October 22, 2017

Apa Kabar Iman?

Aku berusaha dengan sangat sadar dan memaksa diri sendiri untuk bertanya tentang pertanyaan itu. Setiap hari. Apa kabar Imanku hari ini? Berada di level mana dia sekarang? Apakah aku masih dalam jalurku?

Yah, sudah hampir dua bulan diriku menginjakkan kaki di Bumi Britania Raya ini. Mungkin memang sudah banyak muslim disini, tapi tetap saja, di negara ini kami masih jadi kaum minoritas. Karena setiap masuk waktu sholat, aku harus mengecek secara di ponsel pribadi jadwal sholat bagian Oxford. Masih belum pernah aku dengar kumandang adzan di sini. Tak ada pengajian yang rutin dan sering seperti saat di Indonesia. 
Jadi apa kabar Imanku hari ini?

Ketika mencari kedai makanan ataupun memilih makanan, harus di cek satu per satu apakah ini halal atau tidak. Bersyukur aku mempunyai latar belakang cukup perihal makanan, paling tidak itu membantu ketika harus melihat bahan apa saja yang terkandung dalam sebuah makanan. Ketika ingin makan sesuatu atau bahkan minum kopi saja, aku dan suamiku ragu untuk masuk ke sebuah kedai kopi bahkan yang terkenal sekalipun. Yah, karena tidak ada label halal di sana. 
Jadi apa kabar Imanku hari ini?

Semua tentang keyakinan kawan. Meski aku tahu bahwa segelas capuccino ataupun latte berbahan dasar hanya kopi, susu, ataupun krimer, tapi tak sedikit pula kafe yang menambahkan anggur sebagai aroma bukan? Ini tak hanya terjadi di sini sih, Indonesia pun masih banyak yang menggunakan rum sebagai penambah aroma makanan, hasilnya aroma makanan menjadi lebih harum berkali-kali lipat. Itu urusan segelas kopi. Jika sudah masuk ke ranah ayam ataupun daging sapi sudah jelas bahwa proses pemotongan yang tidak menyebut asma Allah tentu akan menjadi haram untuk dikonsumsi.
"Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya". ( Al-An'am : 118 )
Mungkin bagi sebagian orang menganggap kalau aku kolot atau terlalu kaku dan fanatik. Tapi aku hanya mencoba untuk mencari alternatif terbaik untuk badanku sendiri. Kesehatanku sendiri dan suamiku. Selagi keadaan tidak urgent karena memang masih banyak alternatif lainnya. Beli ikan segar ataupun telur dan semua jenis sayuran. Tapi terlepas dari itu Inggris masih sangat baik dengan menyediakan banyak sekali daging halal meskipun itu di supermarket dengan memberikan tempat khusus yang terpisah dengan daging lain yang tidak halal. 
Jadi apa kabar Imanku hari ini?

Memang tak pernah ada yang akan mengingatkan sholatku apakah tepat waktu seperti kala Adzan berkumandang di Indonesia. Memang tak ada yang mengingatkan perihal berapa juz yang sudah aku baca hingga hari ini bahkan sampai mana hafalan-hafalanku. Atau bahkan memberikan sedekah di masjid-masjid. Tapi aku masih memaksa diriku untuk selalu bertanya apa kabar Imanku hari ini? Dengan tetap berbuat baik pada orang lain. Mengabdi pada suamiku. Berbakti pada orang tua dengan cara tersendiri. Menyapa kawan-kawanku dengan tetap menjaga silaturrahim. Tersenyum kepada orang lain yang berpapasan dengan saya.

Hingga kebahagiaan terbesar menjadi muslim yang saat ini kurasakan adalah ketika ada orang lain, yaitu bule dengan kulit warna putih, hitam, coklat, yang mengucapkan salam kepadaku ketika berpapasan. Dan itu sering sekali terjadi padaku. 
"Wow, selama 4.5 bulan aku di sini tidak pernah ada orang yang mengucapkan salam sama aku, kecuali saat jalan sama adek." celetuk suamiku kala pertama kali keluar denganku.
Dan kusadari bahwa saudara saudari sesama muslimku sangat banyak di sini. Kita memang berbeda, tetapi setidaknya kami adalah keluarga muslim. Dan perasaan itu cukup untuk menguatkan iman ini. Meski tak ada yang melihat, tapi aku tahu Allah ada di mana-mana. Bahkan dengan pertanyaan Apa kabar Iman hari ini adalah cara Allah selalu mengingatkan aku.
Wallahualam'




#30DWCDay11 #refleksi #UKStories

No comments: