October 25, 2017

Takut Salah

Entah bagaimana dan seperti apa sebuah pendidikan yang dilakukan di Indonesia dan padaku khusunya, tapi perasaan Takut Salah ini masih seringkali menghantui setiap langkahku. Mungkin aku adalah orang yang sangat senang dengan hal-hal baru. Belajar tentang dunia baru dan semuanya. Tapi terlepas dari itu, selalu ada perasaan "aku salah tidak yah?" dan jeleknya, ketika itu muncul akan berkembang menjadi "kalau nanti aku salah, aku bisa A, B, C, dan D."

Padahal ketika aku lihat orang lain yang melakukan kesalahan, buatku itu hal normal dan wajar. Tak perlu dibesar-besarkan pula. Setiap orang tentu pernah salah. Dan setiap orang yang salah justru menjadi sebuah hal positif yang membuat seseorang menjadi lebih berkembang. Karena pada kenyataannya, kesalahan-kesalahan yang ada dunia ini yang justru menjadikan dunia lebih baik bukan? Berapa ratus kali Einstein harus salah, Alexander Graham Bell harus salah, dan semua para ilmuwan itu. Seandainya dia berhenti karena salah tentu saja dunia tidak ada semaju ini bukan?

Nyatanya itu cukup mudah untuk kuucapkan. Tetapi tidak jika kulakukan. 

Seperti saat ini, ketika aku harus tinggal di negara asing dengan diriku sebagai bagian minoritas di sini. Aku sampai detik ini, masih sangat takut jika harus dihadapkan dengan orang asing, siapapun mereka, dan harus berbicara bahasa Inggris. Padahal, untuk sekedar percakapan ringan sehari-hari, aku paham dan sangat mengerti apa yang dikatakan oleh orang lain kepadaku dengan bahasa Inggris, tapi rasanya bibirku kelu untuk menimpali omongan mereka. Entah karena aku takut salah, aku tidak berani, aku tidak tahu bagaimana cara berbicaranya, dan ujung-ujungnya kembali karena Takut Salah.

Sejujurnya aku cukup kesal dan sangat gemes dengan diriku sendiri. Padahal di luar sana, orang tidak akan pernah peduli dengan bahasa Inggrisku yang acak adul yang penting mereka menangkap pesan yang kusampaikan. Padahal di luar sana, masih banyak sekali orang asing, dengan kulit bule yang juga sama sulitnya bahkan lebih parah dibandingkan aku untuk berbicara bahasa Inggris. Mungkin karena memang baru belajar, dan bisa juga karena logat bibir yang membuat sulit berpindah bahasa.

Jadi sebagai penyemangat diri sendiri, kadang buatku pribadi harus dipaksa yaitu dengan tersiksanya diriku yang tidak bisa bersosialisasi dengan semestinya orang 'normal' disini. Dengan semestinya karakter dan diriku yang sangat suka berinteraksi dengan orang lain. Dengan bosannya diriku yang dilalui jika terlalu lama berinteraksi hanya di dalam ruang berpetak 8 x 8 meter ini. Dengan sedikit depresinya diriku, maka akupun memutuskan untuk memaksakan diriku keluar dari zona nyamanku. Mungkin aku sudah cukup fasih jika harus pergi ke pasar membeli sayur, buah, ikan dan bahan makanan lainnya. Tapi setidaknya aku butuh interaksi yang lebih. 
Jadi aku mencoba untuk bergabung di new comers club. Ini adalah perkumpulan para mayoritas perempuan yang menemani pasangannya sekolah di Oxford. Entah bagaimana nantinya. Setidaknya aku hanya mencoba menjadi diriku sendiri. 
Menenangkan diri, bahwa tak apa jika belum fasih berbahasa Inggris. Karena beberapa bulan lagi aku percaya bahwa aku akan fasih.

Wish me luck! ❤

#30DWCDay15 #UKStories

No comments: