June 22, 2016

Lingkunganmu, Masa Depanmu

Aku mendapati diriku
Berada pada macam lingkungan
Berbeda
Tapi Indah

Suatu ketika aku berdiri pada hamparan luas bangunan
Yang tak pernah memikirkan tentang hubungan akhir
Hanya bahagia hidup sekarang
Menikmati waktu bermain
Bersama lampu kota dan kerlipnya kain sutra
Tak menghitung larik-larik masa
Tak peduli dengan telinga yang riang riuh musik jalanan
Si Penari aku sering menyebutnya

Keeseokannya aku pergi ke danau indah di samping hutan
Muda mudi elok indah bernyanyi
Dan mereka terlena dengan cinta-cinta ABG
Meski masa tak lagi dibilang muda
Merasa bahwa pacar adalah simbol harga diri
Dan tanpanya kau tak bisa apa-apa
Bocah selalu menjadi wahana permainan drama hidup

Lain waktu aku duduk di halaman rumah yang sangat indah
Di atas permadani lembut kain bulu halus
Beratapkan langit biru dengan tiang-tiang emas
Bersama mereka hati menjadi tenang dan damai
Kita berbicara tentang alam, tentang masa depan, tentang hidup
tentang cinta, tentang memberi, dan tentang Tuhan
Crackers aku memberikan nama

Sewindu aku menjelajah
Menemukan tempat-tempat surgawi di dunia
Menjadikannya sebuah persinggahan abadi
Menemukan guru hidup dan makna
Tentang masa depan
Dan gerak gerik perjalanan
Mereka yang tak pernah diundang untuk datang
Tapi selalu ada menetap
Bangsa-bangsa serumpun, 
Dengan visi misi yang tertarik dalam lubang yang sama
Dan mereka adalah sang Pemimpi

Lalu aku tiba di atas kereta kencana
Panjang ramai dan banyak wajah
Silih berganti kukenal
Tapi banyak pula yang tidak
Mereka datang pergi hinggap menepi
Membawa cerita, cinta, dan cita
Mengajarkan sedikit suka, juga setitik luka
Mewarnai kisah-kisah
Dengan berbagai ciri khas
Layaknya Kurcaci

Mungkin esok dan lusa,
aku berdiri di atas
dingiinya salju ufuk
atau kelamnya hutan kalimantan
bahkan mungkin dasarnya sungai di ujung lautan
Bisa juga aku akan bertemu lagi
dengan jenis yang sama
Si Penari yang lebih luwes
Bocah-bocah yang semakin unik
Crackers yang renyah
Sang Pemimpi-pemimpi abadi
Atau dengan berjuta kurcaci
Tapi tak pelak pula
Aku bisa bertemu dengan yang lain
Begundal jalanan,
Si mata mata mata
Sang Otot tak terkalahkan
Si Para Pencari Tuhan
dan masih banyak lagi..

Tetapi ingatkan aku satu hal,
bahwa dibalik itu semua,
aku harus tetap pulang
Pada diriku sendiri
Pada prinsipku sendiri
Pada Tuhanku...



Kembali (lagi)

Ketika kau telah menemukan tempat terbaik,
Ketika kau telah menemukan tempat ternyaman,
Ketika kau akhirnya menyadari makna hidup,

Dan pada akhirnya semua akan kembali..

August 23, 2015

SUATU SORE DIBAWAH POHON RANDU

Dia, perempuan seorang diri diantara kami bertiga. Bertengger di atas akar yang besar. Dengan gayanya yang mengatur, dia memberikan petuah kepada kami, laki-laki, tentang perempuan. Seola-olah dia sedang membocorkan rahasia besar kaumnya sendiri kepada lawan utamanya, laki-laki. Kuharap dia masih ingat kalau dia seorang perempuan.
"Kalian kaum laki-laki harus paam kunci ini. Perempuan benar-benar menyukai kepastian."
Sabdanya dimulai. Bila sudah begini, kami lebih baik diam. Tidak menyela satu pun kalimatnya.
"Anak gadis mana yang mau dipermainkan? Anak gadis mana yang mau digantungin? Cinta itu omong kosong jika tanpa kepastian."
Matanya menatap tajam ke arah kami sambil jari-jarinya mengacungkan ranting kecil. Bila sudah begini, kami harus memperhatikan.
"Kalian tahu? Kepastian itu bukan soal masa depan kalian gemilang atau bukan, bukan soal uang kalian banyak atau tidak, bukan soal itu. Tapi soal ini ...."
Dia menunjuk dadanya.
"Kalian tahu, perempuan itu benar-benar menyukai kepastian. Dan cuma satu saja yang perlu kalian pastikan."
Kami saling tatap. Kemudian melihatnya yang tersenyum memancing kami untuk memaksanya memberi tahu.
"Bahwa hanya aman di tangan kalian, bahwa kalian menjadikannya satu-satunya. Meski aku tahu mungkin itu agak bias karena kalian bertanggung jawab terhadap dirinya, terhadap perasaannya, dan terhadap hidupnya. 
Pertanggungjawaban itu tidak hanya soal dunia, tapi disaksikan Tuhan. Dan kepastian tertinggi itu dengan melibatkan Tuhan sebagai saksi, atas nama Tuhan kalian menjadikannya teman hidup di sini, juga di sana."
Tangannya menunjuk ke langit. Dia diam sejenak.
Aku mengacungkan tangan.
"Ya, ada apa?" 
"Kira-kira apa yang harus kami lakukan kalau kami belum siap memberikan kepastian?" tanyaku.
Dia membetulkan posisi duduknya, kemudian mengacungkan ranting kayu ke depan mukaku.
"Jangan sekali-kali memberikan harapan. Camkan itu.

******

Aku terpukau membaca cerita pertama dalam buku ini. Tepat ketika aku membutuhkan kepastian. Dari Tuhanku, dengan KuasaNya.

Source : Hujan Matahari by Kurniawan Gunadi pp 3-4

August 20, 2015

Lingkungan Absolut Menentukan Sikap

Ini memang cuma soal remeh temeh biasa. Tapi menentukan bagaimana sikapmu. Dan sikapmu sangat berpengaruh pada hidupmu. Dan yakinlah bahwa hidupmu menjadi efek domino untuk hidup orang lain

Aku mulai tahu bahwa selang bensin jika dipencet-pencet berarti bensinya tidak keluar sebagai mana mestinya tetapi penanda meter dan biaya bensin (sebut saja bensinometer) tetaplah berjalan sebagaimana mestinya. Apa artinya? Jika kamu membeli 2 liter bensin dengan petugas pom-nya meletakkan langsung selang di tangki bensin tanpa memencet-mencet terus tuasnya berarti 2 liter itu inshaallah utuh dengan harga yang seharusnya. Bagaimana jika dipencet-pencet tuas selangnya? 2 liternya sama, harganya juga sama, tetapi yang masuk bisa berkurang menjadi 1.99 l, atau 1.98 l, atau 1.97 l. Tidak begitu kentara memang, tetapi coba amati saja kendaraanmu. Dan akan signifikan jika kita membeli bensin dalam jumlah banyak. Dan bukan hanya satu kendaraan, tetapi ratusan bahkan ribuan kendaraan di Kota Surabaya. Lantas apa efeknya? Ketika pihak 'bos besar' datang untuk isi ulang pom bensin, maka pom tersebut akan menghitung sisa dari bensin yang ada dan membayar sesuai bensinometer yang tertera, tanpa peduli lagi itu seharusnya dipakai untuk berapa ratus dan ribu kendaraan.Perhitungankah diriku? Mungkin iya, tapi jelekknya hanya soal dalam hati saja. Karena biarpun saya tahu trik itu dan ketika merasa dikhianati oleh abang pom bensin saya lebih memilih untuk diam.Lalu apa hubungannya dengan lingkungan?Ini hanya pendapatku pribadi dengan pengamatanku saja selama berada di kota ini. Tahukah model wilayah Kota Surabaya dengan pembagian sesuai distrik? Yap, ada Surabaya Pusat, Surabaya Utara, Surabaya Timur (daerah rumah saya), Surabaya Selatan, dan Surabaya Barat (lingkungan tempatku bekerja). Karakteristik masing-masing distrik memang berbeda, tetapi tentu ada dominasinya.Ini soal lingkungan sekitar. Wilayah rumahku berada di daerah dekat dengan jembatan suramadu, dengan etnis beragam mulai dari Jawa, Madura, dan Arab serta dengan tingkat sosial ekonomi menengah saja. Dan wilayah Surabaya Barat, berada di dekat perbatasan kabupaten lain dengan banyak jalan tol, apartemen, gedung perkantoran, perumahan elit Surabaya, dengan etnis Jawa dan Cina yang mendominasi. Tingkat sosial ekonomi? wow jangan ditanya. Karena mobil di rumah/apartemennya minimal ada 2 dengan cat mengkilap dan merk terkenal.

Lantas apa hubungannya dengan abang pom bensin? 
Kita akan bersikap lebih tunduk dan 'sedikit' takut pada orang dengan pemegang kekuasaan. Siapa pemegang kekuasaan? adalah ia yang mempunyai uang. Terkadang ini tidak disadari tapi menjadi sebuah tombol otomatis. Di lingkungan elite jika kau tak juga pemegang kekuasaan, maka kita akan menjadi pihak yang lebih takut. Lantas ketakutan itulah yang digambarkan dengan lebih jujur, lebih bertanggung jawab, lebih sopan, lebih menghargai, lebih memberikan sesuatu yang lebih. Apakah itu paksaan? tentu tidak. Karena sudah melebur menjadi sikap (Sesuai kerja otak = ganglia basali, dia akan menjadi kebiasaan setelah dilakukan berurut-urut selama 21 hari). 
Dan abang pom bensin akan melayani semua orang dengan tanpa memperdulikan siapa orang itu. Karena lingkungannya sudah terbentuk sedemikian rupa.

Ingin lebih jelas lagi? Masuk ke XXI Ciputra World. Dan bandingkan dengan XXI Tunjungan Plaza. Harganya sama. Tapi pembawaan timnya yang menjadi berbeda. Karena apa? Lingkungan sekitarnya.

Jadi mau menentukan lingkungan sekitarmu seperti apa?

Ini memang cuma soal remeh temeh biasa. Tapi menentukan bagaimana sikapmu. Dan sikapmu sangat berpengaruh pada hidupmu. Dan yakinlah bahwa hidupmu menjadi efek domino untuk hidup orang lain

August 18, 2015

aku ingin kembali..

kamu tahu perbedaan antara berbicara dan menulis?
semua orang tentu akan menjawab tulisan berarti akan meninggalkan jejak.
yah, itu memang benar adanya
tapi bagiku, lebih daripada sebuah jejak
berbicara dan menulis,
menjadikan satu titik perbedaan antara bumi dan langit
karena itu akan menyangkut perkara hati
karena ia akan membawa sisi lain dari nurani
bahkan menjadi sebuah kelahiran perubahan
pada kebiasaan, karakter, dan mindset
dan bahagialah,
ketika kau bisa melakukan keduanya
berbicara
dan menulis
maka itu, aku ingin kembali...

January 13, 2014

BEE House =))









Bisa Order Lebih dari SATU, dan dapatkan diskon BESAR-BESARAAN!
Bisa Pesan Boneka sesuai dengan bentuk yang diinginkan, minimal 20 pcs, dengan HARGA TERMURAH :)
Menerima Pesanan di SELURUH INDONESIA!!
Open Reseller dan Dropship!!!
Kemasan Menarik, dan Gratis Pin Cantik, khusus dari BEE House :)










More info : 085755041299 / 08970344150 pin : 76b9573b
Perum Istana Gajayana Malang

Belajar Menjadi OrangTua

Beberapa hari lalu saya menyaksikan film Parental Guidance yang dibintangi Billy Crystal, Bette Midler, dan Marissa Tomei. Filmnya pas banget dengan kondisi saya. Kenapa? Karena saya gemar menitipkan anak pada orang tua untuk diawasi.
Memang sih, alur cerita Parental Guidance dan tema besarnya bukan tentang itu, thok. Tapi entah kenapa, yang lebih “jleb” justru urusan menitipkan anak pada ortunya itu, lho. Saya bisa melihat persoalan ini dari perspektif orangtua alias kakek dan nenek.
Hingga saat ini, saya masih suka menitipkan Nadira di rumah mertua saya. Kebetulan, rumah mertua hanya beda beberapa rumah dari rumah kami. Kemudian, suami saya itu tipe paranoid, yang enggan meninggalkan anak berdua saja dengan ART di rumah. Jadi, deh, setiap pulang sekolah, Nadira ke rumah neneknya dan dijemput saat kami pulang kantor. Meski begitu, saya tetap menugasi pengasuh Nadira untuk meladeni semua kebutuhannya. Jadi mertua saya hanya mengawasi saja.
Itupun kami masih suka merasa nggak enak. Saya dan suami takut kalau mertua jadi terbebani atau terkekang. Makanya kami berusaha keras agar kehadiran Nadira di rumah mertua tidak merepotkan beliau. Untuk makanan, susu dan snack, saya siapkan sendiri. Kemudian, kami juga memberi uang bulanan kepada mertua sebagai “kompensasi”. Awalnya mertua menolak, tapi karena kami yakinkan dengan argumentasi yang masuk akal, akhirnya beliau mengerti.
Kenapa kami mau repot-repot begini? Sebab kami berusaha memberi batasan. Nadira adalah anak dan tanggung jawab kami. Semua kebutuhannya HARUS kami yang penuhi. Jangan sampai karena kami lalai memenuhi, Nadira jadi merepotkan orang lain, meski itu kakek dan neneknya sendiri.
Ternyata, pedoman ini juga dianjurkan oleh seorang psikolog terkenal. Saya pernah baca rubrik konsultasi yang ia asuh di sebuah tabloid. Saat itu, ia menjawab pertanyaan seorang ibu yang mengeluh karena masih tinggal bersama mertuanya.
Saya lupa kalimat persisnya, tapi kira-kira tulisan sang psikolog begini, ya:
“Ibu saya itu sakelijk kepada anak dan cucunya. Saat saya menitipkan anak, ibu membolehkan. Tapi saya harus membawa pengasuh anak dan kebutuhan anak saya sendiri. Ibu menegaskan, anak saya adalah tanggung jawab saya. Jadi beliau bersedia dititipi anak, tapi hanya mengawasi dan mengajaknya bermain, bukan memandikan, menyuapi atau mengejar-ngejarnya. Itu sepenuhnya adalah tanggung jawab orang tua si anak, yang bisa didelegasikan ke pengasuh.
Selain itu, ibu saya juga tegas jika ada anaknya yang tinggal di rumah. Si anak harus membayar biaya listrik, biaya makan, dan lain-lain. Tidak ada namanya menumpang gratis. Apalagi jika si anak menumpang tinggal bersama istri/suami dan anaknya. Ia harus mengurus segala sesuatu sendiri, mulai dari makanan, cucian sampai membersihkan kamar. Rumah ibu saya ibaratnya hanya sebagai kos-kosan. Si anak dan keluarganya harus bertanggung jawab atas semua kebutuhannya sendiri dan membayar kewajibannya tiap bulan.
Memang banyak saudara yang kaget dengan sikap ibu. Tapi menurut saya, justru inilah yang terbaik. Saya dan adik-adik saya jadi terbiasa mandiri, baik secara psikis maupun finansial serta menghormati ibu sebagai orang tua maupun sebagai seorang pribadi. Jika ibu saya tidak tegas seperti itu, bisa jadi anak-anaknya akan bertingkah seenaknya dan memperlakukan ibu dengan tidak hormat. Tugas ibu mengurus anak-anaknya kan sudah selesai saat anak-anaknya mandiri. Masa harus ditambah dengan mengurus cucu dan anak-anaknya yang sudah menikah?”
Siapa yang merasa “jleb” dengan komentar sang psikolog tadi? *tunjuk diri sendiri hehehe…*
Makanya saya merasa beruntung punya suami yang satu visi untuk urusan ini. Bahkan suami saya lebih lebay. Dulu saat saya masih tinggal nebeng sama mertua dan orang tua saya, suami selalu membelikan beras, minyak dan kebutuhan rumah tangga lainnya untuk mertua dan ortu saya. Alasannya, kami sering tinggal dan numpang makan, plus menitipkan Nadira. Padahal saya berpikir, memberi uang bulanan saja sudah cukup.
Anyway, poin-poin etika menitipkan anak pada orang tua mungkin bisa dirangkum sebagai berikut:
  1. Awali semua dengan rasa “tidak enak”. Jangan mentang-mentang itu orang tua atau mertua sendiri, lantas kita bisa seenaknya menitipkan anak. Kita sudah jadi orang tua, lho, anak adalah tanggung jawab kita sepenuhnya, bukan orang lain meski itu kakek dan neneknya sendiri.
  2. Penuhi kebutuhan anak agar tidak membebani ortu kita. Bu Elly Risman pernah berkata, “Tubuh kami (ortu, Red), tidak didesain untuk mengejar-ngejar cucu. Kami ini sudah renta. Anak adalah tanggung jawab ortunya, bukan kakek neneknya.” Jadi kalau kita mau menitipkan anak, sediakan pengasuh dan segala kebutuhan anak. Kalau kepepet, seperti pengasuh pulang kampung misalnya, minimal sediakan segala kebutuhan anak. Jangan sampai menyusahkan ortu secara fisik dan finansial sekaligus.
  3. Berbeda pola asuh dengan ortu? Terima sajalah. Itu, kan, risiko yang kita ambil saat memutuskan untuk menitipkan anak pada ortu, bukan? Kalau tidak mau, ya, jangan titipkan anak, dong. As simple as that :)
  4. Kalau memang ada yang mengganjal sekali, utarakan dengan hati-hati. Kita bisa kan bersikap ekstra hati-hati bahkan memanjakan ART/nanny dengan tujuan agar mereka tidak mudik? Lalu kenapa sama ortu sendiri nggak bisa? Padahal mereka yang melahirkan dan mengasuh kita sejak kecil, lho.
  5. Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Ingat pepatah tersebut? Oleh karena itu, menurut saya, sebanyak apapun saya memberi uang atau harta benda pada ortu dan mertua, tetap tidak akan mampu membalas semua yang pernah mereka berikan. So please be generous to your parents, tentu sesuai kemampuan ya. Apalagi jika ortu kita sehari-hari membantu mengasuh anak. Sebisa mungkin berikan uang bulanan meski hanya sedikit. Kalau ortu menolak, berikan hadiah-hadiah kecil sebagai kejutan. Entah itu makanan kesukaannya, blus cantik atau pajangan favorit. Minimal, berikanlah perhatian kepada mereka because it’s the least that we can do, right?

Source : http://mommiesdaily.com/2013/01/11/menitip-anak-pada-ortu-ini-etikanya/