"Pulang saja lah/"
"Lho kok gak jalan-jalan. Ke city center mau?"
"Kalau ke city center aku mau tapi harus belanja. Kalau cuman jalan-jalan doang yah ngapain."
Begitulah percakapan ringan saya dengan suami saya setelah berbelanja bahan-bahan makanan untuk seminggu kedepan di salah satu supermarket.
Seringkali suami saya menolak dan tidak mengizinkan saya untuk berbelanja dalam satu waktu. Tetapi di waktu lain, tanpa ada permintaan yang berarti suami saya bisa mengizinkan untuk berbelanja baju, kosmetik ataupun perawatan tubuh. Luar biasa untuk suami saya 👏 Saya kenal dia, setidaknya saya tahu, untuk suami saya uang tidak begitu dipermasalahkan jika memang itu membuat keluarganya bahagia. Saya membahas sisi lain dari itu.
Yaitu sosok perempuan yang suka berbelanja. Kadang itu jadi sebuah icon negatif untuk kami. Tapi setelah saya amati lingkungan saya, itu terjadi di hampir diri setiap perempuan. Yang suka sekali dengan berbelanja. Kadang ada yang menghabiskan waktu hanya untuk lihat-lihat toko online, yang menurut pengakuan suami saya ini jauh lebih berbahaya jika terjadi sama saya (thats why i don't like to visit online shopping if i don't need to buy something yet), atau memang mengunjungi pusat perbelanjaan hanya untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat saja. Jika memang ada yang pas sesuai di kantong, dia akan beli, kalau tidak yah tidak masalah. Hanya memuaskan hasrat melihat.
Jadi saya pikir, dan saya coba baca beberapa buku dan artikel. Bahwa memang secara kodrat wanita suka berhias, maka dari itu wajar jika dia akan lebih banyak memilih barang-barang bagus untuk menghiasi dirinya. Lalu alasan kedua karena memang perempuan yang dibekali perasaan sensitif lebih sehingga akan lebih mementingkan rasa daripada logika. Bayangkan ketika membeli baju, yang menjadi inti persoalan bukanlah bajunya, tetapi perasaan senang karena memiliki baju itu. Kalau memang perkara akal tentu saja wanita akan berpikir lebih panjang untuk membeli satu baju.
"Kenapa mami senang sekali sih.?"
"Buat mami, setelah menghabiskan satu minggu di rumah, dan kemudian di akhir minggu papi mengajak pergi hanya untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga itu sudah menjadi kebahagiaan buat mami"
-Sehidu sesurga, Fahd Pahdepi-
Dan mengutip tulisan Ippho Santosa dalam salah satu seri buku 7 Keajaiban Rezeki
"Kadang, pekerjaan ibu rumahtangga itu melelahkan dan menjemukan. Kan seringnya di rumah. Betul apa betul? Jadi, sekiranya istri sesekali shopping, yah izinkan saja. Toh yang dia shopping itu untuk keluarga dan rumahtangga. Bukan untuk siapa-siapa.Apabila selama ini suami SUDAH BENAR dalam mengarahkan dan mendidik istri, pastilah yang di-shopping istri itu barang-barang yang bermanfaat untuk keluarga dan rumahtangga. Nggak sia-sia. Pesan untuk suami. Daripada berdebat nyuruh-nyuruh istri berhenti shopping, lebih baik shopping-nya diarahkan & diatur. So, everybody wins. Apalagi Anda tahu persis, nggak bakal menang berdebat melawan wanita, hehehe."
Kalau kata suami, daripada perang dunia ke 5. Mending memang diarahkan. Karena begitulah tugas mulia suami bukan?
#30DWCDay14 #refleksi

No comments:
Post a Comment