October 19, 2017

Menjadi Ibu Rumah Tangga

Setelah ini, apa yang bisa aku lakukan yah? Apakah aku hanya berdiam diri di rumah? Sebaiknya aku bekerja atau berhenti bekerja? Aku bisa keluar dan bertemu dengan teman-temanku dengan bebas tidak yah? Apa aku masih bisa pergi menonton film sampai larut malam? Jika aku bekerja dan masih mempunyai penghasilan, setidaknya aku masih bisa berbelanja barang-barang yang aku inginkan. Tanpa merepotkan suamiku tentu saja. Tapi kalau aku bekerja, kemudian aku sudah terbiasa nyaman dengan kondisi itu, kemudian aku punya anak, aku tidak mau menjadi ibu yang menghabiskan waktu tanpa anakku. Aku tak mau ketika harus melewatkan momen dia makan siang dia dalam lima hari seminggu bersama orang lain, tanpa ibunya. Aku juga tak mau harus menceritakan kepada suamiku bahwa hari ini anak kita A, B, dan C dengan diikuti kalimat kata simbak. Aku juga tak mau ketika sepulang kerja aku tak bisa menyambut suamiku datang dengan senyum dan energi maksmialku, karena aku sudah terlalu lelah bekerja di luar rumah. Tapi untuk berdiam di rumah sepanjang hari, apakah aku bisa dan sanggup?
Pertanyaan itu muncul dalam 10 hari jelang momen pernikahanku. Aku yang terbiasa dengan diri yang bebas lincah melakukan apapun yang aku mau, rasanya menjadi mimpi buruk setiap malam jelang tidurku. Memikirkan aku akan menjadi apa dan seperti apa. 

Aku sudah berdiskusi dengan calon suamiku. Berulang kali, apakah aku boleh bekerja atau tidak, dan jawaban terbaik dari suamiku yang justru membuat aku semakin bimbang. 
"Terserah adek saja. Aku tidak melarang adek untuk bekerja. Tapi aku juga tidak menyuruh adek bekerja untuk membantuku mencari nafkah."
Jawaban terindah, tetapi membuatku menjadi semakin berfikiri cukup keras.

Apalagi keputusan kita berdua yang mengharuskan pindah jauh dari tempat zona nyaman bersama orang tuaku menjadi tantangan tersendiri dan terus menerus aku pikirkan dalam tidur-tidur panjangku. 

Terkadang aku merasa iri, dengan orang-orang disekitarku. Terutama kakak-kakakku. Yang tetap berada di lingkungan rumahku. Meskipun mereka tinggal di rumah sendiri, tetapi masih dekat dengan orang tuaku. Terkadang aku iri dengan mereka yang bisa bekerja dari rumah, berjualan dengan penghasilan cukup besar, tapi tetap melihat buah hatinya tumbuh. Tetap menyiapkan makanan suami dan anak-anaknya.
Dan ketika tersadar, lalu aku beristighfar sebanyak yang kumampu.

Well, tahukah, bahwa apa yang kita dapatkan dalam hidup kita, adalah impian kehidupan dari ribuan orang di dunia sana. Bahwa apa yang kita jalani saat ini, adalah doa-doa terbaik yang dipanjatkan para manusia-manusia khalifah dalam setiap sepertiga malam-malamnya. Menikah, hidup bersama suaminya. Belajar mandiri, memulai hidup baru sendiri. Belajar mengatur rumah tangga, masak setiap hari, mencuci pakaian setiap hari, menemani suami berjuang menjadi ridho Ilahi. Itu adalah kehidupan surga dambaan banyak orang? Tahukah aku?

Bahkan ketika Anda berdiam diri di rumah. Menyiapkan makan suami. Menyiapkan baju suami. Membersihkan rumah. Mencuci piring untuk makan suami dan anak-anak. Mencuci baju untuk menjaga kesucian beribadah keluarga. Menyambut suami dengan senyuman. Berdiam saja di rumah menjaga kehormatan keluarga, sudah disiapkan pahala berlimpah oleh Allah untuk Anda para wanita. Wanita-wanita mulia di sisi Allah. Lantas mengapa harus susah-susah mencari pahala di luar sana? -Ust Khalid Basalamah-
Dan kali ini tepat menjelang tujuh bulan perjalanan pernikahanku. Mungkin aku bosan di rumah sesekali. Tanpa ada kegiatan bertemu dengan orang, bersosialisasi, bercerita, mencurahkan emosi. Tapi dibalik itu semua, aku bersyukur dengan segala yang ada dalam hidupku. Aku tidak akan pernah tahu berharga dan mulianya seorang wanita yang berdiam diri rumah tanpa pernah menjadi seperti mereka, dan aku juga lebih menghargai mereka wanita-wanita yang mempunya jalan sebagai wanita karir atas alasan apapun. Kita semua tetaplah berjuang. Untuk keluarga yang lebih baik dan untuk peradaban yang mulia. 

Semoga Allah mencatat ini sebagai pahala, atau kalau tidak semoga ini menjadi pelebur dosa-dosa kita yang lalu. Wallahualam'



 #30DWCDay9 #refleksi

No comments: