April 29, 2010

Pasir dalam Genggaman

Beberapa hari yang lalu, dua kawan lamaku berkunjung ke rumah dengan sangat mengejutkan. Dia adalah Utari dan Sari. Mereka berdua adalah teman akrabku di masa SMP dulu, well mungkin bias di biang hingga saat ini, kita tetap dibilang masih sangat akrab.

Kemudian tanpa sadar pula, aku menanyakan kepada mereka dengan nada bercanda siapakah pacar mereka saat ini, atau bisa juga dikatakan, mereka sekarang sedang dekat dengan siapa.

Hm, Sari menjawab dengan sedikit tersipu, karena, yah, dia sekarang sedang dekat dengan teman sekelas kita semasa SMP dulu. Dan Utari, dengan gaya bicaranya yang khas, dia menjawab, “Hm, gak ada pacar, aku masih gak mau cari pacar, aku Cuma pengen mereka semua itu tetep deket sama aku dan gak ngejauh dari aku, jadi kalau aku ada apa-apa yahh, gitulah pokoknya”.

Mungkin itu jawaban biasa, tapi jujur, aku sedikit tersentak dengan jawaban dia. Aku tidak mau mereka semua menjauh dariku. Itu pula yang aku rasakan. Munafik kalau aku tidak mau mengakuinya. Dan yah, aku sadar, itu semua berdasar pada seifat keegoisanku.

Aku percaya, setiap orang punya yang namanya sifat egois, tinggal bagaimana kita mampu mengontrol sifat buruk itu.

Dan kali ini sepertinya sifat ini sedikit merasuk dan meracuni cara pikirku. Aku dekat dengan beberapa orang. Lelaki lebih tepatnya J, kemudian beberapa dari mereka mungkin sedikit ada rasa dengan aku. Bukan merasa GR atau bagaimana, tapi aku tidak mungkin berkata demikian tanpa alasan yang jelas. Itu ada alasannya. Tidak seberapa penting juga aku mengatakannya di sini, tapi yang ingin saya utarakan dan saya renungi adalah tentang sikap yang saya ambil dalam menghadapi ini semua.

Aku belum pernah mengetahui bagaimana seorang wanita sedang jatuh cinta, bahkan aku sendiri juga kurang menyadari apakah itu yang sekarang aku rasakan, yang jelas aku kurang yakin.

Aku tak tahu apakah sifat seperti ini artinya adalah memberi harapan atau hanya sekedar baik dan berusaha membalas kebaikan dia, tapi yang jelas semua itu aku lakukan dengan maksud satu, yaitu mempertahankan dia ada dan dekat bersamaku. Mendengarkan segala keluh kesahku. Menjadi temanku berSMS ria saat malam dan kesuntukan menjelang. Menjadi pendongkrak semangatku.

Mungkin jika aku bisa berkata secara terang-terangan bahwa, aku ingin dia tetap ada atau -jika memang dia suka padaku- dia tetap suka padaku sampai kapanpun, tapi aku tetap saja tak tahu apakah aku suka denngan dia ataukah hanya tak ingin kehilangan itu semua. Aku menginginkan dia tetaplah jadi milikku. Membantuku. Bukankah perasaan aman dan tenanglah yang akhirnya kita rasakan jika kit atahu bahwa di luar sana ada orang yang sedang memikirkan kita karena dia suka dengan kita dan juga bis kita mintai tolong kapan saja?

Well, it’s really arrogant right? I realize it.

Dan setelah aku mendengar pernyataan itu dari Utari, aku merasa, hah, jahat sekali ya dia melakukan itu, yang sebenarnya itu juga aku lakukan. Dan karena itulah manusia sering kali sangat mudah menemukan kekurangan dan kesalahan orang lain. Tapi sulit untuk dirinya sendiri. Dan aku mencoba memposisikan diriku pada Utari. Dan, yahh, inilah yang aku dapat. Diriku yang begitu jahat, egois, seenaknya sendiri, dan sangat sangat munafik.

Hingga akhirnya aku mulai mau untuk bisa menerima, bahwa mereka –teman-teman lelaki saya- itu juga punya kehidupan sendiri. Mereka patut untuk memilih, jika mereka merasa mungkin tertolak oleh sikap saya atau lebih tepatnya terombang-ambing –karena belum mendapat kejelasan tentang perasaanku- mereka bebas untuk meninggalkan aku, dan mencari yang lain. Begitu kan seharusnya?

Yah,namun, mampukah aku menerima itu semua? Membayangkan tidak ada orang yang mengasihi diriku lagi, menakutkan memang.

Tapi aku hanya ingin belajar menjadi dewasa, menyadari bahwa semua belum tentu atau bahkan tidak bisa menjadi milikmu itu sudah menjadi hukum alam. Tidak semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginanku.

Aku teringat akan kelimat mutiara dari buku Chicken Soup, yang intinya, orang-orang yang mengasihi dan yang kau sayangi itu seperti pasir di atas telapak tanganmu, jika kau berusaha untuk mejaganya rapat-rapat dengan menggenggam erat pasir itu, tentu pasir itu akan keluar semburat melalui cela-cela jarimu, tapi jika kau tetap membiarkannya terbuka di atas telapak tanganmu, sedikit kemungkinan dia akan terjatuh, justru mungkin akan tetap berada di atas tanganmu.

Jadi aku hanya akan berusaha untuk bersikap sewajarnya, dan tentu saja tidak akan bersikap berlebihan agar supaya mereka tetap berada di sekelilingku. Hingga akhirnya aku kembali ingin merasakan, bahwa menyayangi mereka dengan setulus hati itu jauh lebih mengesankan, menyenangkan, dan menggembirakan ketimbang kamu menjadi orang yang di sayangi. J Lalu untuk apa aku susah payah memikirkan bagaimana jika meraka tidak menyayangiku lagi? Konyol !!!


2 comments:

wahyu_dharmawan said...

blog mu isinya cuma pasir di genggam aja..

adadiba said...

leh, kok bisa??

emang iya mas??

aku ngeposting akeh kok