May 25, 2010

saat ini

aku duduk di meja makan. medengarkan segala celoteh-celoteh kecil yang membahana di ruang tamuku. hm, memang ini sudah terjadi sejak dulu, selepas sholat maghrib, rumahku menjadi tempat singgah untuk anak-anak kecil yang mengaji. dari mulai si kecil umur 3 tahun sampe anak gede seumuranku.
dan layaknya seorang anak kecil pada umumnya, mereka suka bermain di kala menanti waktu giliran mengaji apa saja yang terlihat dan bisa di mainkan di ruang tamuku, maka mereka akan langsung meraihnya hingga kemudian memainkannya. bukan hanya sendiri saja, tapi bermain beramai-ramai.
tentu saja, permainan itu juga dibumbui dengan gelak tawa dan umpatan-umpatan khas anak kecil, lalu inilah yang menarik untuk kita simak.
mereka -dengan kebisingan gelak tawa mereka- tentu saja sangat mengganggu teman-temannya yang sedang asyik mengaji, hingga akhirnya, keluarlah sang ayah sebagai hm, mungkin istilahnya lebih tepat guru besar.
beliau keluar, memandang sekeliling di ruang tamuku, kemudian mendapati bahwa sekelompok anak-anak yang sedang bercanda itu ternyata memainkan bola milik cucunya.
sang guru besar hanya berkata, "siapa tadi yang mengabil bola ini dari dalam?"
anak-anak dengan nada saling menuduh, "ini pak", "itu pak", "dia pak", "bukan saya".
lalu akhirnya, mengakulah satu anak yang berani dan jujur dengan kesalahan tersebut, lalu sang guru hanya berkata, "oke nak, kamu berdiri di depan sini ya, pegang bolanya di depan perutmu, dan jangan duduk sebelum saya memerintahkan untuk kembali duduk."
sontak semua yang ada di ruang tamuku pun tertawa terpingkal-pingkal.
dan si anak jujur, berdiri di depan, dengan bola di depan perut, dan muka merah karena malu.

well, yang menarik untukku adalah cara sang guru besar memeberikan pelajaran agak si anak jera.
SAAT INI, sudah tidak zamannya lagi, kita-para penerus bangsa- harus di pukul ataupun di beri sanksi yang berat dan susah. ketika sanksi seperti itu datang, jujur, saya pribadi tentu tidak akan jera dan takut.
dipukul atau dengan cara kekerasan itu hanya akan tinggal di badan dalam waktu beberapa jam, paling lama mungkin juga sehari.
tapi akan sangat berbeda efeknya bila saya ataupun si pembuat kesalahan dipermalukan di depan umum. mungkin tidak sebanding dengan di pukul, dipermalukan itu tidak sakit fisik, hanya akan memendam beban malu. dan insyAllah, akan membuat jera.

No comments: