman tidak jadi kajian hari itu, tapi kami langsung praktek terjun ke lapangan.
Haahh, kelak, bisa kuceritakan ini pada siapa saja. Dan semoga bisa membawa berkah dan hikmah dalam hidupku, kamu, dan kita semua. amin.
Kalau pengen foto-foto hasil eksis kita, lihat di Label memories ya X)
No comments:
Post a Comment