Kemudian melewati Blok C dan B. Dengan pemandangan hamparan lapangan rumput yang tak terlalu besar. Tapi setidaknya cukup untuk anak-anak kecil bermain dan berlarian. Hari ini hanya ada satu anak laki-laki yang kukenal sedang bermain dengan Abahnya. Dia akan bersepeda sepertinya. Di samping kiri kanan lapangan rumput itu ada dua pohon yang aku tak yakin pasti jenis dan namanya. Namun awal musim gugur ini memberikan efek sangat cantik pada pohon-pohonnya yang mulai berubah warna menjadi kuning, orange, merah, dan satu dua lembar daun mulai gugur di atas hijaunya rerumputan. Indah nian pemandangan ini.
Kali ini tujuanku adalah di ruang pertemuan Blok A. Aku sedikit gugup, sampai aku sendiri tak begitu memperhatikan teman yang sedari tadi berjalan bersamaku menuju ke lokasi yang sama.
"Sebaiknya lewat pintu belakang saja mba."
Dari pemandangan outdoor kemudian aku berpindah di lorong-lorong kecil dengan atap cukup rendah. Dibandingkan dengan Blok milikku, Blok A termasuk bangunan yang lebih dulu ada di Apartmen ini, sehingga bentuknya pun terlihat lebih klasik. Dengan lorong yang lebih sempit dan warna cat yang cukup terang. Satu pintu terlewati. Masuk pintu kedua, dan kemudian pintu ketiga. Tidak, tidak.
"Gimana mba, masuk gak?" Aku menghentikan tanganku yang akan mendorong pintu ketiga. Lalu ku condongkan kepala untuk mengintip dari bilik kaca kecil. Tak terlalu besar, tapi cukup untuk mengamati keadaan di ruangan sebelah
"Masak gak jadi. Apa kita pulang saja."
"Jangan ah mba. Harus beranilah."
"Eh tapi gimana nanti ngomongnya." Kami berpandangan. Kedua bola mata kami memberikan sinyal yang sama. Ragu tetapi antusias. Ingin tetapi takut.
"Eh ternyata ada suara cowoknya yah."
"Iya ada dua cowok lho ternyata."
"Jadi gimana masuk gak?"
"Ayok masuk aja mba. Tapi mba duluan yaah."
"Iya deh tapi gimana nanti ngomongnya. Aku deg-degan."
"Ya, dicoba aja 'this is for new commers club'. Gitu lah mba."
Dan akhirnya kami berdua masuk. Disambut oleh perempuan cukup umur yang menyapa kami dengan sangat ramah. Memperkenalkan diri, kemudian mempersilahkan duduk kepadaku. Kusapu pandangan sekitar. Ada tiga perempuan dan satu laki-laki yang menggunakan kursi roda. Cukup seru sepertinya obrolan mereka di sofa sisi kiri. Bercanda dan saling mengomentari satu dengan yang lainnya. Kemudian ada perempuan berhijab di bagian sofa yang lain, dengan menggendong anak laki-laki dan sedang asyik mengobrol dengan seorang laki-laki. Sepertiny bukan suaminya tentu saja. Hanya mereka dari ras yang sama jika saya menebak dari kulit dan raut wajahnya.
Dan ada meja panjang berbentuk seperti meja makan. Diisi oleh tiga perempuan yang sedang berbincang sambil sibuk memperhatikan anak-anaknya yang masih balita. Berlari kesana-kemari dan cukup heboh. Dan disitulah kami memutuskan untuk duduk.
"Do you want a coffe or tea?"
"Coffe please. But i can make by myself. Thank you."
Dan kemudian percakapan terjadi. Tak lancar. Hanya perempuan cukup umur tersebut berhasil mencairkan suasana. Lebih tepatnya meruntuhkan dinding es ketakutan yang menutupi badanku untuk beberapa minggu di kota kecil ini.
"I'm not confident with my English." Saya hanya berbicara jujur apa adanya. Karena sepertinya beliau menangkap bahwa ada rona malu dan takut terpancar cukup kuat dari mimik muka saya.
"Its Ok. You're great one because you try to start with join this club. You need to break your fear. Because you know, everybody really feel the same with you. Don't be afraid."
Dan hari itu, meskipun aku tak banyak berbicara. Setidaknya aku sudah mencoba. Berbicara dengan perempuan asal Italy yang bercerita tentang anak balitanya yang cukup lucu. Kemudian perempuan berhijab yang membawa anak laki-laki, dia keturunan dari Pakistan tetapi lahir di Manchester. Dan semua cerita menarik dari lainnya.
Setidaknya inti dari ini adalah, saya mencoba untuk merobek ketakutanku sendiri. Membuat sedikit kerusakan, yang aku percaya nantinya dia akan robek serobeknya. Hingga nantinya aku menulis selamat tinggal Ketakutan.
#30DWCDay17 #UKStories
No comments:
Post a Comment