January 13, 2014

BEE House =))









Bisa Order Lebih dari SATU, dan dapatkan diskon BESAR-BESARAAN!
Bisa Pesan Boneka sesuai dengan bentuk yang diinginkan, minimal 20 pcs, dengan HARGA TERMURAH :)
Menerima Pesanan di SELURUH INDONESIA!!
Open Reseller dan Dropship!!!
Kemasan Menarik, dan Gratis Pin Cantik, khusus dari BEE House :)










More info : 085755041299 / 08970344150 pin : 76b9573b
Perum Istana Gajayana Malang

Belajar Menjadi OrangTua

Beberapa hari lalu saya menyaksikan film Parental Guidance yang dibintangi Billy Crystal, Bette Midler, dan Marissa Tomei. Filmnya pas banget dengan kondisi saya. Kenapa? Karena saya gemar menitipkan anak pada orang tua untuk diawasi.
Memang sih, alur cerita Parental Guidance dan tema besarnya bukan tentang itu, thok. Tapi entah kenapa, yang lebih “jleb” justru urusan menitipkan anak pada ortunya itu, lho. Saya bisa melihat persoalan ini dari perspektif orangtua alias kakek dan nenek.
Hingga saat ini, saya masih suka menitipkan Nadira di rumah mertua saya. Kebetulan, rumah mertua hanya beda beberapa rumah dari rumah kami. Kemudian, suami saya itu tipe paranoid, yang enggan meninggalkan anak berdua saja dengan ART di rumah. Jadi, deh, setiap pulang sekolah, Nadira ke rumah neneknya dan dijemput saat kami pulang kantor. Meski begitu, saya tetap menugasi pengasuh Nadira untuk meladeni semua kebutuhannya. Jadi mertua saya hanya mengawasi saja.
Itupun kami masih suka merasa nggak enak. Saya dan suami takut kalau mertua jadi terbebani atau terkekang. Makanya kami berusaha keras agar kehadiran Nadira di rumah mertua tidak merepotkan beliau. Untuk makanan, susu dan snack, saya siapkan sendiri. Kemudian, kami juga memberi uang bulanan kepada mertua sebagai “kompensasi”. Awalnya mertua menolak, tapi karena kami yakinkan dengan argumentasi yang masuk akal, akhirnya beliau mengerti.
Kenapa kami mau repot-repot begini? Sebab kami berusaha memberi batasan. Nadira adalah anak dan tanggung jawab kami. Semua kebutuhannya HARUS kami yang penuhi. Jangan sampai karena kami lalai memenuhi, Nadira jadi merepotkan orang lain, meski itu kakek dan neneknya sendiri.
Ternyata, pedoman ini juga dianjurkan oleh seorang psikolog terkenal. Saya pernah baca rubrik konsultasi yang ia asuh di sebuah tabloid. Saat itu, ia menjawab pertanyaan seorang ibu yang mengeluh karena masih tinggal bersama mertuanya.
Saya lupa kalimat persisnya, tapi kira-kira tulisan sang psikolog begini, ya:
“Ibu saya itu sakelijk kepada anak dan cucunya. Saat saya menitipkan anak, ibu membolehkan. Tapi saya harus membawa pengasuh anak dan kebutuhan anak saya sendiri. Ibu menegaskan, anak saya adalah tanggung jawab saya. Jadi beliau bersedia dititipi anak, tapi hanya mengawasi dan mengajaknya bermain, bukan memandikan, menyuapi atau mengejar-ngejarnya. Itu sepenuhnya adalah tanggung jawab orang tua si anak, yang bisa didelegasikan ke pengasuh.
Selain itu, ibu saya juga tegas jika ada anaknya yang tinggal di rumah. Si anak harus membayar biaya listrik, biaya makan, dan lain-lain. Tidak ada namanya menumpang gratis. Apalagi jika si anak menumpang tinggal bersama istri/suami dan anaknya. Ia harus mengurus segala sesuatu sendiri, mulai dari makanan, cucian sampai membersihkan kamar. Rumah ibu saya ibaratnya hanya sebagai kos-kosan. Si anak dan keluarganya harus bertanggung jawab atas semua kebutuhannya sendiri dan membayar kewajibannya tiap bulan.
Memang banyak saudara yang kaget dengan sikap ibu. Tapi menurut saya, justru inilah yang terbaik. Saya dan adik-adik saya jadi terbiasa mandiri, baik secara psikis maupun finansial serta menghormati ibu sebagai orang tua maupun sebagai seorang pribadi. Jika ibu saya tidak tegas seperti itu, bisa jadi anak-anaknya akan bertingkah seenaknya dan memperlakukan ibu dengan tidak hormat. Tugas ibu mengurus anak-anaknya kan sudah selesai saat anak-anaknya mandiri. Masa harus ditambah dengan mengurus cucu dan anak-anaknya yang sudah menikah?”
Siapa yang merasa “jleb” dengan komentar sang psikolog tadi? *tunjuk diri sendiri hehehe…*
Makanya saya merasa beruntung punya suami yang satu visi untuk urusan ini. Bahkan suami saya lebih lebay. Dulu saat saya masih tinggal nebeng sama mertua dan orang tua saya, suami selalu membelikan beras, minyak dan kebutuhan rumah tangga lainnya untuk mertua dan ortu saya. Alasannya, kami sering tinggal dan numpang makan, plus menitipkan Nadira. Padahal saya berpikir, memberi uang bulanan saja sudah cukup.
Anyway, poin-poin etika menitipkan anak pada orang tua mungkin bisa dirangkum sebagai berikut:
  1. Awali semua dengan rasa “tidak enak”. Jangan mentang-mentang itu orang tua atau mertua sendiri, lantas kita bisa seenaknya menitipkan anak. Kita sudah jadi orang tua, lho, anak adalah tanggung jawab kita sepenuhnya, bukan orang lain meski itu kakek dan neneknya sendiri.
  2. Penuhi kebutuhan anak agar tidak membebani ortu kita. Bu Elly Risman pernah berkata, “Tubuh kami (ortu, Red), tidak didesain untuk mengejar-ngejar cucu. Kami ini sudah renta. Anak adalah tanggung jawab ortunya, bukan kakek neneknya.” Jadi kalau kita mau menitipkan anak, sediakan pengasuh dan segala kebutuhan anak. Kalau kepepet, seperti pengasuh pulang kampung misalnya, minimal sediakan segala kebutuhan anak. Jangan sampai menyusahkan ortu secara fisik dan finansial sekaligus.
  3. Berbeda pola asuh dengan ortu? Terima sajalah. Itu, kan, risiko yang kita ambil saat memutuskan untuk menitipkan anak pada ortu, bukan? Kalau tidak mau, ya, jangan titipkan anak, dong. As simple as that :)
  4. Kalau memang ada yang mengganjal sekali, utarakan dengan hati-hati. Kita bisa kan bersikap ekstra hati-hati bahkan memanjakan ART/nanny dengan tujuan agar mereka tidak mudik? Lalu kenapa sama ortu sendiri nggak bisa? Padahal mereka yang melahirkan dan mengasuh kita sejak kecil, lho.
  5. Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Ingat pepatah tersebut? Oleh karena itu, menurut saya, sebanyak apapun saya memberi uang atau harta benda pada ortu dan mertua, tetap tidak akan mampu membalas semua yang pernah mereka berikan. So please be generous to your parents, tentu sesuai kemampuan ya. Apalagi jika ortu kita sehari-hari membantu mengasuh anak. Sebisa mungkin berikan uang bulanan meski hanya sedikit. Kalau ortu menolak, berikan hadiah-hadiah kecil sebagai kejutan. Entah itu makanan kesukaannya, blus cantik atau pajangan favorit. Minimal, berikanlah perhatian kepada mereka because it’s the least that we can do, right?

Source : http://mommiesdaily.com/2013/01/11/menitip-anak-pada-ortu-ini-etikanya/

January 2, 2014

January 1, 2014

memaknai kehilangan

15 Februari 2013
aku tak pernah mecoba untuk mengingatnya, walau terkadang entah bagaimana tapi aku selalu ingat
dan ini sangat buruk!!! karena sadar atau tidak esok harinya pengumuman pendanaan PKM keluar, dan untuk pertama kalinya aku tak pernah merasa bangga dengan diriku sendiri bahkan merasa hina.

well, you know , almost everyone has lost something precious in theri life, even precious . There are lost part of their body , disability , loss of job , loss of children , parents , valuable objects , loved ones , lover , opportunity , confidence , reputation and many other losses . In a certain size , the loss is something that is painful for us , but that's not to be , not the relative size more or less , because actually loss something is so painful.

But know , that the best way to accept it is from the people who leave us, walk away.
Instead of the left side. It could be gone for good when abandoned by the people we love , die , then know that God prepared the best way, in fact no one ever told me that God had longed to see, if indeed he is a good guy , and the people around us, I sure he's good people. Abandoned by the goods to our valuable? Well, God will replace it with a better one, and perhaps goods to it after not ours, will belong to people who are in need, a reward for us, not to mention if coupled sincere. And finally abandoned by the people we love, well, sometimes he did have to go because there are good things waiting for him there. Whatever God's plan, whether it ready to forge his up activities will be prepared juxtaposed with us, or indeed the way of the Lord rebukes us because we are already too far boundary, or perhaps God is preparing him not for us, because no one else better for us. I honestly prefer the first option, and always pray for it :P, even though every closing, I always said, 
"God has the best plan to us, and I am sincere with everything."

"Aku tahu apa artinya sebuah kesedihan, aku pernah mengalaminya. Percuma berdiri disini sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain terus menyibukkan diri dan membiarkan waktu menjadi obatnya."

inspired from Darwis Tere Liye

New Year C:


Happy New Year Ayom
Wish You Always The Best
c:

Hey, you've got sweet nickname for this time
Just help you to tell story in your blog
hahaha
Ay and om, haa, whatever
damn, i miss you :|


December 30, 2013

Masih Tetap Bejuang

"Jika kesibukan membuatmu lelah, maka berdiam diri malah akan merusakmu"

Sekali waktu aku pernah berdoa pada Tuhan, bahwa aku tidak ingin berhenti bergerak, bagaimanapun caranya, bahwa aku akan tetap bergerak untuk kebermanfaatan, untuk kebaikan, dan untuk senyum orang-orang disekitarku.
Well, mungkin ini cara unik Tuhan.
Walaupun kadang, masih saja ada yang tertawa, 
entah meremehkan ataupun senang
entah memberikan motivasi ataupun hanya mengejek
yang pasti, mereka semua tertawa
bahagia, itu yang aku tahu.

Dan, bismillahhirrahmanirrahim, 4 tahun bukan waktu yang sebentar untuk selalu belajar menempa diri,
bukan pula waktu yang singkat untuk mendapatkan ilmu
karena ilmu Rabbi itu luas
mungkin aku hanya meneguknya setetes saja
dan semoga dengan ini, hidupku memang akan terus dilalui dengan belajar
belajar mengabdi
belajar memperbaiki diri dan orang lain
belajar memahami orang lain
belajar makna kehidupan
niat, usaha, sabar, ikhlas, dan tawakkal
Bismillahhirrahmanirrahim.

December 29, 2013

Rencana Tuhan itu selalu indah
Menyatukan yang berserak diwaktu yang memang tepat
hingga disadari
bahwa melihatmu dari jauh
sudah cukup menjadi obat rindu
jika memang belum saatnya tiba
dan nanti
10 Maret 2017
akan dipertemukan dengan seorang dokter
yang akan menuntun dan membawa bahtera ke surga Ilahi
di Masjid Ainul Hasan Surabaya
dengan Bapak sebagai penghulu sekaligus wali 
seorang dokter
yang memang berkarakter plegmatis, koleris, dan melankolis
karena memang saya yang selalu condong ke sanguinis 
seorang dokter yang tidak ganteng, namun menyejukkan mata karena perawakannya yang bersih
dokter yang lebih tinggi
entah satu, atau mungkin sepuluh, bahkan seratus centimeter
seorang dokter yang memang bekerja sebagai tenaga sosial
untuk mengabdi
sehingga dia mempunyai usaha sampingan yang sukses untuk menambah pundi-pundi sedekah
seorang dokter yang mendukungku
untuk tetap berpenghasilan
karena memang bisa membuatku belajar untuk terus mandiri
seorang dokter yang romantis dengan tutur serta perilakunya
karena aku sendiri adalah pribadi yang suka usil
seorang dokter yang mau untuk pergi melancong ke tempat jauh
ke desa, ke kota, ke luar negeri
semata hanya untuk belajar serta mengabdi di jalan Tuhan
seorang dokter yang melabuhkan cintanya pada Tuhan
sehingga makin besar pula cintaku pada Tuhannya, yang hanya ada satu dan kekal, Allah
seorang dokter yang ramah dan murah senyum tapi tetap berwibawa
karena saya juga senang tersenyum
itu adalah bentuk sedekah yang tak ternilai
seorang dokter yang berkacamata
saya tidak berharap saya akan berkacamata, karena itu berarti mata saya sakit, padahal ini benar-benar normal insyaallah
jadi kalau pasangan saya berkacamata, mm, dia akan berbeda dengan saya
dan tentunya wibawa dan kegantengannya bisa naik 83%
seorang pak dokter yang sangat ringan tangan membantu orang lain
karena itulah yang akan membuat kami terus belajar tentang makna hidup
dan mengapa seorang dokter
karena saya adalah seorang ahli gizi
yang jika bercerita saya juga ingin tetap connect
dan kami akan sama-sama membangun generasi Rabbani, 
yang kuat, sehat, berakal cerdas,
serta membawa berkah dan manfaat untuk alam dan sekitarnya
amin ya rabb..

dan Rencana Tuhan itu selalu indah
Menyatukan yang berserak diwaktu yang tepat
C: