Takdir atau Petaka?
Pagi itu hari terlihat sangat cerah. Awan berarak berwarna biru bercampur putih yang sangat mempesona. Matahari pun turut meramaikan pagi ini dengan kehangatannya. Dan semua mahasiswa saat itu sedang bersiap diri. Tak terkecuali aku.
Yah, sebuah kampus yang sangat besar. Dengan lapangan rumput hijau yang luas tepat di belakang gedung serbaguna, kemudian dua bangunan tua yang berada di samping kanan kirinya, di sambung dengan bangunan baru yang menjulang tinggi. Kemudian di tengah-tengah bangunan itu, berdiri tegak sebuah mahakarya agung sang arsitek untuk menyulap gedung rektorat menjadi symbol keagungan kampus. Tak kalah menariknya tepat di depan jalan gedung rektorat itu, terbentang sebuah kolam yang sangat indah, dengan ikan-ikan yang segar dan beberapa angsa-angsa yang menari dengan sangat riangnya. Itulah dia, kampus impianku.
Sejak tiga tahun yang lalu, aku menjadi yakin dan memantapkan pilihanku. Yah, psikologi agaknya telah membuat aku jatuh hati. Tak ada yang lain. Hanya itu dan itu yang ada di benakku. Meskipun aku tahu, ayah dan ibu tak pernah mengizinka aku untuk memilih jurusan itu. Aku tak kuasa berbicara. Hingga aku terus saja memendam keinginan itu, sampai pada hari di mana aku harus memutuskan pilihanku.
Tiga bulan yang lalu, saat aku mengambil formulir pendaftaran mahasiswa baru di kampus itu, aku tak mengambil jurusan impianku. Psikologi tak ada dalam daftar yang aku pilih. Aku benar-benar tak berani mengutarakannya, hingga akhirnya, di sinilah aku sekarang.
Sebuah kampus yang memang tak kalah bagusnya dengan impianku. Hanya saja, kampus ini tak lagi berada di kota tempatku tinggal. Dia berada kurang lebih 380 km dari kotaku.
Kampus itu terletak di pusat kota Kudus. Kampus yang juga sangat besar. Dengan bangunan yang hampir semuanya adalah bangunan tua. Terlihat eksotik memang. Mengingatkanku pada bangunan-bangunan kuno yang berada di Kota Yogyakarta, atau bangunan kuno yang berjajar di kampong Kya-Kya Surabaya. Tapi ada perbedaan, di kampusku kali ini, tak ada danau, tak ada angsa, dan di setiap mataku memandang aku tak menemukan bangunan bertingkat ,meskipun lapangannya tetap tampak hijau menawan. Tak hanya itu saja, aku juga tak mendapati diriku berada di kelas Psikologi seperti harapanku. Tapi aku duduk, medengarkan sang dosen mengajar, di kelas sastra. Yah, di sanalah aku akan menempuh empat tahun masa kuliahku. Itupun kalau masa-masa itu tidak terlalu buruk.
***
No comments:
Post a Comment