sering aku berfikir, senadainya aku bisa berkata tidak. huh, walaupun itu sangat buruk sekali karena hanya berani sampai dengan kata andai, selanjutnya, tetap saja tidak akan terealisasikan, hanya berhenti dengan kata andai.
aku ingin juga bisa pulang, menyapa keluargaku. tanpa pusing memikirkan akan diapakan kertas-kertas sasaran di depan mataku ini. juga ingin ketika mereka bilang, "bul, tolong yoh, awakmu", lantas aku menjawab "ah, males rek." lantas pergi. tapi kembali aku raba bagian kecil yang terselip dalam diriku ini, it's me?
aku mungkin tak bisa menjadi seperti mereka, tapi yang pasti ini nuraniku. aku hanya tak mau menentang nurani sendiri, walaupun bukan berarti aku harus tunduk di atas nuraniku, karena ada juga yang bilang bahwa suara hati adalah suara Tuhan. well, mungkin ada benarnya, karena selama ini, nuraniku selalu berkata hal yang baik. hanya dalam proses presepsi otak, dia berubah menjadi kata pengorbanan ataupun menjadi kata ikhlas, bahkan sabar.
dan, itu mungkin hanya sedikit yang aku lakukan, yang pasti, tak masalah aku lelah, tapi ini nuraniku. entah tujuan utamanya adalah untuk orang lain, tapi aku bahagia dengan ini.
masih mau berbohong dengan nurani sendiri?
oh, come on, percayalah nurani tak pernah menyuruh yang buruk, dan bila di asa lebih jauh, manfaatnya tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya.
selamat mencoba :)

No comments:
Post a Comment