Ini memang cuma soal remeh temeh biasa. Tapi menentukan bagaimana sikapmu. Dan sikapmu sangat berpengaruh pada hidupmu. Dan yakinlah bahwa hidupmu menjadi efek domino untuk hidup orang lain
Aku mulai tahu bahwa selang bensin jika dipencet-pencet berarti bensinya tidak keluar sebagai mana mestinya tetapi penanda meter dan biaya bensin (sebut saja bensinometer) tetaplah berjalan sebagaimana mestinya. Apa artinya? Jika kamu membeli 2 liter bensin dengan petugas pom-nya meletakkan langsung selang di tangki bensin tanpa memencet-mencet terus tuasnya berarti 2 liter itu inshaallah utuh dengan harga yang seharusnya. Bagaimana jika dipencet-pencet tuas selangnya? 2 liternya sama, harganya juga sama, tetapi yang masuk bisa berkurang menjadi 1.99 l, atau 1.98 l, atau 1.97 l. Tidak begitu kentara memang, tetapi coba amati saja kendaraanmu. Dan akan signifikan jika kita membeli bensin dalam jumlah banyak. Dan bukan hanya satu kendaraan, tetapi ratusan bahkan ribuan kendaraan di Kota Surabaya. Lantas apa efeknya? Ketika pihak 'bos besar' datang untuk isi ulang pom bensin, maka pom tersebut akan menghitung sisa dari bensin yang ada dan membayar sesuai bensinometer yang tertera, tanpa peduli lagi itu seharusnya dipakai untuk berapa ratus dan ribu kendaraan.Perhitungankah diriku? Mungkin iya, tapi jelekknya hanya soal dalam hati saja. Karena biarpun saya tahu trik itu dan ketika merasa dikhianati oleh abang pom bensin saya lebih memilih untuk diam.Lalu apa hubungannya dengan lingkungan?Ini hanya pendapatku pribadi dengan pengamatanku saja selama berada di kota ini. Tahukah model wilayah Kota Surabaya dengan pembagian sesuai distrik? Yap, ada Surabaya Pusat, Surabaya Utara, Surabaya Timur (daerah rumah saya), Surabaya Selatan, dan Surabaya Barat (lingkungan tempatku bekerja). Karakteristik masing-masing distrik memang berbeda, tetapi tentu ada dominasinya.Ini soal lingkungan sekitar. Wilayah rumahku berada di daerah dekat dengan jembatan suramadu, dengan etnis beragam mulai dari Jawa, Madura, dan Arab serta dengan tingkat sosial ekonomi menengah saja. Dan wilayah Surabaya Barat, berada di dekat perbatasan kabupaten lain dengan banyak jalan tol, apartemen, gedung perkantoran, perumahan elit Surabaya, dengan etnis Jawa dan Cina yang mendominasi. Tingkat sosial ekonomi? wow jangan ditanya. Karena mobil di rumah/apartemennya minimal ada 2 dengan cat mengkilap dan merk terkenal.
Lantas apa hubungannya dengan abang pom bensin?
Kita akan bersikap lebih tunduk dan 'sedikit' takut pada orang dengan pemegang kekuasaan. Siapa pemegang kekuasaan? adalah ia yang mempunyai uang. Terkadang ini tidak disadari tapi menjadi sebuah tombol otomatis. Di lingkungan elite jika kau tak juga pemegang kekuasaan, maka kita akan menjadi pihak yang lebih takut. Lantas ketakutan itulah yang digambarkan dengan lebih jujur, lebih bertanggung jawab, lebih sopan, lebih menghargai, lebih memberikan sesuatu yang lebih. Apakah itu paksaan? tentu tidak. Karena sudah melebur menjadi sikap (Sesuai kerja otak = ganglia basali, dia akan menjadi kebiasaan setelah dilakukan berurut-urut selama 21 hari).
Dan abang pom bensin akan melayani semua orang dengan tanpa memperdulikan siapa orang itu. Karena lingkungannya sudah terbentuk sedemikian rupa.
Ingin lebih jelas lagi? Masuk ke XXI Ciputra World. Dan bandingkan dengan XXI Tunjungan Plaza. Harganya sama. Tapi pembawaan timnya yang menjadi berbeda. Karena apa? Lingkungan sekitarnya.
Jadi mau menentukan lingkungan sekitarmu seperti apa?
Ini memang cuma soal remeh temeh biasa. Tapi menentukan bagaimana sikapmu. Dan sikapmu sangat berpengaruh pada hidupmu. Dan yakinlah bahwa hidupmu menjadi efek domino untuk hidup orang lain
August 20, 2015
August 18, 2015
aku ingin kembali..
kamu tahu perbedaan antara berbicara dan menulis?
semua orang tentu akan menjawab tulisan berarti akan meninggalkan jejak.
yah, itu memang benar adanya
tapi bagiku, lebih daripada sebuah jejak
berbicara dan menulis,
menjadikan satu titik perbedaan antara bumi dan langit
karena itu akan menyangkut perkara hati
karena ia akan membawa sisi lain dari nurani
bahkan menjadi sebuah kelahiran perubahan
pada kebiasaan, karakter, dan mindset
dan bahagialah,
ketika kau bisa melakukan keduanya
berbicara
dan menulis
maka itu, aku ingin kembali...
semua orang tentu akan menjawab tulisan berarti akan meninggalkan jejak.
yah, itu memang benar adanya
tapi bagiku, lebih daripada sebuah jejak
berbicara dan menulis,
menjadikan satu titik perbedaan antara bumi dan langit
karena itu akan menyangkut perkara hati
karena ia akan membawa sisi lain dari nurani
bahkan menjadi sebuah kelahiran perubahan
pada kebiasaan, karakter, dan mindset
dan bahagialah,
ketika kau bisa melakukan keduanya
berbicara
dan menulis
maka itu, aku ingin kembali...
January 13, 2014
BEE House =))
Bisa Order Lebih dari SATU, dan dapatkan diskon BESAR-BESARAAN!
Bisa Pesan Boneka sesuai dengan bentuk yang diinginkan, minimal 20 pcs, dengan HARGA TERMURAH :)
Menerima Pesanan di SELURUH INDONESIA!!
Open Reseller dan Dropship!!!
Kemasan Menarik, dan Gratis Pin Cantik, khusus dari BEE House :)
More info : 085755041299 / 08970344150 pin : 76b9573b
Perum Istana Gajayana Malang
Belajar Menjadi OrangTua
Beberapa hari lalu saya menyaksikan film Parental Guidance yang dibintangi Billy Crystal, Bette Midler, dan Marissa Tomei. Filmnya pas banget dengan kondisi saya. Kenapa? Karena saya gemar menitipkan anak pada orang tua untuk diawasi.
Memang sih, alur cerita Parental Guidance dan tema besarnya bukan tentang itu, thok. Tapi entah kenapa, yang lebih “jleb” justru urusan menitipkan anak pada ortunya itu, lho. Saya bisa melihat persoalan ini dari perspektif orangtua alias kakek dan nenek.
Hingga saat ini, saya masih suka menitipkan Nadira di rumah mertua saya. Kebetulan, rumah mertua hanya beda beberapa rumah dari rumah kami. Kemudian, suami saya itu tipe paranoid, yang enggan meninggalkan anak berdua saja dengan ART di rumah. Jadi, deh, setiap pulang sekolah, Nadira ke rumah neneknya dan dijemput saat kami pulang kantor. Meski begitu, saya tetap menugasi pengasuh Nadira untuk meladeni semua kebutuhannya. Jadi mertua saya hanya mengawasi saja.
Itupun kami masih suka merasa nggak enak. Saya dan suami takut kalau mertua jadi terbebani atau terkekang. Makanya kami berusaha keras agar kehadiran Nadira di rumah mertua tidak merepotkan beliau. Untuk makanan, susu dan snack, saya siapkan sendiri. Kemudian, kami juga memberi uang bulanan kepada mertua sebagai “kompensasi”. Awalnya mertua menolak, tapi karena kami yakinkan dengan argumentasi yang masuk akal, akhirnya beliau mengerti.
Kenapa kami mau repot-repot begini? Sebab kami berusaha memberi batasan. Nadira adalah anak dan tanggung jawab kami. Semua kebutuhannya HARUS kami yang penuhi. Jangan sampai karena kami lalai memenuhi, Nadira jadi merepotkan orang lain, meski itu kakek dan neneknya sendiri.
Ternyata, pedoman ini juga dianjurkan oleh seorang psikolog terkenal. Saya pernah baca rubrik konsultasi yang ia asuh di sebuah tabloid. Saat itu, ia menjawab pertanyaan seorang ibu yang mengeluh karena masih tinggal bersama mertuanya.
Saya lupa kalimat persisnya, tapi kira-kira tulisan sang psikolog begini, ya:
“Ibu saya itu sakelijk kepada anak dan cucunya. Saat saya menitipkan anak, ibu membolehkan. Tapi saya harus membawa pengasuh anak dan kebutuhan anak saya sendiri. Ibu menegaskan, anak saya adalah tanggung jawab saya. Jadi beliau bersedia dititipi anak, tapi hanya mengawasi dan mengajaknya bermain, bukan memandikan, menyuapi atau mengejar-ngejarnya. Itu sepenuhnya adalah tanggung jawab orang tua si anak, yang bisa didelegasikan ke pengasuh.
Selain itu, ibu saya juga tegas jika ada anaknya yang tinggal di rumah. Si anak harus membayar biaya listrik, biaya makan, dan lain-lain. Tidak ada namanya menumpang gratis. Apalagi jika si anak menumpang tinggal bersama istri/suami dan anaknya. Ia harus mengurus segala sesuatu sendiri, mulai dari makanan, cucian sampai membersihkan kamar. Rumah ibu saya ibaratnya hanya sebagai kos-kosan. Si anak dan keluarganya harus bertanggung jawab atas semua kebutuhannya sendiri dan membayar kewajibannya tiap bulan.
Memang banyak saudara yang kaget dengan sikap ibu. Tapi menurut saya, justru inilah yang terbaik. Saya dan adik-adik saya jadi terbiasa mandiri, baik secara psikis maupun finansial serta menghormati ibu sebagai orang tua maupun sebagai seorang pribadi. Jika ibu saya tidak tegas seperti itu, bisa jadi anak-anaknya akan bertingkah seenaknya dan memperlakukan ibu dengan tidak hormat. Tugas ibu mengurus anak-anaknya kan sudah selesai saat anak-anaknya mandiri. Masa harus ditambah dengan mengurus cucu dan anak-anaknya yang sudah menikah?”
Siapa yang merasa “jleb” dengan komentar sang psikolog tadi? *tunjuk diri sendiri hehehe…*
Makanya saya merasa beruntung punya suami yang satu visi untuk urusan ini. Bahkan suami saya lebih lebay. Dulu saat saya masih tinggal nebeng sama mertua dan orang tua saya, suami selalu membelikan beras, minyak dan kebutuhan rumah tangga lainnya untuk mertua dan ortu saya. Alasannya, kami sering tinggal dan numpang makan, plus menitipkan Nadira. Padahal saya berpikir, memberi uang bulanan saja sudah cukup.
Anyway, poin-poin etika menitipkan anak pada orang tua mungkin bisa dirangkum sebagai berikut:
- Awali semua dengan rasa “tidak enak”. Jangan mentang-mentang itu orang tua atau mertua sendiri, lantas kita bisa seenaknya menitipkan anak. Kita sudah jadi orang tua, lho, anak adalah tanggung jawab kita sepenuhnya, bukan orang lain meski itu kakek dan neneknya sendiri.
- Penuhi kebutuhan anak agar tidak membebani ortu kita. Bu Elly Risman pernah berkata, “Tubuh kami (ortu, Red), tidak didesain untuk mengejar-ngejar cucu. Kami ini sudah renta. Anak adalah tanggung jawab ortunya, bukan kakek neneknya.” Jadi kalau kita mau menitipkan anak, sediakan pengasuh dan segala kebutuhan anak. Kalau kepepet, seperti pengasuh pulang kampung misalnya, minimal sediakan segala kebutuhan anak. Jangan sampai menyusahkan ortu secara fisik dan finansial sekaligus.
- Berbeda pola asuh dengan ortu? Terima sajalah. Itu, kan, risiko yang kita ambil saat memutuskan untuk menitipkan anak pada ortu, bukan? Kalau tidak mau, ya, jangan titipkan anak, dong. As simple as that :)
- Kalau memang ada yang mengganjal sekali, utarakan dengan hati-hati. Kita bisa kan bersikap ekstra hati-hati bahkan memanjakan ART/nanny dengan tujuan agar mereka tidak mudik? Lalu kenapa sama ortu sendiri nggak bisa? Padahal mereka yang melahirkan dan mengasuh kita sejak kecil, lho.
- Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Ingat pepatah tersebut? Oleh karena itu, menurut saya, sebanyak apapun saya memberi uang atau harta benda pada ortu dan mertua, tetap tidak akan mampu membalas semua yang pernah mereka berikan. So please be generous to your parents, tentu sesuai kemampuan ya. Apalagi jika ortu kita sehari-hari membantu mengasuh anak. Sebisa mungkin berikan uang bulanan meski hanya sedikit. Kalau ortu menolak, berikan hadiah-hadiah kecil sebagai kejutan. Entah itu makanan kesukaannya, blus cantik atau pajangan favorit. Minimal, berikanlah perhatian kepada mereka because it’s the least that we can do, right?
Source : http://mommiesdaily.com/2013/01/11/menitip-anak-pada-ortu-ini-etikanya/
January 9, 2014
PRAY, to be thankful for ♥: aku merindukanmu. entah sampai kapan akan begini. ...
PRAY, to be thankful for ♥: aku merindukanmu. entah sampai kapan akan begini. ...: aku merindukanmu. entah sampai kapan akan begini. namun jika diijinkan, bolehkah aku menunggumu?
January 7, 2014
January 2, 2014
January 1, 2014
memaknai kehilangan
15 Februari 2013
aku tak pernah mecoba untuk mengingatnya, walau terkadang entah bagaimana tapi aku selalu ingat
dan ini sangat buruk!!! karena sadar atau tidak esok harinya pengumuman pendanaan PKM keluar, dan untuk pertama kalinya aku tak pernah merasa bangga dengan diriku sendiri bahkan merasa hina.
"Aku tahu apa artinya sebuah kesedihan, aku pernah mengalaminya. Percuma berdiri disini sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain terus menyibukkan diri dan membiarkan waktu menjadi obatnya."
aku tak pernah mecoba untuk mengingatnya, walau terkadang entah bagaimana tapi aku selalu ingat
dan ini sangat buruk!!! karena sadar atau tidak esok harinya pengumuman pendanaan PKM keluar, dan untuk pertama kalinya aku tak pernah merasa bangga dengan diriku sendiri bahkan merasa hina.
well, you know , almost everyone has lost something precious in theri life, even precious . There are lost part of their body , disability , loss of job , loss of children , parents , valuable objects , loved ones , lover , opportunity , confidence , reputation and many other losses . In a certain size , the loss is something that is painful for us , but that's not to be , not the relative size more or less , because actually loss something is so painful.
But know , that the best way to accept it is from the people who leave us, walk away.
Instead of the left side. It could be gone for good when abandoned by the people we love , die , then know that God prepared the best way, in fact no one ever told me that God had longed to see, if indeed he is a good guy , and the people around us, I sure he's good people. Abandoned by the goods to our valuable? Well, God will replace it with a better one, and perhaps goods to it after not ours, will belong to people who are in need, a reward for us, not to mention if coupled sincere. And finally abandoned by the people we love, well, sometimes he did have to go because there are good things waiting for him there. Whatever God's plan, whether it ready to forge his up activities will be prepared juxtaposed with us, or indeed the way of the Lord rebukes us because we are already too far boundary, or perhaps God is preparing him not for us, because no one else better for us. I honestly prefer the first option, and always pray for it :P, even though every closing, I always said,
"God has the best plan to us, and I am sincere with everything."
"Aku tahu apa artinya sebuah kesedihan, aku pernah mengalaminya. Percuma berdiri disini sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain terus menyibukkan diri dan membiarkan waktu menjadi obatnya."
inspired from Darwis Tere Liye
New Year C:

Happy New Year Ayom
Wish You Always The Best
c:
Hey, you've got sweet nickname for this time
Just help you to tell story in your blog
hahaha
Ay and om, haa, whatever
damn, i miss you :|










