Aku belai rambut Syifa dengan lembut. Dia menangis dalam pangkuanku. “Dia punya cara sendiri sayang untuk mengatakan bahwa dia menyayangimu,” jelasku pada anakku. Dia tetap diam dengan air mata yang masih menetes dari mata cantiknya.
“Bunda kenal dengan seorang pria. 23 tahun yang lalu, tepat saat Bunda masuk di semester kedua bangku kuliah. Pria tersebut tidak begitu tampan, kalau dilihat dari perawakannya, dia tidak terlalu menarik. Bahkan dibilang rata-rata. Orangnya tinggi, kulitnya agak kecoklatan, suaranya sekeras pendiriannya, tapi tidak sekasar hatinya. Dia juga termasuk orang bermental baja yang sangat kuat.”
“Sepertinya itu semua mengarah ke Ayah, Bund.” tebak anakku yang sudah mulai bisa menguasai dirinya. Dan aku hanya tersenyum, lalu aku lanjutkan ceritaku. “Awal cerita dengannya yaitu ketika ada undangan yang kebetulan ditujukan padanya melalui Bunda, jadi ya, Bunda saat itu terpaksa harus menyampaikan undangan itu padanya meski hanya melalui sebuah sms, dan meskipun Bunda dan laki-laki itu tidak saling kenal sebelumnya.”
(Mas, maaf menganggu. Ini Lya mas. Mas ada undangan untuk menjadi moderator di acaranya Fakultas MIPA besok mas, undangannya ada di aku, jadi daripada susah buat ketemu, jadi yah aku sms dulu aja ya mas)
“Singkat kan, tapi tidak menjadi singkat di cerita selanjutnya. Dari sms pertama itu, bertambah menjadi sms beruntun tiap harinya. Laki-laki itu tidak hanya lucu dan pintar bergaul seperti kelihatannya memang, tapi dia ternyata adalah sosok romantis yang sangat menghargai seorang wanita. Hingga selang beberapa hari, laki-laki ini menelpon Bunda. Dalam kondisi yang sungguh di luar dugaan.”
“Wah, kalau begitu, Syifa yakin ini bukan Ayah, Bund. Ayah kan tidak seromantis itu yah.” Tebak Syifa lagi dengan nada yang kali ini sedikit bercanda. Dan akupun kembali menjawabnya dengan senyuman.
Aku melanjutkan, “Laki-laki itu hari demi hari makin dekat dengan Bunda. Bunda bahkan sempat makan berdua dengan dia. Lebih sering telepon dan juga sms. Tapi meskipun begitu, Bunda tak pernah sekalipun menunjukkan kedekatan itu di kampus. Dan kalau di kampus, yah seperti teman-teman pada umunya, saling senyum biasa, dan sapa biasa pula. Ini permintaan dari Bunda, Syifa.” Jelasku karena melihat ekspresi muka Syifa yang sedikit kaget, dan diapun hanya mangut-mangut, kembali mendengarkan ceritaku.
“Bunda saat itu yakin, entah kenap, kalau laki-laki itu akan menjadi salah satu orang besar yang ada di kampus. Menjadi salah satu mahasiswa yang akan memberikan sesuatu untuk kampus, dan karena alas an itulah, Bunda benar-benar ingin menjaga namanya. Membuat dia benar-benar terlihat wibawa dan sempurna bagi orang lain, yah begitulah pikir Bunda saat itu. Jadi yah, hubungan itu tetap berjalan demikian. Tenang, damai, sunyi, tapi tidak pasti. Itulah yang Bunda rasakan. Hingga masuk di bulan yang ketiga, Bunda merasa bahwa laki-laki ini ternyata hanyalah mempermainkan Bunda. Dia tak melakukan apapun lagi yang lebih daripada itu, telepon dan sms. Bunda hanyalah wanita biasa, jadi ya Bunda merasa benar-benar digantung. Jadi Bunda mulai merasa tak sabar dan terus menerus menyindir dia dengan banyak hal. Tapi, yah namanya laki-laki, mereka jarang sekali ada yang mengenali tanda. Tak pernah perhatian seperti sosok wanita, dan jarang sekali mau memulai sesuatu duluan. Kalimat-kalimat itu terus-menerus bergejolak pada pikiran Bunda saat itu.”
“Iya, Bunda, Rafi juga mesti seperti itu. Berarti laki-laki itu mirip sekali dengan Rafi Bund, sampai membuat aku nangis begini. Beruntung Bunda dapat suami seperti Ayah yah.” Tanggapan itu yang keluar dari bibir gadis kecilku yang kini telah beranjak usia remaja.
“Bunda lanjutkan yah ceritanya, hingga suatu ketika, Bunda mendapati bahwa ada yang aneh dengan laki-laki itu, tepat ketika Bunda juga mulai mengenal teman-teman Bunda yang lain di kampus. Sebut saja saat itu Bunda mengenal orang-orang baru seperti Putri, Nina, Nisa, dan banyak lagi. Tapi ada yang aneh dengan gerak-gerik Nina ketika dia juga bertemu dengan laki-laki ini. Laki-laki ini tersenyum dengan sangat tulus pada Nina dan begitu juga dengan balasan si Nina. Mereka berdua terlihat sudah akrab dan sudah saling kenal. Itu yang Bunda rasakan, dan pikiran jelek Bunda datang dengan tiba-tiba tanpa Bunda minta sekalipun. Mulai dari laki-laki ini adalah pacar si Nina, atau laki-laki ini ternyata juga dekat dengan si Nina, dan banyak lagi pikiran jelek di otak Bunda. Dan yang bisa Bunda lakukan saat itu hanyalah menangis sendiri, karena memang tak ada yang tahu dengan ini semua. Meskipun Bunda sendiri belum yakin apa itu benar ataupun tidak, tapi Bunda hanya benar-benar merasa ada yang ganjal. Jadi begitulah naluri kepekaan seorang wanita bekerja. Dalam tangis itu, Bunda hanya bisa bilang sama Tuhan, ‘Tuhan, aku ingin tahu semuanya, aku ingin tahu yang sebenarnya, dan apapun itu, aku siap untuk menerimanya.’ Dan benar saja, Tuhan langsung menjawab doa Bunda dengan sangat cepat. Nina, dia jauh lebih dulu dekat dengan laki-laki ini, tapi tetap saja, perlakuan yang sama dengan yang Bunda peroleh juga didapatkan oleh Nina. Laki-laki ini telah menggantung hubungan dengan Nina jauh lebih lama dari Bunda.”
“Bunda, Bunda ternyata pernah merasakan sakit seperti itu yah? Syifa baru tahu Bund, ya ampun, laki-laki itu jahat sekali ya Bund.” cerca Syifa. “Iya, awalnya juga Bunda berpikir demikian, dan yang membuat Bunda semakin merasa sakit adalah bahwa sampai pada saat laki-laki itu dekat dengan Bunda, Nia tak pernah tahu sedikitpun, padahal Nina masih tetap menunggu laki-laki itu.”
“Keesokan harinya, Bunda dengan kekuatan penuh bicara dengan laki-laki ini. Karena Bunda telah menaruh rasa padanya, karena Bunda tak ingin dia menyakiti wanita lainnya, karena Bunda ingin dia memilih, dan karena Bunda ingin dia tahu bahwa wanita tak seharusnya diperlakukan demikian. Itulah yang Bunda katakana padanya. Jika suka maka katakan suka, jika tidak maka jangan pernah mengumbar asa. Dan jawaban dia sangat singkat, ‘Aku hanya ingin menyayangi semuanya.”
“Wah, kalau begitu dia playboy ya Bund.”
Senyum kecil kembali menghias bibirku, “Bunda tak pernah paham apa sebutan untukknya, tapi Bunda benar-benar jatuh cinta pada laki-laki ini, entah apa pesonanya. Tapi karena dianya sendiri yang menyatakan demikian, jadi Bunda sepertinya yang salah menyikapi dia. Karena memang baginya tidak ada keistimewaan dari sebuah sms, telepon, dan makan malam seperti halnya yang Bunda rasakan. Bunda tak berani lagi untuk berbuat lebih jauh, karena Bunda merasa ini sungguh menyakitkan. Sampai pada detik itupun Nina masih tetap tak tahu tentang Bunda, dan Bunda bersyukur dengan itu semua. Biarlah hanya Bunda yang tahu. Hingga selang beberapa bulan berjalan, Bunda tak pernah lagi bersms dan bertelepon dengan laki-laki ini, meskipun masih sering bertemu di kampus, Bunda tetap menyapa denan sewajarnya. Tapi jika memang masih sempat menghindar, Bunda lebih memilih untuk melakukan opsi yang kedua.”
“Jadi, sudah selesai ya Bund, sampai segitu saja yah Bund. Terus laki-laki itu bagaimana Bund?” tanya anakku dengan sangat antusias.
“Belum, cerita belum berakhir Nak, setelah beberapa bulan berjalan, Bunda mendapatkan sebuah sms dari seorang wanita yang mengaku teman dekat dari laki-laki itu, namanya Adel. Dan dilihat dari kata-kata di smsnya, dia merasa cemburu dengan Bunda karena Bunda pernah menuliskan selamat ulang tahun untuk laki-laki ini di salah satu akun sosial milik Bunda. Siapa lagi wanita ini yah? Itulah yang Bunda pikirkan. Dari rasa penasaran itu, Bunda mencari tahu siapa Adel sebenarnya. Dan Bunda mendapat jawaban, Adel adalah kawan lama dari laki-laki ini, yang bisa dibilang ternyata dulu sempat memiliki hubunan khusus dengan si laki-laki ini, tapi sampai sekarangpun mereka masih berhubungan baik sekalipun berada di tempat yang jauh. Entah bagaimana cara laki-laki ini memperlakukan si Adel, tapi yang jelas jika Bunda sendiri ada di posisi itu dan mendapat perlakuan istimewa dari lawan jenis, pasti akan berpikir bahwa laki-laki itu suka ama kita. Tapi Bunda kembali meyadarkan diri, bahwa semua tergantung dari cara kita mengatur hati dan memandang dari sudut sebelah mana. Sedikit demi sedikit, Bunda mulai mengerti dan paham dengan laki-laki ini. Jadi tidak hanya Bunda, Nina, Adel, tapi masih ada yang lain juga, entah berapa lagi jumlahnya. Ternyata memang laki-laki ini selugu dan sejujur kalimatnya, bahwa dia ingin menyayangi semuanya. Hingga detik itupun, belum ada, dan Bunda berharap tak ada yang tahu tentang semuanya. Biarlah hanya Bunda yang tahu. Bunda benar-benar belajar banyak dari semua kejadian ini. Tapi meskipun demikian, Bunda masih tetap menyayangi dia sampai detik itu, semakin Bunda menghindari perasaan itu Bunda merasa semakin sakit dan sulit untuk melupakan itu. Jadi Bundapun akhirnya menyerah.”
Syifa bertanya dengan sedikit bingung, “Maksudnya menyerah Bund?”
“Tak peduli betapa sakit hati itu, tapi memang begitulah wanita dicipta sayang, dengan berjuta cinta dan kasih, karena suatu saat kelak, dialah yang akan mejadikan cinta dan kasih itu menyelimuti keluarganya, jadi Bunda biarkan diri Bunda tetap menyayangi laki-laki ini, apa adanya dia, dan dengan begitu Bunda bisa merasakan sebuah ketenangan dan keikhlasan yang begitu tinggi, karena Bunda tak meminta balasan apapun darinya. Meski Bunda pura-pura tak tahu dan tak perhatian pada laki-laki ini, tapi tetap saja, kepekaan Bunda mengalahkan itu semua, Bunda bisa merasakan jika dia sedang merasa sedih ataupun sedang dalam kondisi jatuh, dan yang bisa Bunda lakukan saat itu hanyalah mengirim sebuah sms agar ia tetap tersenyum mengahadapi segalanya, karena memang Tuhan memberikan wanita sebuah kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian pada laki-laki, menjadi orang yang selalu setia dibelakang, tenang dalam mendampingi, dan siap membela di garda terdepan jika laki-laki terdzalimi. Dan meski Bunda merasa tersaikiti sendiri, masih tetap Bunda lapangkan dada dan menguatkan bahu agar masih tetap tegar menghadapi seluruh beban dunia dan seisinya, karena memang dibahumu inilah kelak anak-anak Syifa dan suami Syifa yang akan menyandarkan diri kala mereka lelah, dan dibahu inilah nanti Syifa akan menggendong anak Syifa dengan lembut dan nyaman. Dan jika memang masih belum cukup untuk semuanya, Bunda masih bisa menangis untuk mencurahkan segalanya pada Tuhan, karena dengan begitu air mata kehidupan bisa mengalir dengan tenang.”
Anakku menitikkan air mata untuk yang kedua kalinya, dia menangis haru, “Bunda, Syifa begitu cengeng yah, baru saja ditinggal pergi Rafi bentar sudah nangis seperti ini, padahal Bunda pernah merasakan yang jauh lebih berat dari Syifa. Bunda, Syifa ingin seperti Bunda.”
Dengan lembut kuusap air mata yang mengalir di pipi gadisku, “Syifa, setiap wanita itu diciptakan istimewa dan banyak cara Tuhan untuk menjadikan kita istimewa, tetap tersenyum sayang.”
Wajah anakku sekarang sudah cerah, dan ada kelegaan tersendiri yang keluar dari raut cantiknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan suami pintu baru saja dibuka, terlihat sosok yang sangat aku kenal, suamiku baru saja datang dari tempatnya bekerja. Sambil menyapa dia dengan senyuman, aku meminta izin untuk mengantar Syifa terlebih dahulu ke kamar. Dalam perjalanan ke kamar, Syifa masih bertanya dengan semangat, “Bund, Bund, meskipun laki-laki tadi itu sedikit menyebalkan, tapi siapa sih Bund laki-laki yang telah membuat Bundaku yang cantik ini begitu mempesona dan luar biasa?”. Dan dengan santai aku menjawab, “Dia adalah Ayahmu”. “Apa? Ayah?”, Syifa hampir-hampir berteriak tak percaya dengan jawabanku, dan suamikupun memasang tampang kaget dan penuh tanya, “Ada apa memang sama Ayah?” Syifa tak menjelaskan, dia hanya datang menghampiri Ayahnya, mencium pipi Ayahnya dan mengatakan bahwa dia sayang sama Ayah. Kemudian dia menarikku kembali untuk naik ke lantai dua menuju kamarnya.
“Syifa, mungkin setiap laki-laki akan menjadi seperti sosok Ayah saat dahulu zaman kuliah, tapi ketika laki-laki itu sudah merasa menemukan pendamping pasangan hidupnya, dia akan menjadi sosok yang jauh berbeda dengan yang kita kenal. Dia belajar untuk terus mencintai orang-orang disekitarnya, karena dengan begitulah dia akan terbiasa untuk mencintai istri dan anak-anaknya kelak. Mereka punya cara sendiri untuk mengekspresikannya, Sayang. Dan untuk para wanita-wanita luar biasa sepertimu, teruslah tebarkan cinta dan kasih, lapangkan hati, siapkan bahu, dan menjadi penyemangat untuk semua orang, karena dengan begitu kamu akan belajar menjadi sosok wanita luar biasa untuk keluargamu kelak.”
Syifa hanya mengangguk dengan senyum kecil yang mengiasai wajah cantiknya. Kutata selimut untuknya agar dia bisa tidur senyaman mungkin, lalu kucium keningnya dengan sangat lembut, “Syifa sayang Bunda.” “Bunda juga sayang sama Syifa, selamat malam Syifa, jangan lupa berdoa.” Kuredupkan lampu kamarnya, lalu akupun keluar dari kamar anakku. Kemudian masuk ke kamar Raihan, jagoan kecilku. Dia sudah tertidur sangat lelap. Kubetulkan letak selimutnya dan kucium pula kening Raihan dengan lembut.
Aku kembali ke lantai bawah untuk menemani suamiku, tapi ternyata aku tak menemukan suamiku. Mungkin dia sudah tidur di kamar, maka akupun menyusul untuk beristirahat di kamar. Tapi tetap saja, aku tak menemukan suamiku di tempat tidur, tapi dia mengagetkanku dengan memelukku dari balik pintu kamar. “Dan wanita istimewa yang aku tunggu dari 23 tahun yang lalu, dia adalah istriku. Maaf aku tadi sempat menguping pembicaraan para wanita di kamar sebelah, karena penasaran mengapa nama Ayah sampai tersebut.” Aku tertawa manja mendengarnya.
Malam itu, menjadi malam panjang untukku dan suamiku. Udara dingin menyapa dari balik tirai jendela kamar, bulanpun dengan genitnya mengintip malu, dan bintang menari indah menyambut keceriaan hatiku.
nur elya adiba
31 okt 2011, gajayana, Malang
4 comments:
ada yg bilang, cinta itu menguatkan. Bukan melemahkan. Tetaplah kuat :)
terima kaish. mari temukan cinta suci kita dlm naungan tangan Tuhan :)
terima kasih terima kasih..
semangat ya diba :D
sepertinya aku kenal dgn baik aktor utama cerita yang kamu tulis hehehe
buat comment di atasku ..
emang sapa yah pemeran utamanya ?
hm, mau tanya juga, ini mas ato mbak yaah? dikasih nama dong >_<
thanks for reading :)
Post a Comment